Re-launching SAQINA.COM

Re-launching SAQINA.COM
Bisnis online sering dibayangkan mudah. Namun kami ingin mengelolanya sebaik toko-toko offline kami.
Showing posts with label MANAJEMEN RITEL. Show all posts
Showing posts with label MANAJEMEN RITEL. Show all posts

Wednesday, August 13, 2008

Stok Lebaran dan Ragam Dagangan Kita (bag.2)

Sebelum kita menerapkan strategi baru yang tepat menyambut Lebaran 2008 ini, ada baiknya kita siapkan Internal Toko kita sebaik-baiknya. Apa saja internal kita yang harus disiapkan ?
1. Kesiapan Stok Barang
2. Perubahan Interior dan Eksterior
3. Penataan Ulang Display Barang
4. Penambahan SDM
5. Kesiapan Operasional Lebaran


1. KESIAPAN STOK BARANG

Kesiapan stok barang untuk siap menghadapi momen Lebaran untuk setiap toko berbeda, namun intinya Stok Harus Ditingkatkan. Masalah kesiapan stok, ada beberapa yang bisa kita lakukan :

o Menambah stok barang yang selama ini terbukti laku terjual, biasanya kita sudah punya beberapa merek idaman yang terbukti laku. Idealnya stok seperti ini ditingkatkan 3-4 kalinya.

o Menambah produk baru. Produk baru bisa produk branded atau tidak. Untuk produk branded busana muslim, kita bisa melihat dari Majalah UMMI, ALIA atau PARAS. Tabloid Nova atau media lain yang biasanya pas Lebaran selalu menyajikan iklan busana muslim. Puluhan iklan busana muslim branded ada disana, dan semua produsen lagi beriklan. Jika ragu dengan produk baru, kita bisa tanya ke komunitas, siapa yang sudah pernah jual produk-2 tersebut. Tidak perlu ragu bertanya.

o Saat Lebaran adalah saat jualan busana muslim anak dan perlengkapan muslim (baju koko, mukena, peci/songkok, sarung, sajadah). Pengalaman kami, perlengkapan muslim jika disiapkan serius bisa menyumbangkan omset yang lumayan besar.

o Memperlebar rentang harga, artinya kita sebisa mungkin menyediakan produk berharga murah, sedang dan mahal. Pelanggan lebaran itu sangat beragam. Ada yang pelanggan rutin toko, tapi banyak juga pelanggan baru yang hanya belanja saat lebaran saja.

o Melengkapi varian warna dan ukuran. Idealnya stok dilengkapi per-model seri warna seri ukuran. Namun juga bisa dicampur. Perihal warna, saat Lebaran menjadi penting. Sebagai contoh, produk kerudung/jilbab saat lebaran stok kami paling lengkap dalam warna, karena banyak pelanggan beli baju lalu beli kerudung yang warnanya harus senada dengan warna baju. Kadang baju beli ditempat lain, kerudung mencari warna di toko kami. Warna jadi prioritas, model bisa apa saja. Khusus dibusana muslim, produk dengan warna yang harus kita sediakan lengkap adalah Kerudung dan Bawahan (celana/rok), karena ini produk “korban” penyesuaian dari baju/atasan.

o Kesiapan Stok = Kesiapan Budget, artinya modal harus juga disiapkan. Seperti biasa, setiap lebaran kami menggalang modal darimana saja. Bisa dari IMF (istri, mertua, family – sanak saudara), konsorsium pemodalan dari relasi, teman dan banyak sumber lain. Bisa juga KTA, kartu kredit bahkan pegadaian. Bisa juga ngutang ke supplier, alias cari barang dengan pembayaran tempo (dibayar setelah lebaran). Pedagang banyak hutang itu biasa, karena kita sudah biasa hidup dari margin hutang-hutang he..he..he..

o Alokasikan budget kulakan sesuai dengan kapasitas display barang ditoko. Display di toko busana muslim biasanya terdiri dari Kerudung/Jilbab, Blus/Atasan, Stelan & Gamis, Bawahan/Rok dan Perlengkapan Muslim (Baju Koko – Mukena – Peci – Sarung - Sajadah).

o Saat kulakan yang tepat untuk menyiapkan stok adalah bulan ini (Agustus). Stok barang di pasar grosir ataupun stok produk branded sedang full stok pada bulan ini. Lalu stok tambahan akan terus ada sampai pertengahan Ramadhan. Diatas tanggal 15 September, kondisi stok di pasar grosir bisa jadi mulai dijual stok lama. Hati-hati kulakan pada 2 minggu terakhir (15-28 September), barang stok lama akan dicoba dijual kembali oleh pedagang grosir. Produk branded kadang malah stok sudah kacau, kami sudah sering gagal order produk branded pada saat Ramadhan.


Kesiapan stok adalah hal paling penting dalam maraih omset penjualan Lebaran. Saat ini adalah saat bekerja keras mengumpulan produk dengan model terbaik. Semua produk saat ini sedang mengeluarkan produk andalannya. Jadi saat tepat kita mengumpulan produk-produk terbaik. Selamat kulakan ….

Jika stok sudah siap, bagaimana men-display barang kita dengan efektif ?

(nantikan bag.3)

Salam
Rosihan

www.saqina.com
pusat belanja busana muslim online …
hadir dengan koleksi makin lengkap ! produk baru hadir setiap hari !

Strategi Ritel Busana Menyambut Lebaran 2008 (Bag.1)

Bagi dunia retail fashion (pedagang busana), bulan Agustus dan September 2008 adalah bulan yang paling ditunggu dalam tahun 2008 ini. Jika kita hitung mundur, Lebaran 2008 tinggal 48 hari lagi, sedangkan Ramadhan tinggal 18 hari lagi.

Lebaran 2008 versi pemerintah dan Muhammadiyah, akan jatuh pada 1 Oktober 2008, dan Ramadhan 2008 akan dimulai pada 1 September 2008. Semoga tahun ini tidak ada perbedaan 1 Syawal dengan NU.

Sebagai pedagang pemula dengan toko kita yang masih kecil dan modal yang pas-pasan ini, kita harus antusias menyambut even ini dan ini saatnya bekerja keras. Namun sebelum kita bahas strategi apa yang paling tepat untuk menyambut Lebaran 2008 ini, mari kita lihat-lihat fenomena saat ini.

=> Dampak Kenaikan Harga BBM. Banyak yang bilang kalau dampak kenaikan BBM baru terasa bulan-bulan ini, karena bulan ini sedang terjadi penyesuaian. Beberapa produsen juga mulai menaikkan harga produk. Kenaikan yang merata hampir disemua kebutuhan pokok ini akan berimbas pada daya beli produk lain. Kemampuan daya beli yang rendah ini berlaku umum untuk semua produk.

=> Harga-harga untuk industri garmen saya dengar tidak stabil. Ini terjadi karena kenaikan harga bersamaan dengan permintaan bahan baku industri yang lagi tinggi. Produsen sangat berhati-hati dalam menentukan harga, juga ketika mengeluarkan produk dipasaran.

=> Juli Adalah Bulan Sekolah, dampaknya secara langsung dari jaman dulu sudah pasti kerasa. Apalagi jaman orde Reformasi ini, biaya sekolah makin mahal. Padahal sekolah itu wajib. Tidak heran jika bulan Juli banyak toko yang omsetnya terkoreksi. Awal Agustus ini belum bisa dianggap periode Lebaran. Periode belanja Lebaran baru dimulai nanti tanggal 25 Agustus.

=> Tren Diskon melanda semua peritel, coba buktikan di Ramayana, Matahari, atau di hipermarket Carrefour. Baik produk fashion maupun grocery, melakukan strategi cut pricing untuk menarik pelanggan berbelanja. Bahkan diskon dibuat harian untuk setiap kategori produk. Ini pertanda, bahwa banyak pelanggan yang price sensitive dalam membeli produk.

=> Lebaran 2008 saya istilahkan adalah lebaran 2 putaran. Putaran pertama dimulai tanggal 25 Agustus ini, karena ada yang gajian mulai tanggal 25. Banyak pelanggan pada akhir Agustus sampai awal September ini akan belanja persiapan Ramadhan.

=> Putaran kedua nanti mulai tanggal 15 – 30 September, karena THR dan Gaji September biasanya di-rapel (diberikan bersamaan). Puncak penjualan toko diperkirakan pada rentang tanggal tersebut, karena THR dan Gaji telah cair. Ini dampaknya dahsyat bagi semua pedagang, pada H-15 semua toko sudah pasti ramai.

Melihat kondisi saat ini, tidak ada yang perlu ditakutkan. Sebagai peritel, kondisi apapun didepan mata harus kita sambut dengan riang gembira, penuh berkah dan yakin omset besar didepan mata.

Lalu strategi apa yang harus kita lakukan untuk toko kecil kita ?

(nantikan bag.2)

Salam
Rosihan

www.saqina.com
pusat belanja busana muslim online …
hadir dengan koleksi makin lengkap ! produk baru hadir setiap hari !

Tuesday, June 24, 2008

Franchise, BO dan Faktor Lokasi

Saqina minggu lalu mengikuti Pameran Franchise di JCC. Saya berterima kasih kepada Dep. Perdagangan RI, juga kepada Rakyat Indonesia, karena kehadiran Saqina di pameran itu mungkin dibiayai oleh uang rakyat melalui APBN. Thanks berat juga kepada para fasilitator, yaitu Pak Burang IFBM, TDA, dan mbak Yulia Moz5.

Saya termasuk pengamat brosur setiap pameran Franchise/BO. Setiap tahun mengumpulkan minim 2 set brosur semua peserta. Saya senang mengamati berbagai hal baru dalam setiap penawaran bisnis franchise/BO. Ada beberapa benang merah dari setiap penawaran bisnis Franchise/BO, yaitu adanya Fee (Franchise Fee, BO Fee), biaya membeli sistem bisnis yang didalamnya tercantum sederet list sistem bisnis, royalti, support dan jangka waktu.

Namun sepertinya semua sepakat, bahwa LOKASI ada diluar sistem bisnis. Karena hampir semua franchisor/BO menegaskan bahwa semua biaya yang tercantum di brosur, itu diluar LOKASI dan juga renovasinya.

Jika Anda sempat hadir dipameran, maka Anda akan menemukan hampir sebagian besar Franchise/BO adalah BISNIS RITEL (makanan, resto, grocery, fashion, dll). Dalam Hukum Manajemen Ritel, sudah sangat jelas ditegaskan, salah tiga dari faktor penentu utama kesuksesan bisnis ritel adalah LOKASI, LOKASI dan LOKASI. Tapi mengapa para Franchisor/BO (termasuk Saqina) tidak memasukkan biaya lokasi ada di brosur mereka ?

Ya, karena hukum lokasi itu jelas. Lokasi Strategis = Mahal. Lokasi Tidak Strategis = Gratis. Jika aspek lokasi dimasukkan, tentunya biaya bisnis yang terlihat diawal pasti lebih besar, dan ini tentunya “tidak menjual”. Psikologis pembaca brosur diharapkan melihat bahwa untuk memulai bisnis ini murah, tidak butuh modal besar (yang kadang diterjemahkan “beresiko rendah”). Apalagi di-iming-iming dengan BEP yang cepat.

Sebagai contoh, untuk buka toko busana muslim, bisa dengan investasi hanya 100juta. Tapi jika ingin bagus prospeknya, lokasi memang biasanya harus bagus. Lokasi yang bagus, sewanya bisa 40 juta pertahun. Kalau sewa minim 2 tahun, artinya sudah 80 juta hanya untuk lokasi, dan itu harus dibayar dimuka. Saya paling sering terpaksa kompromi untuk masalah lokasi.

Biaya lokasi bisa hampir sama, sama atau bahkan lebih besar dari bisnisnya sendiri. Padahal seringkali hitungan brosur dengan BEP-nya tidak mengikutsertakan hitungan biaya lokasi. Hitungan BEP di brosur itu kita juga tidak tahu, kira-kira kok bisa BEP cepat itu dijalankan di lokasi yang seperti apa yaa. Itu yang wajib ditanyakan oleh peminat franchise/BO.

Setiap bisnis ritel punya “kriteria lokasi strategisnya masing-masing”. Bagi saya, memahami kriteria lokasi strategis, lalu mendapatkan lokasi yang strategis terlebih dahulu, jauh lebih penting. Karena membeli bisnis dari penyedia bisnis (franchisor/BO) itu mudah, sedangkan mendapatkan lokasi strategis itu susah.

Lokasi strategis itu jarang tersedia. Coba temukan lokasi-lokasi yang menurut Anda strategis, pasti sudah ditempati bisnis, dan mereka betah bertahun-tahun disana. Belum tentu jika Anda punya uang bisa dengan mudah mendapatkannya.

Membeli Franchise/BO dari para penyedia yang sudah proven itu mudah dan potensi suksesnya tinggi. Tapi sukses tidaknya salah satunya tergantung pada lokasi dimana Anda menjalankannya. Banyak pengunjung pameran mengaku sudah punya lokasi, tapi masih bingung mau bisnis ritel apa. Saya coba menebak, jangan-jangan lokasinya memang tidak strategis. Kalau strategis, mestinya mau bisnis ritel apa saja bisa dicoba. Atau mungkin mau mencari bisnis yang bisa meningkatkan lokasinya menjadi strategis ? wah, kalau bisa seperti itu, pasti perlu waktu.

Tapi ngga usah kuatir, rejeki kita yang diturunkan dari jalur bisnis bisa tidak tergantung dari teori yang tertulis diatas. Saya yakin kita punya banyak cara untuk sukses bisnis. Bukankah kita sudah yakin bahwa Reason, Dream, Belief, Strategy, Action dan Kepasrahan kita bisa mengatasi segala tantangan yang muncul ?

Salam sukses

Monday, June 2, 2008

Meningkatkan Top Of Mind Awareness

Definisi TOMA search di paman Google :

“Top Of Mind Awareness (TOMA) is a way to measure how well brands rank in the minds of consumers.”

“Top of Mind Awareness has a big correlation with the market share of a product.”

“Saat anda dibawah terik matahari, saat rasa haus mulai menyerang, apa yang ada di pikiran Anda saat itu, bisa jadi Anda memikirkan Air Mineral, yang ada dipikiran Anda saat itu Pasti Aqua. Atau saat memikirkan soft drink yang ada di pikiran pasti Coca-cola bukan merk lain. Inilah yang dimaksud dengan TOM. (Top Of Mind)”


TOMA dan Toko Kecil Kita

Apa kaitannya dengan toko eceran kita yang masih kecil ini ? ya pasti sangat berhubungan dengan cita-cita toko kita mempunyai TOMA yang tinggi dilingkungan kita.

TOMA sebenarnya bukan hal baru, sudah sejak jaman dulu, apalagi yang tinggal di kampung, atau di Kabupaten/Kota.

Coba ingat waktu kita masih tinggal di Kabupaten/Kota, setiap orang tua kita, tetangga kita, teman kita, mau beli sesuatu, pasti sudah ada “toko rujukan” yang secara konvensi sudah menjadi pengetahuan umum. Contohnya sebagai berikut :

Mau beli buku … oh ke “Toko Aksara” saja, disana lengkap.

Mau beli sepatu … oh ke “Toko Bata” saja, sepatunya murah dan kuat …

Mau beli alat elektronik …. oh ke “Toko Sinar Jaya” aja ..disana semua merek ada …

Mau beli alat rumah tangga … oh ke “Toko Jaya Abadi” ..disana murah …

Mau beli bahan bangunan … oh ke “Toko Bagun Jaya” saja … komplit dan murah, kalau tukang bisa ngutang..

Mau cetak foto …oh ke “Toko Kodak Jaya” aja, hasilnya bagus dan cepat jadinya …

Mau beli kue …oh ke “Toko Lumayan” aja … jajanannya lengkap ..lumayan enak …

Mau ke salon …oh ke “Salon Cantika” aja, pelayanannya baik sekali …

Intinya, di lingkungan kampung, kabupaten/kota, atau kawasan, atau suatu area dalam radius 10-20 km, selalu ada toko rujukan yang memang sudah diketahui oleh masyarakat disitu jika masyarakat ingin beli sesuatu yang agak khusus.

Toko-toko rujukan biasanya tidak banyak, polanya selalu ada yang toko paling besar dan paling lengkap, toko sedang dan toko kecil. Toko yang paling besar biasanya memang pemain lama di bisnis itu. Toko yang sedang dan toko kecil adalah follower-nya. Tapi kadang yang sedang dan kecil ini mencoba jualan yang agak berbeda dengan yang besar. Tapi yang pasti, mereka bisa bertahan dalam kancah bisnis dikawasan yang tidak terlalu luas tersebut.

Jika toko kita sudah memiliki TOMA yang tinggi dilingkungan kita, akan sangat menguntungkan dalam jangka panjang untuk toko kita. Namun, bagaimana caranya toko kecil kita ini bisa mempunyai TOMA yang tinggi dimata pelanggan ?

Cara Kuno dan Murah Meningkatkan TOMA

Pasang Spanduk
Spanduk masih ok sebagai media peningkatan TOMA. Buktinya ? semua calon Pilkada di daerah memanfaatkan spanduk untuk membangun TOMA Wajah mereka, supaya dikenal rakyat. So, kita bisa buat spanduk di sudut-sudut jalan arah masuk kota, dan arah keluar kota/kawasan. Biasanya spanduk pajaknya tidak mahal. Biaya cetak spanduk pakai digital printing juga hanya 25ribu per meter. Yang paling perlu kita pelajari adalah cara “bikin kata-kata ajaib” yang mampu dipahami dalam 3 detik, dan sangat menarik.

Iklan Radio FM/AM
Kalau di Jakarta, radio FM adalah Raja. Tapi di daerah, radio AM atau radio Kabupaten/Kota justru jadi raja. Ada juga radio FM yang mulai masuk ke kabupaten. Iklan di radio daerah murah, dalam bentuk paket beberapa kali tayang malah lebih murah. Yang perlu kita pelajari adalah “cara bikin iklan ajaib”. Bisa pakai bahasa daerah, atau bahasa yang paling dimengerti dikawasan itu.

Iklan di Koran Daerah
Berkah otonomi daerah adalah munculnya koran, media iklan dan tabloid daerah. Media dengan oplah dan daya edar terbatas di kawasan/kabupaten ini masif, mampu menjangkau semua kawasan terbatas itu. Ini media iklan yang murah, namun efektif untuk dicoba.

Sebar Brosur ke Target Market
Sebar brosur sangat mudah untuk satu kawasan. Kita tinggal mencari titik-titik pelayanan umum dikawasan tersebut. Apa itu ? Bank, Rumah Sakit, Kantor Dinas Daerah, Kantor Polisi, Pasar/Mal, Sekolah TK/Preschool, dan lain-lain cari sendiri yaa …

Setelah melakukan aktifitas itu, coba bandingkan Visitor Sebelum dan Sesudah. Lalu juga Transaksi, juga Conversion Rate. Lalu ..ya ..analisis sendiri aja apa yang perlu …

Salam sukses …

NEW WEBSTORE : WWW.SAQINA.COM

Rosihan

Tuesday, May 20, 2008

Dampak Kenaikan Harga BBM ke Toko Ritel

Kenaikan harga BBM bukan sesuatu yang baru, dulu-dulu sudah pernah terjadi. Pokoknya setiap ada kenaikan harga komoditas penting, pasti ada dampaknya, khususnya di sektor riil, lebih khusus lagi di sektor ritel, perdagangan grosir dan eceran.

Kalau jaman Orde Baru ketika harga BBM stabil karena disubsidi, kenaikan gaji PNS saja bisa mengubah harga-harga di sektor ritel. Dulu sebelum kenaikan gaji PNS diumumkan, harga-harga sudah naik. Nah, di jaman orde reformasi, harga-harga lebih kalang kabut, karena salah satu sumber kenaikan harga adalah BBM yang makin hari makin tidak disubsidi.

Sebagai pedagang kecil, kita tidak punya kuasa yaa. Dilarang protes ! ini ekonomi super makro, urusannya sama spekulan global yang memainkan harga minyak dunia. Jadi kita wajib ngikut saja dan dialektis saja menghadapi apa yang akan terjadi.

Berikut pola-pola yang saya coba pahami ketika harga BBM naik, yang dampaknya pasti berimbas ke toko saya :

Dari Sisi Pelanggan

Daya beli pasti turun. Tapi ini sejenak, mungkin cuman 2 bulan. Karena pelanggan Indonesia tidak tahan untuk tidak beli-beli. Yang pasti terjadi pergeseran sementara, mungkin pelanggan kelas menengah mencari produk lebih murah namun kualitas masih bagus, tetapi pelanggan kelas bawah mencari yang paling murah. Pelanggan kelas atas yang ngga terpengaruh.

Pelanggan lagi sensitif harga, jadi maunya harga diskon terus. Jangan kaget, sebentar lagi banyak Promo “Harga Diskon”, “Beli 2 Gratis 1”, “Cuci Gudang”, “Harga Tidak Naik”. Psikologisnya selalu ingin mendapatkan harga termurah. Makanya biasanya banyak yang membuang barang lama dengan event diskon. Atau melabel dengan harga baru lalu di-diskon. So, jangan ragu kasih diskon.

Pelanggan tetap maunya barang bagus, disain ok, model terbaru, tetapi harga maunya murah. Nah, produsen biasanya pandai mensiasasti situasi ini. Kita sebagai pedagang eceran, pasti masih punya peluang besar mendapatkan model-model terbaru dengan harga terjangkau.

Tidak ada toko yang tidak menaikkan harga, sehingga pelanggan pasti akan mendapatkan harga naik pada semua pedagang eceran. Artinya, potensi pelanggan pindah toko juga kecil. Jadi jangan takut kehilangan pelanggan. So, membuat hati pelanggan lebih nyaman membeli dari kita lebih penting saat ini.

Saatnya menambah produk yang terjangkau. Ini hanya sebagai pancingan saja, supaya pelanggan merasa dapat membeli produk di toko kita. Padahal setelah melihat produk murah, biasanya tidak puas dengan kualitas produknya,ujung-ujungnya masih pengin beli yang agak mahal tapi bagus.

Yang kasihan adalah pelanggan yang memang benar-benar ngga mampu beli. Namun biasanya masih tetap ada peluang beli dengan terpaksa, yaitu pas lebaran. Untuk itu, wajib kita menyediakan barang-2 lama atau yang tidak laku dengan harga super murah.

Dari Sisi Produsen

Dari sisi produsen, yang pasti produksi tidak mungkin tutup. Produsen otomatis juga tidak langsung menaikkan harga, apalagi mempunyai stok lama bahan produksi. Produsen juga takut menaikkan harga, takut produksinya tidak terserap pasar. Jadi tidak mungkin semena-mena menaikkan harga.

Produsen pasti makin kreatif, mencoba memberikan nilai tambah produk dari aspek yang tidak menjadikan harga naik, seperti aspek disain, model dan aplikasi yang menarik. Karena mereka tahu, sebisa mungkin masih harus menyajikan produk yang terjangkau.

Produsen juga hati-hati dalam mengkomunikasikan harga ke pengecer. Produsen juga ingin membangun pengertian bersama, bahwa produsen dan pengecer harus bisa saling memahami dampak kenaikan harga.

Demikian juga pedagang bahan produksi, selama harga pabrik ngga naik, harga bahan juga cenderung tetap. Kalaupun naik pasti perlahan dan bertahap. Sektor hulu cenderung menaikkan harga bertahap.


Dari Sisi Makro

Dampak kenaikan harga BBM adalah berantai. Semua kena dampaknya. Kenaikan harga terjadi di semua komoditas. Namun semua juga sedang menuju KESEIMBANGAN BARU. Karena pada dasarkan ekonomi tidak akan berhenti. Inflansi juga pasti terjadi. Semua hanya ganti harga saja, namun ada shock disini, dan butuh waktu untuk pulih.

Namun ada sedikit penggembira, jika naik bulan Juni, kita bisa agak sedikit tidak perlu khawatir, karena bulan Juli- Desember adalah bulan belanja pemerintah. Artinya, ekonomi sudah pasti berjalan. Ingat, pertumbuhan eknomi kita sangat tergantung dari belanja pemerintah.

Kita wajib bertahan sampai event LEBARAN 2008 (bulan Oktober), karena disini tidak ada lagi pengaruh kenaikan harga BBM, semua pasti terlena dengan event belanja lebaran.

Kenaikan harga BBM bukanlah Lonceng Kematian, HUKUMNYA WAJIB KITA HARUS BERTAHAN.

Salam sukses

Rosihan

Sunday, April 20, 2008

SAQINA Tas & Asesoris .. mohon Doa Restu

Memulai Lagi Sesuatu dari Nol

Bulan Maret ini, saya sedang memulai sesuatu yang sangat baru dari Nol, yaitu membuka toko khusus, SAQINA Tas dan Asesoris (1 foto toko ada di blog saya). Saya bersama istri berjibaku mendapatkan ilmu, pengetahuan dan pengalaman praktis tentang bisnis baru ini. Seperti halnya yang telah saya yakini, LOA selalu bekerja untuk kita, ketika kita secara total memusatkan pikiran pada satu tujuan pencapaian tertentu, secara kontinyu pada rentang waktu tertentu.

Untuk membuka wawasan tentang bisnis baru ini, saya melakukan beberapa langkah umum yang memang seharusnya dilakukan.

Langkah 1 : Cari Wawasan tentang Produk.

Sebelum membuka toko, kita wajib tahu komplit segala yang berkaitan dengan produk yang akan kita jual. Cara termudah adalah mengakses media informasi yang tersedia. Untuk memahami produk Tas & Asesoris ini, saya mulai dengan memborong majalah bekas dan baru yang banyak iklannya soal Tas. Kalau produk busana muslim kita bisa belajar dari majalah seperti Ummi, Annida, Alia, Paras, dll, maka untuk Tas saya belajar dari majalah seperti Cosmopolitant, Bazaar, Elle, dll. Suatu yang beda khan ? Dari info produk di majalah ini, saya bisa browsing merek-2 terkenal di internet, baik melalui official website-nya, maupun melalui toko online tas.

Langkah 2 : Mencari Sumber Produk yang Termurah.

Ini adalah langkah yang kadang mudah kadang susah menemukannya. Karena saya adalah pengecer biasa, wajib berusaha sekuat tenaga mendapatkan informasi dimana pusat-pusat perkulakan tas dan asesoris termurah. Disinilah berkah silaturrahmi offline begitu terasa. Banyak Member TDA yang membantu saya mendapatkannya. Bahkan Pak Murti Darmawanto (Anto) (www.bajuanak.net) tidak disangka pernah bisnis tas juga di tahun 2006. Pak Anto seharian mengantarkan saya langsung ke pusat perkulakan tas di daerah Perniagaan. Special Tanks for Pak Anto. Ini semua adalah berkah silaturrahmi offline.

Cara lain adalah langsung datang ke pusat-pusat perkulakan yang sempat saya dengar, misal di Mangga Dua, Pasar Senen, Tajur Bogor sampai Tanggulangin Sidoarjo. Disinilah ongkos belajar harus dibayar. Mencari satu toko termurah ada seninya. Tidak mudah langsung dapat, kadang juga dapat yang kemahalan. Jika kita sedang membeli banyak, sempatkan bertanya-tanya tentang siklus barang, model, range harga. Ada baiknya jujur kita sampaikan kalau kita baru belajar buka toko tas. Kalau kita berprasangka baik, ilmu berguna bisa kita dapatkan.

Belajar dari majalah, Internet, blog, sahabat di Komunitas dan juga belajar langsung ke produsen/supplier adalah langkah awal mencari pengetahuan. Setiap bisnis selalu ada pemain lama, dan kita bisa berguru pada pemain lama itu, sekaligus mencoba membeli barang dagangannya. Kadang untuk mendapatkan ilmu ini, saya perlu belanja 3 sampai 10 barang, untuk sekedar mendapatkan harga grosir dan membuka relasi.

Langkah 3 : Merencanakan Detil Besaran Kulakan Produk di Awal

Setiap membuat toko, saya selalu merencanakan tata letak barang secara detil disetiap area, dalam bentuk kategori, jenis produk dan jumlahnya. Sangat detil, mengapa ? karena disini ada hubungan erat dengan jumlah modal yang dialokasikan untuk pengadaan barang awal. Saya berusaha seoptimal mungkin jika toko baru buka, selalu langsung terpenuhi dengan barang dagangan, walaupun tanpa stok. Untuk itu, jumlah barang disetiap rak sudah dihitung jauh-jauh hari bersamaan dengan disain interior.

Mengapa tanpa stok ? karena kita baru meraba market. Kita belum tahu betul antara kebutuhan dan keinginan pelanggan. Jadinya range produk diawal selalu lebar. Kita jualan tas dari harga 50 ribu sampai 500 ribu, berjenjang. Dari tas lokal sampai impor KW1. Karena toko ini di kabupaten, kita coba penuhi dulu kebutuhan pelanggan yang terjangkau, misal dengan tas lokal yang murah. Tapi jangan lupa juga meng-iming-iming pelanggan dengan produk mahal dan kualitas terbaik. Ini adalah proses menciptakan keinginan pelanggan, menciptakan mimpi-mimpi pembelian. Suatu saat pasti ada pelanggan yang awalnya melihat-lihat saja, belum berani beli, tapi ternyata menyimpan mimpi untuk membeli suatu saat nanti. Lah kalau pelanggan tidak kita ciptakan mimpinya melalui display produk secara nyata, akan susah terjadi penjualan tak terduga.

Langkah 4 : Menata Toko dengan Bersemangat

Salah satu hal paling saya tunggu adalah menata semua hal ketika toko baru buka, khususnya interior. Mengapa ? karena saya secara hati mencintai bidang disain interior. Hal paling penting adalah memetakan flow, aliran pelanggan masuk, dan mencari titik-titik penting area yang paling menyedot perhatian pelanggan ketika pertama kali masuk. Sebenarnya ini ilmu Visual Merchandising, saya pengin kuliah soal ini tapi mahal. Sehingga ilmunya otodidak dari melihat di mal-mal, dan feeling saja. Biasanya interior masih kita ubah-ubah selama 3 bulan untuk penyesuaian.

Langkah 5 : Soft launching dengan Promosi Murah

Soft launching biasanya kita lakukan selama 1 bulan, sekaligus masa penyiapan karyawan, sistem, stok barang dan hal-hal detil lainnya. Supaya segera terjadi penjualan, segera dilakukan promosi murah melalui spanduk, penyebaran brosur, dan SMS Broadcast ke pelanggan busana muslim. Setiap ada pelanggan masuk toko, kita ajak diskusi kira-kira kebutuhan akan model tas terpenuhi apa tidak, apa ada masukan dan lainnya.

Apa toko langsung laku ? biasanya iya. Tetapi selama 6 bulan kita selalu siapkan dana cadangan untuk operasional toko. Fokus 6 bulan pertama adalah menetapkan segmentasi pelanggan yang akan ditargetkan sebagai tujuan utama. Kadang ini satu hal terbalik, buka toko dulu baru segmentasi, seharusnya menentukan segmentasi dulu baru buka toko. Tapi penerapan ilmu manajemen kadang tidak harus urut.

Ok, cerita selanjutnya bersambung. Saya hanya berharap doa restu dari teman-teman semua, semoga toko SAQINA Tas & Asesoris sukses sesuai tujuan, yaitu memberikan berkah bagi sang empunya.

New WebStore : www.sajidah.com

Salam
http://mohamadrosihan.blogspot.com
www.muslimdistro.com (Kaos Muslim Kualitas Distro)
www.sajidah.com (New WebStore - Koko, Mukena & Peci Kualitas Terbaik)
www.saqina.com (Jaringan Ritel Busana & Perlengkapan Muslim)
www.neslink.com (IT Consultant)

Thursday, November 22, 2007

Prospek Besar Garmen di Tahun 2008 ?

Industri garmen, bicara konstelasi dari hulu ke hilir, adalah membicarakan apa yang dipakai untuk tampil dari 200-an juta rakyat Indonesia, dari bayi sampai kakek nenek. Mata rantai industri garmen sudah tersebar sampai ke desa-desa. Industri ini memang sedang menurun, yang sebabnya sangat kompleks dan khas Indonesia sekali. Sebagai peritel kecil, saya mencoba menggambarkan situasi pemahaman bisnis atas ritel garmen dibawah ini.


Pragmatisme Pelaku Pasar

Saat ini, kalangan peritel bawah cenderung pragmatis dalam menyikapi perkembangan industri garmen. Peritel bawah tidak sampai memikirkan berbagai kendala dalam industri garmen. Peritel bawah hanya tahu dan butuh, bahwa barang yang ada dipasar itu apa, seberapa bisa dijual, apa yang sedang tren saat ini, dan rentang harganya berapa, dan yang paling penting, kami bisa jual berapa. It’s so simple. Kita ketahui bersama bahwa peritel hidup dari perputaran barang dan selisih harga.

Mengapa demikian ? karena peritel memang sudah tidak berkepentingan secara langsung terhadap industri garmen dihulu. Peritel juga sudah tidak mungkin diharapkan mempunyai keberpihakan ke industri garmen nasional. Ini adalah pola hubungan industri garmen hulu dan hilir yang memang sudah berubah sejak pasca krisis moneter 1997.

Pasca krisis moneter, peritel bawah sudah diharuskan mengikuti aturan baru mata rantai perdagangan. Dulu dari pabrik benang, pabrik kain, produsen, pemain grosir dan pengecer, mempunyai hubungan mata rantai yang erat dalam industri garmen. Terutama aspek hutang dagang dalam perdagangan. Dulu masih ada istilah hutang dagang yang mempunyai tempo yang saling menguntungkan. Saat ini sudah tidak berlaku lagi. Semua transaksi perdagangan cenderung cash keras, kalaupun masih ada hutang dagang, sifatnya tidak terlalu leluasa.

Dalam posisi ini, peritel cenderung tidak lagi mempunyai komitmen dagang yang berantai. Peritel makin pragmatis dalam memilih produsen/supplier. Peritel hanya masih berpihak ke pelanggan. Mana yang kira-kira pelanggan cari dan butuhkan, itulah yang dicari peritel, dan peritel bebas akan mencari produk dimana. Sudah tidak peduli lagi itu produk lokal atau impor, legal atau illegal, yang penting akan laku dipasaran. Kalau pelanggan tahu suatu produk dari media (misal TV), maka tidak heran peritel pun berburu produk-produk tersebut. Ini menjadikan produsen pun harus mulai akrab dengan media.


Produk Impor

Produk impor, kalau tidak mau dikatakan sebagai produk Cina, mungkin sudah 5 tahun terakhir menekan industri garmen dalam negeri. Varian produk garmen yang dimasuki cukup luas, mulai dari busana umum, bahkan busana khusus seperti busana muslim. Juga tas, sepatu, sandal, ikat pinggang dan sejenisnya. Juga perlengkapan seperti kaos kaki dan pakaian dalam, bahkan ini mendekati 90% barang impor. Kualitas produk impor juga memadai, ada harga ada rupa. Namun kuantitas cenderung terbatas, namun ini malah menjadi peluang dari aspek marketing bahwa pelanggan bisa tampil beda.

Kalau kita survey dipasar tradisional di kabupaten/kota, terlihat sekali produk impor itu dijual oleh sebagian besar peritel eceran. Itu mengindikasikan bahwa pasar sudah menyerap produk impor, alias bahwa produk impor itu laku. Mengapa pasar menyerap dengan mudah ? karena ada hubungannya dengan daya beli. Lepas dari dugaan produk impor itu masuk secara legal atau tidak, kenyataan dipasaran produk impor dapat memberikan harga lebih murah.

Berdagang produk impor, sudah kita ketahui bersama, tidak ada istilah hutang, semua harus cash. Kombinasi antara transaksi cash keras digabung dengan daya beli yang rendah, produk kualitas memadai, kuantitas terbatas dengan mode yang berganti-ganti mengikuti tren global (alias menjiplak), dan harga terjangkau, adalah keunggulan riil saat ini dari produk impor.

Satu kendala kerentanan produk impor ada pada biaya transportasi, dan bea masuk. Dikala harga minyak dunia makin tinggi, jelas sekali komponen biaya pengiriman produk akan naik. Jika kita menengok ke China, krisis BBM di China bisa meledak sewaktu-waktu, ini menjadikan kelangsungan produk China juga dipertanyakan.

Namun sebagai peritel, produk impor saat ini masih menjadi komoditas yang menarik, entah sampai kapan.


Pemodalan, Persaingan dan Keunikan

Era transaksi perdagangan cash keras menjadikan peritel garmen adalah bisnis padat modal. Modal harus kuat untuk mengikuti dinamika naik turunnya pasar, juga penyediaan barang dagangan yang konsisten dan memadai. Modal menjadi hal paling utama, tidak lagi relasi perdagangan.

Semakin menciutnya jumlah produsen, dan membanjirnya produk impor yang itu-itu saja, telah menjadikan homogenitas jenis barang makin seragam. Ini semakin hari semakin memicu persaingan yang makin kurang sehat. Persaingan makin dikendalikan oleh persaingan harga, bukan lagi keunikan produk. Bahkan untuk produk branded yang didistribusikan langsung, sudah tidak ada lagi istilah persaingan antar peritel. Peritel yang sukses menjual produk branded dengan harga bandrol adalah peritel yang mampu menyediakan stok yang memadai, dan ini kaitannya dengan kekuatan modal.

Kalangan pelaku Distro dengan keunikan produk yang “menyimpang” dari produk pasaran sebenarnya hanya untuk mensiasati persaingan. Mereka memperpendek mata rantai industri, menjadi produsen sekaligus pengecer. Jika ada pengecer yang ingin ikut manisnya kue Distro, mereka harus kuat di pemodalan. Namun ini bukan solusi bagi industri garmen, konsep “menyimpang” masih diserap oleh konsumen yang terbatas, bukan rakyat kebanyakan. Rakyat kebanyakan masih mau bergaya dengan mencontoh artis-artis idola mereka dengan baju pasaran. Ini “blue ocean”, tapi masih sebatas “berenang di danau biru”.


Prediksi 2008

Secara umum, prediksi industri garmen tahun 2008 akan membaik. Namun bukan karena industri garmen yang membaik, tetapi karena uang beredar di sektor riil sedang membesar. Ini terkait dengan hajatan penggalangan konstituen menuju Pemilu 2009 yang berbiaya ratusan triliun.

Sepertinya tidak ada korelasinya secara langsung terhadap produk apa saja yang paling laku, karena kita tidak bisa melihat hanya dari masalah kaos yang sering dipakai konstituen. Bagi saya, cenderung mensyukuri banyaknya uang yang beredar, yang akan meningkatkan daya beli masyarakat atas produk garmen.


Salam
rosihan

Wednesday, November 14, 2007

Teruslah Bergerak, Jangan Pernah Kehilangan Fokus

“Kesalahan terbesar saya adalah kehilangan fokus” .. itu kata Donald Trump di CBNC Asia beberapa malam lalu.

Saya sempat tercenung diacara itu beberapa lama. Karena Trump begitu coboy dalam cara membicarakan segala sesuatu tentang bisnis. Beberapa point yang dapat saya ingat :

- Jangan kehilangan fokus … intinya fokus pada bisnis yang menuju impian anda

- Setiap hari saya bekerja dan berwisata sekaligus .. yaa karena Trump punya real estate di beberapa kawasan wisata dunia.

- Bisnisku Ya Hidupku .. tidak bisa dipisahkan, karena setiap apa yang di-impikan, pikirkan, ucapkan dan jalankan menjadi bisnis Trump.

- Saat ini adalah The Great Time for Properti Investment di Amrik sono, karena harga properti lagi jatuh. Diperkirakan 6 bulan kedepan harga properti menuju bottom line, setelah itu recovery lagi.

- Banyak orang terlalu cepat menyerah dalam menghadapi tantangan bisnis, pesan Trump : “Jangan Pernah Menyerah”

- Dan lain-lain …banyak …

Satu hal yang saya ingat justru kata-kata Jangan Kehilangan Fokus. Mungkin kalau Trump kehilangan fokusnya adalah melirik peluang-peluang yang begitu banyak didepan mata, yang mampu dia mainkan.

Tetapi kalau saya, kehilangan fokus kadang hanya sebagai jalan pelarian karena males menghadapi masa-masa berat disiklus bisnis. Padahal ini haram hukumnya.

Langkah Fokus 1:
Untuk tetap fokus, saya mengisi hari dengan urusan-urusan teknis pengembangan bisnis, seperti borong buku di Gramedia, ada 21 buku Manajemen Ritel, Hantaran dan urusan kerudung dan buku-buku pendukung bisnis saya borong sbb:

Seri Manajemen Ritel :
Sukses Berbisnis Ritel
Paradigma Baru Dalam Manajemen Ritel
Manajemen Ritel
5 Jurus Sukses Berbisnis Ritel
Pemasaran Ritel
How to Operate Your Store Effectively & Efficiently
Sukses Mengelola Bisnis Minimarket
Top Brand Anak & Remaja

Seri Hantaran Pengantin :
Membuat Kreasi Hantaran Pengantin
Aneka Hantaran Pengantin
Lipat Kain Sederhana
Lipat Cantik untuk Hantaran

Seri Kerudung Masa Kini :
Scraf : Akses Cantik Busana Muslim
Kerudung Praktis Ratih Sang : Seri 1 dan 2
The Power of Mix & Match
Chic & Cantik Bandana Kerudung Anda
Kreasi Dua Kerudung
Modis & Praktis Kerudung Instan
Kerudung Gaul Ramaja

Habis beli, ya dibaca, dan beberapa segera dipraktekkan di toko. Jika Anda semua punya toko busana muslim, saya rasa Anda wajib punya buku-2 diatas.

Langkah Fokus 2 :
Saya lagi demen jalan-jalan, terutama ke Distro-2 anak muda, ini gara-gara cerita bisnis Pak Try Atmojo yang sangat kurang ajar …karena begitu basah dan menggiurkan !

Saya juga lagi demen jalan-2 ke sentra-2 tas, sepatu dan sandal. Survey disain toko-2 tas dan sepatu.

Distro Anak Muda dan Distro Tas & Sepatu … ah … LOA ..LOA ..LOA

Langkah Fokus 3 :
Membereskan Aplikasi E-Commerce SAQINA.COM … sebentar lagi akan segera menyaingi blog commerce temen-2 …..

Langkah Fokus terakhir :
CARI UTANG …. CARI MODAL ….

Semoga dengan fokus-fokus yang saya tulis diatas, anda juga masih bisa fokus di bisnis Anda.

Salam
rosihan

Thursday, October 25, 2007

Masalah SDM di Sektor Formal dan Informal

Lebaran telah usai. Mungkin dari kita sudah bersilaturrahmi ke sanak saudara, ke paman, bibi, eyang, sepupu dan banyak saudara lainnya. Salah satu pertanyaan yang sering kita jumpai adalah “ Sekarang kerja dimana ? “. Kalau yang karyawan tentunya mudah menjawabnya. Mungkin dengan bangga kita sendiri menjawab, atau saudara, atau bapak/ibu kita pun ikut bangga menjawabnya ..” oh kerja di Astra ..” atau “oh kerja di Ramayana .. “ atau “oh kerja di Telkomsel, ituloh operator HP Simpati ….” Atau “di Matahari, sekarang sudah Manajer loh ..”

Sementara yang kerja di sektor informal …. Mungkin dengan malu-malu ..”Saya usaha dagang baju Pak …” atau “ saya lagi buka usaha ternak ayam “ .. atau .. “ saya lagi nyoba mulai usaha kecil-kecilan, buka toko sepatu di pasar “ … Sambil terima respon yang kadang menjadi guyonan …”wah ..sudah jadi Sodagar yaa” ..atau “ wah, juragan ayam yaa” atau ..”wah ..lagi banyak duit yaa, habis panen sih ..”

Ya itulah realitas. Mejalani hidup disektor formal kadang mendapatkan penghargaan yang lebih. Kadang lebih dipandang lebih intelek, bermartabat, keren, dan tentunya kaya karena bergaji jutaan. Yang kerja di sektor ritel pun demikian, banyak anak muda (remaja) yang lebih bangga jika bekerja di ritel modern seperti Carrefour, Matahari, Ramayana dan lainnya.

Sebagai pengusaha di sektor informal, khususnya ritel busana, saya pribadi menyatakan bahwa masalah SDM adalah masalah nomor satu yang harus diperhatikan. Apalagi saya membangun jaringan toko ritel, yang notabene nantinya dikelola mandiri oleh SDM toko.

Menurut penelitian Martels & Pannels, dalam bukunya The Teenage Worker, Retention and Motivation yang terbit pada tahun 2000, menyebutkan 10 Faktor Pendorong Motivasi pekerja remaja di industri ritel adalah :

1. Memiliki kebanggaan pada pekerjaan dan tempat kerjanya
2. Sering mendapatkan perhatian rekan dan atasan
3. Atasan mendengarkan apa yang mereka katakan
4. Memperlakukan mereka dengan hormat
5. Manager/Supervisor mereka memperhatikan sebagai seorang individu
6. Mendapatkan arahan dan tuntutan pekerjaan yang jelas (ada SOP)
7. Mendapatkan umpan balik yang cukup atas pekerjaan
8. Hasil pekerjaannya bisa terlihat jelas
9. Pekerjaannya tidak mebosankan
10. Atasan tidak ada like and dis-like

Kalau ke 10 point diatas kita percaya, yang tentunya kita sebagai peritel kecil ini sungguh merana dipandang oleh karyawan-karyawan kita. Mengapa, jawabannya jelas sekali.

1. Bisnis kita masih kecil, toko kita kecil, so ..apa yang bisa dibanggakan oleh karyawan kita ?
2. Karyawan kita ngga banyak, so … mungkin sering kali karyawan kita kurang kawan, dan pekerjaan bisa jadi membosankan
3. Kadang kita lupa menuliskan SOP, standar kerja, yang kadang menjadikan seberapapun kerja keras karyawan kita menjadi tidak terlihat
4. Tidak adanya jenjang karir, dan juga atasan yang kadang pemilik langsung juga kurang perhatian, kurang komunikasi ..
5. Kadang jadwal kerja yang terlalu lama, karena pemilik ingin menekan overhead operasional

Untuk itu semua, saya yang sekarang terus mengembangkan jaringan SAQINA tidak pernah berhenti memecahkan masalah SDM. Di Wilayah timur, Jumat dan Sabtu pasca lebaran lalu, saya mengadakan training untuk sosialisasi SOP baru, sekaligus wisata. Semua karyawan antusias atas penerapan sistem manajemen baru.

Namun di Wilayah barat, pasca lebaran, saya kehilangan 3 orang karyawan yang notabene sudah mengusai produk. Satu ilmu lagi, aalah satu tantangan membuat toko di wilayah industri adalah, lulusan SMP dan SMA sekarang lebih suka kerja di pabrik dari pada di toko. Dan gaji selalu dibandingkan dengan UMR. Ini memaksa saya mencari data UMR se-Indonesia, dan alhamdulillah dapat, dan tentunya mau menghitung ulang sistem penggajian karyawan.

Semua masalah adalah tantangan, dan jika terpecahkan, akan menjadi batu pijakan untuk terus maju kedepan.

Salam

Rosihan

Saturday, May 5, 2007

TARGET UTANG 1 MILIAR

Mungkin anda akan bilang ini target edan, masak target kok utang. Tapi saya orang yang menyesal mengapa baru berani utang sekarang-2 ini. Utang bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan, baik dari teman apalagi utang formal dari Bank. Kalau utang ke teman, kita harus bisa dipercaya 1000%, dan kalau ke Bank, kita harus punya usaha yang terkelola dan tumbuh dengan baik. Tapi hindari gadai dan renternir yaa, apalagi ngemplang!. Juga hindari utang konsumtif, seperti beli rumah untuk ditempati atau beli mobil untuk bergaya.

Kalau kita masih karyawan, kita paling bisa mendapatkan utang dari Bank dengan cicilan maksimal 1/3 dari gaji. Misal dengan mendapatkan Kredit Tanpa Agunan (KTA) yang lebih mudah didapatkan oleh karyawan daripada pengusaha. Kecuali perusahaan kita baik, mau ngutangin, walau dengan berbagai macam ikatan. Cara termudah bisa dari Kartu Kredit, tapi ini uang mahal. Cara yang lebih bisa diharapkan adalah pinjaman formal melalui Bank, yang kemudian kita kelola untuk terus bisa meningkat pinjamannya.

Kalau kita bisa dipercaya Bank diberi utang untuk usaha sebesar 1 M, itu berarti dari kacamata Bank, agunan dan jaminan usaha kita juga dipercaya mampu membayar cicilan, ini berarti bisnis kita cashflow-nya baik dan tumbuh.

Saya punya buku saku “Cara Jitu Mendapatkan Kredit Bank – Panduan untuk UKM” karangan Agoeng Widyatmoko terbitan Media Kita 2005. Saya belajar teorinya dari situ, walau secara praktek harus kita modifikasi. Mungkin Anda bisa baca buku ini untuk mendapatkan pengetahuan awal tentang kredit Bank.

Prinsip awal berhutang ke bank, kita harus punya Agunan dan Jaminan Usaha. Agunan biasanya rumah/toko. Jaminan Usaha adalah bisnis kita, bisa produksi, toko grosir atau toko eceran. Agunan kadang hanya menjadi syarat formal saja, tetapi Jaminan Usaha yang menggambarkan Cash Flow bisnis kita itulah yang utama. Bank akan lebih melihat Jaminan Usaha, disamping Agunan.

Sebenarnya saya kurang kompeten untuk menjelaskan soal utang-mengutang ini. Saya mengundang Pak Yoyok (adik Pak Hadi) yang mantan Banker untuk bisa menjelaskan trik-trik mendapatkan kepercayaan Bank, dari kacamata orang Bank.

Saya ingin sharing target saya menuju utang 1 M di akhir tahun 2007, melalui bisnis ritel sejak 2004. Ini sharing loh yaa, bukan nyombong, bangga atau ingin dibilang hebat. Karena saya ingin teman2 punya keberanian yang sama nantinya.

Saya hanya punya pengalaman praktisnya saja, dan ini salah satu Winning saya. Singkatnya sbb:
- Maret 2002 : pertama kali menjadi TDA, tidak punya utang Bank, modal usaha dari gaji terkahir + tunjangan uang obat 1 tahun. Asik khan, Anda pasti punya yang seperti ini.

- Januari 2004 : masih tidak punya utang Bank, tetapi sudah punya mimpi.
- Juli 2004 : utang Bank 120 juta (pertama kali)
- Juli 2006 : total utang Bank 300 juta
- Januari 2007 : total utang Bank 400 juta
- Mei 2007 nanti : total utang Bank 750 juta (lagi proses)
- Des 2007 (target) : total utang Bank 1 M (kalau bisa sebelum lebaran 2007)

Lah kok bisa ? agunan dan jaminan usahanya apa ? prosesnya gimana ? nanti bayar cicilannya pakai apa ? Nah itulah rahasia dan kehendak-NYA.

Salah satu yang agak “menyebalkan” adalah adanya BI Checking, dimana data kita sebagai peminjam sudah masuk ke Bank Indonesia (BI). Katanya semua data utang perorangan dari bank manapun sudah masuk ke BI. Jadi kredibilitas kita juga bisa diketahui oleh bank sebelum kita mendapatkan pinjaman.

Saya tidak akan sharing caranya dulu. Kali ini hanya ingin menanyakan kepada Anda semua ? Anda sudah punya target utang ? berapa ? tahun berapa dicapai ?
Kalau Anda tidak punya target utang …jangan pernah mengeluh soal modal pengembangan usaha loh …

Sebenarnya yang bener BUKA USAHA DULU atau UTANG DULU sih ? he..he..he … saya sendiri juga agak takut kasih tahu Anda semua. Saya rasa Anda yang bisa menjawabnya.

Salam
Rosihan
www.neslink.com/ritel
Ridla Jaya & Saqina Distro Muslim
Buku Brad Sugars dan Manajemen Ritel

Seminggu lalu membeli buku "Jalur Cepat Menuju Kaya" karya Brad Sugars di Gramedia, saya terus berusaha mendapatkan poin2 pentingnya, khususnya pada bab yang membahas 5 Tingkatan Wirausahawan.

Saya membaca berulang-ulang bagian Tingkat 1 - Pekerja Mandiri dan Tingkat 2 - Manajer. Sepenuhnya saya menyadari, menjadi TDA sejak 2002 di bisnis Teknologi Informasi, ternyata hanya menempatkan saya berputar-putar pada Tingkatan 1 dan 2 saja. Saya telah bekerja keras dan tidak maju-maju. Thanks for Brad Sugars, saya mendapatkan pencerahan sekali dengan buku ini.

Inti dari Tingkat 1 adalah periode penting untuk memulai, bekerja keras, dan belajar banyak hal. Intinya adalah pendidikan bisnis, sekaligus menikmati kelebihan sedikit finansial dari masa menjadi Karyawan.

Inti dari Tingkatan 2 adalah membangun fondasi bagi bisnis untuk dapat tumbuh terus dimasa depan. Harus mulai belajar sistem, bagaimana mengembangkannya, menangani pertumbuhan, mendelegasikan pekerjaan, dan mengembangkan kepercayaan.

Di bisnis IT saya, saya telah bekerja keras dan tidak maju-maju. Saya tidak mempelajari apa yang seharusnya saya pelajari di Tingkat 1 dan Tingkat 2.

Bagi Member TDA yang baru memulai usaha, Anda wajib baca buku ini, supaya Anda tahu betul tahapan yang akan Anda lalui, dari mulai karyawan hingga Wirausahawan. Dan Anda bisa tentukan kapan Anda berpindah dari tingkat ke tingkat, tanpa perlu terjebak seperti saya, 5 tahun hanya berkutat di Tingkat 1 dan Tingkat 2.

Saya tidak mau terjebak seperti itu lagi di bisnis Ritel yang sedang saya besarkan sekarang. Saya harus mengembangkan bisnis ritel saya dengan baik dan benar. Saya harus belajar, kalo perlu kuliah bisnis ritel. Sebenarnya ada Hari Darmawan Business Ritail Institute, tapi setelah saya kontak tidak mendapatkan respon yang pasti. Sempat bingung juga …dimana yaa sekolah yang serius untuk bisa berdagang dengan cara modern ?

Setelah tuntas baca buku Bard Sugars, saya segera balik ke Gramedia, yang saya cari, buku soal mengelola toko/bisnis ritel dan juga membangun sistem. Alhamdulillah, saya menemukan buku text book kuliah “Manajemen Ritel – Strategi dan Implementasi Ritel Modern”, catakan 2006 karangan Christina Whidya Utami, doktor dan dosen kuliah Manajemen Ritel. Luar biasa, buku ini dilahirkan dari kolaborasi peneliti, praktisi dari Matahari dan Makro. Tapi jangan dibayangkan ini buku saku, ini buku kuliahan, padat sekali, sebanyak 300 halaman dengan harga Rp.59.900. Jadi siap-2lah menjadi pelajar/mahasiswa lagi. Saya tidak tahu, apakah mahasiswa yang kuliah Manajemen juga mendapatkan ini.

Sekilas daftar isi buku :
Bab 1 : Ruang Lingkup Bisnis Ritel
Bab 2 : Perilaku Belanja Pelanggan dalam Bisnis Ritel
Bab 3 : Strategi Pemasaran Ritel
Bab 4 : SDM dalam Ritel
Bab 5 : Aspek Keuangan Ritel
Bab 6 : Pemilihan Lokasi Ritel dalam Area Perdagangan
Bab 7 : Sistem Informasi Manajemen Rantai Pasokan
Bab 8 : Manajemen Hubungan Pelanggan dalam Ritel
Bab 9 : Perencanaan dan Pengelolaan Keanekaragaman Barang
Bab 10 : Sistem pembelian Barang Dagangan
Bab 11 : Strategi Penetapan Harga
Bab 12 : Bauran Komunikasi Ritel
Bab 13 : Desain Tata Ruang Toko dan Visualisasi Barang Dagangan
Bab 14 : Kualitas Layanan dalam Bisnis Ritel
Bab 15 : Sistem Antrean dan Penanganan Keluhan

Jadi untuk semua member TDA yang ingin/sudah masuk ke bisnis ritel, saya rekomendasikan membeli dan membaca buku ini. Jika anda punya kios, toko, distro, yang menjual eceran, anda akan mendapatkan banyak pengetahuan teknis disini. Karena kita akan belajar cara pengelolaan Ritel Modern (seperti Matahari, Ramayana, Makro, Alfa, dll).

Mohon doa restu atas dibukanya distro kami, SAQINA Distro Muslim di Mojokerto – Jatim.

Salam
rosihan