Bedul untuk kesekian kalinya pulang begitu bersemangat. Ia baru saja mengikuti forum motivasi. Seperti biasa, dalam 2x24 jam, semua keinginan untuk melakukan banyak hal kedepan begitu menggebu. Pikirannya penuh perencanaan apa yang harus ia lakukan.
Gus Pur : “Dul …wajahmu seperti sudah menikmati kesuksesan hakiki. Begitu sumringah… seperti gambaran manusia bebas finansial dalam impianmu...”
Si Bedul : “Iya Gus … saya baru saja ikut forum jumatan Gus, pembicaranya ok banget. Saya juga baru baca buku marketing yang revolusioner …. Minggu ini hebat Gus, otak-ku penuh vitamin baru … saya jadi tambah bersemangat”…
Gus Pur : (..terkekeh..kekeh ..sambil memberikan majalah SWA edisi April 2008) “Dul … kamu itu persis apa yang ditulis di artikel majalah ini. Nih baca …baca itu artikel yang judulnya - Mengapa Banyak Orang yang Tahu Tapi Tidak Melakukan? –“.
Si Bedul langsung antusias membaca begitu tahu judulnya. Gus Pur cekikikan sambil ngeloyor pergi mau bikin kopi ritualnya.
Gus Pur : “Sudah bacanya Dul … itu semua persis kamu khan. Kamu kerap merasa cukup hanya dengan mengetahui sesuatu. Kamu sudah membaca banyak buku, mengikuti berbagai forum diskusi, menghadiri berbagai pelatihan. Namun, perilaku kamu tidak juga berubah. Kamu masih tidak melakukan apa-apa.
Jelas sekali di artikel itu, “Mengetahui tidak akan pernah membawa perubahan. Mengetahui tidak akan mengubah nasib Anda. Yang akan mengubah nasib adalah melakukan!”
Jelas sekali kamu di artikel itu adalah korban “Ilusi Pengetahuan”, juga “Ilusi Perubahan” dan yang paling parah, kamu sudah bertahun-tahun menjadi korban “Zona Nyaman” seperti yang kamu jalani sehari-hari ini.
Si Bedul : “wah …edan Gus, artikel ini pendek namun langsung mengejek Gus. 1000% mengejekku … aku kok ngga sempat baca yaa”
Gus Pur : “Iya Dul … kamu terlalu sibuk mengumpulkan buku ! kalau uang-mu leluasa, pasti semua buku Kewirausahaan itu kamu borong, semua seminar kamu ikuti, setiap weekend semua forum kamu hadiri. Rak buku-mu dirumah yang nambah terus itu gambaran Ilusi Pengetahuan-mu. Kamu begitu bersemangat di jumat sore, sabtu dan minggu. Semangatmu hanya bertahan maksimal 3x24 jam. Karena senin kami kembali ke Zona Nyaman.
Bahkan buku yang baru kamu beli yang katamu Marketing yang Revolusioner itu, saya rasa hanya akan jadi korban koleksimu saja. Sudah jelas judulnya saja ada kata Revolusi … itu artinya supaya kamu melakukan dengan Cepat, Segera, dengan Cara Tidak Lazim dan Meraih Hasilnya dengan Keras. Revolusi itu keras dan penuh pengorbanan Dul. Buku itu, kalau kamu yang baca, cocoknya judulnya diganti Marketing Evolution !!!
Sudahlah Dul … bawa majalah itu, baca artikel itu 7 kali. Juga buku Marketing-mu itu, percuma kamu baca sekarang ! Buku itu hanya cocok bagi yang sudah melakukan ! kecuali kamu secara Revolusioner memang mau merubah dirimu dulu saat ini, sekarang juga !
Si Bedul ngeloyor pergi …. dalam hatinya selalu dongkol tapi rindu sama Gus Pur … dalam perjalanan pulang pikirannya ter-ngiang-ngiang kata-kata “Ilusi Pengetahuan” ….”Ilusi Perubahan” …dan “Zona Nyaman” ….
salam sukses
rosihan
www.saqina.com
Re-launching SAQINA.COM
Showing posts with label SI BEDUL. Show all posts
Showing posts with label SI BEDUL. Show all posts
Monday, July 7, 2008
Mengapa Banyak Orang yang Tahu Tapi Tidak Melakukan?
(diambil dari Rubrik Pernik pada majalah SWA No. 08/XXIV.17-29 April 2008)
Seseorang yang bijak datang ke sebuah desa dan menetap di sana untuk memberikan pencerahan. Ketika ia berceramah, orang-orang desa berduyun-duyun datang memenuhi balai desa untuk mendengarkannya. Ceramahnya sangat menarik dan membuat orang-orang tercerahkan. Karena itu, mereka selalu tak sabar menunggu datangnya minggu-minggu berikutnya. Namun, penduduk kemudian menemukan fakta: orang bijak ini ternyata selalu menyampaikan ceramah yang sama. Mereka pun curiga bahwa orang ini sebenarnya seorang penipu yang hanya mengetahui satu ceramah.
Tak dapat lagi menahan kesabaran, penduduk desa beramai-ramai mendatangi orang bijak ini dan bertanya, “Tak dapatkah Anda menyampaikan ceramah yang lain?” Ditanya demikian, orang bijak hanya tersenyum. “Saya belum melihat Anda melakukan apa yang saya sampaikan dalam ceramah pertama,” katanya. “Jadi, mengapa saya harus membebani Anda dengan hal yang lain?”
Apa yang dikatakan orang bijak tersebut sebetulnya sering kita alami. Banyak di antara kita yang kerap merasa cukup hanya dengan mengetahui sesuatu. Kita membaca banyak buku, mengikuti berbagai diskusi, menghadiri berbagai pelatihan. Namun, perilaku kita tidak juga berubah. Kita tidak melakukan apa-apa. Kebiasaan lama yang tidak efektif masih terus kita jalankan. Ini tentu saja sebuah pemborosan biaya yang tidak sedikit.
Fakta ini sering dilupakan orang : mengetahui tidak akan pernah membawa perubahan. Mengetahui tidak akan mengubah nasib Anda. Yang akan mengubah nasib adalah melakukan! Namun mengapa banyak orang yang tahu, tapi tidak melakukan apa-apa?
Ada tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, karena mengetahui sering memberikan sensasi hebat. Ketika mengetahui sesuatu, Anda merasa berada di atas kebanyakan orang. Mengetahui menimbulkan kebanggaan tersendiri. Inilah yang sering disebut sebagai “Ilusi Pengetahuan”. Ilusi ini berbunyi: kita sudah berubah hanya dengan mengetahui.
Mengetahui memang sering memberikan jebakan tersendiri berupa perasaan aman dan nyaman. Dengan mengetahui kita menjadi lebih percaya diri karena merasa siap menghadapi segala masalah.
Bahkan, sekadar mengumpulkan buku yang tak pernah sempat kita baca mampu memunculkan ilusi ini.
Kedua, orang tidak melakukan apa yang mereka ketahui karena mereka tidak memiliki alasan untuk melakukannya. Bukankah ketika kita sehat kita tidak punya alasan yang kuat untuk berolah raga? Bukankah ketika perusahaan sedang naik daun kita merasa tidak perlu melakukan perubahan? Ini disebut “Ilusi Perubahan” yang mengatakan bahwa satu-satunya alasan yang masuk akal untuk perubahan adalah ketika terjadi krisis. Padahal, perubahan yang terjadi karena krisis pasti terasa menyakitkan, membutuhkan biaya besar, dan sering sudah terlambat. Bukankah alasan terbaik untuk melakukan perubahan adalah buat mempertahankan posisi yang sudah kita nikmati selama ini? Bukankah perubahan mestinya adalah sesuatu yang kita “haruskan” kepada diri kita sendiri, bukannya menunggu hal itu “diharuskan” oleh situasi, keadaan, pelanggan dan pesaing?
Ketiga, orang tidak melakukan apa yang sudah diketahuinya karena tidak mau meninggalkan zona nyamannya. Apa pun yang biasa kita lakukan memang menciptakan gaya gravitasi yang luar biasa. Karena itu, keinginan menerapkan sesuatu yang baru selalu menciptakan medan pertempuran dalam diri kita. Pertempuran ini sering berjalan tidak seimbang karena kebiasaan lama pasti memiliki gaya tarik yang lebih besar. Belum lagi, ada faktor lingkungan yang juga cukup besar pengaruhnya. Maka, tidak aneh bahwa pertarungan ini akan dengan mudah dimenagi kebiasaan-kebiasaan lama kita.
Majalah SWA
Seseorang yang bijak datang ke sebuah desa dan menetap di sana untuk memberikan pencerahan. Ketika ia berceramah, orang-orang desa berduyun-duyun datang memenuhi balai desa untuk mendengarkannya. Ceramahnya sangat menarik dan membuat orang-orang tercerahkan. Karena itu, mereka selalu tak sabar menunggu datangnya minggu-minggu berikutnya. Namun, penduduk kemudian menemukan fakta: orang bijak ini ternyata selalu menyampaikan ceramah yang sama. Mereka pun curiga bahwa orang ini sebenarnya seorang penipu yang hanya mengetahui satu ceramah.
Tak dapat lagi menahan kesabaran, penduduk desa beramai-ramai mendatangi orang bijak ini dan bertanya, “Tak dapatkah Anda menyampaikan ceramah yang lain?” Ditanya demikian, orang bijak hanya tersenyum. “Saya belum melihat Anda melakukan apa yang saya sampaikan dalam ceramah pertama,” katanya. “Jadi, mengapa saya harus membebani Anda dengan hal yang lain?”
Apa yang dikatakan orang bijak tersebut sebetulnya sering kita alami. Banyak di antara kita yang kerap merasa cukup hanya dengan mengetahui sesuatu. Kita membaca banyak buku, mengikuti berbagai diskusi, menghadiri berbagai pelatihan. Namun, perilaku kita tidak juga berubah. Kita tidak melakukan apa-apa. Kebiasaan lama yang tidak efektif masih terus kita jalankan. Ini tentu saja sebuah pemborosan biaya yang tidak sedikit.
Fakta ini sering dilupakan orang : mengetahui tidak akan pernah membawa perubahan. Mengetahui tidak akan mengubah nasib Anda. Yang akan mengubah nasib adalah melakukan! Namun mengapa banyak orang yang tahu, tapi tidak melakukan apa-apa?
Ada tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, karena mengetahui sering memberikan sensasi hebat. Ketika mengetahui sesuatu, Anda merasa berada di atas kebanyakan orang. Mengetahui menimbulkan kebanggaan tersendiri. Inilah yang sering disebut sebagai “Ilusi Pengetahuan”. Ilusi ini berbunyi: kita sudah berubah hanya dengan mengetahui.
Mengetahui memang sering memberikan jebakan tersendiri berupa perasaan aman dan nyaman. Dengan mengetahui kita menjadi lebih percaya diri karena merasa siap menghadapi segala masalah.
Bahkan, sekadar mengumpulkan buku yang tak pernah sempat kita baca mampu memunculkan ilusi ini.
Kedua, orang tidak melakukan apa yang mereka ketahui karena mereka tidak memiliki alasan untuk melakukannya. Bukankah ketika kita sehat kita tidak punya alasan yang kuat untuk berolah raga? Bukankah ketika perusahaan sedang naik daun kita merasa tidak perlu melakukan perubahan? Ini disebut “Ilusi Perubahan” yang mengatakan bahwa satu-satunya alasan yang masuk akal untuk perubahan adalah ketika terjadi krisis. Padahal, perubahan yang terjadi karena krisis pasti terasa menyakitkan, membutuhkan biaya besar, dan sering sudah terlambat. Bukankah alasan terbaik untuk melakukan perubahan adalah buat mempertahankan posisi yang sudah kita nikmati selama ini? Bukankah perubahan mestinya adalah sesuatu yang kita “haruskan” kepada diri kita sendiri, bukannya menunggu hal itu “diharuskan” oleh situasi, keadaan, pelanggan dan pesaing?
Ketiga, orang tidak melakukan apa yang sudah diketahuinya karena tidak mau meninggalkan zona nyamannya. Apa pun yang biasa kita lakukan memang menciptakan gaya gravitasi yang luar biasa. Karena itu, keinginan menerapkan sesuatu yang baru selalu menciptakan medan pertempuran dalam diri kita. Pertempuran ini sering berjalan tidak seimbang karena kebiasaan lama pasti memiliki gaya tarik yang lebih besar. Belum lagi, ada faktor lingkungan yang juga cukup besar pengaruhnya. Maka, tidak aneh bahwa pertarungan ini akan dengan mudah dimenagi kebiasaan-kebiasaan lama kita.
Majalah SWA
Tuesday, March 11, 2008
Entrepreneur Viagra
Lama Si Bedul tidak nampak. Ternyata selama beberapa bulan ini dia loyo banget. Semangatnya sedang ada dijurang kegelapan. Padahal beberapa waktu lalu Si Bedul masih berkobar-kobar dan berkoar-koar soal kewirausahaan. Sampai Gus Pur pun perlu memanggilnya secara khusus.
Gus Pur : “ Dul, kamu ini kemana aja ? ngga ada kabarnya itu sibuk atau tenggelam ?”
Si Bedul : “ Lagi tenggelam Gus, soalnya stamina bertahan njalanin bisnis lagi ngga ok, bisnis saya lagi lagi lesu, soalnya kemarin sudah sampai klimaks-nya “
Gus Pur : “Kamu emang bisnis apa sih ?
Si Bedul : “ Saya lagi bisnis bunga Gus, itu yang sekarang lagi banyak diburu orang, ada anturium dan gelombang cinta. Eh, pas saya sudah borong bibitnya dan coba nggedein itu bunga, pas udah gede dan siap jual, harganya sudah jeblok. Kata orang, trennya udah ganti ke Gelombang Rindu !... wualah, modal saya jadi tertanam di pojok pekarangan rumah saya Gus.”
Gus Pur : “ha..ha..ha …. (Gus Pur tertawa terkekeh-kekeh …), Kamu itu lucu Dul, semangat kewirausahaan kamu belum sebanding dengan kejelianmu melihat struktur suatu bisnis. Kamu masih terpukau dengan bisnis-bisnis yang sexy”
Si Bedul : “Ya gimana Gus, saya khan ngga mau nanggung resiko gagal, saya penginnya cepat untung, dan ya ngga salah saya masuk ke bisnis yang lagi sexy ini”
Gus Pur : “he..he..hi..hi …. (Gus Pur tertawa terpingkal-pingkal …), Kamu itu memang selalu tidak tahan melihat yang sexy-sexy Dul…
Kamu ini jangan selalu tertarik sama yang sexy. Sexy itu memang indah, menggairahkan. Tapi kadang menipu, sexy-nya itu kadang kemasannya doang. Dalamnya seringkali tidak seperti kemasannya. Sexy itu diciptakan, ada konsepnya, tidak terjadi begitu saja, trennya digulirkan, dicitrakan di media, lalu digunjingkan, dan dipamerkan secara terbuka, untuk selanjutnya supaya tercipta iklim perburuan.
Setiap saat selalu ada bisnis-bisnis sexy yang menarik banyak orang. Banyak orang tergila-gila anturium, gelombang cinta, ikan lohan, arwana, lobster, ternak jangkrik, ternak cacing, dan lainnya. Kamu semua itu pernah dengar khan ? semua menjanjikan keuntungan besar dalam sekejap. Sepertinya model bisnisnya gampang, simpel, dan semua orang bisa masuk. Bisnis-nya dikemas sedemikian sexy, bahkan ada kontes dan lomba-lomba segala. Padahal itu hanya untuk meningkatkan value secara bubble (gelembung).
Apa bisnis itu salah ? ..oh ngga … yang salah itu kamu Dul, yang ikut-ikutan. Mereka para pebisnis yang membesarkan bisnis anturium, gelombang cinta dan lain-2 itu enterpreneur betulan. Merekalah yang menciptakan value dari tidak terkenal menjadi terkenal dan diburu orang. Hidup matinya mereka dari bisnis itu. Mereka mengambil posisi yang fundamental, root, produsen, pencipta, pembuat value, dan menjual grosirannya. Mereka akan terus menciptakan tren melalui produknya.
Lah kamu korban dari value, kamu membeli eceran produk yang sudah terkemas oleh value yang berlebihan, dan kamu berharap bisa menjual ke orang lain, dan kamu hanya ingin untung jangka pendek dari selisih harga. Kamu tidak masuk dalam fundamental bisnisnya. Kamu hanya membelai-belai kulitnya. Kamu terkesima dengan sisi luar dari bisnisnya, yang kamu tanpa sadari sudah kamu anggap sebagai bisnis sebenarnya.
Nah, kalau kamu hanya tergila-gila pada bisnis apapun yang lagi sexy, pasti kamu hanya akan terpikat luarnya. Kalaupun kamu bisa menjalani bisnis-bisnis yang sexy itu, kekuatan-mu itu semu. Stamina enterpreneur-mu itu sesaat, kamu tidak lebih hanya sejenis Enterpreneur Viagra. On sebentar, tapi kalau bisnis sexy itu sudah sampai klimaks-nya, ganti tren, kamu pasti loyo.
Stamina entrepreneurship seperti itu tidak natural Dul, semu !. Karena Stamina entrepreneurship itu muncul hanya untuk menjalankan bisnis sexy itu, padahal kamu belum tahu bagian dalamnya dan segala permainannya dalam bisnis itu. Kamu belum pernah bersungguh-sungguh mencari, memilih dan mejalani bisnis yang fundamental, yang tentunya sesuai dengan mimpimu !
Stamina entrepreneurship yang natural hanya hadir jika pemicunya adalah mimpimu yang sesungguhnya. Lah mimpimu itu apa ? yang kongkrit ! jangan hanya bebas finansial dan passive income aja ! yang penting itu kendaraanmu apa ? Cari bisnis yang fundamental, yang pasti dibutuhkan orang sepanjang jaman.
Dasar kamu Dul, stamina enterpreneur-mu masih seperti naik turunnya syahwat-mu. Kadang on gak karuan, kadang loyo … (Gus Pur masih terkekeh-kekeh …)
Si Bedul : “ Lah terus gimana Gus (dalam hati, kurangajar nih si Gus, dipanggil hanya untuk diceramahi)
Gus Pur : “ha..ha..ha …. Ya sudah, kamu tirakat bisnis aja dulu, baca itu sejarah perusahaan-perusahaan besar yang umurnya sudah diatas 100 tahun ….
Gus Pur : “ Dul, kamu ini kemana aja ? ngga ada kabarnya itu sibuk atau tenggelam ?”
Si Bedul : “ Lagi tenggelam Gus, soalnya stamina bertahan njalanin bisnis lagi ngga ok, bisnis saya lagi lagi lesu, soalnya kemarin sudah sampai klimaks-nya “
Gus Pur : “Kamu emang bisnis apa sih ?
Si Bedul : “ Saya lagi bisnis bunga Gus, itu yang sekarang lagi banyak diburu orang, ada anturium dan gelombang cinta. Eh, pas saya sudah borong bibitnya dan coba nggedein itu bunga, pas udah gede dan siap jual, harganya sudah jeblok. Kata orang, trennya udah ganti ke Gelombang Rindu !... wualah, modal saya jadi tertanam di pojok pekarangan rumah saya Gus.”
Gus Pur : “ha..ha..ha …. (Gus Pur tertawa terkekeh-kekeh …), Kamu itu lucu Dul, semangat kewirausahaan kamu belum sebanding dengan kejelianmu melihat struktur suatu bisnis. Kamu masih terpukau dengan bisnis-bisnis yang sexy”
Si Bedul : “Ya gimana Gus, saya khan ngga mau nanggung resiko gagal, saya penginnya cepat untung, dan ya ngga salah saya masuk ke bisnis yang lagi sexy ini”
Gus Pur : “he..he..hi..hi …. (Gus Pur tertawa terpingkal-pingkal …), Kamu itu memang selalu tidak tahan melihat yang sexy-sexy Dul…
Kamu ini jangan selalu tertarik sama yang sexy. Sexy itu memang indah, menggairahkan. Tapi kadang menipu, sexy-nya itu kadang kemasannya doang. Dalamnya seringkali tidak seperti kemasannya. Sexy itu diciptakan, ada konsepnya, tidak terjadi begitu saja, trennya digulirkan, dicitrakan di media, lalu digunjingkan, dan dipamerkan secara terbuka, untuk selanjutnya supaya tercipta iklim perburuan.
Setiap saat selalu ada bisnis-bisnis sexy yang menarik banyak orang. Banyak orang tergila-gila anturium, gelombang cinta, ikan lohan, arwana, lobster, ternak jangkrik, ternak cacing, dan lainnya. Kamu semua itu pernah dengar khan ? semua menjanjikan keuntungan besar dalam sekejap. Sepertinya model bisnisnya gampang, simpel, dan semua orang bisa masuk. Bisnis-nya dikemas sedemikian sexy, bahkan ada kontes dan lomba-lomba segala. Padahal itu hanya untuk meningkatkan value secara bubble (gelembung).
Apa bisnis itu salah ? ..oh ngga … yang salah itu kamu Dul, yang ikut-ikutan. Mereka para pebisnis yang membesarkan bisnis anturium, gelombang cinta dan lain-2 itu enterpreneur betulan. Merekalah yang menciptakan value dari tidak terkenal menjadi terkenal dan diburu orang. Hidup matinya mereka dari bisnis itu. Mereka mengambil posisi yang fundamental, root, produsen, pencipta, pembuat value, dan menjual grosirannya. Mereka akan terus menciptakan tren melalui produknya.
Lah kamu korban dari value, kamu membeli eceran produk yang sudah terkemas oleh value yang berlebihan, dan kamu berharap bisa menjual ke orang lain, dan kamu hanya ingin untung jangka pendek dari selisih harga. Kamu tidak masuk dalam fundamental bisnisnya. Kamu hanya membelai-belai kulitnya. Kamu terkesima dengan sisi luar dari bisnisnya, yang kamu tanpa sadari sudah kamu anggap sebagai bisnis sebenarnya.
Nah, kalau kamu hanya tergila-gila pada bisnis apapun yang lagi sexy, pasti kamu hanya akan terpikat luarnya. Kalaupun kamu bisa menjalani bisnis-bisnis yang sexy itu, kekuatan-mu itu semu. Stamina enterpreneur-mu itu sesaat, kamu tidak lebih hanya sejenis Enterpreneur Viagra. On sebentar, tapi kalau bisnis sexy itu sudah sampai klimaks-nya, ganti tren, kamu pasti loyo.
Stamina entrepreneurship seperti itu tidak natural Dul, semu !. Karena Stamina entrepreneurship itu muncul hanya untuk menjalankan bisnis sexy itu, padahal kamu belum tahu bagian dalamnya dan segala permainannya dalam bisnis itu. Kamu belum pernah bersungguh-sungguh mencari, memilih dan mejalani bisnis yang fundamental, yang tentunya sesuai dengan mimpimu !
Stamina entrepreneurship yang natural hanya hadir jika pemicunya adalah mimpimu yang sesungguhnya. Lah mimpimu itu apa ? yang kongkrit ! jangan hanya bebas finansial dan passive income aja ! yang penting itu kendaraanmu apa ? Cari bisnis yang fundamental, yang pasti dibutuhkan orang sepanjang jaman.
Dasar kamu Dul, stamina enterpreneur-mu masih seperti naik turunnya syahwat-mu. Kadang on gak karuan, kadang loyo … (Gus Pur masih terkekeh-kekeh …)
Si Bedul : “ Lah terus gimana Gus (dalam hati, kurangajar nih si Gus, dipanggil hanya untuk diceramahi)
Gus Pur : “ha..ha..ha …. Ya sudah, kamu tirakat bisnis aja dulu, baca itu sejarah perusahaan-perusahaan besar yang umurnya sudah diatas 100 tahun ….
Sunday, August 5, 2007
Si Bedul dan Janda Kembang
Janda Kembang (JK) itu untuk kesekian kalinya membuat sang pemuda patah hati. “Kurang apa aku ini, ganteng, keren, kerja di perusahaan besar, jabatan ok, gaji pun ok, lah kok ujung-ujungnya masih ditolak sama dia “ guman sang pemuda tampan yang sedang terluka hati ini.
Suasana menjadi lara, tapi si Janda Kembang tetaplah kembang, yang terus mencari pasangan hati, pautan jiwa, dan sandaran hidup masa depan anak semata wayangnya.
Si Bedul yang tetangga, makin terheran-heran. Minggu pagi yang indah dia coba lampiaskan rasa penasarannya.
Si Bedul : “Mbak, kenapa sih ngga ketemu-ketemu jodoh lagi ? Temen deket yang kemarin itu kurang apa ? masak masih ngga cocok juga”
Si JK: “ Ngga ada yang kurang Dul, cuman ada yang ngga sinkron aja Dul …”
Si Bedul: “ Loh ..ngga sinkron dimananya ?”
Si JK: “ Gini Dul, waktu aku tanya dia, dia itu kenapa sih kok suka, bahkan bilang cinta sama saya. Dia jawab aku itu sempurna, aku cantik, aku bugar dan tampak segar, aku pandai merawat raga, aku smart, diajak ngomong apa aja nyambung, penampilanku selalu indah dipandang, dan aku punya cita-2 yang tinggi untuk anakku”
Si Bedul: “Lah khan memang mbak seperti itu, trus dimananya yang ngga sinkron?”
Si JK: “Aku tanya ke dia, apa calon istri idamanmu harus seperti aku ? Dia jawab 1000% iya … harus seperti itu, sebagai suami sejati, dia mendambakan istri yang sempurna”.
Si JK (sambil senyum terpendam) “ Gini Dul, aku sudah coba jalan sama Dia, coba mengerti siapa Dia. Ya …juga coba agak matre si Dul, berhitung-hitung dikit. Ternyata Dia itu pemuda dengan harapan selangit. Dia pengin punya istri yang komplit luar dalam. Banyak soal yang ada padaku ini dibahas Dul.
Soal otak-ku ini, dia pengin istrinya ber-otak Smart, bisa ngimbangin semua yang diomongin .. mulai dari urusan kerjaan, training, seminar, buku, film, koran, majalah, politik …, belum lagi soal anak, pola pendidikan dan urusan sekolah. Lah ini khan bikin aku jadi harus juga baca, nonton, dengerin berita dan radio, ngerti soal pekerjaannya, dan paham betul soal pendidikan anak.
Terus soal raga ini Dul, dia pengin istrinya selalu tampak bugar, segar dan sehat. Maunya setiap hari seperti itu. Klo gitu, ya aku perlu fitness 2x seminggu, nyalon dan spa 2x sebulan, dan perawatan kulit sekali sebulan.
Terus soal penampilan, dia maunya istrinya ngga bikin malu soal penampilan. Lah ini kan bikin aku harus punya salon dan butik langganan…
Apalagi soal anak Dul .. , walaupun dia kuliah cuman S1, dia itu punya cita-cita anaknya Doktor, dan go global. Klo gitu, ya sejak awal harus kusiapkan untuk tujuan itu. Anaknya ya harus sekolah internasional, biar dari kecil bahasa inggris-nya cas cis cus, bacaannya ngga perlu lagi buku terjemahaan, TV-nya ya Discovery Channel, National Geographic, bukan TV lokal yang sinetron melulu..!”
Terus soal rumah, Dia maunya tinggal di apartemen, dipusat kota. Supaya Dia bisa ngurusin kerjaanya dengan lancar, produktivitasnya tinggi … ngga capek-2 dijalan. Gampang ketemu temen dan pelanggan. Klo capek tinggal cari cafe, atau pijat refleksi. Bisa fitness 2x seminggu, bisa renang sewaktu-waktu.
Si JK (terdiam sejenak, menghela nafas)
Masalahnya Dul, semua yang Dia inginkan itu 1000% ngga sinkron dengan statusnya saat ini. Dia itu karyawan, yang gajinya saat ini baru 7 digit, walau katanya 5-10 atau bahkan 20 tahun lagi baru mencapai 8 digit. Lah ini khan masih jauh dari gaya hidup impian Dia, yang sejatinya juga gaya hidup impianku. Belum kepotong inflansi 10% pertahun, juga gejolak harga minyak dunia dan gonjang ganjing rupiah.
Hari gini Dul, penghasilan 7 digit hanya cukup nyaman buat nyicil rumah, mobil dan belanja harian, itu pun yang pas-pasan. Jadi ngga mungkin cukup buat impian yang selangit gitu. Klo aku dibilang cewek matre ya ngga papa Dul, wong memang itu kenyataan diluar sana”.
Si Bedul: (yang karyawan) “Busyeeeetttt, itu khan gue bangeeettt !!!”
Si JK : “ Udah ah Dul, jangan tersinggung. Aku tungguin kamu aja deh, tapi klo udah jadi pengusaha kaya yaa” (sambil mesam-mesem dan pergi melambai)
Si Bedul: “Aduuuuuuuhhhhh, kenapa siihh aku ngga berani jadi pengusaha ….”
rosihan
Suasana menjadi lara, tapi si Janda Kembang tetaplah kembang, yang terus mencari pasangan hati, pautan jiwa, dan sandaran hidup masa depan anak semata wayangnya.
Si Bedul yang tetangga, makin terheran-heran. Minggu pagi yang indah dia coba lampiaskan rasa penasarannya.
Si Bedul : “Mbak, kenapa sih ngga ketemu-ketemu jodoh lagi ? Temen deket yang kemarin itu kurang apa ? masak masih ngga cocok juga”
Si JK: “ Ngga ada yang kurang Dul, cuman ada yang ngga sinkron aja Dul …”
Si Bedul: “ Loh ..ngga sinkron dimananya ?”
Si JK: “ Gini Dul, waktu aku tanya dia, dia itu kenapa sih kok suka, bahkan bilang cinta sama saya. Dia jawab aku itu sempurna, aku cantik, aku bugar dan tampak segar, aku pandai merawat raga, aku smart, diajak ngomong apa aja nyambung, penampilanku selalu indah dipandang, dan aku punya cita-2 yang tinggi untuk anakku”
Si Bedul: “Lah khan memang mbak seperti itu, trus dimananya yang ngga sinkron?”
Si JK: “Aku tanya ke dia, apa calon istri idamanmu harus seperti aku ? Dia jawab 1000% iya … harus seperti itu, sebagai suami sejati, dia mendambakan istri yang sempurna”.
Si JK (sambil senyum terpendam) “ Gini Dul, aku sudah coba jalan sama Dia, coba mengerti siapa Dia. Ya …juga coba agak matre si Dul, berhitung-hitung dikit. Ternyata Dia itu pemuda dengan harapan selangit. Dia pengin punya istri yang komplit luar dalam. Banyak soal yang ada padaku ini dibahas Dul.
Soal otak-ku ini, dia pengin istrinya ber-otak Smart, bisa ngimbangin semua yang diomongin .. mulai dari urusan kerjaan, training, seminar, buku, film, koran, majalah, politik …, belum lagi soal anak, pola pendidikan dan urusan sekolah. Lah ini khan bikin aku jadi harus juga baca, nonton, dengerin berita dan radio, ngerti soal pekerjaannya, dan paham betul soal pendidikan anak.
Terus soal raga ini Dul, dia pengin istrinya selalu tampak bugar, segar dan sehat. Maunya setiap hari seperti itu. Klo gitu, ya aku perlu fitness 2x seminggu, nyalon dan spa 2x sebulan, dan perawatan kulit sekali sebulan.
Terus soal penampilan, dia maunya istrinya ngga bikin malu soal penampilan. Lah ini kan bikin aku harus punya salon dan butik langganan…
Apalagi soal anak Dul .. , walaupun dia kuliah cuman S1, dia itu punya cita-cita anaknya Doktor, dan go global. Klo gitu, ya sejak awal harus kusiapkan untuk tujuan itu. Anaknya ya harus sekolah internasional, biar dari kecil bahasa inggris-nya cas cis cus, bacaannya ngga perlu lagi buku terjemahaan, TV-nya ya Discovery Channel, National Geographic, bukan TV lokal yang sinetron melulu..!”
Terus soal rumah, Dia maunya tinggal di apartemen, dipusat kota. Supaya Dia bisa ngurusin kerjaanya dengan lancar, produktivitasnya tinggi … ngga capek-2 dijalan. Gampang ketemu temen dan pelanggan. Klo capek tinggal cari cafe, atau pijat refleksi. Bisa fitness 2x seminggu, bisa renang sewaktu-waktu.
Si JK (terdiam sejenak, menghela nafas)
Masalahnya Dul, semua yang Dia inginkan itu 1000% ngga sinkron dengan statusnya saat ini. Dia itu karyawan, yang gajinya saat ini baru 7 digit, walau katanya 5-10 atau bahkan 20 tahun lagi baru mencapai 8 digit. Lah ini khan masih jauh dari gaya hidup impian Dia, yang sejatinya juga gaya hidup impianku. Belum kepotong inflansi 10% pertahun, juga gejolak harga minyak dunia dan gonjang ganjing rupiah.
Hari gini Dul, penghasilan 7 digit hanya cukup nyaman buat nyicil rumah, mobil dan belanja harian, itu pun yang pas-pasan. Jadi ngga mungkin cukup buat impian yang selangit gitu. Klo aku dibilang cewek matre ya ngga papa Dul, wong memang itu kenyataan diluar sana”.
Si Bedul: (yang karyawan) “Busyeeeetttt, itu khan gue bangeeettt !!!”
Si JK : “ Udah ah Dul, jangan tersinggung. Aku tungguin kamu aja deh, tapi klo udah jadi pengusaha kaya yaa” (sambil mesam-mesem dan pergi melambai)
Si Bedul: “Aduuuuuuuhhhhh, kenapa siihh aku ngga berani jadi pengusaha ….”
rosihan
Thursday, July 12, 2007
Si Bedul Kena Kutukan Pengetahuan
Si Bedul untuk kesekian kalinya sowan ke Gus Pur. Kali ini agak larut malam, maklum, Si Bedul masih orang kantoran, hanya punya waktu dikala matahari sudah terlelap.
Si Bedul : “ assalamu’alaikum Gus, malam gini ngopinya enak sekali Gus “
Gus Pur: “ Iyo, enak tenan. Tapi yang bikin enak bukan kopi-nya Dul, tapi hidupku ini yang enak. Jadi kyai, tinggal duduk, makan dan setiap hari ngobrol sama orang-2 yang sowan”
Si Bedul: “Kok banyak orang sowan ke kyai ya Gus ?”
Gus Pur : “ Lha iya …wong mereka itu orang-2 yang kena kutukan kayak sampeyan ini “
Si Bedul : (geregetan) “ Kena kutukan gimana Gus, saya kalau kesini khan selalu tanya urusan rencana bisnis yang mau saya bikin ini Gus”.
Gus Pur : “Lha iya, itu kena kutukan namanya. Kamu khan orang cerdas, titelmu sudah kepanjangan, kerjamu sudah tahunan, kurang opo kamu ? kamu sendiri yang bilang, kalau mau bikin usaha, kamu mulainya dengan bikin perencanaan yang top, ada Plan A sampek Z. Pokoknya detil. Tidak ada yang terlewat.
Gus Pur : (terkekeh-kekeh …) dan karena kepintaranmu itulah yang membuat kamu 100% kena Kutukan Pengetahuan. Kamu itu dikutuk sama hasil akal-mu sendiri, padahal kamu sudah sangat siap dengan segudang rencana. Ternyata kamu makin banyak rencana, kamu merasa makin cemas. Karena dengan akalmu itu, kamu merasa makin tahu masa depanmu. Padahal akal-mu melihat masalah keberhasilan dan kegagalan itu tidak ada bedanya. Kamu sendiri malah menyiapkan Skenario Berhasil dan Skenario Gagal.
Kamu tau Dul, setiap hari aku ini terima tamu yang sowan, ada banyak tamu yang kena Kutukan kayak kamu ini. Mereka itu masih ngga yakin sama bisnis yang mau dibikinnya itu. Mereka masih pengin dengar wejangan-ku, nasihatku, “penerawangan”-ku, kira-2 kedepannya bisnisnya itu gimana .. Apa ngga edan, wong saya bukan orang bisnis kok ditanya masa depan bisnis. Mereka itu makin banyak rencana, makin banyak tahu, ternyata makin kena Kutukan Pengetahuan.
Coba kamu sowan ke kyai mana saja. Kalo kamu minta wejangan karena mau bisnis, pasti jawabannya sama. Kalo mau bisnis, kamu harus ingat, bahwa rejeki itu sudah dijatah sama Gusti Alloh. Bisnismu mau sukses besar atau ngga, itu sudah kehendakNya Gusti Alloh. Kalau Gusti Alloh berkehendak sukses, itu berarti kamu diberi banyak titipan sama Gusti Alloh. Titipan zakat, titipan menyantuni anak yatim dan orang miskin, dan banyak titipan rahmatanlilalamin lainnya. Untuk semua titipan itu, kamu harus ikhlas untuk selalu berbagi.
Orientasimu jangan uang dan kekayaan, tetapi untuk keberkahan hidupmu, keluargamu dan masyarakatmu. Jangan lupa sujud syukur setiap hari, dan terus ber-ikhtiar sekuat tenaga dan pikiranmu untuk membesarkan bisnismu setiap hari. Banyak-banyak silaturrahmi, jalani bisnismu sebagai ibadahmu. Kalau itu semua kamu lakukan, masa depan bisnismu pasti sukses, Gusti Alloh selalu memberikan keberuntungan kepadamu.
Lha anehnya Dul, setelah aku kasih wejangan seperti itu, dan amalan untuk berdoa dan bersyukur, mereka merasa bebas dari keraguan, ketakutan. Mereka lebih bersemangat menjalani rencana bisnisnya, ikhlash menjalani prosesnya dan mem-pasrah-kan hasilnya 100% kepada Yang Maha Kaya.
Kalau sudah begitu, mereka sudah bebas dari Kutukan Pengetahuan. Mereka sudah tidak mengandalkan 100% pada akal-nya yang terbatas itu, tetapi 100% kepada Yang Menciptakan Akal.
Si Bedul: “Wah, harus seperti itu ya Gus ?”
Gus Pur : “ Iya Dul, jangan kebanyakan rencana-rencana lagi, tinggal jalan aja kok repot!”
Si Bedul : “ assalamu’alaikum Gus, malam gini ngopinya enak sekali Gus “
Gus Pur: “ Iyo, enak tenan. Tapi yang bikin enak bukan kopi-nya Dul, tapi hidupku ini yang enak. Jadi kyai, tinggal duduk, makan dan setiap hari ngobrol sama orang-2 yang sowan”
Si Bedul: “Kok banyak orang sowan ke kyai ya Gus ?”
Gus Pur : “ Lha iya …wong mereka itu orang-2 yang kena kutukan kayak sampeyan ini “
Si Bedul : (geregetan) “ Kena kutukan gimana Gus, saya kalau kesini khan selalu tanya urusan rencana bisnis yang mau saya bikin ini Gus”.
Gus Pur : “Lha iya, itu kena kutukan namanya. Kamu khan orang cerdas, titelmu sudah kepanjangan, kerjamu sudah tahunan, kurang opo kamu ? kamu sendiri yang bilang, kalau mau bikin usaha, kamu mulainya dengan bikin perencanaan yang top, ada Plan A sampek Z. Pokoknya detil. Tidak ada yang terlewat.
Gus Pur : (terkekeh-kekeh …) dan karena kepintaranmu itulah yang membuat kamu 100% kena Kutukan Pengetahuan. Kamu itu dikutuk sama hasil akal-mu sendiri, padahal kamu sudah sangat siap dengan segudang rencana. Ternyata kamu makin banyak rencana, kamu merasa makin cemas. Karena dengan akalmu itu, kamu merasa makin tahu masa depanmu. Padahal akal-mu melihat masalah keberhasilan dan kegagalan itu tidak ada bedanya. Kamu sendiri malah menyiapkan Skenario Berhasil dan Skenario Gagal.
Kamu tau Dul, setiap hari aku ini terima tamu yang sowan, ada banyak tamu yang kena Kutukan kayak kamu ini. Mereka itu masih ngga yakin sama bisnis yang mau dibikinnya itu. Mereka masih pengin dengar wejangan-ku, nasihatku, “penerawangan”-ku, kira-2 kedepannya bisnisnya itu gimana .. Apa ngga edan, wong saya bukan orang bisnis kok ditanya masa depan bisnis. Mereka itu makin banyak rencana, makin banyak tahu, ternyata makin kena Kutukan Pengetahuan.
Coba kamu sowan ke kyai mana saja. Kalo kamu minta wejangan karena mau bisnis, pasti jawabannya sama. Kalo mau bisnis, kamu harus ingat, bahwa rejeki itu sudah dijatah sama Gusti Alloh. Bisnismu mau sukses besar atau ngga, itu sudah kehendakNya Gusti Alloh. Kalau Gusti Alloh berkehendak sukses, itu berarti kamu diberi banyak titipan sama Gusti Alloh. Titipan zakat, titipan menyantuni anak yatim dan orang miskin, dan banyak titipan rahmatanlilalamin lainnya. Untuk semua titipan itu, kamu harus ikhlas untuk selalu berbagi.
Orientasimu jangan uang dan kekayaan, tetapi untuk keberkahan hidupmu, keluargamu dan masyarakatmu. Jangan lupa sujud syukur setiap hari, dan terus ber-ikhtiar sekuat tenaga dan pikiranmu untuk membesarkan bisnismu setiap hari. Banyak-banyak silaturrahmi, jalani bisnismu sebagai ibadahmu. Kalau itu semua kamu lakukan, masa depan bisnismu pasti sukses, Gusti Alloh selalu memberikan keberuntungan kepadamu.
Lha anehnya Dul, setelah aku kasih wejangan seperti itu, dan amalan untuk berdoa dan bersyukur, mereka merasa bebas dari keraguan, ketakutan. Mereka lebih bersemangat menjalani rencana bisnisnya, ikhlash menjalani prosesnya dan mem-pasrah-kan hasilnya 100% kepada Yang Maha Kaya.
Kalau sudah begitu, mereka sudah bebas dari Kutukan Pengetahuan. Mereka sudah tidak mengandalkan 100% pada akal-nya yang terbatas itu, tetapi 100% kepada Yang Menciptakan Akal.
Si Bedul: “Wah, harus seperti itu ya Gus ?”
Gus Pur : “ Iya Dul, jangan kebanyakan rencana-rencana lagi, tinggal jalan aja kok repot!”
Saturday, May 5, 2007
Kamu Tidak Akan Pernah menjadi TDA
Pagi itu si Bedul makin gelisah, bombardir email dimilis TDA dan blog-blog-nya member TDA makin membuat dia bingung. “aku mau TDB terus atau pindah TDA yaa ??”. Dia bingung mau nanya kemana … klo nanya ke TDA, jawabnya pasti provokasi terus. “Lah tanya siapa yaa ?? oh iya, aku tanya Gus Pur aja, aku pengin nasihat yang lebih arif ”. Gus Pur adalah kyai edan yang dikenal baik sama si Bedul pas iseng ikut pengajian tasawuf.
Si Bedul : assalamua’alaikum Gus …
Gus Pur : salam, ada apa Dul, pagi-2 kok modar amat muka-mu.
Si Bedul : gini Gus.. saya ini lagi bingung beneran, pengin keluar kerja dari perusahaan, pengin jadi pengusaha, tapi masih takut.”
Gus Pur : kamu itu memang edan, nyepelekan Gusti Alloh. Kamu pikir kalau kamu keluar kerja, Gusti Alloh ngga ngurusin kamu apa ?? Ini pertanyaanmu yang ke-7 kali Dul … aku sebenarnya sudah bosen kamu tanya ini terus ..
(Gus Pur langsung nyerocos sambil muncrat-muncrat ludahnya. Si Bedul ngga nyangka langsung di semprot)
Gus Pur : coba kamu pikirkan ke-7 kali Dul !. Kamu sekarang ini kerja ikut perusahaan. Kamu digaji pas-pasan tiap akhir bulan. Kamu dikasih tunjangan ini itu. Itu supaya kamu bisa melakukan semua kewajiban yang diwajibkan ke kamu sebagai karyawan oleh perusahaan. Kamu biar konsentrasi ngurusi kerjaanmu, dan ngga pernah ngurusin gajimu. Soalnya kamu sudah tenang, sudah yakin, kalau perusahaanmu pasti mengurusimu ! menggajimu ! ngasih makan kamu ! njamin biaya kesehatanmu! Ngreditin mobilmu ! ngasih pinjaman uang muka rumahmu ! kurang apa lagi ???
Si Bedul : iya ..iya Gus, saya memang menikmati itu … (sambil nunduk malu)
(Gus Pur nyerocos terus) “Jadi, sebenarnya apa bedanya dengan jadi karyawannya Gusti Alloh ?
Si Bedul : loh maksudnya Gus ? karyawannya Gusti Alloh ?
Gus Pur : lah iya, Gusti Alloh itu yang punya PT Mestakung ! Siapa bosnya ? ya Gusti Alloh langsung ! Kalau kamu jadi karyawannya Gusti Alloh, GAJI kamu UNLIMITED ! TAK TERBATAS! suka-suka Gusti Alloh. Kamu akan dikasih tunjangan rejeki ini itu, dan kamu laksanakan aja semua kewajiban yang diwajibkan oleh Gusti Alloh ke kamu. Kamu konsentrasi saja ngurusi kerjaanmu, dan ngga usah ngurusin rejekimu. Soalnya kamu sudah tenang, sudah yakin, kalau Gusti Alloh pasti mengurusimu ! menggajimu ! ngasih makan kamu ! njamin kesehatanmu! njamin mobilmu ! njamin rumahmu !. Dan semua pemberian itu UNLIMITED ! TAK TERBATAS ! ngga kayak kamu sekarang ini, perusahaanmu itu serba Limited, serba Terbatas. Jadi kamu sendiri toh yang membatasi semua itu?
Si Bedul : lah pekerjaan utamaku apa Gus ? (si Bedul nyela)
Gus Pur : Cuman kewajiban pekerjaan utamamu beda, yaitu menyebarkan rahmatanlilamin ! Jadi khalifatulloh dimuka bumi !
(Gus Pur nyeruput kopinya sebentar .., diam sejenak. Si Bedul agak tenang sedikit)
Si Bedul : iya.. iya Gus ..sekarang saya harus ngapain Gus ?
Gus Pur : lha sekarang kamu mau buka usaha apa ?
Si Bedul : buka toko busana muslim Gus …
Gus Pur : tujuanmu apa buka toko itu ?
Si Bedul : (sambil sok yakin) ya untuk usaha Gus, cari uang. Saya khan penginnya jadi pengusaha yang bebas finansial Gus. Klo saya punya toko, khan nantinya dapat untung. Yang kerja juga karyawan saya Gus, jadi saya akan terima Passive Income Gus.
Gus Pur : bebas finansial gundulmu, passive income mbahmu !!! (sambil ludahnya muncrat ke mukaku)
Gus Pur : kamu kok masih bego amat seh ! bebas finansial itu urusan Gusti Alloh ! bukan urusanmu !
Si Bedul : lah terus tujuannya apa Gus !
Gus Pur : klo kamu buka toko busana muslim, tujuanmu ya pelayanan umat ! ngasih umat barang bagus dan murah ! mbuka lapangan kerja!. Jadi karyawannya Gusti Alloh untuk urusan pelayanan umat, mbuka lapangan kerja dan mbagi rejeki ke supliermu dan karyawanmu ! sedangkan hasilmu, rejeki atau gajimu itu urusan Gusti Alloh ! Bukan urusanmu !
Si Bedul : lah buat apa dong Gus aku belajar ke Brad Sugars, Kottler dll lain-2 itu kalo tujuannya bukan bebas finansial ?
Gus Pur : loh, kok ngambeg. Emang si Brad sama Kottler itu bisa njamin kamu 100% bebas finansial ? yang bisa njamin cuman Gusti Alloh Dul. Kamu belajar ilmu mereka itu hanya untuk modal ikhtiar ! supaya manajemen tokomu lancar. Kalau kamu makin pinter ngelola toko, tokomu bisa makin besar dan banyak! kamu bisa melayani umat lebih banyak, karyawanmu banyak. Kamu pintar mengelola bisnis itu harus, itu kewajiban. Itu modal professionalmu supaya kamu tidak dipecat dari status karyawannya Gusti Alloh. Lah kalau kamu goblok, ngelola bisnis saja nggak becus, mana bisa kamu melaksanakan tugas utamamu, menyebarkan rahmatanlilalamin … ?? Tapi ingat, segala kesuksesan bisnismu itu bukan karena kepintaranmu atau karena si Brad & Kottler itu ! tapi itu semua kehendaknya Gusti Alloh !
Gus Pur : wis … sekarang kamu berkarir aja di PT Mestakung, jadilah karyawannya Gusti Alloh sebaik-baiknya. Lakukan semua perintah dan larangan bosmu itu ! Jadilah karyawan pilihan Gusti Alloh. Kalau kamu pusing, tanya Gusti Alloh langsung. Kalau kamu bahagia, terima kasihlah ke Gusti Alloh langsung ! Sudah, dari tadi mikir gitu aja kok repot...
Si Bedul : wah … edan bener Gus ..assalamu’alaikum Gus …
(Si Bedul makin tenang dan yakin, bahwa dia tidak akan benar-2 keluar dari perusahaan, tapi cuman pindah kerja aja! Busyet ..gampang bener ….)
Salam
Rosihan
Disarikan dari pemahaman atas pengajian kitab tasawuf klasik Al Hikam karya Ibn Ataillah as-Sakandari.
Pagi itu si Bedul makin gelisah, bombardir email dimilis TDA dan blog-blog-nya member TDA makin membuat dia bingung. “aku mau TDB terus atau pindah TDA yaa ??”. Dia bingung mau nanya kemana … klo nanya ke TDA, jawabnya pasti provokasi terus. “Lah tanya siapa yaa ?? oh iya, aku tanya Gus Pur aja, aku pengin nasihat yang lebih arif ”. Gus Pur adalah kyai edan yang dikenal baik sama si Bedul pas iseng ikut pengajian tasawuf.
Si Bedul : assalamua’alaikum Gus …
Gus Pur : salam, ada apa Dul, pagi-2 kok modar amat muka-mu.
Si Bedul : gini Gus.. saya ini lagi bingung beneran, pengin keluar kerja dari perusahaan, pengin jadi pengusaha, tapi masih takut.”
Gus Pur : kamu itu memang edan, nyepelekan Gusti Alloh. Kamu pikir kalau kamu keluar kerja, Gusti Alloh ngga ngurusin kamu apa ?? Ini pertanyaanmu yang ke-7 kali Dul … aku sebenarnya sudah bosen kamu tanya ini terus ..
(Gus Pur langsung nyerocos sambil muncrat-muncrat ludahnya. Si Bedul ngga nyangka langsung di semprot)
Gus Pur : coba kamu pikirkan ke-7 kali Dul !. Kamu sekarang ini kerja ikut perusahaan. Kamu digaji pas-pasan tiap akhir bulan. Kamu dikasih tunjangan ini itu. Itu supaya kamu bisa melakukan semua kewajiban yang diwajibkan ke kamu sebagai karyawan oleh perusahaan. Kamu biar konsentrasi ngurusi kerjaanmu, dan ngga pernah ngurusin gajimu. Soalnya kamu sudah tenang, sudah yakin, kalau perusahaanmu pasti mengurusimu ! menggajimu ! ngasih makan kamu ! njamin biaya kesehatanmu! Ngreditin mobilmu ! ngasih pinjaman uang muka rumahmu ! kurang apa lagi ???
Si Bedul : iya ..iya Gus, saya memang menikmati itu … (sambil nunduk malu)
(Gus Pur nyerocos terus) “Jadi, sebenarnya apa bedanya dengan jadi karyawannya Gusti Alloh ?
Si Bedul : loh maksudnya Gus ? karyawannya Gusti Alloh ?
Gus Pur : lah iya, Gusti Alloh itu yang punya PT Mestakung ! Siapa bosnya ? ya Gusti Alloh langsung ! Kalau kamu jadi karyawannya Gusti Alloh, GAJI kamu UNLIMITED ! TAK TERBATAS! suka-suka Gusti Alloh. Kamu akan dikasih tunjangan rejeki ini itu, dan kamu laksanakan aja semua kewajiban yang diwajibkan oleh Gusti Alloh ke kamu. Kamu konsentrasi saja ngurusi kerjaanmu, dan ngga usah ngurusin rejekimu. Soalnya kamu sudah tenang, sudah yakin, kalau Gusti Alloh pasti mengurusimu ! menggajimu ! ngasih makan kamu ! njamin kesehatanmu! njamin mobilmu ! njamin rumahmu !. Dan semua pemberian itu UNLIMITED ! TAK TERBATAS ! ngga kayak kamu sekarang ini, perusahaanmu itu serba Limited, serba Terbatas. Jadi kamu sendiri toh yang membatasi semua itu?
Si Bedul : lah pekerjaan utamaku apa Gus ? (si Bedul nyela)
Gus Pur : Cuman kewajiban pekerjaan utamamu beda, yaitu menyebarkan rahmatanlilamin ! Jadi khalifatulloh dimuka bumi !
(Gus Pur nyeruput kopinya sebentar .., diam sejenak. Si Bedul agak tenang sedikit)
Si Bedul : iya.. iya Gus ..sekarang saya harus ngapain Gus ?
Gus Pur : lha sekarang kamu mau buka usaha apa ?
Si Bedul : buka toko busana muslim Gus …
Gus Pur : tujuanmu apa buka toko itu ?
Si Bedul : (sambil sok yakin) ya untuk usaha Gus, cari uang. Saya khan penginnya jadi pengusaha yang bebas finansial Gus. Klo saya punya toko, khan nantinya dapat untung. Yang kerja juga karyawan saya Gus, jadi saya akan terima Passive Income Gus.
Gus Pur : bebas finansial gundulmu, passive income mbahmu !!! (sambil ludahnya muncrat ke mukaku)
Gus Pur : kamu kok masih bego amat seh ! bebas finansial itu urusan Gusti Alloh ! bukan urusanmu !
Si Bedul : lah terus tujuannya apa Gus !
Gus Pur : klo kamu buka toko busana muslim, tujuanmu ya pelayanan umat ! ngasih umat barang bagus dan murah ! mbuka lapangan kerja!. Jadi karyawannya Gusti Alloh untuk urusan pelayanan umat, mbuka lapangan kerja dan mbagi rejeki ke supliermu dan karyawanmu ! sedangkan hasilmu, rejeki atau gajimu itu urusan Gusti Alloh ! Bukan urusanmu !
Si Bedul : lah buat apa dong Gus aku belajar ke Brad Sugars, Kottler dll lain-2 itu kalo tujuannya bukan bebas finansial ?
Gus Pur : loh, kok ngambeg. Emang si Brad sama Kottler itu bisa njamin kamu 100% bebas finansial ? yang bisa njamin cuman Gusti Alloh Dul. Kamu belajar ilmu mereka itu hanya untuk modal ikhtiar ! supaya manajemen tokomu lancar. Kalau kamu makin pinter ngelola toko, tokomu bisa makin besar dan banyak! kamu bisa melayani umat lebih banyak, karyawanmu banyak. Kamu pintar mengelola bisnis itu harus, itu kewajiban. Itu modal professionalmu supaya kamu tidak dipecat dari status karyawannya Gusti Alloh. Lah kalau kamu goblok, ngelola bisnis saja nggak becus, mana bisa kamu melaksanakan tugas utamamu, menyebarkan rahmatanlilalamin … ?? Tapi ingat, segala kesuksesan bisnismu itu bukan karena kepintaranmu atau karena si Brad & Kottler itu ! tapi itu semua kehendaknya Gusti Alloh !
Gus Pur : wis … sekarang kamu berkarir aja di PT Mestakung, jadilah karyawannya Gusti Alloh sebaik-baiknya. Lakukan semua perintah dan larangan bosmu itu ! Jadilah karyawan pilihan Gusti Alloh. Kalau kamu pusing, tanya Gusti Alloh langsung. Kalau kamu bahagia, terima kasihlah ke Gusti Alloh langsung ! Sudah, dari tadi mikir gitu aja kok repot...
Si Bedul : wah … edan bener Gus ..assalamu’alaikum Gus …
(Si Bedul makin tenang dan yakin, bahwa dia tidak akan benar-2 keluar dari perusahaan, tapi cuman pindah kerja aja! Busyet ..gampang bener ….)
Salam
Rosihan
Disarikan dari pemahaman atas pengajian kitab tasawuf klasik Al Hikam karya Ibn Ataillah as-Sakandari.
Subscribe to:
Posts (Atom)



