Re-launching SAQINA.COM

Re-launching SAQINA.COM
Bisnis online sering dibayangkan mudah. Namun kami ingin mengelolanya sebaik toko-toko offline kami.

Thursday, October 25, 2007

Masalah SDM di Sektor Formal dan Informal

Lebaran telah usai. Mungkin dari kita sudah bersilaturrahmi ke sanak saudara, ke paman, bibi, eyang, sepupu dan banyak saudara lainnya. Salah satu pertanyaan yang sering kita jumpai adalah “ Sekarang kerja dimana ? “. Kalau yang karyawan tentunya mudah menjawabnya. Mungkin dengan bangga kita sendiri menjawab, atau saudara, atau bapak/ibu kita pun ikut bangga menjawabnya ..” oh kerja di Astra ..” atau “oh kerja di Ramayana .. “ atau “oh kerja di Telkomsel, ituloh operator HP Simpati ….” Atau “di Matahari, sekarang sudah Manajer loh ..”

Sementara yang kerja di sektor informal …. Mungkin dengan malu-malu ..”Saya usaha dagang baju Pak …” atau “ saya lagi buka usaha ternak ayam “ .. atau .. “ saya lagi nyoba mulai usaha kecil-kecilan, buka toko sepatu di pasar “ … Sambil terima respon yang kadang menjadi guyonan …”wah ..sudah jadi Sodagar yaa” ..atau “ wah, juragan ayam yaa” atau ..”wah ..lagi banyak duit yaa, habis panen sih ..”

Ya itulah realitas. Mejalani hidup disektor formal kadang mendapatkan penghargaan yang lebih. Kadang lebih dipandang lebih intelek, bermartabat, keren, dan tentunya kaya karena bergaji jutaan. Yang kerja di sektor ritel pun demikian, banyak anak muda (remaja) yang lebih bangga jika bekerja di ritel modern seperti Carrefour, Matahari, Ramayana dan lainnya.

Sebagai pengusaha di sektor informal, khususnya ritel busana, saya pribadi menyatakan bahwa masalah SDM adalah masalah nomor satu yang harus diperhatikan. Apalagi saya membangun jaringan toko ritel, yang notabene nantinya dikelola mandiri oleh SDM toko.

Menurut penelitian Martels & Pannels, dalam bukunya The Teenage Worker, Retention and Motivation yang terbit pada tahun 2000, menyebutkan 10 Faktor Pendorong Motivasi pekerja remaja di industri ritel adalah :

1. Memiliki kebanggaan pada pekerjaan dan tempat kerjanya
2. Sering mendapatkan perhatian rekan dan atasan
3. Atasan mendengarkan apa yang mereka katakan
4. Memperlakukan mereka dengan hormat
5. Manager/Supervisor mereka memperhatikan sebagai seorang individu
6. Mendapatkan arahan dan tuntutan pekerjaan yang jelas (ada SOP)
7. Mendapatkan umpan balik yang cukup atas pekerjaan
8. Hasil pekerjaannya bisa terlihat jelas
9. Pekerjaannya tidak mebosankan
10. Atasan tidak ada like and dis-like

Kalau ke 10 point diatas kita percaya, yang tentunya kita sebagai peritel kecil ini sungguh merana dipandang oleh karyawan-karyawan kita. Mengapa, jawabannya jelas sekali.

1. Bisnis kita masih kecil, toko kita kecil, so ..apa yang bisa dibanggakan oleh karyawan kita ?
2. Karyawan kita ngga banyak, so … mungkin sering kali karyawan kita kurang kawan, dan pekerjaan bisa jadi membosankan
3. Kadang kita lupa menuliskan SOP, standar kerja, yang kadang menjadikan seberapapun kerja keras karyawan kita menjadi tidak terlihat
4. Tidak adanya jenjang karir, dan juga atasan yang kadang pemilik langsung juga kurang perhatian, kurang komunikasi ..
5. Kadang jadwal kerja yang terlalu lama, karena pemilik ingin menekan overhead operasional

Untuk itu semua, saya yang sekarang terus mengembangkan jaringan SAQINA tidak pernah berhenti memecahkan masalah SDM. Di Wilayah timur, Jumat dan Sabtu pasca lebaran lalu, saya mengadakan training untuk sosialisasi SOP baru, sekaligus wisata. Semua karyawan antusias atas penerapan sistem manajemen baru.

Namun di Wilayah barat, pasca lebaran, saya kehilangan 3 orang karyawan yang notabene sudah mengusai produk. Satu ilmu lagi, aalah satu tantangan membuat toko di wilayah industri adalah, lulusan SMP dan SMA sekarang lebih suka kerja di pabrik dari pada di toko. Dan gaji selalu dibandingkan dengan UMR. Ini memaksa saya mencari data UMR se-Indonesia, dan alhamdulillah dapat, dan tentunya mau menghitung ulang sistem penggajian karyawan.

Semua masalah adalah tantangan, dan jika terpecahkan, akan menjadi batu pijakan untuk terus maju kedepan.

Salam

Rosihan

Tuesday, October 23, 2007

Mentalitas Yang Terbebani Identitas

Ramadhan 1994, saya ikut pesantren kilat jaman mahasiswa. Salah satu topik yang begitu melekat sampai hari ini, adalah paparan tentang “The Real I” yang dibawakan oleh Budi Munawar Rachman (intelektual, bidang filsafat kalau tidak salah).

The Real I (identitas yang sesungguhnya) digambarkan dalam sebuah lingkaran, yang didalamnya ada huruf RI (identitas riil) dan dikelilingi banyak lingkaran diluarnya yang membentuk suatu orbit, dimana setiap orbit terdapat banyak I (identitas tambahan) yang lain. Intinya adalah, bahwa identitas kita yang sesungguhnya, seringkali dikelilingi, bahkan tertutupi oleh identitas-identitas tambahan lainnya yang melingkupi pada saat itu. Poin-poit itulah yang saya pahami sampai saat ini.

Coba sekarang kita menanyakan kepada diri sendiri.
Hey… kamu itu siapa sih sesungguhnya ? Kalau saya ditanya seperti itu, saya pasti akan terjebak menjawab sbb:
Oh, “saya Rosihan, saya orang Jawa, saya alumni ITB, saya Konsultan IT, saya bekas Karyawan Astra, saya, saya …, saya …. “ dan seterusnya.

Apakah semua jawaban itu adalah identitas seorang Rosihan sesungguhnya ? saya merasakannya tidak. Jika orang tua saya menamakan Agus juga bisa, jika saya besar di Jawa Barat saya akan jadi orang Sunda, jika saya kuliah di UI maka saya Alumni UI, jika saya ngga kerja di Astra ngga mungkin jadi Karyawan Astra, dan seterusnya …

Semua identitas itu adalah identitas tambahan yang melekat pada diri saya, yang terjadi karena suatu kondisi dan pilihan-pilihan. Bukan Identitas yang sesungguhnya (Real I).


Identitas Yang Membebani

Sadar atau tidak, semua identitas tambahan yang pernah melekat, atau saat ini melekat pada kita, seringkali mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Kadang mengambil keputusan untuk “Menjadi Seseorang Yang Baru” atau menambah identitas tambahan yang baru, kita menjadi sulit. Kita kadang menjadi terbebani oleh identitas lainnya yang telah melekat.

“Seorang Manager” kadang merasa RISIH untuk memulai menjadi “Seorang Pedagang”. “Seorang Penulis” merasa RISIH menjadi “Seorang Pengusaha”, atau
“Seorang Pengusaha” merasa RISIH menjadi “Seorang Politisi”, dan lainnya.

Kalau kita bedah kata “RISIH”, sebenarnya terdiri dari sekumpulan asumsi-asumsi dan pemikiran negatif. Perasaan risih ini terjadi, karena mental kita sudah terbebani oleh identitas yang melekat itu. Kita sedang sibuk membanding-bandingkan antar Identitas. Ini suatu hal yang sangat tidak perlu.


Jika kita terus berjuang untuk mengenal siapa diri kita sesungguhnya (Real I), sebenarnya kita tidak perlu merasa terbebani, apalagi terkungkung oleh identitas yang melekat itu. Kita bisa sesuka hati menjadikan kita sebagai: “saya Pengusaha, saya Penulis, saya Pedagang, saya Konsultan” ..dan lainnya.

Ini merupakan salah satu modal mental untuk “Menjadi Apa Aja”, dengan lebih jelas, yakin dan rileks. Kita tidak perlu takut “menjadi yang baru”, dan ini adalah modal dasar kita untuk bergerak terus maju menjadi yang baru.

Jadi, yang “Programmer” tidak perlu merasa risih menjadi “Pedagang”. Yang “Pedagang” tidak perlu merasa minder menjadi “Konsultan”. Yang “Konsultan” tidak perlu merasa rugi jadi “Penulis”. Yang “Penulis” tidak perlu merasa takut menjadi “Pengusaha”

Semua itu adalah pilihan-pilihan, dan “Menjadi Itu “ adalah tidak kekal. Itu bisa berubah. Itu bisa ada masanya. Yang kekal adalah menjadi saya yang sesungguhnya (Real I).
Adalah picik kalau sebagian besar hidup kita hanya dilekatkan pada Satu Identitas. Adalah picik kalau seorang Rosihan hanya ingin menjadi “Konsultan IT”, karena seorang Rosihan selalu bermimpi akan bebas menjadi apa aja, bisa menjadi “Pedagang, Perancang Mode, Pengusaha, Penulis, Pembicara, Politisi, Pejabat, Konglomerat, Pendakwah, Kyai, atau bahkan Guru Bangsa…..”

Sunday, August 5, 2007

Menjadi Pengusaha dengan Proses Dialektika Tanpa Henti

Salah satu hal yang paling menyebalkan pengusaha, adalah ketika ditanya pertanyaan-pertanyaan semacam ini :

- Bagaimana Anda dulu memulai menjadi pengusaha ?
- Bagaimana ceritanya usaha Anda bisa menjadi besar seperti ini ?
- Berapa dan darimana modal awalnya ?
- Apa cita-cita Anda sesungguhnya ? Apakah sesuai dengan visi dan misi Anda ?
- Apakah keunggulan Anda ?
- Apa saja tips-tips sukses Anda untuk bisa menjadi besar seperti saat ini ?
- Dan seterusnya berderet-2 pertanyaan dengan awalan bagaimana, apakah, berapa, siapa …dst ..dst..dst …

Semua pertanyaan diatas bukannya tidak boleh, boleh-boleh saja. Asal yang menanyakan adalah wartawan, entah itu wartawan majalah bisnis atau kewirausahaan. Karena tujuannya untuk menuliskan sebuah proses, sebuah perjalanan, untuk mudah dibaca secara runtut dan dipahami pembacanya.

Tapi jika pertanyaan-pertanyaan itu ditanyakan oleh anak muda yang mau menjadi pengusaha, itu semua adalah pertanyaan yang menyebalkan. Kenapa, karena pengusaha itu tidak mungkin mampu mengingat setiap detil perjalanannya yang penuh dengan proses dialektika tanpa henti. Itu saja !.


2 Jalan Yang Memang Berbeda

Suatu hari, 2 anak muda diberikan tugas untuk menuju ke suatu kota X yang terpencil dan belum banyak data yang bisa menjelaskan keberadaannya. Tapi kota itu bisa dicapai pulang pergi hanya dalam waktu 10 hari. Apa yang berbeda yang dilakukan oleh 2 anak muda itu ?

Si Pintar :
Karena pintar, sibuk mendapatkan data dulu, dimana kota X berada. Seberapa jauh, alat transportasinya apa, berapa biayanya, bagaimana dukungan akomodasi, dll. Intinya, persiapan yang matang untuk sebuah keniscayaan yang belum jelas adanya. Hasilnya apa ? semua data-data tetap ia dapatkan, walau bukan data yang akurat. Dari data itu, dia juga sudah menetapkan asumsi-asumsi, perencanaan plan A, B, dan C. Akhir kata, Si Pintar berangkat dengan keyakinan, bahwa dia berani karena merasa persiapannya matang.

Si Bonek :
Tidak ada yang dilakukan secara berlebihan, dia melakukan perencanaan sewajarnya. Mengapa ? karena dia yakin atas penjelasan awal, bahwa kota X yang terpencil itu memang belum banyak yang tahu disini. Jadi percuma kalau dia tanya sana-sini ketika belum berangkat. Dia hanya menyiapkan bekal untuk cukup berangkat dan pulang. Akhir kata, Si Bonek berangkat dengan keyakinan, bahwa dia berani karena dia siap menghadapi apapun yang terjadi. Dia siap bertanya sepanjang perjalanan. Dia yakin, semakin dekat dengan kota itu, semakin banyak orang yang akan memberitahu tentang kota itu.


Apa yang terjadi selama perjalanan ?

Si Pintar :
Dia mulai berangkat, dengan plan A. Ketika pertama kali dia menemukan kondisi yang berbeda dengan rencana dia temukan dijalan, dia sudah gelisah dan kesal, kok tidak sesuai rencana. Mulailah dia masuk ke plan B. Agak tenang meneruskan perjalanan. Tapi kondisi baru yang berbeda terus ditemukan. Semua plan A, B dan C sudah tidak memadai. Dia mulai putus asa. Dia merasa salah persiapan, kurang data, data tidak akurat. Dia semakin yakin, bahwa akan banyak dijumpai kondisi-2 diluar rencana yang harus dia hadapi. Lebih baik pulang balik mempersiapkan lebih baik, daripada meneruskan dengan bekal yang makin menipis. Akhir kata, dia menetapkan untuk pulang balik.

Si Bonek :
Disetiap penggal perjalanan, Si Bonek selalu bertanya, mulai mengumpulkan data. Baginya, setiap kondisi baru yang ditemukan, adalah bahan pertanyaan. Setiap kondisi baru akan memberikan jawaban. Semakin ketemu banyak kondisi, dia semakin bisa menyimpulkan keberadaan kota yang dicari. Semakin banyak pula petunjuk-petunjuk. Bahkan ketemu dengan orang-2 yang sudi membantunya. Dia semakin yakin, kota yang dicarinya semakin dekat. Akhir kata, dia menemukan kota itu, dimana dia disambut bagaikan keluarga oleh warga kota setempat. Dia mencoba mengingat, semua yang terjadi di perjalanan, sama sekali tidak pernah terlintas dibenaknya. Yang ada dibenaknya hanya dimana dan bagaimana kota itu.


Si Bonek dan Kecerdasan Dialektis

Proses dialektika adalah sebuah permainan antara cita-cita dan rencana versus realitas yang ada didepan mata, saat ini. Setiap kita, yang berpengetahuan, selalu terkena kutukan rencana. Setiap kita yang terus melangkah, selalu berhadapan dengan realitas yang nyata. Apakah rencana dan realitas selalu sejalan ? maunya kita iya, realitasnya tidak. Realitas ternyata mempunyai jalannya sendiri. Realitas kadang tidak mau mengerti atas rencana-rencana kita. Lalu, bagaimana jika rencana vs realitas tak sejalan seperti yang kita harapkan ? disitulah akan selalu hadir pilihan-pilihan. Dan disinilah kegagalan untuk memilih bisa terjadi.

Cerita Si Bonek, adalah gambaran sebuah ikhtiar tanpa henti. Modal ikhtiar Si Bonek begitu meluap. Begitu siap menghadapi realitas didepannya. Antara tujuan dan rencana perjalanan, versus realitas yang ada didepan mata, dicoba untuk selalu dicarikan jalan keluar. Proses dialektika terus dilakukan untuk selalu mencari jalan keluar, disini kata kebuntuan haram hukumnya digunakan. Bagi Si Bonek, proses dialektis adalah jalan keluar untuk setiap permasalahan.

Si Bonek adalah gambaran sebuah Kecerdasan Dialektis, sebuah kecerdasan terintegrasi dalam mensiasati kehidupan. Kecerdasan ini bisa hadir jika kita terus mengasah intelektual kita, emosi jiwa kita dan spiritualitas kita. Mengapa ? karena Proses Dialektika membutuhkan pengetahuan dan pembelajaran atas hal baru tanpa henti, sekaligus secara emosi menerima setiap realitas yang tak sejalan dengan jiwa besar, dan memasrahkan hasilnya kepada Sandaran Spiritual.

Bagi saya pribadi, keseluruhan hidup yang saya alami saat ini tidak pernah terlepas dari proses dialektis. Saya selalu mengingatkan diri untuk selalu dan terus …
- menjadi manusia pembelajar, tanpa henti
- menjadi manusia ikhlash, menghadapi apapun realitas yang ada
- menjadi manusia penuh ikhtiar, belajar bermain dengan pilihan-pilihan
- menjadi manusia yang pasrah atas hasil yang ditetapkanNYA.

Salam
rosihan

Si Bedul dan Janda Kembang

Janda Kembang (JK) itu untuk kesekian kalinya membuat sang pemuda patah hati. “Kurang apa aku ini, ganteng, keren, kerja di perusahaan besar, jabatan ok, gaji pun ok, lah kok ujung-ujungnya masih ditolak sama dia “ guman sang pemuda tampan yang sedang terluka hati ini.

Suasana menjadi lara, tapi si Janda Kembang tetaplah kembang, yang terus mencari pasangan hati, pautan jiwa, dan sandaran hidup masa depan anak semata wayangnya.

Si Bedul yang tetangga, makin terheran-heran. Minggu pagi yang indah dia coba lampiaskan rasa penasarannya.

Si Bedul : “Mbak, kenapa sih ngga ketemu-ketemu jodoh lagi ? Temen deket yang kemarin itu kurang apa ? masak masih ngga cocok juga”

Si JK: “ Ngga ada yang kurang Dul, cuman ada yang ngga sinkron aja Dul …”

Si Bedul: “ Loh ..ngga sinkron dimananya ?”

Si JK: “ Gini Dul, waktu aku tanya dia, dia itu kenapa sih kok suka, bahkan bilang cinta sama saya. Dia jawab aku itu sempurna, aku cantik, aku bugar dan tampak segar, aku pandai merawat raga, aku smart, diajak ngomong apa aja nyambung, penampilanku selalu indah dipandang, dan aku punya cita-2 yang tinggi untuk anakku”

Si Bedul: “Lah khan memang mbak seperti itu, trus dimananya yang ngga sinkron?”

Si JK: “Aku tanya ke dia, apa calon istri idamanmu harus seperti aku ? Dia jawab 1000% iya … harus seperti itu, sebagai suami sejati, dia mendambakan istri yang sempurna”.

Si JK (sambil senyum terpendam) “ Gini Dul, aku sudah coba jalan sama Dia, coba mengerti siapa Dia. Ya …juga coba agak matre si Dul, berhitung-hitung dikit. Ternyata Dia itu pemuda dengan harapan selangit. Dia pengin punya istri yang komplit luar dalam. Banyak soal yang ada padaku ini dibahas Dul.

Soal otak-ku ini, dia pengin istrinya ber-otak Smart, bisa ngimbangin semua yang diomongin .. mulai dari urusan kerjaan, training, seminar, buku, film, koran, majalah, politik …, belum lagi soal anak, pola pendidikan dan urusan sekolah. Lah ini khan bikin aku jadi harus juga baca, nonton, dengerin berita dan radio, ngerti soal pekerjaannya, dan paham betul soal pendidikan anak.

Terus soal raga ini Dul, dia pengin istrinya selalu tampak bugar, segar dan sehat. Maunya setiap hari seperti itu. Klo gitu, ya aku perlu fitness 2x seminggu, nyalon dan spa 2x sebulan, dan perawatan kulit sekali sebulan.

Terus soal penampilan, dia maunya istrinya ngga bikin malu soal penampilan. Lah ini kan bikin aku harus punya salon dan butik langganan…

Apalagi soal anak Dul .. , walaupun dia kuliah cuman S1, dia itu punya cita-cita anaknya Doktor, dan go global. Klo gitu, ya sejak awal harus kusiapkan untuk tujuan itu. Anaknya ya harus sekolah internasional, biar dari kecil bahasa inggris-nya cas cis cus, bacaannya ngga perlu lagi buku terjemahaan, TV-nya ya Discovery Channel, National Geographic, bukan TV lokal yang sinetron melulu..!”

Terus soal rumah, Dia maunya tinggal di apartemen, dipusat kota. Supaya Dia bisa ngurusin kerjaanya dengan lancar, produktivitasnya tinggi … ngga capek-2 dijalan. Gampang ketemu temen dan pelanggan. Klo capek tinggal cari cafe, atau pijat refleksi. Bisa fitness 2x seminggu, bisa renang sewaktu-waktu.

Si JK (terdiam sejenak, menghela nafas)

Masalahnya Dul, semua yang Dia inginkan itu 1000% ngga sinkron dengan statusnya saat ini. Dia itu karyawan, yang gajinya saat ini baru 7 digit, walau katanya 5-10 atau bahkan 20 tahun lagi baru mencapai 8 digit. Lah ini khan masih jauh dari gaya hidup impian Dia, yang sejatinya juga gaya hidup impianku. Belum kepotong inflansi 10% pertahun, juga gejolak harga minyak dunia dan gonjang ganjing rupiah.

Hari gini Dul, penghasilan 7 digit hanya cukup nyaman buat nyicil rumah, mobil dan belanja harian, itu pun yang pas-pasan. Jadi ngga mungkin cukup buat impian yang selangit gitu. Klo aku dibilang cewek matre ya ngga papa Dul, wong memang itu kenyataan diluar sana”.

Si Bedul: (yang karyawan) “Busyeeeetttt, itu khan gue bangeeettt !!!”

Si JK : “ Udah ah Dul, jangan tersinggung. Aku tungguin kamu aja deh, tapi klo udah jadi pengusaha kaya yaa” (sambil mesam-mesem dan pergi melambai)

Si Bedul: “Aduuuuuuuhhhhh, kenapa siihh aku ngga berani jadi pengusaha ….”

rosihan

Thursday, July 12, 2007

Si Bedul Kena Kutukan Pengetahuan

Si Bedul untuk kesekian kalinya sowan ke Gus Pur. Kali ini agak larut malam, maklum, Si Bedul masih orang kantoran, hanya punya waktu dikala matahari sudah terlelap.

Si Bedul : “ assalamu’alaikum Gus, malam gini ngopinya enak sekali Gus “

Gus Pur: “ Iyo, enak tenan. Tapi yang bikin enak bukan kopi-nya Dul, tapi hidupku ini yang enak. Jadi kyai, tinggal duduk, makan dan setiap hari ngobrol sama orang-2 yang sowan”

Si Bedul: “Kok banyak orang sowan ke kyai ya Gus ?”

Gus Pur : “ Lha iya …wong mereka itu orang-2 yang kena kutukan kayak sampeyan ini “

Si Bedul : (geregetan) “ Kena kutukan gimana Gus, saya kalau kesini khan selalu tanya urusan rencana bisnis yang mau saya bikin ini Gus”.

Gus Pur : “Lha iya, itu kena kutukan namanya. Kamu khan orang cerdas, titelmu sudah kepanjangan, kerjamu sudah tahunan, kurang opo kamu ? kamu sendiri yang bilang, kalau mau bikin usaha, kamu mulainya dengan bikin perencanaan yang top, ada Plan A sampek Z. Pokoknya detil. Tidak ada yang terlewat.

Gus Pur : (terkekeh-kekeh …) dan karena kepintaranmu itulah yang membuat kamu 100% kena Kutukan Pengetahuan. Kamu itu dikutuk sama hasil akal-mu sendiri, padahal kamu sudah sangat siap dengan segudang rencana. Ternyata kamu makin banyak rencana, kamu merasa makin cemas. Karena dengan akalmu itu, kamu merasa makin tahu masa depanmu. Padahal akal-mu melihat masalah keberhasilan dan kegagalan itu tidak ada bedanya. Kamu sendiri malah menyiapkan Skenario Berhasil dan Skenario Gagal.

Kamu tau Dul, setiap hari aku ini terima tamu yang sowan, ada banyak tamu yang kena Kutukan kayak kamu ini. Mereka itu masih ngga yakin sama bisnis yang mau dibikinnya itu. Mereka masih pengin dengar wejangan-ku, nasihatku, “penerawangan”-ku, kira-2 kedepannya bisnisnya itu gimana .. Apa ngga edan, wong saya bukan orang bisnis kok ditanya masa depan bisnis. Mereka itu makin banyak rencana, makin banyak tahu, ternyata makin kena Kutukan Pengetahuan.

Coba kamu sowan ke kyai mana saja. Kalo kamu minta wejangan karena mau bisnis, pasti jawabannya sama. Kalo mau bisnis, kamu harus ingat, bahwa rejeki itu sudah dijatah sama Gusti Alloh. Bisnismu mau sukses besar atau ngga, itu sudah kehendakNya Gusti Alloh. Kalau Gusti Alloh berkehendak sukses, itu berarti kamu diberi banyak titipan sama Gusti Alloh. Titipan zakat, titipan menyantuni anak yatim dan orang miskin, dan banyak titipan rahmatanlilalamin lainnya. Untuk semua titipan itu, kamu harus ikhlas untuk selalu berbagi.

Orientasimu jangan uang dan kekayaan, tetapi untuk keberkahan hidupmu, keluargamu dan masyarakatmu. Jangan lupa sujud syukur setiap hari, dan terus ber-ikhtiar sekuat tenaga dan pikiranmu untuk membesarkan bisnismu setiap hari. Banyak-banyak silaturrahmi, jalani bisnismu sebagai ibadahmu. Kalau itu semua kamu lakukan, masa depan bisnismu pasti sukses, Gusti Alloh selalu memberikan keberuntungan kepadamu.

Lha anehnya Dul, setelah aku kasih wejangan seperti itu, dan amalan untuk berdoa dan bersyukur, mereka merasa bebas dari keraguan, ketakutan. Mereka lebih bersemangat menjalani rencana bisnisnya, ikhlash menjalani prosesnya dan mem-pasrah-kan hasilnya 100% kepada Yang Maha Kaya.

Kalau sudah begitu, mereka sudah bebas dari Kutukan Pengetahuan. Mereka sudah tidak mengandalkan 100% pada akal-nya yang terbatas itu, tetapi 100% kepada Yang Menciptakan Akal.

Si Bedul: “Wah, harus seperti itu ya Gus ?”

Gus Pur : “ Iya Dul, jangan kebanyakan rencana-rencana lagi, tinggal jalan aja kok repot!”

Thursday, May 24, 2007

Gaya Hidup UMR

Menjadi TDA, buka usaha sendiri, lalu alhamdulillah dikasih sukses, seringkali menuai anggapan orang bahwa sang pengusaha itu otomatis banyak uang. Memang betul banyak uang. Pengusaha itu sudah terbiasa dengan uang yang lalu lalang. Masuk bagaikan airbah, keluar bagaikan dam jebol. Banyak uang masuk dan sekaligus banyak uang keluar. Lah lalu dimana nikmatnya ? Bebas finansialnya dimana ? kaya-nya disebelah mana ?

Dari pekerja yang bergaji “pas-pasan”, lalu buka usaha sendiri, sukses, dapet uang beberapa kali lipat dari gajinya, banyak yang merasakan sebagai bebas finansial. Ya betul 100%, sang pengusaha akan bebas mau beli apa aja, mulai dari baju, makan, mobil, rumah, dll. Ada yang salah ? oh tidak, lah wong itu duit-2nya sendiri. Sah-sah saja. Selama hasil usahanya bisa mencukupi semua pengeluarannya. Nah inilah nikmatnya jadi pengusaha.

Lah kok bisa dibilang kaya ? Emang orang kaya harus punya banyak uang ? Tidak mutlak seperti itu. Coba tanya tetangga, orang kaya itu jawabnya pasti yang rumahnya bagus, mobil mentereng, baju keren, dan hobi mejeng di kafe beken. Definisi kaya itu bagi banyak orang adalah yang tampak dimiliki, bukan yang disimpan. Apalagi dalam bentuk investasi yang berbuah passive income.

So, kalau pengin jadi TDA, dan buka usaha sendiri dengan cita-2 kaya seperti itu, boleh-boleh saja. Itukan uang anda sendiri, dan saya yakin mencapainya juga ngga mudah. Tapi kalau Anda seperti itu, saya mengatakannya “Anda Berbisnis untuk Membiayai Gaya Hidup Anda !”

Ujung-2nya adalah gaya hidup. Gaya hidup sering tumbuh seiring keberhasilan anda. Jaman bergaji 1 juta, anda bisa bergaya hidup 1 juta. Setelah jadi TDA, usaha sendiri, dengan hasil usaha 20 juta, ternyata gaya hidup anda tidak terasa menjadi 20 juta juga. Sampai kadang-2 bingung, kok bisa ya ada orang bisa hidup dengan 1 juta sebulan. Padahal itu sudah pernah anda lewati. Saya mengatakannya Anda tetap orang sukses, ya, sukses untuk bisa membiayai gaya hidup anda sebanyak uang yang anda punya. Dan anda sedang membangun tangga, yang jika suatu saat tangga itu patah, anda akan jatuh dengan lebih menyakitkan.

Itulah yang paling banyak saya dengar, baik karyawan atau pengusaha, baik yang pegang uang sebulan 1 juta, 5 juta, 20 juta, atau 50 juta, keluhannya sama. Uang yang mereka pegang masih kurang .. kurang dan kurang … Lah gimana mengatasinya ?

Rubah mindset anda, tetapkan Plafon Gaya Hidup Anda, sekarang juga. Plafon adalah batas atas, dan gaya hidup memang harus dibatasi. Seberapapun anda pegang banyak uang, tetap anda harus tetapkan plafon itu. Kalau bisa, tetapkan plafon gaya hidup anda, senilai UMR dikota anda !

UMR dihitung oleh para ahli, dan mereka yakin orang dengan gaji UMR pasti masih dapat hidup, untuk semua jenis pengeluarannya. So, kita pasti juga bisa dong hidup dengan pengeluaran sejumlah UMR setiap bulannya ? khan orang lain bisa …

Anda semua pasti ngamuk … ngawur aja kamu, pulsa HP-ku saja senilai UMR ! belum bajuku, makan, nonton, beli buku, ngafe, dll. Yang nempel dibadanku setiap hari saja sudah senilai 3xUMR, belum makan, ketemu temen-2 dll, itu sudah 1 UMR. Belum lagi pengeluaran keluarga, anak-2. Ya ngga mungkinlah …

Ya itulah jawaban kenapa menjadi TDA, usaha sendiri, memang ngga betul-2 menjamin anda punya banyak uang. Tapi hanya menjamin meningkatnya Gaya Hidup Anda …

Saya punya mimpi itu, tapi susah sekali meraihnya, sepertinya mustahil. Karena ini adalah bentuk pencapaian yang terbalik.

Bagi saya, Gaya Hidup UMR adalah cermin kesederhanaan.

salam

Saturday, May 5, 2007

TARGET UTANG 1 MILIAR

Mungkin anda akan bilang ini target edan, masak target kok utang. Tapi saya orang yang menyesal mengapa baru berani utang sekarang-2 ini. Utang bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan, baik dari teman apalagi utang formal dari Bank. Kalau utang ke teman, kita harus bisa dipercaya 1000%, dan kalau ke Bank, kita harus punya usaha yang terkelola dan tumbuh dengan baik. Tapi hindari gadai dan renternir yaa, apalagi ngemplang!. Juga hindari utang konsumtif, seperti beli rumah untuk ditempati atau beli mobil untuk bergaya.

Kalau kita masih karyawan, kita paling bisa mendapatkan utang dari Bank dengan cicilan maksimal 1/3 dari gaji. Misal dengan mendapatkan Kredit Tanpa Agunan (KTA) yang lebih mudah didapatkan oleh karyawan daripada pengusaha. Kecuali perusahaan kita baik, mau ngutangin, walau dengan berbagai macam ikatan. Cara termudah bisa dari Kartu Kredit, tapi ini uang mahal. Cara yang lebih bisa diharapkan adalah pinjaman formal melalui Bank, yang kemudian kita kelola untuk terus bisa meningkat pinjamannya.

Kalau kita bisa dipercaya Bank diberi utang untuk usaha sebesar 1 M, itu berarti dari kacamata Bank, agunan dan jaminan usaha kita juga dipercaya mampu membayar cicilan, ini berarti bisnis kita cashflow-nya baik dan tumbuh.

Saya punya buku saku “Cara Jitu Mendapatkan Kredit Bank – Panduan untuk UKM” karangan Agoeng Widyatmoko terbitan Media Kita 2005. Saya belajar teorinya dari situ, walau secara praktek harus kita modifikasi. Mungkin Anda bisa baca buku ini untuk mendapatkan pengetahuan awal tentang kredit Bank.

Prinsip awal berhutang ke bank, kita harus punya Agunan dan Jaminan Usaha. Agunan biasanya rumah/toko. Jaminan Usaha adalah bisnis kita, bisa produksi, toko grosir atau toko eceran. Agunan kadang hanya menjadi syarat formal saja, tetapi Jaminan Usaha yang menggambarkan Cash Flow bisnis kita itulah yang utama. Bank akan lebih melihat Jaminan Usaha, disamping Agunan.

Sebenarnya saya kurang kompeten untuk menjelaskan soal utang-mengutang ini. Saya mengundang Pak Yoyok (adik Pak Hadi) yang mantan Banker untuk bisa menjelaskan trik-trik mendapatkan kepercayaan Bank, dari kacamata orang Bank.

Saya ingin sharing target saya menuju utang 1 M di akhir tahun 2007, melalui bisnis ritel sejak 2004. Ini sharing loh yaa, bukan nyombong, bangga atau ingin dibilang hebat. Karena saya ingin teman2 punya keberanian yang sama nantinya.

Saya hanya punya pengalaman praktisnya saja, dan ini salah satu Winning saya. Singkatnya sbb:
- Maret 2002 : pertama kali menjadi TDA, tidak punya utang Bank, modal usaha dari gaji terkahir + tunjangan uang obat 1 tahun. Asik khan, Anda pasti punya yang seperti ini.

- Januari 2004 : masih tidak punya utang Bank, tetapi sudah punya mimpi.
- Juli 2004 : utang Bank 120 juta (pertama kali)
- Juli 2006 : total utang Bank 300 juta
- Januari 2007 : total utang Bank 400 juta
- Mei 2007 nanti : total utang Bank 750 juta (lagi proses)
- Des 2007 (target) : total utang Bank 1 M (kalau bisa sebelum lebaran 2007)

Lah kok bisa ? agunan dan jaminan usahanya apa ? prosesnya gimana ? nanti bayar cicilannya pakai apa ? Nah itulah rahasia dan kehendak-NYA.

Salah satu yang agak “menyebalkan” adalah adanya BI Checking, dimana data kita sebagai peminjam sudah masuk ke Bank Indonesia (BI). Katanya semua data utang perorangan dari bank manapun sudah masuk ke BI. Jadi kredibilitas kita juga bisa diketahui oleh bank sebelum kita mendapatkan pinjaman.

Saya tidak akan sharing caranya dulu. Kali ini hanya ingin menanyakan kepada Anda semua ? Anda sudah punya target utang ? berapa ? tahun berapa dicapai ?
Kalau Anda tidak punya target utang …jangan pernah mengeluh soal modal pengembangan usaha loh …

Sebenarnya yang bener BUKA USAHA DULU atau UTANG DULU sih ? he..he..he … saya sendiri juga agak takut kasih tahu Anda semua. Saya rasa Anda yang bisa menjawabnya.

Salam
Rosihan
www.neslink.com/ritel
Ridla Jaya & Saqina Distro Muslim