Re-launching SAQINA.COM
Thursday, June 5, 2008
Menyekolahkan Anak Cara Enterpreneur
Jika dihitung dalam 1 tahun biaya operasional sekolah, seringkali kita terkaget-kaget, apalagi jika kita menghitungnya sangat detil, setiap potensi pengeluaran yang terkait dengan sekolah kita coba hitung. So what gitu loh ….
Pernah dengar cerita seperti ini ?
“Oh ..si Doktor Budi itu anaknya tukang sayur loh, dulu bapaknya kerja sejak dinihari demi menyekolahkan anaknya …”
“Oh si Insinyur Tono itu anaknya tukang becak loh, bapaknya mbecak sambil jualan rokok, ibunya tukang cari daun jati yang tiap pagi dijual ke pasar. Anaknya 5 sarjana semua, semua jadi orang sukses …”
“Oh si Dokter Andi itu dari kecil sudah yatim. Ayahnya meninggal ketika dia balita. Ibunya yang janda bekerja serabutan, buka warung makan, sampai bisa menyekolahkan 3 anaknya. Dua orang jadi dokter dan seorang nerusin warung makan. Sekarang malah sudah punya restoran….”
“Oh ..si Agus itu bapaknya bengkel kecil, dulu kecilnya Agus setiap hari bantuin bapaknya. Sekarang di punya pabrik spare part motor … alhamdulillah, bapak-nya mati-matian nyekolahin dia “
Ketiga cerita tadi, tidak lain intinya adalah cerita perjuangan. Semua orang tua mereka adalah pejuang-pejuang yang mempunyai cita-cita sederhana, namun jelas. Yaitu ingin menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya, dengan segala daya upaya penuh kepasrahan kepada Sang Kuasa.
Cerita seperti diatas adalah buah dari enterpreneurship. Sebuah kewirausahaan yang alami, yang ndheso, yang katro’, yang gak banyak omong dan wacana. Sebuah kewirausahaan yang Reason dan Dream-nya diperoleh dari keheningan desa, dan pemahaman atas hakekat kehidupan yang lebih alami. Reason-nya simpel, tapi kuat, fundamental, sehingga Dream-nya MASIF ! bukan pepesan kosong !
“aku gak kepingin anak-ku mbecak, cukup aku aja sing mbecak”
“wis, cukup aku saja sing lulusan SD, anak-ku harus sekolah tinggi”
“ngga perduli rumah gedek, setiap hari ngontel ke pasar, sing penting anak-ku sarjana!”
“nak, walaupun ibu cuman mantri desa, kamu harus jadi dokter, supaya orang-orang desa ini bisa kita bantu lebih baik …”
Mereka menemukan Reason & Dream yang Sederhana namun Fundamental, bukan secara instant! Bukan karena Seminar Cepat Kaya, bukan karena buku Jalur Cepat Kaya, tetapi karena berhasil memahami keadaannya saat itu, dan mencoba berpikir sederhana tentang hakekat kehidupannya. Mencoba menuliskan mimpi sederhana tentang anak-anaknya. Namun dahsyat dalam implikasi kehidupannya.
Jadi, kalau kita sudah punya tekad menyekolahkan anak-anak kita, setinggi-tingginya, enterpreneurship adalah salah satu jalan yang bisa ditempuh. Hitungan linier atas penghasilan kita perbulan sangat muskil bisa meraih impian itu. Namun enterpreneurship bisa memberikan peluang penghasilan yang eksponensial, walau kadang bisa seperti gelombang amplitudo yang naik turun.
Bagi yang masih sulit mencari Reason dan Dream untuk terjun ke dunia Enterpreneur, bangunlah di tengah malam, pandangi anak-anak kita dalam lelap tidurnya, pandangilah wajah-wajah tanpa dosa itu, bermunajatlah kepada Sang Kuasa, temukan hakekat amanah yang sesungguhnya atas kehadiran anak-anak kita, temukan tanggung jawab apa yang diwajibkan ke kita atas anak-anak kita …. Semoga Reason dan Dream itu dihadirkan oleh Sang Kuasa
“Duh Gusti Alloh, sekarang yang penting aku usaha halal apa aja, yang penting anak-anakku bisa sekolah tinggi, jadi manusia yang Kamu kehendaki ……., berkahi semua langkah usahaku ” sang enterpreneur mengakhiri doa dalam sujudnya.
[tulisan ini saya persembahkan untuk Ayahku H. Ridwan Bakar, seorang enterpreneur, hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR). Mulai berwirausaha sejak umur 10 tahun, menjadi pedagang asongan rokok diperempatan. Menjadi pedagang busana dari mulai lapak sampai toko dipasar tradisional Jombang Jatim sejak tahun 1949-1994. Ya Alloh, ampuni segala dosa Ayahanda, ketika dalam setiap usahanya membesarkan kami. Amin]
Salam
Rosihan
Tuesday, March 11, 2008
Cashflow Tornado – Cara Bisnis Kuno Yang Masih Manjur
Apa Si Engkoh salah ? apa ngga bisa cari nilai tambah ? Waduh … boro-boro nilai tambah. Si Engkoh bisa jualan aja sudah bagus. Sudah modal cekak, ilmu marketing juga ngga jago-2 amat. Apalagi pengalaman punya toko besar, itu baru sebatas mimpi. Tapi apa sih tujuan awal Si Engkoh kok “nilai tambah-nya” main di harga lebih murah ? Apa alasannya
Si Engkoh memang lagi menerapkan apa yang saya istilahkan sebagai Cashflow Tornado, yaitu cara meningkatkan modal dengan menambahkan modal hasil profit di awal bisnis secara terus menerus sampai batas waktu tertentu. Semakin kecil modal, harus semakin kencang perputaran cashflownya. Jadi modal akan terus bertambah, dan tetap diputar lebih kencang. Ini adalah cara kuno pedagang tradisional pekerja keras dalam memulai bisnis. Layaknya angin tornado, lingkaran bagian bawah lebih kecil, berputar lebih cepat, makin keatas makin besar dan putarannya tidak terlalu cepat.Anda ingin coba ? coba saja segera. Caranya, cari bisnis yang sudah ada, dan memang jelas-jelas rame yang ada disekitar kita. Misal, konter pulsa, perlengkapan motor, warung khusus rokok, dll. Yang pasti dibutuhkan banyak orang sekitar setiap hari. Misal, kita pilih buka warung khusus rokok, mulai rokok kretek sampai rokok putih, komplit.
Apa nilai tambah dari bisnis Warung Rokok ini ? kita cari-cari aja supaya ada. Tapi kita bisa bilang, dibandingkan pesaing sekitar, bahwa nilai tambahnya adalah pelayanan yang prima, tempat nyaman, tampilan etalase rokok yang keren. Dinding warung kita pasang poster iklan rokok dari semua produsen. Kita juga bisa sediakan meja kursi, dan jualan Kopi Gingseng. Pahami kenikmatan para perokok, merokok sambil ngopi enak sekali.
Nilai tambah yang utama adalah semua jenis rokok ada dan selalu tersedia, bisa dibeli satuan, 1/3 atau 1/2 bungkus. Bahkan bisa campur, atau tersedia paket campur yang isinya bisa Ji Sam Soe + Gudang Garam + Sampoerna Mild + Malboro. Boleh juga khan ? asal ngga campur ganja aja. Bisa juga rokok + serbuk kopi, yaitu rokok yang bagian luarnya diolesin endapan kopi lalu dikeringkan. Dan nilai tambah yang paling utama, HARGA ROKOK PALING MURAH !!!
Tapi klo harganya paling murah, berarti untung Warung Rokok ini paling kecil dong … Ya pasti, sudah tahu strategi jualan dengan harga paling murah, ya pasti untungnya paling kecil. Lalu apa strategis-nya bisnis kayak gini ? awalnya kita pasti tidak tahu. Kita maunya Warung Rokok kita langsung rame dan cashflow berputar cepat.
Ternyata setelah kita buka Warung Rokok, dan karena murah, pasti rame, maka tidak kita sangka-sangka kita akan mendapatkan ilmu seperti ini :
· Ilmu 1 : Kita baru tahu kalau profil pelanggan rokok disekitar kita sebagian besar adalah pelanggan papan bawah, artinya beli rokonya eceran, kalau ngga beli satuan, 1/3 atau ½ bungkus. Tapi sehari pasti merokok sekitar 5-12 batang. Dan mereka ini price sensitif. Karena tahu Warung Rokok kita paling murah, dalam waktu 1-2 minggu pelanggan mulai rame.
· Ilmu 2 : Karena kita ramah, kita bisa pelan tapi pasti berhasil mendapatkan gambaran kebutuhan pelanggan atas rokok mereka. Ternyata ada permintaan asesoris sekitar rokok, seperti asbak, korek zippo, dan korek api lainnya. Kita bisa langsung menambahkan item-item yang sebelumnya belum berani kita jual. Ternyata, jualan asesoris perokok ini untungnya bisa 200%. Jadi keuntungan rokok bisa tersubsidi dari jualan asesoris perokok.
· Ilmu 3 : Karena kita ingin mengkomunikasikan nilai tambah kita, maka setiap pelanggan yang datang kita berikan pelayanan terbaik, artinya, kita telah meng-komunikasikan nilai tambah warung rokok kita kepada orang yang tepat. Jika pelanggan makin banyak, kita tentu makin percaya diri menyampaikan nilai tambahnya.
Karena murah dan beberapa nilai tambah, perputaran barang cepat. Cash flow-nya relatif bagus, net profit per bulan selalu ada. Tapi untuk mencapai net profit tersebut, otomatis kita kalang kabut, karena kita harus kulakan rokok ke grosir rokok dan asesoris setiap hari. Kalau tidak kita tidak bisa jualan dengan murah. Tapi demi memutar cash flow, kita harus rela terhanyut dalam Cashflow Tornado.
Cashflow tornado kadang membuat pebisnis pemula merasa capek, tidak bernilai, tidak nyaman dibanding zona nyaman-nya selama ini. Mencari uang kecil aja kok susah, dan kadang dengan mudah men-justifikasi bahwa ini bisnis yang kurang menghasilkan. Padahal yang terpenting sebenarnya bukan hasil jangka pendek, namun proses pembelajaran mengelola dari modal kecil menjadi besar, dan bagaimana kita bisa belajar mendapatkan pelanggan dan mengenali keinginan dan kebutuhan pelanggan dengan tepat dan cepat.
2 tahun kemudian Si Engkoh sudah menjadi Raja Grosir Rokok terbesar di kotanya, dan pesaingnya hanya bisa bilang “gila …murah banget emang jualannya” ….
Kesimpulan :Cashflow Tornado bisa membesarkan modal, sekaligus mengkomunikasikan nilai tambah kepada target yang tepat, dan bisa belajar mendapatkan pelanggan dan mengenali keinginan dan kebutuhan pelanggan dengan tepat dan cepat.
Tuesday, February 12, 2008
Bisnis Harus Dipilih sebagai Media Belajar
Kadang kita sudah terlalu terlena dengan apa yang dinamakan pendidikan formal. Kita seringkali lebih bangga dan lebih rela mengeluarkan ongkos yang sangat mahal untuk membeli pendidikan. Pendidikan formal, kursus, workshop dan lainnya memang bagus, sebagai media pendidikan formal, tetapi bukan media pembelajaran yang riil. Harus ada media pembelajaran lanjutan yang harus dipilih dan dibayar.
Memilih Bisnis sebagai Media Belajar, saya yakini juga sebagai suatu hal yang harus dipilih secara sadar dan wajib, bagi siapapun yang ingin menjadi pewirausaha. Jika ini sudah dipilih, berarti segala konsekuensi, termasuk membayar ongkos belajar-nya, alokasi tenaga, pikiran dan waktu, harus dibayarkan tunai.
Kalau di pendidikan formal kita berjuang keras harus lulus, berarti untuk sekolah disini pun kita harus lebih berjuang lagi. Kalau ngga naik kelas atau ngga lulus kita malu, sehingga harus belajar keras, sama halnya juga, seharusnya kalau kita berbisnis untuk belajar, wajib naik kelas dan lulus.
Dari bisnis riil, kita akan belajar secara langsung untuk memilih, lalu mengambil keputusan. Awalnya lambat, akhirnya kita bisa cepat dalam memilih dan mengambil keputusan. Sedangkan pengalaman dan kemahiran dalam menjalankan roda bisnis, akan berjalan dengan sendirinya seiring berjalannya roda bisnis setiap hari.
Jika kita masih bingung mau bisnis apa, saya rasa tidak ada salahnya memilih bisnis apa saja, yang penting kita sudah punya “sekolah bisnis yang riil”, dan kita punya tanggung jawab untuk berjuang untuk lulus.
Salam
Rosihan
Tuesday, February 5, 2008
Emotional Bank Account (EBA)
Mempunyai EBA adalah seperti kita mempunyai rekening deposito di Bank A, dan idealnya kita dapat selalu menambah deposito tersebut. EBA adalah Rekening Bank Kepercayaan yang kita tanamkan ke seseorang dalam suatu hubungan. Intinya adalah, seberapa banyak kita menanamkan rasa percaya orang lain kepada kita, dalam banyak hal.
EBA saya angkat kembali sebagai tulisan disini untuk mengingatkan kita, betapa penting membangun dan menanamkan rasa percaya antar orang per orang dalam suatu komunitas. Kita tidak bisa semena-mena dengan mudah mengatasnamakan komunitas untuk “memaksa” orang lain percaya dengan kita. Apalagi untuk percaya memberikan kemudahan dalam urusan bisnis.
Stephen Covey mengingatkan hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu, tapi mungkin kita lupa melakukannya. Ada beberapa cara menanamkan kepercayaan :
1. Mengenal Individu
Cara kuno mengenal individu adalah silaturrahmi. Silaturahmi yang tampak mata adalah berjabat tangan, membuat janji lebih sering bertemu di waktu luang, dan bisa lebih indah berkunjung kerumah, mengenal secara kekeluargaan. Lupakan cara online disini. Tidak ada emosi yang luar biasa bisa ditanamkan jika kita memulai silaturrahmi dengan cara online. Untuk itu, TDA sangat gencar mengadakan acara offline.
2. Menanamkan kesan yang baik
Ini maksudnya bukan akting, tapi betul-betul menanamkan aura selalu positif kepada orang lain. Ini bisa dimunculkan melalui hal-hal kecil, melalui pembicaraan yang ringan
3. Memenuhi komitmen
Komitmen adalah kata kunci dalam hubungan. Komitmen adalah Janji. Jika kita sudah mengeluarkan komitmen/janji, otomatis orang lain akan mengeluarkan harapan untuk bisa terpenuhi atas janji tersebut. Sekali janji dilanggar, kita telah menarik deposito rasa kepercayaan yang cukup besar. Menilai personal yang selalu mempunyai komitmen tinggi, sangat mudah dilihat dari kegiatan-kegiatan yang non profit. Jika yang non profit aja komitmennya tinggi, biasanya akan lebih komitmennya untuk kegiatan profit.
4. Komunikasi yang terbuka
Selalu mengkomunikasikan segala sesuatu secara terbuka, jujur dan apa adanya. Berbicara secara eksplisit, tanpa pernah ada itikad menyembunyikan sesuatu (implisit), apalagi politiking.
5. Memperlihatkan Intergritas Pribadi
Integritas memiliki definisi deskriptif yang luas. Integritas bisa berarti anda sesuai dengan yang anda katakan, bisa juga berarti kejujuran, bisa berarti tidak bermuka dua, memperlakukan orang lain dengan perangkat prinsip yang sama, tidak melanggar sistem nilai yang dia anut.
6. Meminta maaf, mengkomunikasikan apa yang terjadi
Jika suatu komitmen tidak terpenuhi, kepercayaan masih bisa dipertahankan jika kita bisa mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan baik, tentunya diiringi dengan permintaan maaf dan komitmen lanjutan.
Semua diatas sebenarnya sudah kita ketahui, bukan hal baru. Namun kadang kita lupa melakukannya, sehingga banyak buku ditulis ulang untuk sekedar mengingatkan.
Salam
(untuk TDA yang sedang menuju Trusted Society)
rosihan
Membebaskan dari Belenggu Sejarah
Mengapa sering saya ulang ? karena untuk meyakinkan kembali langkah diri, apakah betul sesuai dengan saya impikan ? atau justru saya masih hanyut dalam belenggu kesejarahan hidup ?
Menurut saya, kesejarahan hidup kita kadang tanpa sadar telah membelenggu begitu banyak potensi kehidupan kita. Mari kita runut kembali sejarah masa lalu kita masing-masing.
Bagi yang lahir pertengahan tahun 1960-an atau diawal tahun 1970-an, mereka adalah generasi yang dilahirkan dimasa tenang Indonesia dibawah Orde Baru. Kita bersekolah di era kebijakan pendidikan agak “otoriter”, tapi cukup enak, minimal biaya sekolah dulu sangat murah. Kehidupan cukup tenang, subsidi pemerintah berlimpah. Walau demokrasi agak dikekang. Lalu era industri juga lagi berkembang. Lulusan sekolah digiring untuk memenuhi kebutuhan industri. Mencari pekerjaan ditahun 1980-an sampai 1996 sangat “mudah”, karena ekonomi sedang tumbuh.
Lalu tanpa sadar ketika kita kelas 1 SMA, dihadapkan pada pilihan jurusan SOS atau IPA. Saat kelas 3 SMA kita dihadapkan pilihan Jurusan Kuliah. Setelah lulus, saat itu menjadi suatu kebanggan jika kita bekerja diperusahaan dengan latar belakang kuliah kita. Kita seperti mendapat penghargaan untuk bekerja “di bidang-nya”.
Saat umur 24-an mulai kerja, lalu tanpa terasa terprovokasi untuk mengejar jenjang karir, maka tanpa terasa waktu kerja selama 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, bahkan ada yang 20-an tahun bekerja “di bidang-nya”.
Sialnya bagi mereka yang mulai bekerja di Jakarta diawal tahun 1990-an, sudah harus tunduk pada aturan Ibukota. Mereka yang sudah berkeluarga, jika ingin beli rumah dengan posisi gaji saat itu, harus rela membeli rumah di daerah sub-urban seperti Tangerang, Serpong, Depok, Cibubur, dan Bekasi. Mereka sekaligus harus mau menjalani perjalanan pulang pergi kerja sekitar 2-4 jam. Suatu pengorbanan waktu yang tidak sedikit jika mau dihitung selama masa kerja.
Stop, mungkin itu cukup sebagai ilustrasi kesejarahan hidup kita. Pertanyaanya sekarang ? apakah saya masih terhanyut dalam alur sejarah itu ? apakah pilihan-2 jaman SMA dan kuliah yang dulu kita lakukan harus terus kita jalani ? apakah sebenarnya ini mimpi dari kehidupan kita ? apakah akan kita jalani sampai sisa hidup kita ?
Sebenarnya siapa yang menyuruh kita “bekerja dibidangnya”. Siapa yang menentukan bidang-bidang itu ? Kenapa saya kerja di Jakarta ? kenapa saya tinggal di Cibubur ? Siapa yang menyuruh kita menghabiskan waktu dikemacetan Jakarta ? Apakah saat ini saya sudah bisa punya pilihan baru ? Apakah saya bisa memulai kehidupan baru dengan pilihan yang lebih dewasa ? bukan hasil pilihan jaman SMA dan kuliah ?
Jika kita bisa memberikan jawaban-jawaban baru, tentunya akan lebih indah. Karena pilihan-pilihan baru itu hasil dari pilihan yang lebih dewasa, lebih rasional, lebih berwawasan. Tidak ada salahnya pilihan baru merupakan kelanjutan yang lebih advance dari sejarah masa lalu.
Tapi juga tidak salahnya untuk kesejarahan hidup kita yang tersisa, kita memulai saat ini dengan sesuatu yang benar-benar BARU. Karena hidup akan lebih bermakna jika kita bisa mengoptimalkan semua potensi kehidupan kita yang selama ini terpendam.
Salam
rosihan
Tuesday, January 1, 2008
Negara dengan Hari Libur Terbanyak, 127 hari setahun !!!
Astaga, tahun 2008 nanti kita akan libur 127 hari dari 365 hari setahun ini, alias sepertiga lebih dari rentang 1 tahun kita LIBUR !!!
Definisi Hari Libur => hari besar nasional, keagamaan, cuti bersama yang ditetapkan pemerintah (harpitnas), hari sabtu, dan hari minggu.
Januari = 11 hari libur
Pebruari = 10 hari libur
Maret = 13 hari libur
April = 8 hari libur
Mei = 13 hari libur
Juni = 9 hari libur
Juli = 9 hari libur
Agustus = 11 hari libur
September = 10 hari libur
Oktober = 11 hari libur
November = 10 hari libur
Desember = 12 hari libur
Ini kabar baik bagi para TDB, yang senang libur. Atau juga kabar baik bagi para TDB, karena bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis sampingannya. Tapi mungkin kabar kurang enak bagi para pebisnis yang punya bisnis sektor formal. Atau justru kabar baik bagi para pebisnis yang punya bisnis yang rame pada saat libur saja.
Ya itulah Indonesia, hari libur yang begitu banyak adalah cermin produktifitas. Jika yang libur banyak nganggur, maka rendahlah produktivitas. Jika yang libur banyak berbuat sesuatu yang meningkatkan nilai tambah, maka tinggilah produktivitas.
Menjadi TDA, semoga kita tidak ikut-ikutan libur kepanjangan, karena ancaman terbesar menjadi TDA adalah LIBUR SETIAP HARI alias MENGGANGGUR ! he..he..he...
Salam libur
rosihan
Percayalah, Tidak Ada Yang Baru Kalau Kita DIAM
Coba ingat setiap tahun baru yang lalu-lalu, mau tahun baru 2008, 2007, 2006, 2005 ..dst. Adakah rentang waktu itu betul-betul mempengaruhi hidup kehidupan kita ?
Sepanjang tahun 2007 kita dibuai oleh rendahnya bunga kredit, booming property. Kondisi ekonomi yang relatif stabil. Walau bencana alam dan masalah politik sudah pasti lalu lalang di negeri ini.
Coba ingat di awal tahun 2006, ketika semua sektor mencoba mencari keseimbangan baru akibat kenaikan harga BBM yang 2005 itu.
Tapi jika kita ingat lagi sedetil-detilnya ..ternyata semua berlalu begitu saja. Namun ada yang tidak berlalu begitu saja, namun justru memberikan makna-makna kehidupan yang nyata. Itu bagi mereka yang tidak diam, mereka yang terus bergerak mencapai target dan impian mereka.
Ya, saya sendiri sangat mempercayai, mau tahun baru Masehi, Hijriah atau Imlek, tidak akan berarti apa-apa jika kita dalam rentang kedepan kita hanya DIAM.
Maka BERGERAKLAH, kita mulai dari menuliskan MIMPI, men-detilkan dalam bentuk TARGET, merencanakan dalam bentuk RENCANA BISNIS sederhana. Bayangkan disetiap bulannya apa-apa yang harus kita lakukan dan kita capai. Saya yakin keberuntungan akan selalu berpihak pada kita.
Kata koran, kabar baik di tahun 2008, adalah tren kredit dengan bunga rendah masih berlanjut. Sektor keuangan juga akan terus naik, sektor riil pun meningkat. Kabar soal kenaikan premium yang batal juga bisa meningkatkan optimisme.
Tapi yang penting sebenarnya, kita tidak perlu terpengaruh semua itu, itu hanya wacana. Kalau ingin memulai bisnis, mulailah sekarang. Sekarang juga. Tidak perlu menunggu kabar baik ekonomi, apalagi politik negeri ini.
Bagi para pebisnis, setiap tahun itu selalu ada peristiwa, dan setiap peristiwa mau tidak mau, suka tidak suka harus selalu disikapi dengan mental bertahan dan terus berkembang. Tidak diam dan loyo. Apalagi lari dari masalah. Terus bergerak secara dialektis.
So, tahun 2008 TETAP MENJADI TAHUN KEBERUNTUNGAN KITA SEMUA.
Salam
rosihan
(shio tikus)
Monday, December 17, 2007
The Mission Statement
Adalah pada bulan April 1997 pada sesi training di Astra, ketika pertama kali saya dikenalkan tentang apa itu Mission Statement. Kami diajak nonton bareng film Jerry Maguire, film baru tahun 1996.
Adegan inti dari film itu adalah ketika Tom Cruise pada saat-saat yang kritis mulai menuliskan Mission Statement-nya pada malam hari. Didepan laptopnya dia menuliskan dengan mengebu, berkeringat dan bersemangat. Pikirannya melayang pada banyak hal impian langkah kedepan.
Hasil dari nobar film Jerry Maguire, kami para peserta training diminta menuliskan dengan tangan apa yang menjadi Mission Statement masing-masing untuk 5 tahun mendatang.
Saya agak bingung mau menuliskan apa. Pikiran saya tidak terbiasa dengan impian-impian. Saya sangat sulit menuliskannya. Akhirnya saya ambil gampangnya. Pada tahun 1997 itu saya mulai mempunyai tanggungan meng-kuliahkan S1 kedua adik saya, yang saat itu baru mulai kuliah dan yang bungsu masih kelas 3 SMA. Karena Ayahanda kami telah meninggal di tahun 1994. Padahal saya baru mulai kerja 3 bulan di Astra.
Mission Statement saya sederhana : “ Saya harus meng-kuliahkan 2 adik saya sampai menjadi sarjana S1 sama seperti saya”. Itu saja. Dan tulisan tangan itu dimasukkan di amplop putih, dan diberikan ke Instruktur Training. Setelah itu, sesi training selesai, dan saya tidak tahu untuk apa tulisan dan amplop itu, katanya akan disimpan.
5 tahun kemudian, pada April 2003, saya menerima kiriman surat, berisi Amplop putih. Saya tidak tahu dari siapa. Ketika saya buka, saya sangat kaget membaca tulisan tangan saya 5 tahun lalu, yang isinya “ Saya harus meng-kuliahkan 2 adik saya sampai menjadi sarjana S1 sama seperti saya”. Astra telah mengirimkan kembali surat Mission Statemen saya 5 tahun yang lalu itu.
Saya menangis ….
Saya menangis sambil membaca berulang-ulang tulisan tangan saya itu. Saya tidak menyangka Astra mengirimkan kembali kepada saya, dikala tanpa sadar apa yang saya tulis di Mission Statement itu semua telah saya tunaikan !!!
Pada April 2003 saat itu, kedua adik saya telah menjadi Sarjana S1, bahkan sudah bekerja semua. Saya langsung sujud syukur atas semua pemberian Alloh ini. Dan saya berterima kasih kepada Astra yang mengajari dan mengingatkan saya, arti penting sebuah Mission Statement.
Sejak itu, disetiap bulan Desember, adalah periode dimana saya bergulat dengan buku, diskusi dan pemikiran-2. Berusaha mereview tahun berjalan dengan mencermati acara Kaleidoskop TV dan artikel koran. Dan terus mencari Insight-2 baru.
Saya mengisi Malam Tahun Baru dalam dunia yang hening, untuk menyempurnakan dokumen penting dalam hidup saya, The Mission Statement.
Terima kasih kepada Astra Management Development Institute (AMDI) – Salam buat semua temen-2 ABTP 76
Salam
Rosihan
Sunday, December 16, 2007
Raja FO Telah Mengubah Visualisasi Impian Saya

7 Desember 2007 saya ikut IYE! Gathering, dan 14 Desember 2007, saya bersama Pak Roni dan Pak Tri Atmojo, tidak menyangka bisa berbincang-bincang dengan asiknya, dirumah super mewah, di kediaman Raja FO dari Bandung, Perry Tristianto.
Ini adalah LOA yang baru terjadi setelah saya pikirkan 3 tahun lalu, saat saya berkungjung FO China Emporium dan FO yang lain di jalan Riau Bandung. Waktu itu saya bertanya, siapa yang punya FO ini ? gimana caranya dia bisa bikin konsep seperti ini ? dan jumat malam itulah kami menemukan jawabannya.
Jika anda belum tahu pak Perry Tristianto, ketik saja nama ini di Google, akan muncul puluhan berita diberbagai surat kabar yang mengutip tokoh FO ini.
Banyak hal yang kita dapatkan dalam perjalanan 2 hari di Bandung. Mulai dari konsep dan ide-ide orisinal, rencana-2 bisnis dari diskusi kami bertiga, dan yang paling penting, banyak hal baru yang harus dikerjakan.
Semua ini membuat saya harus me-revisi satu dokumen penting yang mencatat target-target pencapaian saya. Dan Visualisasi Impian Saya Pun Berubah !
salam
rosihan
Wednesday, November 14, 2007
2% Yang Menghidupi dan 98% Yang Ilusi
Saya lalu browsing di internet, dan menemukan banyak tulisan Zaim Saidi, saya cuplik sebagian disini :
“Di pasar uang dunia kini transaksi Dolar telah mencapai angka 800 trilyun Dolar AS per tahun. Sementara nilai perdagangan dunia yang merupakan sektor nil ‘hanya’ 4 trilyun Dolar AS per tahun. Artinya, transaksi di pasar uang itu besarnya 20 kali lipat nilai transaksi perdagangan sektor riil. Kondisi demikian jelas mencemaskan, karena transaksi di pasar uang sesungguhnya bersifat maya, karena tidak ada barang yang diperdagangkan, kecuali uang itu sendiri. Fenomena itu kerap disebut ekonomi gelembung (bubble economy), karena nilainya yang begitu besar, tapi pada hakekatnya tidak ada barang riil yang diperdagangkan. Karena itu kita tinggal menantikan saatnya gelembung uang itu meledak, lalu meruntuhkan ekonomi global.”
Source : http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=19&Itemid=1
Saya merenung dan teringat dengan obrolan dengan temen saya yang konsultan keuangan, ketika kami mendiskusikan perdagangan saham dan sektor keuangan. Satu kata yang paling saya ingat, bahwa perdagangan saham adalah ZERO GAME. Apa itu zero game ? Yaitu suatu perdagangan dimana suatu keuntungan bisa terjadi karena adanya kebuntungan dari yang lainnya.
Temen saya bilang, kalau pingin kaya dengan cepat, ya main saham, itu sudah banyak bukti. Saat ini malahan banyak seminar yang menawarkan dengan pembuktian realtime, bahwa hanya dalam beberapa menit bisa dapat ribuan dolar. Mengapa itu bisa terjadi ? padahal itukan Zero Game ? kalau ada yang untung, berarti ada yang buntung dong .. oh itu pasti, karena :
- Banyak pemain saham pemula, yang mungkin sebagian besar loss, dan ngga mau main saham lagi, ini sumber keuntungan juga
- Banyak pemain saham menengah dan berpengalaman, yang memainkan uang investor, kadang untung kadang buntung
- Banyak pemain saham kakap, yang mampu menggoreng saham, bahkan menciptakan konflik didunia, baik secara politik maupun ekonomi, kadang meraup untung besar, tapi kadang buntung besar.
Lalu, kamu mau kaya disektor RIIL atau TAK RIIL ? wah, saya kebingungan. Kalau menuruti nafsu, maunya kaya cepat dan mudah, dan hasilnya kuayaaa banget. Tapi apa itu yang saya cari ? (kata saya dalam hati).
Pikiran saya melayang di Januari 1997, ketika saya masuk ASTRA. Saya teringat falsafah Astra, “Sejahtera Bersama Bangsa”. Saya teringat Hymne Astra, yang isinya begitu mengena. Om William pasti menginginkan kaya bersama karyawannya, masyarakatnya, negaranya.
So .. jika anda ingin kaya bersama bangsa, ya mainkan peranan kehidupan anda di sektor RIIL. Karena setiap usaha anda, meneteskan rupiah demi rupiah ke kantong karyawan anda, lalu mengalir ke keluarganya, lalu terbelikan di warung-warung tetangganya, lalu menghidupkan ekonomi desanya, kotanya dan negaranya.
Tapi jika anda pengin kaya cepat, mainkan peranan kecerdasan anda, di sektor TAK RIIL, yang memang menjanjikan keuntungan raksasa. Anda bisa kaya sendiri tanpa punya karyawan.
Ya itulah ekonomi dunia saat ini, hanya 2% yang menghidupi, namun ada 98% yang menjadi ilusi kekayaan dunia.
Salam
rosihan
Ngga Mungkin Bisnis Anda Bisa Jadi Konglomerat
Apa sih konglomerat ? tanpa perlu baca buku, saya mendefiniskan sendiri, bahwa bisnis konglomerasi itu adalah bisnis yang menguasai mata rantai bisnisnya-nya, dari hulu ke hilir, bisa vertikal atau horisontal.
Contoh yang yang dari hulu kehilir vertikal sbb :
Dari awalnya cuman punya toko elektronik, lalu bergerak ke arah hulu dengan membuka bisnis grosir barang elektronik, lalu buka produksi elektronik, lalu buka pabrik besar elektronik macem-macem, lalu buka pabrik khusus komponen elektronik, lalu pabrik bahan dasar komponen, lalu sampai buka bisnis pertambangan bahan inti sendiri.
Sedangkan ke hilir dari toko elektronik cuman satu, bikin banyak toko elektronik seantero negeri, bikin super store elektronik, bikin hiper store yang jual bermacem-macem elektronik dari semua produsen, sampai ekspor produk elektronik dan jadi importir dan distributor tunggal berbagai produk elektronik.
Contoh yang yang dari hulu kehilir horisontal sbb :
Dari awalnya cuman punya toko elektronik, lalu bergerak ke arah horisontal dengan invest properti untuk buka toko, buka super store, buka hiperstore. Buka bisnis pergudangan, sampai distribusi. Buka bisnis ekspedisi, lengkap dengan armada sendiri, armada perkapalan laut dan udara. Lalu buka bisnis pinjaman (financing), khususnya untuk financing produk elektronik, lama-lama produk apa aja. Bisnis financing besar, lalu bikin Bank, lalu bikin bisnis Asuransi. Buka sekolah elektronik. Buka lembaga riset elektronika dunia. Buka bisnis periklanan, buka bisnis media, radio, televisi, koran, dll …. dan seterusnya ….
Anda tahu apa kuncinya bisnisnya bisa menjadi konglomerasi ? jawabannya cuman satu : PEMBATAS.
Ya ..PEMBATAS adalah satu hal sangat penting dalam bisnis. Anda bisa menganalogikannya dengan beli tanah atau rumah diperumahan di kota sama di desa. Kalau kita beli rumah diperumahan, pembatas kanan kiri depan belakang sulit kita lampaui atau kita beli atau kita jebol. Kita terpaksa tidak bisa melebarkan rumah kita, walau kita mampu. Jika didesa, pembatas itu relatif mampu kita beli, sehingga kita bisa melebarkan rumah kita.
Ya ..di bisnis pun seperti itu. Bisnis bisa menjadi konglomerasi sangat tergantung dari Pembatas bisnis itu. Jelas sekali setiap jenis bisnis punya nature-nya sendiri. Contoh diatas sangat jelas sekali, bahwa secara vertikal, ketika bisnis awal membesar, maka pembatas ke arah hulu bisa dipecahkan, sehingga bisa bergerak ke arah hulu, sampai ke sumbernya. Juga kearah hilir, jelas bisa dilakukan. Jika berhasil melebarkan bisnis secara vertikal, melebarkan secara horisontal jauh lebih mudah, karena pola bisnis horisontalnya biasanya adalah bisnis yang men-support bisnis utamanya.
Lalu apakah bisnis saya saat ini bisa menjadi konglomerasi ???
Contoh Kasus :
Teman saya buka bisnis training SDM untuk running sistem berbasis SAP ituloh sistem ERP yang banyak dipakai di perusahaan. Apakah bisnis training ini besar BESAR ??? pasti BISA. Jelas, market size-nya adalah semua SDM pengguna SAP di Indonesia. Jika bisnis dia sukses bisa memonopili semua acara training pengguna SAP se-Indonesia, pasti bisa BESAR. Tapi sebarapa besar market size-nya ? Tanya SAP aja, anda pasti tahu jawabannya, yaitu sebanyak sistem SAP yang masih hidup yang di-implementasikan di Indonesia, dikalikan faktor n pengguna disetiap perusahaan. Bagaimana memperbesar market size-nya? wah, kalau ini susah jawabnya, karena market size-nya sangat tergantung dari pertumbuhan pemakai SAP di Indonesia.
Bagaimana bisnis tarining ini bisa dijadikan konglomerasi ? wah … ya dari bisnis Training SAP, anda harus buka bisnis Jualan SAP, supaya market size-nya ikut melebar. Jika sukses Jualan SAP, gimana lagi ? ya anda haru beli itu perusahaan SAP !!! Anda mampu beli SAP yang di jerman itu ??? Atau ada yang bisa menjabarkan jalan baru untuk jadi konglomerat ? (ayo dong … panas….panas….panas…)
Sebagian besar, bisnis yang bersifat Supportive Business memiliki pembatas hulu yang besar, yang kadang secara jelas menentukan market size bisnis kita. Jadi, sebelum anda fokus memilih bisnis anda, saya sarankan baca banyak-banyak kasus bisnis di dunia. Ini adalah satu contoh kasus.
Lalu saya harus pilih bisnis yang seperti apa ? Jawaban saya :
BELAJARLAH SAMA JEPANG – TAIWAN – KOREA & CHINA
Mengapa ?
- Bisnis INTI mereka adalah PRODUKSI & PERNIAGAAN
- Bisnis sekunder mereka adalah Semua Bisnis yang Mendukung Produksi & Perniagaan
- Bisnis lainnya adalah bisnis yang Mereka Tidak Mampu Mengadakannya Secara Pasti Karena Sudah Ditakdirkan (seperti sumberdaya alam)
Jadi, apa bisnis saya bisa BESAR ? oh pasti bisa BESAR …. TAPI TIDAK BISA MENJADI KONGLOMERAT ….
Haa….haaa…haaa ….. jangan serius-serius amat … entar capek deh…
(tulisan diatas tidak ditujukan untuk menggurui Anda, mencemooh, mengejek, menolok-olok, menunjukkan jalan salah bisnis Anda. Tidak ditujukan kepada satu/dua, atau segerombolan orang. Tetapi ya seperti itu tulisan ngawur saya …. salam dari yang masih belajar, jadi wajar kalau masih belum benar semua)
Tuesday, October 23, 2007
Mentalitas Yang Terbebani Identitas
The Real I (identitas yang sesungguhnya) digambarkan dalam sebuah lingkaran, yang didalamnya ada huruf RI (identitas riil) dan dikelilingi banyak lingkaran diluarnya yang membentuk suatu orbit, dimana setiap orbit terdapat banyak I (identitas tambahan) yang lain. Intinya adalah, bahwa identitas kita yang sesungguhnya, seringkali dikelilingi, bahkan tertutupi oleh identitas-identitas tambahan lainnya yang melingkupi pada saat itu. Poin-poit itulah yang saya pahami sampai saat ini.
Coba sekarang kita menanyakan kepada diri sendiri.
Hey… kamu itu siapa sih sesungguhnya ? Kalau saya ditanya seperti itu, saya pasti akan terjebak menjawab sbb:
Oh, “saya Rosihan, saya orang Jawa, saya alumni ITB, saya Konsultan IT, saya bekas Karyawan Astra, saya, saya …, saya …. “ dan seterusnya.
Apakah semua jawaban itu adalah identitas seorang Rosihan sesungguhnya ? saya merasakannya tidak. Jika orang tua saya menamakan Agus juga bisa, jika saya besar di Jawa Barat saya akan jadi orang Sunda, jika saya kuliah di UI maka saya Alumni UI, jika saya ngga kerja di Astra ngga mungkin jadi Karyawan Astra, dan seterusnya …
Semua identitas itu adalah identitas tambahan yang melekat pada diri saya, yang terjadi karena suatu kondisi dan pilihan-pilihan. Bukan Identitas yang sesungguhnya (Real I).
Identitas Yang Membebani
Sadar atau tidak, semua identitas tambahan yang pernah melekat, atau saat ini melekat pada kita, seringkali mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Kadang mengambil keputusan untuk “Menjadi Seseorang Yang Baru” atau menambah identitas tambahan yang baru, kita menjadi sulit. Kita kadang menjadi terbebani oleh identitas lainnya yang telah melekat.
“Seorang Manager” kadang merasa RISIH untuk memulai menjadi “Seorang Pedagang”. “Seorang Penulis” merasa RISIH menjadi “Seorang Pengusaha”, atau
“Seorang Pengusaha” merasa RISIH menjadi “Seorang Politisi”, dan lainnya.
Kalau kita bedah kata “RISIH”, sebenarnya terdiri dari sekumpulan asumsi-asumsi dan pemikiran negatif. Perasaan risih ini terjadi, karena mental kita sudah terbebani oleh identitas yang melekat itu. Kita sedang sibuk membanding-bandingkan antar Identitas. Ini suatu hal yang sangat tidak perlu.
Jika kita terus berjuang untuk mengenal siapa diri kita sesungguhnya (Real I), sebenarnya kita tidak perlu merasa terbebani, apalagi terkungkung oleh identitas yang melekat itu. Kita bisa sesuka hati menjadikan kita sebagai: “saya Pengusaha, saya Penulis, saya Pedagang, saya Konsultan” ..dan lainnya.
Ini merupakan salah satu modal mental untuk “Menjadi Apa Aja”, dengan lebih jelas, yakin dan rileks. Kita tidak perlu takut “menjadi yang baru”, dan ini adalah modal dasar kita untuk bergerak terus maju menjadi yang baru.
Jadi, yang “Programmer” tidak perlu merasa risih menjadi “Pedagang”. Yang “Pedagang” tidak perlu merasa minder menjadi “Konsultan”. Yang “Konsultan” tidak perlu merasa rugi jadi “Penulis”. Yang “Penulis” tidak perlu merasa takut menjadi “Pengusaha”
Semua itu adalah pilihan-pilihan, dan “Menjadi Itu “ adalah tidak kekal. Itu bisa berubah. Itu bisa ada masanya. Yang kekal adalah menjadi saya yang sesungguhnya (Real I).
Adalah picik kalau sebagian besar hidup kita hanya dilekatkan pada Satu Identitas. Adalah picik kalau seorang Rosihan hanya ingin menjadi “Konsultan IT”, karena seorang Rosihan selalu bermimpi akan bebas menjadi apa aja, bisa menjadi “Pedagang, Perancang Mode, Pengusaha, Penulis, Pembicara, Politisi, Pejabat, Konglomerat, Pendakwah, Kyai, atau bahkan Guru Bangsa…..”
Sunday, August 5, 2007
Menjadi Pengusaha dengan Proses Dialektika Tanpa Henti
- Bagaimana Anda dulu memulai menjadi pengusaha ?
- Bagaimana ceritanya usaha Anda bisa menjadi besar seperti ini ?
- Berapa dan darimana modal awalnya ?
- Apa cita-cita Anda sesungguhnya ? Apakah sesuai dengan visi dan misi Anda ?
- Apakah keunggulan Anda ?
- Apa saja tips-tips sukses Anda untuk bisa menjadi besar seperti saat ini ?
- Dan seterusnya berderet-2 pertanyaan dengan awalan bagaimana, apakah, berapa, siapa …dst ..dst..dst …
Semua pertanyaan diatas bukannya tidak boleh, boleh-boleh saja. Asal yang menanyakan adalah wartawan, entah itu wartawan majalah bisnis atau kewirausahaan. Karena tujuannya untuk menuliskan sebuah proses, sebuah perjalanan, untuk mudah dibaca secara runtut dan dipahami pembacanya.
Tapi jika pertanyaan-pertanyaan itu ditanyakan oleh anak muda yang mau menjadi pengusaha, itu semua adalah pertanyaan yang menyebalkan. Kenapa, karena pengusaha itu tidak mungkin mampu mengingat setiap detil perjalanannya yang penuh dengan proses dialektika tanpa henti. Itu saja !.
2 Jalan Yang Memang Berbeda
Suatu hari, 2 anak muda diberikan tugas untuk menuju ke suatu kota X yang terpencil dan belum banyak data yang bisa menjelaskan keberadaannya. Tapi kota itu bisa dicapai pulang pergi hanya dalam waktu 10 hari. Apa yang berbeda yang dilakukan oleh 2 anak muda itu ?
Si Pintar :
Karena pintar, sibuk mendapatkan data dulu, dimana kota X berada. Seberapa jauh, alat transportasinya apa, berapa biayanya, bagaimana dukungan akomodasi, dll. Intinya, persiapan yang matang untuk sebuah keniscayaan yang belum jelas adanya. Hasilnya apa ? semua data-data tetap ia dapatkan, walau bukan data yang akurat. Dari data itu, dia juga sudah menetapkan asumsi-asumsi, perencanaan plan A, B, dan C. Akhir kata, Si Pintar berangkat dengan keyakinan, bahwa dia berani karena merasa persiapannya matang.
Si Bonek :
Tidak ada yang dilakukan secara berlebihan, dia melakukan perencanaan sewajarnya. Mengapa ? karena dia yakin atas penjelasan awal, bahwa kota X yang terpencil itu memang belum banyak yang tahu disini. Jadi percuma kalau dia tanya sana-sini ketika belum berangkat. Dia hanya menyiapkan bekal untuk cukup berangkat dan pulang. Akhir kata, Si Bonek berangkat dengan keyakinan, bahwa dia berani karena dia siap menghadapi apapun yang terjadi. Dia siap bertanya sepanjang perjalanan. Dia yakin, semakin dekat dengan kota itu, semakin banyak orang yang akan memberitahu tentang kota itu.
Apa yang terjadi selama perjalanan ?
Si Pintar :
Dia mulai berangkat, dengan plan A. Ketika pertama kali dia menemukan kondisi yang berbeda dengan rencana dia temukan dijalan, dia sudah gelisah dan kesal, kok tidak sesuai rencana. Mulailah dia masuk ke plan B. Agak tenang meneruskan perjalanan. Tapi kondisi baru yang berbeda terus ditemukan. Semua plan A, B dan C sudah tidak memadai. Dia mulai putus asa. Dia merasa salah persiapan, kurang data, data tidak akurat. Dia semakin yakin, bahwa akan banyak dijumpai kondisi-2 diluar rencana yang harus dia hadapi. Lebih baik pulang balik mempersiapkan lebih baik, daripada meneruskan dengan bekal yang makin menipis. Akhir kata, dia menetapkan untuk pulang balik.
Si Bonek :
Disetiap penggal perjalanan, Si Bonek selalu bertanya, mulai mengumpulkan data. Baginya, setiap kondisi baru yang ditemukan, adalah bahan pertanyaan. Setiap kondisi baru akan memberikan jawaban. Semakin ketemu banyak kondisi, dia semakin bisa menyimpulkan keberadaan kota yang dicari. Semakin banyak pula petunjuk-petunjuk. Bahkan ketemu dengan orang-2 yang sudi membantunya. Dia semakin yakin, kota yang dicarinya semakin dekat. Akhir kata, dia menemukan kota itu, dimana dia disambut bagaikan keluarga oleh warga kota setempat. Dia mencoba mengingat, semua yang terjadi di perjalanan, sama sekali tidak pernah terlintas dibenaknya. Yang ada dibenaknya hanya dimana dan bagaimana kota itu.
Si Bonek dan Kecerdasan Dialektis
Proses dialektika adalah sebuah permainan antara cita-cita dan rencana versus realitas yang ada didepan mata, saat ini. Setiap kita, yang berpengetahuan, selalu terkena kutukan rencana. Setiap kita yang terus melangkah, selalu berhadapan dengan realitas yang nyata. Apakah rencana dan realitas selalu sejalan ? maunya kita iya, realitasnya tidak. Realitas ternyata mempunyai jalannya sendiri. Realitas kadang tidak mau mengerti atas rencana-rencana kita. Lalu, bagaimana jika rencana vs realitas tak sejalan seperti yang kita harapkan ? disitulah akan selalu hadir pilihan-pilihan. Dan disinilah kegagalan untuk memilih bisa terjadi.
Cerita Si Bonek, adalah gambaran sebuah ikhtiar tanpa henti. Modal ikhtiar Si Bonek begitu meluap. Begitu siap menghadapi realitas didepannya. Antara tujuan dan rencana perjalanan, versus realitas yang ada didepan mata, dicoba untuk selalu dicarikan jalan keluar. Proses dialektika terus dilakukan untuk selalu mencari jalan keluar, disini kata kebuntuan haram hukumnya digunakan. Bagi Si Bonek, proses dialektis adalah jalan keluar untuk setiap permasalahan.
Si Bonek adalah gambaran sebuah Kecerdasan Dialektis, sebuah kecerdasan terintegrasi dalam mensiasati kehidupan. Kecerdasan ini bisa hadir jika kita terus mengasah intelektual kita, emosi jiwa kita dan spiritualitas kita. Mengapa ? karena Proses Dialektika membutuhkan pengetahuan dan pembelajaran atas hal baru tanpa henti, sekaligus secara emosi menerima setiap realitas yang tak sejalan dengan jiwa besar, dan memasrahkan hasilnya kepada Sandaran Spiritual.
Bagi saya pribadi, keseluruhan hidup yang saya alami saat ini tidak pernah terlepas dari proses dialektis. Saya selalu mengingatkan diri untuk selalu dan terus …
- menjadi manusia pembelajar, tanpa henti
- menjadi manusia ikhlash, menghadapi apapun realitas yang ada
- menjadi manusia penuh ikhtiar, belajar bermain dengan pilihan-pilihan
- menjadi manusia yang pasrah atas hasil yang ditetapkanNYA.
Salam
rosihan
Thursday, May 24, 2007
Gaya Hidup UMR
Dari pekerja yang bergaji “pas-pasan”, lalu buka usaha sendiri, sukses, dapet uang beberapa kali lipat dari gajinya, banyak yang merasakan sebagai bebas finansial. Ya betul 100%, sang pengusaha akan bebas mau beli apa aja, mulai dari baju, makan, mobil, rumah, dll. Ada yang salah ? oh tidak, lah wong itu duit-2nya sendiri. Sah-sah saja. Selama hasil usahanya bisa mencukupi semua pengeluarannya. Nah inilah nikmatnya jadi pengusaha.
Lah kok bisa dibilang kaya ? Emang orang kaya harus punya banyak uang ? Tidak mutlak seperti itu. Coba tanya tetangga, orang kaya itu jawabnya pasti yang rumahnya bagus, mobil mentereng, baju keren, dan hobi mejeng di kafe beken. Definisi kaya itu bagi banyak orang adalah yang tampak dimiliki, bukan yang disimpan. Apalagi dalam bentuk investasi yang berbuah passive income.
So, kalau pengin jadi TDA, dan buka usaha sendiri dengan cita-2 kaya seperti itu, boleh-boleh saja. Itukan uang anda sendiri, dan saya yakin mencapainya juga ngga mudah. Tapi kalau Anda seperti itu, saya mengatakannya “Anda Berbisnis untuk Membiayai Gaya Hidup Anda !”
Ujung-2nya adalah gaya hidup. Gaya hidup sering tumbuh seiring keberhasilan anda. Jaman bergaji 1 juta, anda bisa bergaya hidup 1 juta. Setelah jadi TDA, usaha sendiri, dengan hasil usaha 20 juta, ternyata gaya hidup anda tidak terasa menjadi 20 juta juga. Sampai kadang-2 bingung, kok bisa ya ada orang bisa hidup dengan 1 juta sebulan. Padahal itu sudah pernah anda lewati. Saya mengatakannya Anda tetap orang sukses, ya, sukses untuk bisa membiayai gaya hidup anda sebanyak uang yang anda punya. Dan anda sedang membangun tangga, yang jika suatu saat tangga itu patah, anda akan jatuh dengan lebih menyakitkan.
Itulah yang paling banyak saya dengar, baik karyawan atau pengusaha, baik yang pegang uang sebulan 1 juta, 5 juta, 20 juta, atau 50 juta, keluhannya sama. Uang yang mereka pegang masih kurang .. kurang dan kurang … Lah gimana mengatasinya ?
Rubah mindset anda, tetapkan Plafon Gaya Hidup Anda, sekarang juga. Plafon adalah batas atas, dan gaya hidup memang harus dibatasi. Seberapapun anda pegang banyak uang, tetap anda harus tetapkan plafon itu. Kalau bisa, tetapkan plafon gaya hidup anda, senilai UMR dikota anda !
UMR dihitung oleh para ahli, dan mereka yakin orang dengan gaji UMR pasti masih dapat hidup, untuk semua jenis pengeluarannya. So, kita pasti juga bisa dong hidup dengan pengeluaran sejumlah UMR setiap bulannya ? khan orang lain bisa …
Anda semua pasti ngamuk … ngawur aja kamu, pulsa HP-ku saja senilai UMR ! belum bajuku, makan, nonton, beli buku, ngafe, dll. Yang nempel dibadanku setiap hari saja sudah senilai 3xUMR, belum makan, ketemu temen-2 dll, itu sudah 1 UMR. Belum lagi pengeluaran keluarga, anak-2. Ya ngga mungkinlah …
Ya itulah jawaban kenapa menjadi TDA, usaha sendiri, memang ngga betul-2 menjamin anda punya banyak uang. Tapi hanya menjamin meningkatnya Gaya Hidup Anda …
Saya punya mimpi itu, tapi susah sekali meraihnya, sepertinya mustahil. Karena ini adalah bentuk pencapaian yang terbalik.
Bagi saya, Gaya Hidup UMR adalah cermin kesederhanaan.
salam




