Re-launching SAQINA.COM
Tuesday, February 5, 2008
Emotional Bank Account (EBA)
Mempunyai EBA adalah seperti kita mempunyai rekening deposito di Bank A, dan idealnya kita dapat selalu menambah deposito tersebut. EBA adalah Rekening Bank Kepercayaan yang kita tanamkan ke seseorang dalam suatu hubungan. Intinya adalah, seberapa banyak kita menanamkan rasa percaya orang lain kepada kita, dalam banyak hal.
EBA saya angkat kembali sebagai tulisan disini untuk mengingatkan kita, betapa penting membangun dan menanamkan rasa percaya antar orang per orang dalam suatu komunitas. Kita tidak bisa semena-mena dengan mudah mengatasnamakan komunitas untuk “memaksa” orang lain percaya dengan kita. Apalagi untuk percaya memberikan kemudahan dalam urusan bisnis.
Stephen Covey mengingatkan hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu, tapi mungkin kita lupa melakukannya. Ada beberapa cara menanamkan kepercayaan :
1. Mengenal Individu
Cara kuno mengenal individu adalah silaturrahmi. Silaturahmi yang tampak mata adalah berjabat tangan, membuat janji lebih sering bertemu di waktu luang, dan bisa lebih indah berkunjung kerumah, mengenal secara kekeluargaan. Lupakan cara online disini. Tidak ada emosi yang luar biasa bisa ditanamkan jika kita memulai silaturrahmi dengan cara online. Untuk itu, TDA sangat gencar mengadakan acara offline.
2. Menanamkan kesan yang baik
Ini maksudnya bukan akting, tapi betul-betul menanamkan aura selalu positif kepada orang lain. Ini bisa dimunculkan melalui hal-hal kecil, melalui pembicaraan yang ringan
3. Memenuhi komitmen
Komitmen adalah kata kunci dalam hubungan. Komitmen adalah Janji. Jika kita sudah mengeluarkan komitmen/janji, otomatis orang lain akan mengeluarkan harapan untuk bisa terpenuhi atas janji tersebut. Sekali janji dilanggar, kita telah menarik deposito rasa kepercayaan yang cukup besar. Menilai personal yang selalu mempunyai komitmen tinggi, sangat mudah dilihat dari kegiatan-kegiatan yang non profit. Jika yang non profit aja komitmennya tinggi, biasanya akan lebih komitmennya untuk kegiatan profit.
4. Komunikasi yang terbuka
Selalu mengkomunikasikan segala sesuatu secara terbuka, jujur dan apa adanya. Berbicara secara eksplisit, tanpa pernah ada itikad menyembunyikan sesuatu (implisit), apalagi politiking.
5. Memperlihatkan Intergritas Pribadi
Integritas memiliki definisi deskriptif yang luas. Integritas bisa berarti anda sesuai dengan yang anda katakan, bisa juga berarti kejujuran, bisa berarti tidak bermuka dua, memperlakukan orang lain dengan perangkat prinsip yang sama, tidak melanggar sistem nilai yang dia anut.
6. Meminta maaf, mengkomunikasikan apa yang terjadi
Jika suatu komitmen tidak terpenuhi, kepercayaan masih bisa dipertahankan jika kita bisa mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan baik, tentunya diiringi dengan permintaan maaf dan komitmen lanjutan.
Semua diatas sebenarnya sudah kita ketahui, bukan hal baru. Namun kadang kita lupa melakukannya, sehingga banyak buku ditulis ulang untuk sekedar mengingatkan.
Salam
(untuk TDA yang sedang menuju Trusted Society)
rosihan
Membebaskan dari Belenggu Sejarah
Mengapa sering saya ulang ? karena untuk meyakinkan kembali langkah diri, apakah betul sesuai dengan saya impikan ? atau justru saya masih hanyut dalam belenggu kesejarahan hidup ?
Menurut saya, kesejarahan hidup kita kadang tanpa sadar telah membelenggu begitu banyak potensi kehidupan kita. Mari kita runut kembali sejarah masa lalu kita masing-masing.
Bagi yang lahir pertengahan tahun 1960-an atau diawal tahun 1970-an, mereka adalah generasi yang dilahirkan dimasa tenang Indonesia dibawah Orde Baru. Kita bersekolah di era kebijakan pendidikan agak “otoriter”, tapi cukup enak, minimal biaya sekolah dulu sangat murah. Kehidupan cukup tenang, subsidi pemerintah berlimpah. Walau demokrasi agak dikekang. Lalu era industri juga lagi berkembang. Lulusan sekolah digiring untuk memenuhi kebutuhan industri. Mencari pekerjaan ditahun 1980-an sampai 1996 sangat “mudah”, karena ekonomi sedang tumbuh.
Lalu tanpa sadar ketika kita kelas 1 SMA, dihadapkan pada pilihan jurusan SOS atau IPA. Saat kelas 3 SMA kita dihadapkan pilihan Jurusan Kuliah. Setelah lulus, saat itu menjadi suatu kebanggan jika kita bekerja diperusahaan dengan latar belakang kuliah kita. Kita seperti mendapat penghargaan untuk bekerja “di bidang-nya”.
Saat umur 24-an mulai kerja, lalu tanpa terasa terprovokasi untuk mengejar jenjang karir, maka tanpa terasa waktu kerja selama 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, bahkan ada yang 20-an tahun bekerja “di bidang-nya”.
Sialnya bagi mereka yang mulai bekerja di Jakarta diawal tahun 1990-an, sudah harus tunduk pada aturan Ibukota. Mereka yang sudah berkeluarga, jika ingin beli rumah dengan posisi gaji saat itu, harus rela membeli rumah di daerah sub-urban seperti Tangerang, Serpong, Depok, Cibubur, dan Bekasi. Mereka sekaligus harus mau menjalani perjalanan pulang pergi kerja sekitar 2-4 jam. Suatu pengorbanan waktu yang tidak sedikit jika mau dihitung selama masa kerja.
Stop, mungkin itu cukup sebagai ilustrasi kesejarahan hidup kita. Pertanyaanya sekarang ? apakah saya masih terhanyut dalam alur sejarah itu ? apakah pilihan-2 jaman SMA dan kuliah yang dulu kita lakukan harus terus kita jalani ? apakah sebenarnya ini mimpi dari kehidupan kita ? apakah akan kita jalani sampai sisa hidup kita ?
Sebenarnya siapa yang menyuruh kita “bekerja dibidangnya”. Siapa yang menentukan bidang-bidang itu ? Kenapa saya kerja di Jakarta ? kenapa saya tinggal di Cibubur ? Siapa yang menyuruh kita menghabiskan waktu dikemacetan Jakarta ? Apakah saat ini saya sudah bisa punya pilihan baru ? Apakah saya bisa memulai kehidupan baru dengan pilihan yang lebih dewasa ? bukan hasil pilihan jaman SMA dan kuliah ?
Jika kita bisa memberikan jawaban-jawaban baru, tentunya akan lebih indah. Karena pilihan-pilihan baru itu hasil dari pilihan yang lebih dewasa, lebih rasional, lebih berwawasan. Tidak ada salahnya pilihan baru merupakan kelanjutan yang lebih advance dari sejarah masa lalu.
Tapi juga tidak salahnya untuk kesejarahan hidup kita yang tersisa, kita memulai saat ini dengan sesuatu yang benar-benar BARU. Karena hidup akan lebih bermakna jika kita bisa mengoptimalkan semua potensi kehidupan kita yang selama ini terpendam.
Salam
rosihan
Tuesday, January 15, 2008
Survey Awal Serang & Cilegon, Thanks to Pak Arbi
Kami berdua sangat berterima kasih kepada Pak Adli Arbi Nasution, calon Juragan Sepeda dari bisnis besar Agung Jaya (ritel dan grosir sepeda di Serang), yang meluangkan waktunya untuk mengantarkan kami jalan-jalan keliling Serang dan Cilegon. Walau sebenarnya kenyataannya kita yang “menculik” Pak Arbi.
Sepanjang jalan kami mencoba mencari toko-toko Distro yang ternyata sudah berkembang pesat di Serang, juga di Cilegon. Kalau saya sendiri mencoba melihat peta pasar busana muslim yang tentunya pasti sudah banyak pemain disana. Ini adalah survey awal. Kami lebih banyak menikmati geliat bisnis UKM yang begitu tersebar, khususnya di Serang. Sambil terus berusaha menemukan lokasi-lokasi impian kami.
Ada sedikit kejutan, di Mal Serang kami menemukan kios busana muslim yang menjual produk branded, ternyata produk Manet (www.manetvision.com) punya Pak Roni ada disana. Juga di Mal Ramayana Cilegon, ada kios khusus menjual produk kerudung Rabbani, tapi juga sepertinya menjual Selimut Jepang Pak Hadi, saya tahu karena saya pernah jual produk selimut jepang Pak Hadi. Kami bertiga langsung menebak, jangan-2 ini kios temen TDA. Wah ..ternyata produk temen-2 TDA kami jumpai disana.
Kata Pak Arbi, di Cilegon yang banyak Member TDA, mungkin survey lanjutan nanti kami bisa mencari masukan dari Member TDA Cilegon.
Sepanjang siang sampai sore, kami banyak mendapat informasi penting, dan sangat lokal sekali dari Pak Arbi perihal kota Serang. Dan tidak lupa “mengompori” Pak Arbi untuk mulai mencoba membangun jaringan toko sepeda modern sebagai pengembangan strategic dari Agung Jaya.
Busana Muslim, Clothing Distro dan Sepeda, itu semua adalah domain yang berbeda. Tetapi kami bertiga bisa mendiskusikan dengan bahasa bisnis yang sama, dengan bahasa dagang yang sama. Kami bertiga saling belajar, dengan satu jembatan penting, yaitu ANALOGI.
Salam
rosihan
Tuesday, January 1, 2008
Negara dengan Hari Libur Terbanyak, 127 hari setahun !!!
Astaga, tahun 2008 nanti kita akan libur 127 hari dari 365 hari setahun ini, alias sepertiga lebih dari rentang 1 tahun kita LIBUR !!!
Definisi Hari Libur => hari besar nasional, keagamaan, cuti bersama yang ditetapkan pemerintah (harpitnas), hari sabtu, dan hari minggu.
Januari = 11 hari libur
Pebruari = 10 hari libur
Maret = 13 hari libur
April = 8 hari libur
Mei = 13 hari libur
Juni = 9 hari libur
Juli = 9 hari libur
Agustus = 11 hari libur
September = 10 hari libur
Oktober = 11 hari libur
November = 10 hari libur
Desember = 12 hari libur
Ini kabar baik bagi para TDB, yang senang libur. Atau juga kabar baik bagi para TDB, karena bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis sampingannya. Tapi mungkin kabar kurang enak bagi para pebisnis yang punya bisnis sektor formal. Atau justru kabar baik bagi para pebisnis yang punya bisnis yang rame pada saat libur saja.
Ya itulah Indonesia, hari libur yang begitu banyak adalah cermin produktifitas. Jika yang libur banyak nganggur, maka rendahlah produktivitas. Jika yang libur banyak berbuat sesuatu yang meningkatkan nilai tambah, maka tinggilah produktivitas.
Menjadi TDA, semoga kita tidak ikut-ikutan libur kepanjangan, karena ancaman terbesar menjadi TDA adalah LIBUR SETIAP HARI alias MENGGANGGUR ! he..he..he...
Salam libur
rosihan
Percayalah, Tidak Ada Yang Baru Kalau Kita DIAM
Coba ingat setiap tahun baru yang lalu-lalu, mau tahun baru 2008, 2007, 2006, 2005 ..dst. Adakah rentang waktu itu betul-betul mempengaruhi hidup kehidupan kita ?
Sepanjang tahun 2007 kita dibuai oleh rendahnya bunga kredit, booming property. Kondisi ekonomi yang relatif stabil. Walau bencana alam dan masalah politik sudah pasti lalu lalang di negeri ini.
Coba ingat di awal tahun 2006, ketika semua sektor mencoba mencari keseimbangan baru akibat kenaikan harga BBM yang 2005 itu.
Tapi jika kita ingat lagi sedetil-detilnya ..ternyata semua berlalu begitu saja. Namun ada yang tidak berlalu begitu saja, namun justru memberikan makna-makna kehidupan yang nyata. Itu bagi mereka yang tidak diam, mereka yang terus bergerak mencapai target dan impian mereka.
Ya, saya sendiri sangat mempercayai, mau tahun baru Masehi, Hijriah atau Imlek, tidak akan berarti apa-apa jika kita dalam rentang kedepan kita hanya DIAM.
Maka BERGERAKLAH, kita mulai dari menuliskan MIMPI, men-detilkan dalam bentuk TARGET, merencanakan dalam bentuk RENCANA BISNIS sederhana. Bayangkan disetiap bulannya apa-apa yang harus kita lakukan dan kita capai. Saya yakin keberuntungan akan selalu berpihak pada kita.
Kata koran, kabar baik di tahun 2008, adalah tren kredit dengan bunga rendah masih berlanjut. Sektor keuangan juga akan terus naik, sektor riil pun meningkat. Kabar soal kenaikan premium yang batal juga bisa meningkatkan optimisme.
Tapi yang penting sebenarnya, kita tidak perlu terpengaruh semua itu, itu hanya wacana. Kalau ingin memulai bisnis, mulailah sekarang. Sekarang juga. Tidak perlu menunggu kabar baik ekonomi, apalagi politik negeri ini.
Bagi para pebisnis, setiap tahun itu selalu ada peristiwa, dan setiap peristiwa mau tidak mau, suka tidak suka harus selalu disikapi dengan mental bertahan dan terus berkembang. Tidak diam dan loyo. Apalagi lari dari masalah. Terus bergerak secara dialektis.
So, tahun 2008 TETAP MENJADI TAHUN KEBERUNTUNGAN KITA SEMUA.
Salam
rosihan
(shio tikus)
Monday, December 17, 2007
The Mission Statement
Adalah pada bulan April 1997 pada sesi training di Astra, ketika pertama kali saya dikenalkan tentang apa itu Mission Statement. Kami diajak nonton bareng film Jerry Maguire, film baru tahun 1996.
Adegan inti dari film itu adalah ketika Tom Cruise pada saat-saat yang kritis mulai menuliskan Mission Statement-nya pada malam hari. Didepan laptopnya dia menuliskan dengan mengebu, berkeringat dan bersemangat. Pikirannya melayang pada banyak hal impian langkah kedepan.
Hasil dari nobar film Jerry Maguire, kami para peserta training diminta menuliskan dengan tangan apa yang menjadi Mission Statement masing-masing untuk 5 tahun mendatang.
Saya agak bingung mau menuliskan apa. Pikiran saya tidak terbiasa dengan impian-impian. Saya sangat sulit menuliskannya. Akhirnya saya ambil gampangnya. Pada tahun 1997 itu saya mulai mempunyai tanggungan meng-kuliahkan S1 kedua adik saya, yang saat itu baru mulai kuliah dan yang bungsu masih kelas 3 SMA. Karena Ayahanda kami telah meninggal di tahun 1994. Padahal saya baru mulai kerja 3 bulan di Astra.
Mission Statement saya sederhana : “ Saya harus meng-kuliahkan 2 adik saya sampai menjadi sarjana S1 sama seperti saya”. Itu saja. Dan tulisan tangan itu dimasukkan di amplop putih, dan diberikan ke Instruktur Training. Setelah itu, sesi training selesai, dan saya tidak tahu untuk apa tulisan dan amplop itu, katanya akan disimpan.
5 tahun kemudian, pada April 2003, saya menerima kiriman surat, berisi Amplop putih. Saya tidak tahu dari siapa. Ketika saya buka, saya sangat kaget membaca tulisan tangan saya 5 tahun lalu, yang isinya “ Saya harus meng-kuliahkan 2 adik saya sampai menjadi sarjana S1 sama seperti saya”. Astra telah mengirimkan kembali surat Mission Statemen saya 5 tahun yang lalu itu.
Saya menangis ….
Saya menangis sambil membaca berulang-ulang tulisan tangan saya itu. Saya tidak menyangka Astra mengirimkan kembali kepada saya, dikala tanpa sadar apa yang saya tulis di Mission Statement itu semua telah saya tunaikan !!!
Pada April 2003 saat itu, kedua adik saya telah menjadi Sarjana S1, bahkan sudah bekerja semua. Saya langsung sujud syukur atas semua pemberian Alloh ini. Dan saya berterima kasih kepada Astra yang mengajari dan mengingatkan saya, arti penting sebuah Mission Statement.
Sejak itu, disetiap bulan Desember, adalah periode dimana saya bergulat dengan buku, diskusi dan pemikiran-2. Berusaha mereview tahun berjalan dengan mencermati acara Kaleidoskop TV dan artikel koran. Dan terus mencari Insight-2 baru.
Saya mengisi Malam Tahun Baru dalam dunia yang hening, untuk menyempurnakan dokumen penting dalam hidup saya, The Mission Statement.
Terima kasih kepada Astra Management Development Institute (AMDI) – Salam buat semua temen-2 ABTP 76
Salam
Rosihan
Sunday, December 16, 2007
Raja FO Telah Mengubah Visualisasi Impian Saya

7 Desember 2007 saya ikut IYE! Gathering, dan 14 Desember 2007, saya bersama Pak Roni dan Pak Tri Atmojo, tidak menyangka bisa berbincang-bincang dengan asiknya, dirumah super mewah, di kediaman Raja FO dari Bandung, Perry Tristianto.
Ini adalah LOA yang baru terjadi setelah saya pikirkan 3 tahun lalu, saat saya berkungjung FO China Emporium dan FO yang lain di jalan Riau Bandung. Waktu itu saya bertanya, siapa yang punya FO ini ? gimana caranya dia bisa bikin konsep seperti ini ? dan jumat malam itulah kami menemukan jawabannya.
Jika anda belum tahu pak Perry Tristianto, ketik saja nama ini di Google, akan muncul puluhan berita diberbagai surat kabar yang mengutip tokoh FO ini.
Banyak hal yang kita dapatkan dalam perjalanan 2 hari di Bandung. Mulai dari konsep dan ide-ide orisinal, rencana-2 bisnis dari diskusi kami bertiga, dan yang paling penting, banyak hal baru yang harus dikerjakan.
Semua ini membuat saya harus me-revisi satu dokumen penting yang mencatat target-target pencapaian saya. Dan Visualisasi Impian Saya Pun Berubah !
salam
rosihan




