“Kesalahan terbesar saya adalah kehilangan fokus” .. itu kata Donald Trump di CBNC Asia beberapa malam lalu.
Saya sempat tercenung diacara itu beberapa lama. Karena Trump begitu coboy dalam cara membicarakan segala sesuatu tentang bisnis. Beberapa point yang dapat saya ingat :
- Jangan kehilangan fokus … intinya fokus pada bisnis yang menuju impian anda
- Setiap hari saya bekerja dan berwisata sekaligus .. yaa karena Trump punya real estate di beberapa kawasan wisata dunia.
- Bisnisku Ya Hidupku .. tidak bisa dipisahkan, karena setiap apa yang di-impikan, pikirkan, ucapkan dan jalankan menjadi bisnis Trump.
- Saat ini adalah The Great Time for Properti Investment di Amrik sono, karena harga properti lagi jatuh. Diperkirakan 6 bulan kedepan harga properti menuju bottom line, setelah itu recovery lagi.
- Banyak orang terlalu cepat menyerah dalam menghadapi tantangan bisnis, pesan Trump : “Jangan Pernah Menyerah”
- Dan lain-lain …banyak …
Satu hal yang saya ingat justru kata-kata Jangan Kehilangan Fokus. Mungkin kalau Trump kehilangan fokusnya adalah melirik peluang-peluang yang begitu banyak didepan mata, yang mampu dia mainkan.
Tetapi kalau saya, kehilangan fokus kadang hanya sebagai jalan pelarian karena males menghadapi masa-masa berat disiklus bisnis. Padahal ini haram hukumnya.
Langkah Fokus 1:
Untuk tetap fokus, saya mengisi hari dengan urusan-urusan teknis pengembangan bisnis, seperti borong buku di Gramedia, ada 21 buku Manajemen Ritel, Hantaran dan urusan kerudung dan buku-buku pendukung bisnis saya borong sbb:
Seri Manajemen Ritel :
Sukses Berbisnis Ritel
Paradigma Baru Dalam Manajemen Ritel
Manajemen Ritel
5 Jurus Sukses Berbisnis Ritel
Pemasaran Ritel
How to Operate Your Store Effectively & Efficiently
Sukses Mengelola Bisnis Minimarket
Top Brand Anak & Remaja
Seri Hantaran Pengantin :
Membuat Kreasi Hantaran Pengantin
Aneka Hantaran Pengantin
Lipat Kain Sederhana
Lipat Cantik untuk Hantaran
Seri Kerudung Masa Kini :
Scraf : Akses Cantik Busana Muslim
Kerudung Praktis Ratih Sang : Seri 1 dan 2
The Power of Mix & Match
Chic & Cantik Bandana Kerudung Anda
Kreasi Dua Kerudung
Modis & Praktis Kerudung Instan
Kerudung Gaul Ramaja
Habis beli, ya dibaca, dan beberapa segera dipraktekkan di toko. Jika Anda semua punya toko busana muslim, saya rasa Anda wajib punya buku-2 diatas.
Langkah Fokus 2 :
Saya lagi demen jalan-jalan, terutama ke Distro-2 anak muda, ini gara-gara cerita bisnis Pak Try Atmojo yang sangat kurang ajar …karena begitu basah dan menggiurkan !
Saya juga lagi demen jalan-2 ke sentra-2 tas, sepatu dan sandal. Survey disain toko-2 tas dan sepatu.
Distro Anak Muda dan Distro Tas & Sepatu … ah … LOA ..LOA ..LOA
Langkah Fokus 3 :
Membereskan Aplikasi E-Commerce SAQINA.COM … sebentar lagi akan segera menyaingi blog commerce temen-2 …..
Langkah Fokus terakhir :
CARI UTANG …. CARI MODAL ….
Semoga dengan fokus-fokus yang saya tulis diatas, anda juga masih bisa fokus di bisnis Anda.
Salam
rosihan
Re-launching SAQINA.COM
Wednesday, November 14, 2007
Ngga Mungkin Bisnis Anda Bisa Jadi Konglomerat
Anda panas baca judul diatas ? … ya jangan dong … masak gara-gara judul aja kok panas hati ..he..he..he… Tapi yang dijudul itu bisa ada benarnya. Itu kalau kita memang mau betul mencari kebenarannya. Saya sendiri sedang merangkak mencari kebenaran judul itu.
Apa sih konglomerat ? tanpa perlu baca buku, saya mendefiniskan sendiri, bahwa bisnis konglomerasi itu adalah bisnis yang menguasai mata rantai bisnisnya-nya, dari hulu ke hilir, bisa vertikal atau horisontal.
Contoh yang yang dari hulu kehilir vertikal sbb :
Dari awalnya cuman punya toko elektronik, lalu bergerak ke arah hulu dengan membuka bisnis grosir barang elektronik, lalu buka produksi elektronik, lalu buka pabrik besar elektronik macem-macem, lalu buka pabrik khusus komponen elektronik, lalu pabrik bahan dasar komponen, lalu sampai buka bisnis pertambangan bahan inti sendiri.
Sedangkan ke hilir dari toko elektronik cuman satu, bikin banyak toko elektronik seantero negeri, bikin super store elektronik, bikin hiper store yang jual bermacem-macem elektronik dari semua produsen, sampai ekspor produk elektronik dan jadi importir dan distributor tunggal berbagai produk elektronik.
Contoh yang yang dari hulu kehilir horisontal sbb :
Dari awalnya cuman punya toko elektronik, lalu bergerak ke arah horisontal dengan invest properti untuk buka toko, buka super store, buka hiperstore. Buka bisnis pergudangan, sampai distribusi. Buka bisnis ekspedisi, lengkap dengan armada sendiri, armada perkapalan laut dan udara. Lalu buka bisnis pinjaman (financing), khususnya untuk financing produk elektronik, lama-lama produk apa aja. Bisnis financing besar, lalu bikin Bank, lalu bikin bisnis Asuransi. Buka sekolah elektronik. Buka lembaga riset elektronika dunia. Buka bisnis periklanan, buka bisnis media, radio, televisi, koran, dll …. dan seterusnya ….
Anda tahu apa kuncinya bisnisnya bisa menjadi konglomerasi ? jawabannya cuman satu : PEMBATAS.
Ya ..PEMBATAS adalah satu hal sangat penting dalam bisnis. Anda bisa menganalogikannya dengan beli tanah atau rumah diperumahan di kota sama di desa. Kalau kita beli rumah diperumahan, pembatas kanan kiri depan belakang sulit kita lampaui atau kita beli atau kita jebol. Kita terpaksa tidak bisa melebarkan rumah kita, walau kita mampu. Jika didesa, pembatas itu relatif mampu kita beli, sehingga kita bisa melebarkan rumah kita.
Ya ..di bisnis pun seperti itu. Bisnis bisa menjadi konglomerasi sangat tergantung dari Pembatas bisnis itu. Jelas sekali setiap jenis bisnis punya nature-nya sendiri. Contoh diatas sangat jelas sekali, bahwa secara vertikal, ketika bisnis awal membesar, maka pembatas ke arah hulu bisa dipecahkan, sehingga bisa bergerak ke arah hulu, sampai ke sumbernya. Juga kearah hilir, jelas bisa dilakukan. Jika berhasil melebarkan bisnis secara vertikal, melebarkan secara horisontal jauh lebih mudah, karena pola bisnis horisontalnya biasanya adalah bisnis yang men-support bisnis utamanya.
Lalu apakah bisnis saya saat ini bisa menjadi konglomerasi ???
Contoh Kasus :
Teman saya buka bisnis training SDM untuk running sistem berbasis SAP ituloh sistem ERP yang banyak dipakai di perusahaan. Apakah bisnis training ini besar BESAR ??? pasti BISA. Jelas, market size-nya adalah semua SDM pengguna SAP di Indonesia. Jika bisnis dia sukses bisa memonopili semua acara training pengguna SAP se-Indonesia, pasti bisa BESAR. Tapi sebarapa besar market size-nya ? Tanya SAP aja, anda pasti tahu jawabannya, yaitu sebanyak sistem SAP yang masih hidup yang di-implementasikan di Indonesia, dikalikan faktor n pengguna disetiap perusahaan. Bagaimana memperbesar market size-nya? wah, kalau ini susah jawabnya, karena market size-nya sangat tergantung dari pertumbuhan pemakai SAP di Indonesia.
Bagaimana bisnis tarining ini bisa dijadikan konglomerasi ? wah … ya dari bisnis Training SAP, anda harus buka bisnis Jualan SAP, supaya market size-nya ikut melebar. Jika sukses Jualan SAP, gimana lagi ? ya anda haru beli itu perusahaan SAP !!! Anda mampu beli SAP yang di jerman itu ??? Atau ada yang bisa menjabarkan jalan baru untuk jadi konglomerat ? (ayo dong … panas….panas….panas…)
Sebagian besar, bisnis yang bersifat Supportive Business memiliki pembatas hulu yang besar, yang kadang secara jelas menentukan market size bisnis kita. Jadi, sebelum anda fokus memilih bisnis anda, saya sarankan baca banyak-banyak kasus bisnis di dunia. Ini adalah satu contoh kasus.
Lalu saya harus pilih bisnis yang seperti apa ? Jawaban saya :
BELAJARLAH SAMA JEPANG – TAIWAN – KOREA & CHINA
Mengapa ?
- Bisnis INTI mereka adalah PRODUKSI & PERNIAGAAN
- Bisnis sekunder mereka adalah Semua Bisnis yang Mendukung Produksi & Perniagaan
- Bisnis lainnya adalah bisnis yang Mereka Tidak Mampu Mengadakannya Secara Pasti Karena Sudah Ditakdirkan (seperti sumberdaya alam)
Jadi, apa bisnis saya bisa BESAR ? oh pasti bisa BESAR …. TAPI TIDAK BISA MENJADI KONGLOMERAT ….
Haa….haaa…haaa ….. jangan serius-serius amat … entar capek deh…
(tulisan diatas tidak ditujukan untuk menggurui Anda, mencemooh, mengejek, menolok-olok, menunjukkan jalan salah bisnis Anda. Tidak ditujukan kepada satu/dua, atau segerombolan orang. Tetapi ya seperti itu tulisan ngawur saya …. salam dari yang masih belajar, jadi wajar kalau masih belum benar semua)
Apa sih konglomerat ? tanpa perlu baca buku, saya mendefiniskan sendiri, bahwa bisnis konglomerasi itu adalah bisnis yang menguasai mata rantai bisnisnya-nya, dari hulu ke hilir, bisa vertikal atau horisontal.
Contoh yang yang dari hulu kehilir vertikal sbb :
Dari awalnya cuman punya toko elektronik, lalu bergerak ke arah hulu dengan membuka bisnis grosir barang elektronik, lalu buka produksi elektronik, lalu buka pabrik besar elektronik macem-macem, lalu buka pabrik khusus komponen elektronik, lalu pabrik bahan dasar komponen, lalu sampai buka bisnis pertambangan bahan inti sendiri.
Sedangkan ke hilir dari toko elektronik cuman satu, bikin banyak toko elektronik seantero negeri, bikin super store elektronik, bikin hiper store yang jual bermacem-macem elektronik dari semua produsen, sampai ekspor produk elektronik dan jadi importir dan distributor tunggal berbagai produk elektronik.
Contoh yang yang dari hulu kehilir horisontal sbb :
Dari awalnya cuman punya toko elektronik, lalu bergerak ke arah horisontal dengan invest properti untuk buka toko, buka super store, buka hiperstore. Buka bisnis pergudangan, sampai distribusi. Buka bisnis ekspedisi, lengkap dengan armada sendiri, armada perkapalan laut dan udara. Lalu buka bisnis pinjaman (financing), khususnya untuk financing produk elektronik, lama-lama produk apa aja. Bisnis financing besar, lalu bikin Bank, lalu bikin bisnis Asuransi. Buka sekolah elektronik. Buka lembaga riset elektronika dunia. Buka bisnis periklanan, buka bisnis media, radio, televisi, koran, dll …. dan seterusnya ….
Anda tahu apa kuncinya bisnisnya bisa menjadi konglomerasi ? jawabannya cuman satu : PEMBATAS.
Ya ..PEMBATAS adalah satu hal sangat penting dalam bisnis. Anda bisa menganalogikannya dengan beli tanah atau rumah diperumahan di kota sama di desa. Kalau kita beli rumah diperumahan, pembatas kanan kiri depan belakang sulit kita lampaui atau kita beli atau kita jebol. Kita terpaksa tidak bisa melebarkan rumah kita, walau kita mampu. Jika didesa, pembatas itu relatif mampu kita beli, sehingga kita bisa melebarkan rumah kita.
Ya ..di bisnis pun seperti itu. Bisnis bisa menjadi konglomerasi sangat tergantung dari Pembatas bisnis itu. Jelas sekali setiap jenis bisnis punya nature-nya sendiri. Contoh diatas sangat jelas sekali, bahwa secara vertikal, ketika bisnis awal membesar, maka pembatas ke arah hulu bisa dipecahkan, sehingga bisa bergerak ke arah hulu, sampai ke sumbernya. Juga kearah hilir, jelas bisa dilakukan. Jika berhasil melebarkan bisnis secara vertikal, melebarkan secara horisontal jauh lebih mudah, karena pola bisnis horisontalnya biasanya adalah bisnis yang men-support bisnis utamanya.
Lalu apakah bisnis saya saat ini bisa menjadi konglomerasi ???
Contoh Kasus :
Teman saya buka bisnis training SDM untuk running sistem berbasis SAP ituloh sistem ERP yang banyak dipakai di perusahaan. Apakah bisnis training ini besar BESAR ??? pasti BISA. Jelas, market size-nya adalah semua SDM pengguna SAP di Indonesia. Jika bisnis dia sukses bisa memonopili semua acara training pengguna SAP se-Indonesia, pasti bisa BESAR. Tapi sebarapa besar market size-nya ? Tanya SAP aja, anda pasti tahu jawabannya, yaitu sebanyak sistem SAP yang masih hidup yang di-implementasikan di Indonesia, dikalikan faktor n pengguna disetiap perusahaan. Bagaimana memperbesar market size-nya? wah, kalau ini susah jawabnya, karena market size-nya sangat tergantung dari pertumbuhan pemakai SAP di Indonesia.
Bagaimana bisnis tarining ini bisa dijadikan konglomerasi ? wah … ya dari bisnis Training SAP, anda harus buka bisnis Jualan SAP, supaya market size-nya ikut melebar. Jika sukses Jualan SAP, gimana lagi ? ya anda haru beli itu perusahaan SAP !!! Anda mampu beli SAP yang di jerman itu ??? Atau ada yang bisa menjabarkan jalan baru untuk jadi konglomerat ? (ayo dong … panas….panas….panas…)
Sebagian besar, bisnis yang bersifat Supportive Business memiliki pembatas hulu yang besar, yang kadang secara jelas menentukan market size bisnis kita. Jadi, sebelum anda fokus memilih bisnis anda, saya sarankan baca banyak-banyak kasus bisnis di dunia. Ini adalah satu contoh kasus.
Lalu saya harus pilih bisnis yang seperti apa ? Jawaban saya :
BELAJARLAH SAMA JEPANG – TAIWAN – KOREA & CHINA
Mengapa ?
- Bisnis INTI mereka adalah PRODUKSI & PERNIAGAAN
- Bisnis sekunder mereka adalah Semua Bisnis yang Mendukung Produksi & Perniagaan
- Bisnis lainnya adalah bisnis yang Mereka Tidak Mampu Mengadakannya Secara Pasti Karena Sudah Ditakdirkan (seperti sumberdaya alam)
Jadi, apa bisnis saya bisa BESAR ? oh pasti bisa BESAR …. TAPI TIDAK BISA MENJADI KONGLOMERAT ….
Haa….haaa…haaa ….. jangan serius-serius amat … entar capek deh…
(tulisan diatas tidak ditujukan untuk menggurui Anda, mencemooh, mengejek, menolok-olok, menunjukkan jalan salah bisnis Anda. Tidak ditujukan kepada satu/dua, atau segerombolan orang. Tetapi ya seperti itu tulisan ngawur saya …. salam dari yang masih belajar, jadi wajar kalau masih belum benar semua)
Thursday, October 25, 2007
Masalah SDM di Sektor Formal dan Informal
Lebaran telah usai. Mungkin dari kita sudah bersilaturrahmi ke sanak saudara, ke paman, bibi, eyang, sepupu dan banyak saudara lainnya. Salah satu pertanyaan yang sering kita jumpai adalah “ Sekarang kerja dimana ? “. Kalau yang karyawan tentunya mudah menjawabnya. Mungkin dengan bangga kita sendiri menjawab, atau saudara, atau bapak/ibu kita pun ikut bangga menjawabnya ..” oh kerja di Astra ..” atau “oh kerja di Ramayana .. “ atau “oh kerja di Telkomsel, ituloh operator HP Simpati ….” Atau “di Matahari, sekarang sudah Manajer loh ..”
Sementara yang kerja di sektor informal …. Mungkin dengan malu-malu ..”Saya usaha dagang baju Pak …” atau “ saya lagi buka usaha ternak ayam “ .. atau .. “ saya lagi nyoba mulai usaha kecil-kecilan, buka toko sepatu di pasar “ … Sambil terima respon yang kadang menjadi guyonan …”wah ..sudah jadi Sodagar yaa” ..atau “ wah, juragan ayam yaa” atau ..”wah ..lagi banyak duit yaa, habis panen sih ..”
Ya itulah realitas. Mejalani hidup disektor formal kadang mendapatkan penghargaan yang lebih. Kadang lebih dipandang lebih intelek, bermartabat, keren, dan tentunya kaya karena bergaji jutaan. Yang kerja di sektor ritel pun demikian, banyak anak muda (remaja) yang lebih bangga jika bekerja di ritel modern seperti Carrefour, Matahari, Ramayana dan lainnya.
Sebagai pengusaha di sektor informal, khususnya ritel busana, saya pribadi menyatakan bahwa masalah SDM adalah masalah nomor satu yang harus diperhatikan. Apalagi saya membangun jaringan toko ritel, yang notabene nantinya dikelola mandiri oleh SDM toko.
Menurut penelitian Martels & Pannels, dalam bukunya The Teenage Worker, Retention and Motivation yang terbit pada tahun 2000, menyebutkan 10 Faktor Pendorong Motivasi pekerja remaja di industri ritel adalah :
1. Memiliki kebanggaan pada pekerjaan dan tempat kerjanya
2. Sering mendapatkan perhatian rekan dan atasan
3. Atasan mendengarkan apa yang mereka katakan
4. Memperlakukan mereka dengan hormat
5. Manager/Supervisor mereka memperhatikan sebagai seorang individu
6. Mendapatkan arahan dan tuntutan pekerjaan yang jelas (ada SOP)
7. Mendapatkan umpan balik yang cukup atas pekerjaan
8. Hasil pekerjaannya bisa terlihat jelas
9. Pekerjaannya tidak mebosankan
10. Atasan tidak ada like and dis-like
Kalau ke 10 point diatas kita percaya, yang tentunya kita sebagai peritel kecil ini sungguh merana dipandang oleh karyawan-karyawan kita. Mengapa, jawabannya jelas sekali.
1. Bisnis kita masih kecil, toko kita kecil, so ..apa yang bisa dibanggakan oleh karyawan kita ?
2. Karyawan kita ngga banyak, so … mungkin sering kali karyawan kita kurang kawan, dan pekerjaan bisa jadi membosankan
3. Kadang kita lupa menuliskan SOP, standar kerja, yang kadang menjadikan seberapapun kerja keras karyawan kita menjadi tidak terlihat
4. Tidak adanya jenjang karir, dan juga atasan yang kadang pemilik langsung juga kurang perhatian, kurang komunikasi ..
5. Kadang jadwal kerja yang terlalu lama, karena pemilik ingin menekan overhead operasional
Untuk itu semua, saya yang sekarang terus mengembangkan jaringan SAQINA tidak pernah berhenti memecahkan masalah SDM. Di Wilayah timur, Jumat dan Sabtu pasca lebaran lalu, saya mengadakan training untuk sosialisasi SOP baru, sekaligus wisata. Semua karyawan antusias atas penerapan sistem manajemen baru.
Namun di Wilayah barat, pasca lebaran, saya kehilangan 3 orang karyawan yang notabene sudah mengusai produk. Satu ilmu lagi, aalah satu tantangan membuat toko di wilayah industri adalah, lulusan SMP dan SMA sekarang lebih suka kerja di pabrik dari pada di toko. Dan gaji selalu dibandingkan dengan UMR. Ini memaksa saya mencari data UMR se-Indonesia, dan alhamdulillah dapat, dan tentunya mau menghitung ulang sistem penggajian karyawan.
Semua masalah adalah tantangan, dan jika terpecahkan, akan menjadi batu pijakan untuk terus maju kedepan.
Salam
Rosihan
Sementara yang kerja di sektor informal …. Mungkin dengan malu-malu ..”Saya usaha dagang baju Pak …” atau “ saya lagi buka usaha ternak ayam “ .. atau .. “ saya lagi nyoba mulai usaha kecil-kecilan, buka toko sepatu di pasar “ … Sambil terima respon yang kadang menjadi guyonan …”wah ..sudah jadi Sodagar yaa” ..atau “ wah, juragan ayam yaa” atau ..”wah ..lagi banyak duit yaa, habis panen sih ..”
Ya itulah realitas. Mejalani hidup disektor formal kadang mendapatkan penghargaan yang lebih. Kadang lebih dipandang lebih intelek, bermartabat, keren, dan tentunya kaya karena bergaji jutaan. Yang kerja di sektor ritel pun demikian, banyak anak muda (remaja) yang lebih bangga jika bekerja di ritel modern seperti Carrefour, Matahari, Ramayana dan lainnya.
Sebagai pengusaha di sektor informal, khususnya ritel busana, saya pribadi menyatakan bahwa masalah SDM adalah masalah nomor satu yang harus diperhatikan. Apalagi saya membangun jaringan toko ritel, yang notabene nantinya dikelola mandiri oleh SDM toko.
Menurut penelitian Martels & Pannels, dalam bukunya The Teenage Worker, Retention and Motivation yang terbit pada tahun 2000, menyebutkan 10 Faktor Pendorong Motivasi pekerja remaja di industri ritel adalah :
1. Memiliki kebanggaan pada pekerjaan dan tempat kerjanya
2. Sering mendapatkan perhatian rekan dan atasan
3. Atasan mendengarkan apa yang mereka katakan
4. Memperlakukan mereka dengan hormat
5. Manager/Supervisor mereka memperhatikan sebagai seorang individu
6. Mendapatkan arahan dan tuntutan pekerjaan yang jelas (ada SOP)
7. Mendapatkan umpan balik yang cukup atas pekerjaan
8. Hasil pekerjaannya bisa terlihat jelas
9. Pekerjaannya tidak mebosankan
10. Atasan tidak ada like and dis-like
Kalau ke 10 point diatas kita percaya, yang tentunya kita sebagai peritel kecil ini sungguh merana dipandang oleh karyawan-karyawan kita. Mengapa, jawabannya jelas sekali.
1. Bisnis kita masih kecil, toko kita kecil, so ..apa yang bisa dibanggakan oleh karyawan kita ?
2. Karyawan kita ngga banyak, so … mungkin sering kali karyawan kita kurang kawan, dan pekerjaan bisa jadi membosankan
3. Kadang kita lupa menuliskan SOP, standar kerja, yang kadang menjadikan seberapapun kerja keras karyawan kita menjadi tidak terlihat
4. Tidak adanya jenjang karir, dan juga atasan yang kadang pemilik langsung juga kurang perhatian, kurang komunikasi ..
5. Kadang jadwal kerja yang terlalu lama, karena pemilik ingin menekan overhead operasional
Untuk itu semua, saya yang sekarang terus mengembangkan jaringan SAQINA tidak pernah berhenti memecahkan masalah SDM. Di Wilayah timur, Jumat dan Sabtu pasca lebaran lalu, saya mengadakan training untuk sosialisasi SOP baru, sekaligus wisata. Semua karyawan antusias atas penerapan sistem manajemen baru.
Namun di Wilayah barat, pasca lebaran, saya kehilangan 3 orang karyawan yang notabene sudah mengusai produk. Satu ilmu lagi, aalah satu tantangan membuat toko di wilayah industri adalah, lulusan SMP dan SMA sekarang lebih suka kerja di pabrik dari pada di toko. Dan gaji selalu dibandingkan dengan UMR. Ini memaksa saya mencari data UMR se-Indonesia, dan alhamdulillah dapat, dan tentunya mau menghitung ulang sistem penggajian karyawan.
Semua masalah adalah tantangan, dan jika terpecahkan, akan menjadi batu pijakan untuk terus maju kedepan.
Salam
Rosihan
Tuesday, October 23, 2007
Mentalitas Yang Terbebani Identitas
Ramadhan 1994, saya ikut pesantren kilat jaman mahasiswa. Salah satu topik yang begitu melekat sampai hari ini, adalah paparan tentang “The Real I” yang dibawakan oleh Budi Munawar Rachman (intelektual, bidang filsafat kalau tidak salah).
The Real I (identitas yang sesungguhnya) digambarkan dalam sebuah lingkaran, yang didalamnya ada huruf RI (identitas riil) dan dikelilingi banyak lingkaran diluarnya yang membentuk suatu orbit, dimana setiap orbit terdapat banyak I (identitas tambahan) yang lain. Intinya adalah, bahwa identitas kita yang sesungguhnya, seringkali dikelilingi, bahkan tertutupi oleh identitas-identitas tambahan lainnya yang melingkupi pada saat itu. Poin-poit itulah yang saya pahami sampai saat ini.
Coba sekarang kita menanyakan kepada diri sendiri.
Hey… kamu itu siapa sih sesungguhnya ? Kalau saya ditanya seperti itu, saya pasti akan terjebak menjawab sbb:
Oh, “saya Rosihan, saya orang Jawa, saya alumni ITB, saya Konsultan IT, saya bekas Karyawan Astra, saya, saya …, saya …. “ dan seterusnya.
Apakah semua jawaban itu adalah identitas seorang Rosihan sesungguhnya ? saya merasakannya tidak. Jika orang tua saya menamakan Agus juga bisa, jika saya besar di Jawa Barat saya akan jadi orang Sunda, jika saya kuliah di UI maka saya Alumni UI, jika saya ngga kerja di Astra ngga mungkin jadi Karyawan Astra, dan seterusnya …
Semua identitas itu adalah identitas tambahan yang melekat pada diri saya, yang terjadi karena suatu kondisi dan pilihan-pilihan. Bukan Identitas yang sesungguhnya (Real I).
Identitas Yang Membebani
Sadar atau tidak, semua identitas tambahan yang pernah melekat, atau saat ini melekat pada kita, seringkali mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Kadang mengambil keputusan untuk “Menjadi Seseorang Yang Baru” atau menambah identitas tambahan yang baru, kita menjadi sulit. Kita kadang menjadi terbebani oleh identitas lainnya yang telah melekat.
“Seorang Manager” kadang merasa RISIH untuk memulai menjadi “Seorang Pedagang”. “Seorang Penulis” merasa RISIH menjadi “Seorang Pengusaha”, atau
“Seorang Pengusaha” merasa RISIH menjadi “Seorang Politisi”, dan lainnya.
Kalau kita bedah kata “RISIH”, sebenarnya terdiri dari sekumpulan asumsi-asumsi dan pemikiran negatif. Perasaan risih ini terjadi, karena mental kita sudah terbebani oleh identitas yang melekat itu. Kita sedang sibuk membanding-bandingkan antar Identitas. Ini suatu hal yang sangat tidak perlu.
Jika kita terus berjuang untuk mengenal siapa diri kita sesungguhnya (Real I), sebenarnya kita tidak perlu merasa terbebani, apalagi terkungkung oleh identitas yang melekat itu. Kita bisa sesuka hati menjadikan kita sebagai: “saya Pengusaha, saya Penulis, saya Pedagang, saya Konsultan” ..dan lainnya.
Ini merupakan salah satu modal mental untuk “Menjadi Apa Aja”, dengan lebih jelas, yakin dan rileks. Kita tidak perlu takut “menjadi yang baru”, dan ini adalah modal dasar kita untuk bergerak terus maju menjadi yang baru.
Jadi, yang “Programmer” tidak perlu merasa risih menjadi “Pedagang”. Yang “Pedagang” tidak perlu merasa minder menjadi “Konsultan”. Yang “Konsultan” tidak perlu merasa rugi jadi “Penulis”. Yang “Penulis” tidak perlu merasa takut menjadi “Pengusaha”
Semua itu adalah pilihan-pilihan, dan “Menjadi Itu “ adalah tidak kekal. Itu bisa berubah. Itu bisa ada masanya. Yang kekal adalah menjadi saya yang sesungguhnya (Real I).
Adalah picik kalau sebagian besar hidup kita hanya dilekatkan pada Satu Identitas. Adalah picik kalau seorang Rosihan hanya ingin menjadi “Konsultan IT”, karena seorang Rosihan selalu bermimpi akan bebas menjadi apa aja, bisa menjadi “Pedagang, Perancang Mode, Pengusaha, Penulis, Pembicara, Politisi, Pejabat, Konglomerat, Pendakwah, Kyai, atau bahkan Guru Bangsa…..”
The Real I (identitas yang sesungguhnya) digambarkan dalam sebuah lingkaran, yang didalamnya ada huruf RI (identitas riil) dan dikelilingi banyak lingkaran diluarnya yang membentuk suatu orbit, dimana setiap orbit terdapat banyak I (identitas tambahan) yang lain. Intinya adalah, bahwa identitas kita yang sesungguhnya, seringkali dikelilingi, bahkan tertutupi oleh identitas-identitas tambahan lainnya yang melingkupi pada saat itu. Poin-poit itulah yang saya pahami sampai saat ini.
Coba sekarang kita menanyakan kepada diri sendiri.
Hey… kamu itu siapa sih sesungguhnya ? Kalau saya ditanya seperti itu, saya pasti akan terjebak menjawab sbb:
Oh, “saya Rosihan, saya orang Jawa, saya alumni ITB, saya Konsultan IT, saya bekas Karyawan Astra, saya, saya …, saya …. “ dan seterusnya.
Apakah semua jawaban itu adalah identitas seorang Rosihan sesungguhnya ? saya merasakannya tidak. Jika orang tua saya menamakan Agus juga bisa, jika saya besar di Jawa Barat saya akan jadi orang Sunda, jika saya kuliah di UI maka saya Alumni UI, jika saya ngga kerja di Astra ngga mungkin jadi Karyawan Astra, dan seterusnya …
Semua identitas itu adalah identitas tambahan yang melekat pada diri saya, yang terjadi karena suatu kondisi dan pilihan-pilihan. Bukan Identitas yang sesungguhnya (Real I).
Identitas Yang Membebani
Sadar atau tidak, semua identitas tambahan yang pernah melekat, atau saat ini melekat pada kita, seringkali mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Kadang mengambil keputusan untuk “Menjadi Seseorang Yang Baru” atau menambah identitas tambahan yang baru, kita menjadi sulit. Kita kadang menjadi terbebani oleh identitas lainnya yang telah melekat.
“Seorang Manager” kadang merasa RISIH untuk memulai menjadi “Seorang Pedagang”. “Seorang Penulis” merasa RISIH menjadi “Seorang Pengusaha”, atau
“Seorang Pengusaha” merasa RISIH menjadi “Seorang Politisi”, dan lainnya.
Kalau kita bedah kata “RISIH”, sebenarnya terdiri dari sekumpulan asumsi-asumsi dan pemikiran negatif. Perasaan risih ini terjadi, karena mental kita sudah terbebani oleh identitas yang melekat itu. Kita sedang sibuk membanding-bandingkan antar Identitas. Ini suatu hal yang sangat tidak perlu.
Jika kita terus berjuang untuk mengenal siapa diri kita sesungguhnya (Real I), sebenarnya kita tidak perlu merasa terbebani, apalagi terkungkung oleh identitas yang melekat itu. Kita bisa sesuka hati menjadikan kita sebagai: “saya Pengusaha, saya Penulis, saya Pedagang, saya Konsultan” ..dan lainnya.
Ini merupakan salah satu modal mental untuk “Menjadi Apa Aja”, dengan lebih jelas, yakin dan rileks. Kita tidak perlu takut “menjadi yang baru”, dan ini adalah modal dasar kita untuk bergerak terus maju menjadi yang baru.
Jadi, yang “Programmer” tidak perlu merasa risih menjadi “Pedagang”. Yang “Pedagang” tidak perlu merasa minder menjadi “Konsultan”. Yang “Konsultan” tidak perlu merasa rugi jadi “Penulis”. Yang “Penulis” tidak perlu merasa takut menjadi “Pengusaha”
Semua itu adalah pilihan-pilihan, dan “Menjadi Itu “ adalah tidak kekal. Itu bisa berubah. Itu bisa ada masanya. Yang kekal adalah menjadi saya yang sesungguhnya (Real I).
Adalah picik kalau sebagian besar hidup kita hanya dilekatkan pada Satu Identitas. Adalah picik kalau seorang Rosihan hanya ingin menjadi “Konsultan IT”, karena seorang Rosihan selalu bermimpi akan bebas menjadi apa aja, bisa menjadi “Pedagang, Perancang Mode, Pengusaha, Penulis, Pembicara, Politisi, Pejabat, Konglomerat, Pendakwah, Kyai, atau bahkan Guru Bangsa…..”
Sunday, August 5, 2007
Menjadi Pengusaha dengan Proses Dialektika Tanpa Henti
Salah satu hal yang paling menyebalkan pengusaha, adalah ketika ditanya pertanyaan-pertanyaan semacam ini :
- Bagaimana Anda dulu memulai menjadi pengusaha ?
- Bagaimana ceritanya usaha Anda bisa menjadi besar seperti ini ?
- Berapa dan darimana modal awalnya ?
- Apa cita-cita Anda sesungguhnya ? Apakah sesuai dengan visi dan misi Anda ?
- Apakah keunggulan Anda ?
- Apa saja tips-tips sukses Anda untuk bisa menjadi besar seperti saat ini ?
- Dan seterusnya berderet-2 pertanyaan dengan awalan bagaimana, apakah, berapa, siapa …dst ..dst..dst …
Semua pertanyaan diatas bukannya tidak boleh, boleh-boleh saja. Asal yang menanyakan adalah wartawan, entah itu wartawan majalah bisnis atau kewirausahaan. Karena tujuannya untuk menuliskan sebuah proses, sebuah perjalanan, untuk mudah dibaca secara runtut dan dipahami pembacanya.
Tapi jika pertanyaan-pertanyaan itu ditanyakan oleh anak muda yang mau menjadi pengusaha, itu semua adalah pertanyaan yang menyebalkan. Kenapa, karena pengusaha itu tidak mungkin mampu mengingat setiap detil perjalanannya yang penuh dengan proses dialektika tanpa henti. Itu saja !.
2 Jalan Yang Memang Berbeda
Suatu hari, 2 anak muda diberikan tugas untuk menuju ke suatu kota X yang terpencil dan belum banyak data yang bisa menjelaskan keberadaannya. Tapi kota itu bisa dicapai pulang pergi hanya dalam waktu 10 hari. Apa yang berbeda yang dilakukan oleh 2 anak muda itu ?
Si Pintar :
Karena pintar, sibuk mendapatkan data dulu, dimana kota X berada. Seberapa jauh, alat transportasinya apa, berapa biayanya, bagaimana dukungan akomodasi, dll. Intinya, persiapan yang matang untuk sebuah keniscayaan yang belum jelas adanya. Hasilnya apa ? semua data-data tetap ia dapatkan, walau bukan data yang akurat. Dari data itu, dia juga sudah menetapkan asumsi-asumsi, perencanaan plan A, B, dan C. Akhir kata, Si Pintar berangkat dengan keyakinan, bahwa dia berani karena merasa persiapannya matang.
Si Bonek :
Tidak ada yang dilakukan secara berlebihan, dia melakukan perencanaan sewajarnya. Mengapa ? karena dia yakin atas penjelasan awal, bahwa kota X yang terpencil itu memang belum banyak yang tahu disini. Jadi percuma kalau dia tanya sana-sini ketika belum berangkat. Dia hanya menyiapkan bekal untuk cukup berangkat dan pulang. Akhir kata, Si Bonek berangkat dengan keyakinan, bahwa dia berani karena dia siap menghadapi apapun yang terjadi. Dia siap bertanya sepanjang perjalanan. Dia yakin, semakin dekat dengan kota itu, semakin banyak orang yang akan memberitahu tentang kota itu.
Apa yang terjadi selama perjalanan ?
Si Pintar :
Dia mulai berangkat, dengan plan A. Ketika pertama kali dia menemukan kondisi yang berbeda dengan rencana dia temukan dijalan, dia sudah gelisah dan kesal, kok tidak sesuai rencana. Mulailah dia masuk ke plan B. Agak tenang meneruskan perjalanan. Tapi kondisi baru yang berbeda terus ditemukan. Semua plan A, B dan C sudah tidak memadai. Dia mulai putus asa. Dia merasa salah persiapan, kurang data, data tidak akurat. Dia semakin yakin, bahwa akan banyak dijumpai kondisi-2 diluar rencana yang harus dia hadapi. Lebih baik pulang balik mempersiapkan lebih baik, daripada meneruskan dengan bekal yang makin menipis. Akhir kata, dia menetapkan untuk pulang balik.
Si Bonek :
Disetiap penggal perjalanan, Si Bonek selalu bertanya, mulai mengumpulkan data. Baginya, setiap kondisi baru yang ditemukan, adalah bahan pertanyaan. Setiap kondisi baru akan memberikan jawaban. Semakin ketemu banyak kondisi, dia semakin bisa menyimpulkan keberadaan kota yang dicari. Semakin banyak pula petunjuk-petunjuk. Bahkan ketemu dengan orang-2 yang sudi membantunya. Dia semakin yakin, kota yang dicarinya semakin dekat. Akhir kata, dia menemukan kota itu, dimana dia disambut bagaikan keluarga oleh warga kota setempat. Dia mencoba mengingat, semua yang terjadi di perjalanan, sama sekali tidak pernah terlintas dibenaknya. Yang ada dibenaknya hanya dimana dan bagaimana kota itu.
Si Bonek dan Kecerdasan Dialektis
Proses dialektika adalah sebuah permainan antara cita-cita dan rencana versus realitas yang ada didepan mata, saat ini. Setiap kita, yang berpengetahuan, selalu terkena kutukan rencana. Setiap kita yang terus melangkah, selalu berhadapan dengan realitas yang nyata. Apakah rencana dan realitas selalu sejalan ? maunya kita iya, realitasnya tidak. Realitas ternyata mempunyai jalannya sendiri. Realitas kadang tidak mau mengerti atas rencana-rencana kita. Lalu, bagaimana jika rencana vs realitas tak sejalan seperti yang kita harapkan ? disitulah akan selalu hadir pilihan-pilihan. Dan disinilah kegagalan untuk memilih bisa terjadi.
Cerita Si Bonek, adalah gambaran sebuah ikhtiar tanpa henti. Modal ikhtiar Si Bonek begitu meluap. Begitu siap menghadapi realitas didepannya. Antara tujuan dan rencana perjalanan, versus realitas yang ada didepan mata, dicoba untuk selalu dicarikan jalan keluar. Proses dialektika terus dilakukan untuk selalu mencari jalan keluar, disini kata kebuntuan haram hukumnya digunakan. Bagi Si Bonek, proses dialektis adalah jalan keluar untuk setiap permasalahan.
Si Bonek adalah gambaran sebuah Kecerdasan Dialektis, sebuah kecerdasan terintegrasi dalam mensiasati kehidupan. Kecerdasan ini bisa hadir jika kita terus mengasah intelektual kita, emosi jiwa kita dan spiritualitas kita. Mengapa ? karena Proses Dialektika membutuhkan pengetahuan dan pembelajaran atas hal baru tanpa henti, sekaligus secara emosi menerima setiap realitas yang tak sejalan dengan jiwa besar, dan memasrahkan hasilnya kepada Sandaran Spiritual.
Bagi saya pribadi, keseluruhan hidup yang saya alami saat ini tidak pernah terlepas dari proses dialektis. Saya selalu mengingatkan diri untuk selalu dan terus …
- menjadi manusia pembelajar, tanpa henti
- menjadi manusia ikhlash, menghadapi apapun realitas yang ada
- menjadi manusia penuh ikhtiar, belajar bermain dengan pilihan-pilihan
- menjadi manusia yang pasrah atas hasil yang ditetapkanNYA.
Salam
rosihan
- Bagaimana Anda dulu memulai menjadi pengusaha ?
- Bagaimana ceritanya usaha Anda bisa menjadi besar seperti ini ?
- Berapa dan darimana modal awalnya ?
- Apa cita-cita Anda sesungguhnya ? Apakah sesuai dengan visi dan misi Anda ?
- Apakah keunggulan Anda ?
- Apa saja tips-tips sukses Anda untuk bisa menjadi besar seperti saat ini ?
- Dan seterusnya berderet-2 pertanyaan dengan awalan bagaimana, apakah, berapa, siapa …dst ..dst..dst …
Semua pertanyaan diatas bukannya tidak boleh, boleh-boleh saja. Asal yang menanyakan adalah wartawan, entah itu wartawan majalah bisnis atau kewirausahaan. Karena tujuannya untuk menuliskan sebuah proses, sebuah perjalanan, untuk mudah dibaca secara runtut dan dipahami pembacanya.
Tapi jika pertanyaan-pertanyaan itu ditanyakan oleh anak muda yang mau menjadi pengusaha, itu semua adalah pertanyaan yang menyebalkan. Kenapa, karena pengusaha itu tidak mungkin mampu mengingat setiap detil perjalanannya yang penuh dengan proses dialektika tanpa henti. Itu saja !.
2 Jalan Yang Memang Berbeda
Suatu hari, 2 anak muda diberikan tugas untuk menuju ke suatu kota X yang terpencil dan belum banyak data yang bisa menjelaskan keberadaannya. Tapi kota itu bisa dicapai pulang pergi hanya dalam waktu 10 hari. Apa yang berbeda yang dilakukan oleh 2 anak muda itu ?
Si Pintar :
Karena pintar, sibuk mendapatkan data dulu, dimana kota X berada. Seberapa jauh, alat transportasinya apa, berapa biayanya, bagaimana dukungan akomodasi, dll. Intinya, persiapan yang matang untuk sebuah keniscayaan yang belum jelas adanya. Hasilnya apa ? semua data-data tetap ia dapatkan, walau bukan data yang akurat. Dari data itu, dia juga sudah menetapkan asumsi-asumsi, perencanaan plan A, B, dan C. Akhir kata, Si Pintar berangkat dengan keyakinan, bahwa dia berani karena merasa persiapannya matang.
Si Bonek :
Tidak ada yang dilakukan secara berlebihan, dia melakukan perencanaan sewajarnya. Mengapa ? karena dia yakin atas penjelasan awal, bahwa kota X yang terpencil itu memang belum banyak yang tahu disini. Jadi percuma kalau dia tanya sana-sini ketika belum berangkat. Dia hanya menyiapkan bekal untuk cukup berangkat dan pulang. Akhir kata, Si Bonek berangkat dengan keyakinan, bahwa dia berani karena dia siap menghadapi apapun yang terjadi. Dia siap bertanya sepanjang perjalanan. Dia yakin, semakin dekat dengan kota itu, semakin banyak orang yang akan memberitahu tentang kota itu.
Apa yang terjadi selama perjalanan ?
Si Pintar :
Dia mulai berangkat, dengan plan A. Ketika pertama kali dia menemukan kondisi yang berbeda dengan rencana dia temukan dijalan, dia sudah gelisah dan kesal, kok tidak sesuai rencana. Mulailah dia masuk ke plan B. Agak tenang meneruskan perjalanan. Tapi kondisi baru yang berbeda terus ditemukan. Semua plan A, B dan C sudah tidak memadai. Dia mulai putus asa. Dia merasa salah persiapan, kurang data, data tidak akurat. Dia semakin yakin, bahwa akan banyak dijumpai kondisi-2 diluar rencana yang harus dia hadapi. Lebih baik pulang balik mempersiapkan lebih baik, daripada meneruskan dengan bekal yang makin menipis. Akhir kata, dia menetapkan untuk pulang balik.
Si Bonek :
Disetiap penggal perjalanan, Si Bonek selalu bertanya, mulai mengumpulkan data. Baginya, setiap kondisi baru yang ditemukan, adalah bahan pertanyaan. Setiap kondisi baru akan memberikan jawaban. Semakin ketemu banyak kondisi, dia semakin bisa menyimpulkan keberadaan kota yang dicari. Semakin banyak pula petunjuk-petunjuk. Bahkan ketemu dengan orang-2 yang sudi membantunya. Dia semakin yakin, kota yang dicarinya semakin dekat. Akhir kata, dia menemukan kota itu, dimana dia disambut bagaikan keluarga oleh warga kota setempat. Dia mencoba mengingat, semua yang terjadi di perjalanan, sama sekali tidak pernah terlintas dibenaknya. Yang ada dibenaknya hanya dimana dan bagaimana kota itu.
Si Bonek dan Kecerdasan Dialektis
Proses dialektika adalah sebuah permainan antara cita-cita dan rencana versus realitas yang ada didepan mata, saat ini. Setiap kita, yang berpengetahuan, selalu terkena kutukan rencana. Setiap kita yang terus melangkah, selalu berhadapan dengan realitas yang nyata. Apakah rencana dan realitas selalu sejalan ? maunya kita iya, realitasnya tidak. Realitas ternyata mempunyai jalannya sendiri. Realitas kadang tidak mau mengerti atas rencana-rencana kita. Lalu, bagaimana jika rencana vs realitas tak sejalan seperti yang kita harapkan ? disitulah akan selalu hadir pilihan-pilihan. Dan disinilah kegagalan untuk memilih bisa terjadi.
Cerita Si Bonek, adalah gambaran sebuah ikhtiar tanpa henti. Modal ikhtiar Si Bonek begitu meluap. Begitu siap menghadapi realitas didepannya. Antara tujuan dan rencana perjalanan, versus realitas yang ada didepan mata, dicoba untuk selalu dicarikan jalan keluar. Proses dialektika terus dilakukan untuk selalu mencari jalan keluar, disini kata kebuntuan haram hukumnya digunakan. Bagi Si Bonek, proses dialektis adalah jalan keluar untuk setiap permasalahan.
Si Bonek adalah gambaran sebuah Kecerdasan Dialektis, sebuah kecerdasan terintegrasi dalam mensiasati kehidupan. Kecerdasan ini bisa hadir jika kita terus mengasah intelektual kita, emosi jiwa kita dan spiritualitas kita. Mengapa ? karena Proses Dialektika membutuhkan pengetahuan dan pembelajaran atas hal baru tanpa henti, sekaligus secara emosi menerima setiap realitas yang tak sejalan dengan jiwa besar, dan memasrahkan hasilnya kepada Sandaran Spiritual.
Bagi saya pribadi, keseluruhan hidup yang saya alami saat ini tidak pernah terlepas dari proses dialektis. Saya selalu mengingatkan diri untuk selalu dan terus …
- menjadi manusia pembelajar, tanpa henti
- menjadi manusia ikhlash, menghadapi apapun realitas yang ada
- menjadi manusia penuh ikhtiar, belajar bermain dengan pilihan-pilihan
- menjadi manusia yang pasrah atas hasil yang ditetapkanNYA.
Salam
rosihan
Si Bedul dan Janda Kembang
Janda Kembang (JK) itu untuk kesekian kalinya membuat sang pemuda patah hati. “Kurang apa aku ini, ganteng, keren, kerja di perusahaan besar, jabatan ok, gaji pun ok, lah kok ujung-ujungnya masih ditolak sama dia “ guman sang pemuda tampan yang sedang terluka hati ini.
Suasana menjadi lara, tapi si Janda Kembang tetaplah kembang, yang terus mencari pasangan hati, pautan jiwa, dan sandaran hidup masa depan anak semata wayangnya.
Si Bedul yang tetangga, makin terheran-heran. Minggu pagi yang indah dia coba lampiaskan rasa penasarannya.
Si Bedul : “Mbak, kenapa sih ngga ketemu-ketemu jodoh lagi ? Temen deket yang kemarin itu kurang apa ? masak masih ngga cocok juga”
Si JK: “ Ngga ada yang kurang Dul, cuman ada yang ngga sinkron aja Dul …”
Si Bedul: “ Loh ..ngga sinkron dimananya ?”
Si JK: “ Gini Dul, waktu aku tanya dia, dia itu kenapa sih kok suka, bahkan bilang cinta sama saya. Dia jawab aku itu sempurna, aku cantik, aku bugar dan tampak segar, aku pandai merawat raga, aku smart, diajak ngomong apa aja nyambung, penampilanku selalu indah dipandang, dan aku punya cita-2 yang tinggi untuk anakku”
Si Bedul: “Lah khan memang mbak seperti itu, trus dimananya yang ngga sinkron?”
Si JK: “Aku tanya ke dia, apa calon istri idamanmu harus seperti aku ? Dia jawab 1000% iya … harus seperti itu, sebagai suami sejati, dia mendambakan istri yang sempurna”.
Si JK (sambil senyum terpendam) “ Gini Dul, aku sudah coba jalan sama Dia, coba mengerti siapa Dia. Ya …juga coba agak matre si Dul, berhitung-hitung dikit. Ternyata Dia itu pemuda dengan harapan selangit. Dia pengin punya istri yang komplit luar dalam. Banyak soal yang ada padaku ini dibahas Dul.
Soal otak-ku ini, dia pengin istrinya ber-otak Smart, bisa ngimbangin semua yang diomongin .. mulai dari urusan kerjaan, training, seminar, buku, film, koran, majalah, politik …, belum lagi soal anak, pola pendidikan dan urusan sekolah. Lah ini khan bikin aku jadi harus juga baca, nonton, dengerin berita dan radio, ngerti soal pekerjaannya, dan paham betul soal pendidikan anak.
Terus soal raga ini Dul, dia pengin istrinya selalu tampak bugar, segar dan sehat. Maunya setiap hari seperti itu. Klo gitu, ya aku perlu fitness 2x seminggu, nyalon dan spa 2x sebulan, dan perawatan kulit sekali sebulan.
Terus soal penampilan, dia maunya istrinya ngga bikin malu soal penampilan. Lah ini kan bikin aku harus punya salon dan butik langganan…
Apalagi soal anak Dul .. , walaupun dia kuliah cuman S1, dia itu punya cita-cita anaknya Doktor, dan go global. Klo gitu, ya sejak awal harus kusiapkan untuk tujuan itu. Anaknya ya harus sekolah internasional, biar dari kecil bahasa inggris-nya cas cis cus, bacaannya ngga perlu lagi buku terjemahaan, TV-nya ya Discovery Channel, National Geographic, bukan TV lokal yang sinetron melulu..!”
Terus soal rumah, Dia maunya tinggal di apartemen, dipusat kota. Supaya Dia bisa ngurusin kerjaanya dengan lancar, produktivitasnya tinggi … ngga capek-2 dijalan. Gampang ketemu temen dan pelanggan. Klo capek tinggal cari cafe, atau pijat refleksi. Bisa fitness 2x seminggu, bisa renang sewaktu-waktu.
Si JK (terdiam sejenak, menghela nafas)
Masalahnya Dul, semua yang Dia inginkan itu 1000% ngga sinkron dengan statusnya saat ini. Dia itu karyawan, yang gajinya saat ini baru 7 digit, walau katanya 5-10 atau bahkan 20 tahun lagi baru mencapai 8 digit. Lah ini khan masih jauh dari gaya hidup impian Dia, yang sejatinya juga gaya hidup impianku. Belum kepotong inflansi 10% pertahun, juga gejolak harga minyak dunia dan gonjang ganjing rupiah.
Hari gini Dul, penghasilan 7 digit hanya cukup nyaman buat nyicil rumah, mobil dan belanja harian, itu pun yang pas-pasan. Jadi ngga mungkin cukup buat impian yang selangit gitu. Klo aku dibilang cewek matre ya ngga papa Dul, wong memang itu kenyataan diluar sana”.
Si Bedul: (yang karyawan) “Busyeeeetttt, itu khan gue bangeeettt !!!”
Si JK : “ Udah ah Dul, jangan tersinggung. Aku tungguin kamu aja deh, tapi klo udah jadi pengusaha kaya yaa” (sambil mesam-mesem dan pergi melambai)
Si Bedul: “Aduuuuuuuhhhhh, kenapa siihh aku ngga berani jadi pengusaha ….”
rosihan
Suasana menjadi lara, tapi si Janda Kembang tetaplah kembang, yang terus mencari pasangan hati, pautan jiwa, dan sandaran hidup masa depan anak semata wayangnya.
Si Bedul yang tetangga, makin terheran-heran. Minggu pagi yang indah dia coba lampiaskan rasa penasarannya.
Si Bedul : “Mbak, kenapa sih ngga ketemu-ketemu jodoh lagi ? Temen deket yang kemarin itu kurang apa ? masak masih ngga cocok juga”
Si JK: “ Ngga ada yang kurang Dul, cuman ada yang ngga sinkron aja Dul …”
Si Bedul: “ Loh ..ngga sinkron dimananya ?”
Si JK: “ Gini Dul, waktu aku tanya dia, dia itu kenapa sih kok suka, bahkan bilang cinta sama saya. Dia jawab aku itu sempurna, aku cantik, aku bugar dan tampak segar, aku pandai merawat raga, aku smart, diajak ngomong apa aja nyambung, penampilanku selalu indah dipandang, dan aku punya cita-2 yang tinggi untuk anakku”
Si Bedul: “Lah khan memang mbak seperti itu, trus dimananya yang ngga sinkron?”
Si JK: “Aku tanya ke dia, apa calon istri idamanmu harus seperti aku ? Dia jawab 1000% iya … harus seperti itu, sebagai suami sejati, dia mendambakan istri yang sempurna”.
Si JK (sambil senyum terpendam) “ Gini Dul, aku sudah coba jalan sama Dia, coba mengerti siapa Dia. Ya …juga coba agak matre si Dul, berhitung-hitung dikit. Ternyata Dia itu pemuda dengan harapan selangit. Dia pengin punya istri yang komplit luar dalam. Banyak soal yang ada padaku ini dibahas Dul.
Soal otak-ku ini, dia pengin istrinya ber-otak Smart, bisa ngimbangin semua yang diomongin .. mulai dari urusan kerjaan, training, seminar, buku, film, koran, majalah, politik …, belum lagi soal anak, pola pendidikan dan urusan sekolah. Lah ini khan bikin aku jadi harus juga baca, nonton, dengerin berita dan radio, ngerti soal pekerjaannya, dan paham betul soal pendidikan anak.
Terus soal raga ini Dul, dia pengin istrinya selalu tampak bugar, segar dan sehat. Maunya setiap hari seperti itu. Klo gitu, ya aku perlu fitness 2x seminggu, nyalon dan spa 2x sebulan, dan perawatan kulit sekali sebulan.
Terus soal penampilan, dia maunya istrinya ngga bikin malu soal penampilan. Lah ini kan bikin aku harus punya salon dan butik langganan…
Apalagi soal anak Dul .. , walaupun dia kuliah cuman S1, dia itu punya cita-cita anaknya Doktor, dan go global. Klo gitu, ya sejak awal harus kusiapkan untuk tujuan itu. Anaknya ya harus sekolah internasional, biar dari kecil bahasa inggris-nya cas cis cus, bacaannya ngga perlu lagi buku terjemahaan, TV-nya ya Discovery Channel, National Geographic, bukan TV lokal yang sinetron melulu..!”
Terus soal rumah, Dia maunya tinggal di apartemen, dipusat kota. Supaya Dia bisa ngurusin kerjaanya dengan lancar, produktivitasnya tinggi … ngga capek-2 dijalan. Gampang ketemu temen dan pelanggan. Klo capek tinggal cari cafe, atau pijat refleksi. Bisa fitness 2x seminggu, bisa renang sewaktu-waktu.
Si JK (terdiam sejenak, menghela nafas)
Masalahnya Dul, semua yang Dia inginkan itu 1000% ngga sinkron dengan statusnya saat ini. Dia itu karyawan, yang gajinya saat ini baru 7 digit, walau katanya 5-10 atau bahkan 20 tahun lagi baru mencapai 8 digit. Lah ini khan masih jauh dari gaya hidup impian Dia, yang sejatinya juga gaya hidup impianku. Belum kepotong inflansi 10% pertahun, juga gejolak harga minyak dunia dan gonjang ganjing rupiah.
Hari gini Dul, penghasilan 7 digit hanya cukup nyaman buat nyicil rumah, mobil dan belanja harian, itu pun yang pas-pasan. Jadi ngga mungkin cukup buat impian yang selangit gitu. Klo aku dibilang cewek matre ya ngga papa Dul, wong memang itu kenyataan diluar sana”.
Si Bedul: (yang karyawan) “Busyeeeetttt, itu khan gue bangeeettt !!!”
Si JK : “ Udah ah Dul, jangan tersinggung. Aku tungguin kamu aja deh, tapi klo udah jadi pengusaha kaya yaa” (sambil mesam-mesem dan pergi melambai)
Si Bedul: “Aduuuuuuuhhhhh, kenapa siihh aku ngga berani jadi pengusaha ….”
rosihan
Thursday, July 12, 2007
Si Bedul Kena Kutukan Pengetahuan
Si Bedul untuk kesekian kalinya sowan ke Gus Pur. Kali ini agak larut malam, maklum, Si Bedul masih orang kantoran, hanya punya waktu dikala matahari sudah terlelap.
Si Bedul : “ assalamu’alaikum Gus, malam gini ngopinya enak sekali Gus “
Gus Pur: “ Iyo, enak tenan. Tapi yang bikin enak bukan kopi-nya Dul, tapi hidupku ini yang enak. Jadi kyai, tinggal duduk, makan dan setiap hari ngobrol sama orang-2 yang sowan”
Si Bedul: “Kok banyak orang sowan ke kyai ya Gus ?”
Gus Pur : “ Lha iya …wong mereka itu orang-2 yang kena kutukan kayak sampeyan ini “
Si Bedul : (geregetan) “ Kena kutukan gimana Gus, saya kalau kesini khan selalu tanya urusan rencana bisnis yang mau saya bikin ini Gus”.
Gus Pur : “Lha iya, itu kena kutukan namanya. Kamu khan orang cerdas, titelmu sudah kepanjangan, kerjamu sudah tahunan, kurang opo kamu ? kamu sendiri yang bilang, kalau mau bikin usaha, kamu mulainya dengan bikin perencanaan yang top, ada Plan A sampek Z. Pokoknya detil. Tidak ada yang terlewat.
Gus Pur : (terkekeh-kekeh …) dan karena kepintaranmu itulah yang membuat kamu 100% kena Kutukan Pengetahuan. Kamu itu dikutuk sama hasil akal-mu sendiri, padahal kamu sudah sangat siap dengan segudang rencana. Ternyata kamu makin banyak rencana, kamu merasa makin cemas. Karena dengan akalmu itu, kamu merasa makin tahu masa depanmu. Padahal akal-mu melihat masalah keberhasilan dan kegagalan itu tidak ada bedanya. Kamu sendiri malah menyiapkan Skenario Berhasil dan Skenario Gagal.
Kamu tau Dul, setiap hari aku ini terima tamu yang sowan, ada banyak tamu yang kena Kutukan kayak kamu ini. Mereka itu masih ngga yakin sama bisnis yang mau dibikinnya itu. Mereka masih pengin dengar wejangan-ku, nasihatku, “penerawangan”-ku, kira-2 kedepannya bisnisnya itu gimana .. Apa ngga edan, wong saya bukan orang bisnis kok ditanya masa depan bisnis. Mereka itu makin banyak rencana, makin banyak tahu, ternyata makin kena Kutukan Pengetahuan.
Coba kamu sowan ke kyai mana saja. Kalo kamu minta wejangan karena mau bisnis, pasti jawabannya sama. Kalo mau bisnis, kamu harus ingat, bahwa rejeki itu sudah dijatah sama Gusti Alloh. Bisnismu mau sukses besar atau ngga, itu sudah kehendakNya Gusti Alloh. Kalau Gusti Alloh berkehendak sukses, itu berarti kamu diberi banyak titipan sama Gusti Alloh. Titipan zakat, titipan menyantuni anak yatim dan orang miskin, dan banyak titipan rahmatanlilalamin lainnya. Untuk semua titipan itu, kamu harus ikhlas untuk selalu berbagi.
Orientasimu jangan uang dan kekayaan, tetapi untuk keberkahan hidupmu, keluargamu dan masyarakatmu. Jangan lupa sujud syukur setiap hari, dan terus ber-ikhtiar sekuat tenaga dan pikiranmu untuk membesarkan bisnismu setiap hari. Banyak-banyak silaturrahmi, jalani bisnismu sebagai ibadahmu. Kalau itu semua kamu lakukan, masa depan bisnismu pasti sukses, Gusti Alloh selalu memberikan keberuntungan kepadamu.
Lha anehnya Dul, setelah aku kasih wejangan seperti itu, dan amalan untuk berdoa dan bersyukur, mereka merasa bebas dari keraguan, ketakutan. Mereka lebih bersemangat menjalani rencana bisnisnya, ikhlash menjalani prosesnya dan mem-pasrah-kan hasilnya 100% kepada Yang Maha Kaya.
Kalau sudah begitu, mereka sudah bebas dari Kutukan Pengetahuan. Mereka sudah tidak mengandalkan 100% pada akal-nya yang terbatas itu, tetapi 100% kepada Yang Menciptakan Akal.
Si Bedul: “Wah, harus seperti itu ya Gus ?”
Gus Pur : “ Iya Dul, jangan kebanyakan rencana-rencana lagi, tinggal jalan aja kok repot!”
Si Bedul : “ assalamu’alaikum Gus, malam gini ngopinya enak sekali Gus “
Gus Pur: “ Iyo, enak tenan. Tapi yang bikin enak bukan kopi-nya Dul, tapi hidupku ini yang enak. Jadi kyai, tinggal duduk, makan dan setiap hari ngobrol sama orang-2 yang sowan”
Si Bedul: “Kok banyak orang sowan ke kyai ya Gus ?”
Gus Pur : “ Lha iya …wong mereka itu orang-2 yang kena kutukan kayak sampeyan ini “
Si Bedul : (geregetan) “ Kena kutukan gimana Gus, saya kalau kesini khan selalu tanya urusan rencana bisnis yang mau saya bikin ini Gus”.
Gus Pur : “Lha iya, itu kena kutukan namanya. Kamu khan orang cerdas, titelmu sudah kepanjangan, kerjamu sudah tahunan, kurang opo kamu ? kamu sendiri yang bilang, kalau mau bikin usaha, kamu mulainya dengan bikin perencanaan yang top, ada Plan A sampek Z. Pokoknya detil. Tidak ada yang terlewat.
Gus Pur : (terkekeh-kekeh …) dan karena kepintaranmu itulah yang membuat kamu 100% kena Kutukan Pengetahuan. Kamu itu dikutuk sama hasil akal-mu sendiri, padahal kamu sudah sangat siap dengan segudang rencana. Ternyata kamu makin banyak rencana, kamu merasa makin cemas. Karena dengan akalmu itu, kamu merasa makin tahu masa depanmu. Padahal akal-mu melihat masalah keberhasilan dan kegagalan itu tidak ada bedanya. Kamu sendiri malah menyiapkan Skenario Berhasil dan Skenario Gagal.
Kamu tau Dul, setiap hari aku ini terima tamu yang sowan, ada banyak tamu yang kena Kutukan kayak kamu ini. Mereka itu masih ngga yakin sama bisnis yang mau dibikinnya itu. Mereka masih pengin dengar wejangan-ku, nasihatku, “penerawangan”-ku, kira-2 kedepannya bisnisnya itu gimana .. Apa ngga edan, wong saya bukan orang bisnis kok ditanya masa depan bisnis. Mereka itu makin banyak rencana, makin banyak tahu, ternyata makin kena Kutukan Pengetahuan.
Coba kamu sowan ke kyai mana saja. Kalo kamu minta wejangan karena mau bisnis, pasti jawabannya sama. Kalo mau bisnis, kamu harus ingat, bahwa rejeki itu sudah dijatah sama Gusti Alloh. Bisnismu mau sukses besar atau ngga, itu sudah kehendakNya Gusti Alloh. Kalau Gusti Alloh berkehendak sukses, itu berarti kamu diberi banyak titipan sama Gusti Alloh. Titipan zakat, titipan menyantuni anak yatim dan orang miskin, dan banyak titipan rahmatanlilalamin lainnya. Untuk semua titipan itu, kamu harus ikhlas untuk selalu berbagi.
Orientasimu jangan uang dan kekayaan, tetapi untuk keberkahan hidupmu, keluargamu dan masyarakatmu. Jangan lupa sujud syukur setiap hari, dan terus ber-ikhtiar sekuat tenaga dan pikiranmu untuk membesarkan bisnismu setiap hari. Banyak-banyak silaturrahmi, jalani bisnismu sebagai ibadahmu. Kalau itu semua kamu lakukan, masa depan bisnismu pasti sukses, Gusti Alloh selalu memberikan keberuntungan kepadamu.
Lha anehnya Dul, setelah aku kasih wejangan seperti itu, dan amalan untuk berdoa dan bersyukur, mereka merasa bebas dari keraguan, ketakutan. Mereka lebih bersemangat menjalani rencana bisnisnya, ikhlash menjalani prosesnya dan mem-pasrah-kan hasilnya 100% kepada Yang Maha Kaya.
Kalau sudah begitu, mereka sudah bebas dari Kutukan Pengetahuan. Mereka sudah tidak mengandalkan 100% pada akal-nya yang terbatas itu, tetapi 100% kepada Yang Menciptakan Akal.
Si Bedul: “Wah, harus seperti itu ya Gus ?”
Gus Pur : “ Iya Dul, jangan kebanyakan rencana-rencana lagi, tinggal jalan aja kok repot!”
Subscribe to:
Posts (Atom)



