Re-launching SAQINA.COM

Re-launching SAQINA.COM
Bisnis online sering dibayangkan mudah. Namun kami ingin mengelolanya sebaik toko-toko offline kami.

Sunday, July 26, 2009

Entrepeneurship itu JADUL !

Suatu siang dikantor SAQINA.COM, saya kedatangan tamu kawan dari TDA. Hari ini, kawan ini berniat bersilaturrahmi, dan mengabarkan, bahwa hari ini adalah hari pertama dia menuju TDA. Alias sudah sudah resign kemarin. Saya ucapkan dengan tulus, Selamat Berjuang. Suasana penuh semangat, ingin segera action atas segala rencana untuk menjadi entrepreneur. Asik yaa, saya selalu terharu dengan suasana semangat itu. Semua rencana dikabarkan. Semua proses yang akan dilalui dicoba dikonsultasikan.

Semasa menjadi karyawan, kawan kita ini ternyata kompetensinya luar biasa. Pengalaman kerja 6 tahun di industri consumer goods, karir dimulai dari bawah, merangkak sampai level management. Ia paham produksi, manajerial juga marketing. Ia pernah punya tanggung jawab membangun outlet-outlet ritel perusahaan. Ia sudah terbiasa dengan semua model perencanaan, kalkulasi bisnis, setting target, strategi pelaksanaan, pembangunan outlet, penyiapan karyawan, membuat dan men-training SOP, promosi bahkan sampai monitoring oulet sampai running well dan juga pelaporan. Suatu pengalaman kerja yang terintegrasi yang tidak semua bekas karyawan pernah mengalaminya.

Lalu, kita mulai membicarakan rencana wirausaha yang akan dijalaninya. Saya terkaget-kaget. Dia seperti mau berjalan tanpa pengetahuan. Ingin mencoba dulu beberapa bentuk usaha. Katanya takut gagal diawal. Tanpa business plan, tanpa berani menentukan target awal. Padahal dia tahu betul, untuk masuk dengan produk baru, harus riset market, harus menentukan STP (Segmentasi, Targeting & Positioning) dulu. Untuk memulai langkah, dia harus menentukan semua target cost-nya, juga berapa target laba-nya. Setiap langkah operasional harus ada target-nya. Setiap target yang harus dicapai, harus disiapkan semua perangkat pendukungnya, infrastruktur bisnisnya, SDM-nya, strateginya, dll-nya.

Lha kenapa jadi entrepreneur malah jadi berpikir terbalik ? kenapa jadi gagap business plan ? kenapa jadi takut menentukan target ? kenapa jadi bingung ketika harus mem-break-down infrastruktur bisnis apa saja yang harus disiapkan ? kenapa tidak berani menentukan target laba ? kenapa jadi gagap strategi pemasaran ? Kenapa kalau ditanya soal hasil jawabnya selalu “ya kita lihat saja nanti, namanya baru mulai, baru mencoba” ? Kenapa jadi takut bergerak bebas terencana dan terstruktur ketika Anda bisnis menggunakan Uang Anda Sendiri ??? Hayooo ….

Terus segala pengetahuanmu selama jadi karyawan kamu kemanain ??? kamu jangan tiba-tiba merasa memasuki dunia baru. Menjadi entrepeneur itu baru bagimu, tapi soal ilmu, Entreprenership itu Jadul !!! ilmu itu sudah ada sejak dulu. Bukan lahir kemarin sore. Semua ilmu yang kamu pahami di bekas perusahaan-mu itu sudah hampir 90% ilmu entrepreneurship untuk membesarkan bisnis perusahaan. Harusnya kamu bisa menentukan target dulu, baru secara mundur kamu mengisi semua hal infrastruktur yang diperlukan dalam mencapai target itu.

Selama ini memang ilmu entrepreneurship terkurung di perusahaan-2, terperangkap di sekolah-2 manajemen. Jadi ketika euforia entrepeneurship lagi hot, seakan-akan buku-buku2 entrepreneurship yang ada sekarang ini mengusung ilmu baru. Padahal muara menjadi entrepreneur itu ya punya perusahaan, menjadi konglomerat, lalu cukup menjadi Investor. Bicara evolusi bisnis, dari bisnis mikro dimulai menjadi bisnis kecil, menengah lalu besar menjadi Korporasi ! Setelah menjadi korporasi, ya berkutat di masalah-2 korporasi. Dan itu semua sudah puluhan tahun lalu ada.

Pendiri dan Pemilik bekas perusahaan-mu bekerja, itu sudah hampir menyelesaikan semua perjalanan menjadi entrepreneur ! namun tetap ingin terus tumbuh ! karena tidak ingin perusahaannya mati. Makanya mereka semua ingin karyawan level manajemen mempunyai jiwa INTRA-preneurship ! supaya perusahaan terus tumbuh.

Tahun ke-1 s.d ke-3 mungkin kamu coba-coba usaha. Tahun ke-3 kamu sudah yakin ada salah satu bisnismu yang yakin bisa kamu besarkan. Tahun ke-4 dan 5 bisnis-mu berkembang. Tahun ke-6 s.d 8 kamu sibuk menata manajemen, mulai merekrut karyawan-2 kunci, tanpa sadar bisnismu menjelma menjadi korporasi. Tahun ke-9 dan 10 kamu sudah sibuk mengembangkan kompetensi Manajemen Perusahaan-mu untuk terus berkembang. Makin banyak karyawan yang kamu rekrut dan kamu kirim ke Lembaga Training Manajemen. Dan seterusnya. Semua itu siklus itu sudah dilakukan oleh semua pendiri, pemilik dan diteruskan oleh karyawan manajemen-nya.

Hayo … jadi entrepreneur jangan pura-2 goblok. Entrepreurship itu sudah terstruktur ilmunya. Kamu sudah tahu semua, dan sudah terlalu pintar untuk menjadi entrepreneur …….

Salam
Rosihan
www.saqina.com

Friday, July 24, 2009

2009 Tahun yang Dag Dig Dug

Tahun 2009 tahun yang mendebarkan. Periode akhir oktober telah mengabarkan krisis global. Awal 2009 Indonesia punya agenda panas, PilLeg danPilPres. Hari ini, Juli semua yang panas telah berakhir. PilpPres memang cukup 1 putaran. Bangsa sudah capek untuk demokrasi yang kebablasan.

Apakabar bisnis ? apakabar dunia entrepeneurship? 2009 tinggal tersisa separohnya. Saatnya bekerja lebih pasti walau masih dalam ketidakpastian. Ketika euforia politik usai, Juli dikagetkan oleh 2 bom teroris yang menyerang simbol Amerika. Semoga ini bisa segera kita lupakan dampaknya.

Mencatat perkembangan diakhir Juli, dolar sempat melunak menuju dibawah 10ribu. IHSG terus meroket jika dibanding 6 bulan lalu. Kabarnya, ekonomi global sudah menuju jalan pemulihan. Tapi bagi Indonesia, bulan Agustus s.d Desember adalah bulan yang ditunggu. Karena hanya cukup dalam 6 bulan ini, Indonesia akan mencairkan kurang lebih s.d 70% anggaran APBN-nya. Jadi, 6 bulan kedepan saya sangat optimis. Akan banyak uang beredar yang akan menggerakkan sektor riil.

Apakabar lebaran 2009 ? momen yang sangat saya tunggu, tinggal 2 bulan lagi. Seharusnya bulan-bulan ini perdagangan terkain produk-2 lebaran sudah ramai. Tapi ternyata masih adem ayem. Ini pertanda keramaian akan menumpuk di 1 bulan terakhir, tepatnya akhir Agustus s.d pertengan September. Jadi, strategi apa yang tepat ?

salam
rosihan
www.saqina.com

Monday, April 6, 2009

Entrepreneur Tanpa Pengetahuan Bisnis

Dalam satu perbincangan dengan member senior TDA, saya diingatkan kembali tentang betapa euforia kewirausahaan saat ini adalah kopong (fundamentalnya tidak ada). Saya terkejut, apa itu Pak ? ya, karena sebagian besar baru level motivasi, baru ribut-ribut diurusan pindah kuadran. Ada kesenjangan yang luar biasa antara mereka yang baru memulai dengan yang sudah dicitrakan sukses bisnisnya.

Yang baru memulai, terlalu banyak kekenyangan jargon-jargon motivasi, terlalu sering ikut acara fantastis penuh cerita sukses, gairah kewirausahaannya meluap-luap saat hadir diacara. Tetapi kebingungan ketika sampai dirumah. Sementara yang sudah sukses sibuk menebar pesona cerita sukses, tanpa disadari sebenarnya mereka sangat jarang menceritakan apa kunci sukses mereka. Semua yang tampak adalah kulit luar yang indah saja.

Saya makin bertanya, jadi fundamentalnya sebenarnya apa Pak ? fundamentalnya adalah pengetahuan teknis soal bisnis, secara lebih khusus soal manajemen. Saya ditanya coba terangkan secara berurutan, bagaimana caranya meluncurkan produk baru, dari A sampai Z ! Saya jelas kelagapan, karena saya memang tidak tahu teknis ilmu bisnisnya.

Saya ditegur, harusnya Anda lebih dalam mempelajari teknis bisnis, karena setelah sukses memulai, Anda harus sukses mengelola dan membesarkan. Lalu sukses konglomerasi ! Waks ?? Saya diingatkan kembali untuk kembalilah menjadi mahasiswa jurusan bisnis.

Betul, saya rasa bagi yang ingin memulai, coba berhentilah ber-motivasi ria … saatnya belajar dari buku yang basic, yang mendasar. Jangan melulu membaca buku “Cara Edan Jadi Pengusaha” atau “Cara Cepat Kaya Raya” atau “Sukses Bisnis Modal Lutut” … itu semua adalah bunga-bunga euforia kewirausahaan.

Pengetahuan teknis bisnis sangat mudah didapat. Bagi yang pernah kuliah di fakultas ekonomi, buku terjemahan “Pengantar Bisnis (Introduction to Business) – buku 1 & 2” pasti pernah dibahas. Juga buku “Kewirausahaan – buku 1 & 2”, pasti juga pernah dibahas. Semua buku-buku ini membahas secara detil aspek-aspek bisnis. Banyak sekali pertanyaan para pemula bisnis yang sudah ada jawabannya di buku ini. Banyak yang bilang, buku-buku seperti ini sangat tidak menraik, karena tidak INSTANT !

Saya bertanya, tapi Pak, itu khan buku mahasiswa ? teoritis, bertele-tele ? jawabannya jelas tidak. Saya ditanya, kamu khan kuliah teknik, pernah bekerja di perusahaan, punya wawasan kerja dan sedikit manajemen. Kamu pasti berbeda dengan mahasiswa. Mahasiswa baca buku untuk lulus ujian, jelas berbeda kalau kita yang baca. Kita baca buku teori itu dengan pisau pemikiran yang lebih tajam, karena kita sudah menjadi pelaku bisnis, bukan mahasiswa bisnis. Sangat berbeda perspektifnya. Saya dianjurkan terus membaca buku-2 manajemen dan marketing.

Satu pertanyaan lagi, tapi Pak apa betul kalau jadi pengusaha harus tahu detil soal bisnis ? apakah nantinya malah kita “in business (didalam bisnis)” ??? saya khan cita-cita punya bisnis tanpa kehadiran kita ??? …

Gundulmu !!! kamu itu keblinger sama definisi Brad Sugars ! yang kamu masukkan dalam pikiranmu cuman “ongkang-ongkang setelah bisnis jalan sendiri tanpa kehadiran kita” cuman itu khan ? jelas sekali kamu ngga memasukkan dalam pikiran-mu, bahwa syarat utama kamu bisa “meninggalkan bisnis”, adalah bisnismu harus sudah bisa berjalan sendiri dan sudah menghasilkan keuntungan !!! lha kamu ? mempelajari dan bikin sistem-nya aja belum, untung layak aja belum, sudah mikir ongkang-ongkang-nya duluan ….

Salam
rosihan

Thursday, March 5, 2009

Dapur Lansia

Sejak kami bisnis sendiri, kami menyalurkan sebagian jatah wajib sisa hasil usaha ke saluran-saluran yang kami kelola sendiri. Kami sendiri tidak merasa perlu mengkategorikan ini zakat, amal jariyah, CSR atau apa namanya. Bagi kami, yang terpenting adalah wujud dari action ini nyata, diterima langsung oleh yang kita inginkan, dan berdampak sangat mengena.

Dapur Lansia, kegiatan yang kami gagas sejak kenaikan harga BBM yang terus melambung. Sebagian rakyat didesa-desa tertinggal (IDT) secara langsung merasakan tertatih-tatih dalam mengikuti kenaikan harga-harga bahan pokok. Mereka sudah angkat tangan, yang penting bisa makan seadanya, sekedar untuk melanjutkan sisa hidup.

Jika Anda pernah “wisata” ke desa-desa miskin, problem-problem kemiskinan sepertinya abadi untuk tidak mendapat penyelesaian. Dapur Lansia kami dirikan karena kondisi lansia-lansia di desa yang tidak jauh dari tempat kelahiran kami, sudah sangat menderita. Struktur keluarga, kondisi sosial masyarakat, lokasi geografis, kondisi alam, semuanya seakan kompak mendukung kemiskinan.

Lansia (khususnya perempuan) adalah korban yang kami temukan sangat berat kondisinya. Mereka sebagian besar “janda” yang ditinggal pergi atau meninggal oleh suaminya. Mereka yang juga ditinggal oleh anak-anaknya yang telah merantau entah dimana dan bagaimana kondisinya. Mereka yang sudah terlupakan oleh saudara-saudara kandungnya, karena sama-sama miskin. Kemiskinan melahirkan kemiskinan. Kebodohan melahirkan kebodohan.

Alhamdulillah, Gusti Alloh masih menitipkan rejeki 20 Lansia kepada kami, untuk kami salurkan dalam bentuk Dapur Lansia, yang memberikan ransum 2 kali makan setiap hari kepada mereka secara gratis, insyaAlloh sampai mereka meninggal dunia. Hanya ini yang bisa kami lakukan, memberikan makanan ala kadarnya sebagai penyambung hidup. Kami belum bisa memperhatikan kesehatan mereka, apalagi kesejahteraan mereka. Terima kasih untuk Saudara, Teman, yang telah menitipkan dana-dana untuk bersama membantu mereka. Amal Anda pasti dicatat-NYA.

Dihadapan para Lansia, diantara rumah gubug reot, diantara ember bak mandi mereka yang kotor, saya membisikkan dengan keras ke anak pertama saya. “Lihatlah didepan matamu Nak, ini wujud nyata kemiskinan Indonesia. Kamu harus sekolah setinggi-tinggi-nya, kamu harus sukses, kamu harus kaya. Ada 5 hal nyata yang harus kamu bangun kelak, (1) Sekolah untuk Orang Miskin, (2) Pusat Perdagangan & Pabrik (untuk membuka lapangan kerja), (3) Rumah Sakit untuk Orang Miskin, (4) Panti Asuhan (5) Panti Jompo.” Salam sukses Nak !

rosihan
http://www.saqina.com/

Monday, February 16, 2009

Indonesia Surga Wirausaha (3) Seri Market Tak Terbatas

Ngga percaya kalo’ Indonesia itu surga wirausaha ? … dijamin nyesel seumur hidup. Saya coba tunjukkan ya lewat cerita-cerita kecil, kalau di Indonesia itu, potensi market tak terbatas, segmen-nya luas, dan mudah cari pelanggan ! ngga percaya ???


Mau bisnis apa aja, SELALU ADA SEGMEN-NYA !!!

Ngga percaya ?? seorang disainer bikin baju, cuman 1, eksklusif, harganya 10 juta. Laku, yang beli istri pejabat. Kenapa laku, soalnya dibuat cuman 1. Kalau beli yang kodian, istri pejabat ini takut disamain sama istri-istri anak buah suaminya yang pejabat itu. Banyak juga yang suka beli barang impor, hanya karena mahal, tidak ada saingan ! Sampai-sampai minggu lalu, para pejabat mem-promosikan sepatu buatan dalam negeri !!
Lalu, coba bikin baju harga 5000, pasti laku. Yang beli rakyat jelata dipinggir jalan pasar becek. Puluhan karung (celana dalam bekas – impor) saja laku dijual 2000-an per pcs. Ngga percaya ? coba lihat di pasar Senen Jakarta !

Mau jualan apa aja di Indonesia ini selalu ada Segmennya ? kenapa, karena setiap sudut kota menyimpan KESENJANGAN YANG LUAR BIASA !!! Dibelakang rumah mewah, terselip gang sempit dengan rumah puluhan rumah petak. Mau jualan jajanan sehat dan tidak sehat pun ada market-nya. Bahkan jualan bangkai ayam saja ada market-nya ! Jadi apa sulitnya cari peluang berwirausaha di Indonesia ???

Di negara maju, tata ruang sudah rapi. Orang kaya kumpul sama orang kaya, yang miskin kumpul di flat miskin. Mau jualan di daerah tertentu, segmennya sudah jelas.


Ragam Budaya – Lahirkan Multipel Market

Ragam budaya nusantara, adat istiadat, ragam pakaian, selera warna, ragam jenis makanan, ragam bahasa, budaya komunal, bangga atas suku-nya, secara tidak langsung melahirkan peluang usaha dengan peluang market yang tersebar. Temen saya yang Jawa Asli buka restoran padang, resto makanan manado dan resto sop konro. Kokinya tidak harus orang Padang, Manado dan Makassar. Semua bisa dibisniskan ! Mau jual songket Bukitinggi tidak harus orang Padang, mau jualan patung Asmat, tidak harus orang Asmat. ! Di Jakarta, Warung Nasi Soto & Rawon marketnya orang Jawa Timur. Saung Sunda, market-nya orang Sunda. Jadi apa sulitnya cari peluang berwirausaha di Indonesia ???

Di negara maju, ragam budaya tidak sekaya Indonesia. Kebanyakan budaya kontemporer, budaya yang diciptakan dan digerakkan oleh industri. Jadi pebisnis budaya, kebanyakan korporasi …


Status Sosial & Gengsi – Market Menggiurkan !

Orang Indonesia tidak sedikit yang gila Status Sosial, lengkap dengan Jaga Gengsi-nya ! Ini adalah potensi market yang menggiurkan ! Baru kerja formal setahun, pengin punya mobil, so kredit solusinya. Gaya tongkrongannya sudah cafĂ© terus, gadget-nya selalu seri terbaru. Telinga dengerin iPod, tanggannya ngetik Blackberry, nge-browse-nya FB, kalo’ ngga nge-FB terus, NGGA GAUL !!! Ngga peduli beli yang asli atau black market, yang penting Gaya !! Kartu Kreditnya berjajar di dompet, kalo’ pas buka dompet, bangga klo kartu kreditnya berjejer warna-warni … Kata guru saya, banyak orang Indonesia yang “mencuri simbol kesuksesan”, mereka sudah merasa pantas menikmati simbol itu. Jadi apa sulitnya cari peluang berwirausaha di Indonesia ???


Kalau Ada Tren, Mudah Cari Korban Mode !!!

Mau tahu salah satu yang lagi tren saat ini ? Kewirausahaan, Industri Kaya, Industri Sukses. Seminar pengin cepat kaya, alamaaakk..pesertanya membludak !!! Yang lebih gila lagi, puluhan Ebook Cara Kaya Semalam, dijual laris manis !!! Lebih super gila lagi, Arisan Berantai banyak peminatnya !! So ? sangat mudah jadi kaya mendadak di Indonesia !!! Mau jualan produk ? promo aja di Sinetron. Banyak pelanggan yang model pakaiannya, produk yang dipakainya, berkaca dari Sinetron dan Iklan. Kalau si Bintang Sinetron di-dandanin pakaian merek R, makan pakaian model R langsung meledak, laris manisss. Maka ratusan produsen pun membajak produk R, tiru persis, dijual murah, dan ternyata laris masi walau aspal. Jadi apa sulitnya cari peluang berwirausaha di Indonesia ???

So ?? tunggu apa lagi ? mau jadi wirausaha aja kok repot !!! Segera ber-wirausaha-lah, mumpung Indonesia belum menjadi negara maju !!!

Ada yang ingin menambahkan ???

salam sukses
rosihan
www.saqina.com

Indonesia Surga Wirausaha (2) Seri SDM

Ngga percaya kalo’ Indonesia itu surga wirausaha ? … dijamin nyesel seumur hidup. Saya coba tunjukkan ya lewat cerita-cerita kecil, kalau negara yang SDM-nya berlimpah, baik yang berpendidikan maupun tidak ! adalah modal ber-wirausaha yang luar biasa…


Banyak Pengangguran, SDM Berlimpah Ruah …

Coba iseng bikin iklan di koran, cari saja Tenaga Sales/Marketing (minim D3), dijamin anda akan mendapatkan tiga karung surat lamaran. Ngga tanggung-tanggung, yang ngelamar pasti mulai dari D3 sampai S2. Biasanya yang ngelamar dari semua jurusan. Anda tinggal pilih yang paling ok. Bisa langsung wawancara, masa percobaan 3 bulan, dan kerja kontrak setahun. Kalau ngga ok, bisa dipecat, karena yang antri banyak. Mau karyawannya kontrak semua juga bisa, outsourcing juga bisa. Banyak karyawan yang siap mau bekerja apa aja ! Jadi apa sulitnya berwirausaha di Indonesia ???

Coba bandingkan dinegara maju, cari karyawan rumit, kalau ngga ada benefit yang ok dari perusahaan, jarang yang mau jadi karyawan. Belum lagi soal perjanjian kerja, jaminan tenaga kerja, dll, seabrek urusannya !!!


Kerja Sistem Kontrak Atau Outsourcing ? Sama “Enaknya”

Tetangga saya jadi Satpam. Masa kontrak kerjanya sudah diperpanjang 2 kali. Akhirnya menganggur. Kenapa ? perusahaan sudah tidak mau mempekerjakan lagi, karena harus mengangkat jadi karyawan tetap. Mendingan cari satpam baru, dan seterusnya. Ribuan lulusan SMU kerja kontrak. Banyak perusahaan outsourcing tenaga kerjanya ke “Yayasan Antah Berantah”. Bekerja tidak sesuai kontrak ? Pecat. Tidak ada masa depan. Jaman krisis, mereka adalah korban PHK pertama, dan jelas ngga ada pesangon. Banyak “pengusaha nakal” menikmatinya. Jadi apa sulitnya berwirausaha di Indonesia ???

Dinegara maju ? aturan pekerja jelas dan kuat. Apalagi kalau pemerintahnya dipegang Partai Buruh, wah, posisi buruh tidak main-2 …


Pekerja Sektor Informal – Nrimo Apa Adanya.

Saya sangat terkejut ketika tau gaji penjaga toko itu 400 ribu sebulan, dengan sedikit komisi penjualan. Artinya 13-an ribu perhari, sudah termasuk transport PP, makan dan kontrak rumah petak rame-2 ! Tidak ada yang bisa menabung setiap bulannya. Jadi, sekedar untuk menyambung hidup, tidak merepotkan orang tua lagi. Kenapa mau jadi penjaga toko dengan gaji segitu ? klo ngga mau, YANG LAIN BANYAK YANG MAU !!! ngantri lagi !!! Banyak “pengusaha raja tega” menikmati kondisi ini. Jadi apa sulitnya berwirausaha di Indonesia ???

Di negara maju, kalau mau nyari tenaga kerja murah, harus cari “imigran gelap”, atau mahasiswa yang mau kerja jam-jam-an. Dan ini harus kucing-kucingan sama aparat dan hukum.


Berlomba-lomba Sekolah ! Supaya Dapat Pekerjaan Keren

Mau dapat pekerjaan keren mentereng ? mau naik jabatan eselon III ? Anda harus MM, MBA ! makanya gampang banget dulu bikin lembaga pencetak MBA gadungan ! Peminatnya banyak ! ngga peduli isi pendidikannya. Tahun 90-an, Sarjana S1 cari kerja bersaing dengan S1, sekarang S2, MM, MBA membludak sama-sama cari kerja. Sudah S1, S2, masih saja cari kursus profesi, kursus bahasa, wualah … lomba sekolah melulu ! Makanya bikin bisnis sekolah, kursus ngga ada habisnya …. Enak-khan ? Jadi apa sulitnya cari peluang berwirausaha di Indonesia ???

Dinegara maju, banyak pekerjaan di-isi oleh SDM yang memang background pendidikannya terkait, punya kompetensi (knowledge, experiences, idea & skill), dan aturan HRD-nya memang gitu ….


Mau Jadi Pakar ? alamak ..Mudah !!!

Anda mau jadi pakar di Indoensia ? tidak perlu jadi Doktor ! apalagi Professor ! di Indonesia paling gampang jadi pakar ! mau jadi pakar parenting/edukasi anak, ngga perlu nunggu jadi lulusan psikologi, pedagogi, atau ahli pendidikan. Kalau anda bisa ngomong soal parenting, personal branding ok, apalagi jadi narasumber radio, pasti langsung dianggap pakar. Orang Indonesia itu paling tidak kritis terhadap kompetensi “pakar”, jarang sekali merunut background pendidikan formalnya apa ? apa setiap yang di-omongkan ada dasar pengetahuan formalnya ? tidak perlu. Mau jadi pakar marketing, branding, internet, property, saham, forex, perencanaan keuangan, dll … gampang di Indonesia..!!! Jadi apa sulitnya cari peluang berwirausaha di Indonesia ???

Di negara maju, kalau mau jadi pakar, harus ada riwayat pendidikan formal yang terkait, punya kompetensi yang masif, itu baru di-dengar. Kalau pakar gadungan, ngga bakalan laku !!!
So ?? tunggu apa lagi ? mau jadi wirausaha aja kok repot !!! Segera ber-wirausaha-lah, mumpung Indonesia belum menjadi negara maju !!!

Ada yang ingin menambahkan ???

salam sukses
rosihan
www.saqina.com

Indonesia Surga Wirausaha (1) Seri Birokrasi

Ngga percaya kalo’ Indonesia itu surga wirausaha ? … dijamin nyesel seumur hidup. Saya coba tunjukkan ya lewat cerita-cerita kecil, kalau negara yang birokrasinya carut marut ini sumbernya peluang usaha yang ngga adaaaa habisnya ..


Birokrasi ala Indonesia = Ribuan Peluang Usaha

Mau tahu buktinya ? cari saja penyedia jasa pengurusan SIM, STNK, Balik Nama Kendaraan, Sertifikat Tanah, IMB, Pajak, Pencairan Jamsostek, Sertifikasi, Akte, Paspor dan seabrek urusan lainnya yang bersentuhan dengan Birokrasi Ala Indonesia, pasti ada CALO-nya. Sang calo pasti menawarkan 2 alternatif, mau jalur cepat atau jalur lambat ? mau jalur selamat atau jalur sengsara ? Jangan tanya, tidak sedikit mereka yang berwirausaha di sektor ini tahan banting! Tidak kenal krisis, dan sudah bertahun-tahun bermain-main disana. Jadi apa sulitnya cari peluang berwirausaha di Indonesia ???

Di negara maju, susah mem-bisniskan birokrasi ! Birokrasi negara maju malah yang pro-aktif, meng-edukasi, melayani, dan mendukung ! Birokrasinya simpel, slim, efektif, aturannya jelas, juga tarif dan prosesnya jelas sekali dan tidak ingin ada bisnis disana.


Mau Usaha, Harus Ijin ???

Di Indonesia, kagak perlu ! kita bisa mulai usaha apa aja ngga perlu ijin, apalagi boro-2 bikin SIUP-lah, CV-lah, apalagi PT. Negara ini menyebut mereka-2 para pedagang, penjahit konveksi, sub-kontraktor adalah pekerja sektor informal (walau sebenarnya wirausaha). Tanya aja pedagang di sentra-sentra grosir, apa mereka sebagian besar punya SIUP, CV atau PT ? walaupun kalau anda tahu, omset mereka ratusan juta broo… Kalaupun mereka punya SIUP, itu hanya formalitas buat ngutang ke bank ! jadi apa sulitnya berwirausaha di Indonesia ???

Padahal, kata temen di salah satu negara di Eropa, mau jadi penjahit aja harus punya sertifikat tukang jahit resmi, kalau mau buka usaha jahitan, harus ada ijin formal dlll.


Mau Usaha Harus Bayar Pajak ???

Itu hanya terjadi di negara tertib bro ! saat ini aja, negara baru mengejar-ngejar warganya supaya punya NPWP. Juga diadakan sunset policy, supaya sadar pajak. Banyak pengusaha sektor informal belum tersentuh pajak. Tanya juragan bakso, pengusaha bubur ayam, steak kaki lima, pengusaha server pulsa dll … omsetnya gila tapi bebas pajak … asik khan ? jadi apa sulitnya berwirausaha di Indonesia ???

Bandingkan dengan negara maju, pajak bisa sampai 30%, apalagi buat pekerja formal, pajaknya besar bangeet …


So ?? tunggu apa lagi ? mau jadi wirausaha aja kok repot !!! Segera ber-wirausaha-lah, mumpung Indonesia belum menjadi negara maju !!!

Ada yang ingin menambahkan ???

salam sukses
rosihan
www.saqina.com