Re-launching SAQINA.COM
Tuesday, January 15, 2008
Survey Awal Serang & Cilegon, Thanks to Pak Arbi
Kami berdua sangat berterima kasih kepada Pak Adli Arbi Nasution, calon Juragan Sepeda dari bisnis besar Agung Jaya (ritel dan grosir sepeda di Serang), yang meluangkan waktunya untuk mengantarkan kami jalan-jalan keliling Serang dan Cilegon. Walau sebenarnya kenyataannya kita yang “menculik” Pak Arbi.
Sepanjang jalan kami mencoba mencari toko-toko Distro yang ternyata sudah berkembang pesat di Serang, juga di Cilegon. Kalau saya sendiri mencoba melihat peta pasar busana muslim yang tentunya pasti sudah banyak pemain disana. Ini adalah survey awal. Kami lebih banyak menikmati geliat bisnis UKM yang begitu tersebar, khususnya di Serang. Sambil terus berusaha menemukan lokasi-lokasi impian kami.
Ada sedikit kejutan, di Mal Serang kami menemukan kios busana muslim yang menjual produk branded, ternyata produk Manet (www.manetvision.com) punya Pak Roni ada disana. Juga di Mal Ramayana Cilegon, ada kios khusus menjual produk kerudung Rabbani, tapi juga sepertinya menjual Selimut Jepang Pak Hadi, saya tahu karena saya pernah jual produk selimut jepang Pak Hadi. Kami bertiga langsung menebak, jangan-2 ini kios temen TDA. Wah ..ternyata produk temen-2 TDA kami jumpai disana.
Kata Pak Arbi, di Cilegon yang banyak Member TDA, mungkin survey lanjutan nanti kami bisa mencari masukan dari Member TDA Cilegon.
Sepanjang siang sampai sore, kami banyak mendapat informasi penting, dan sangat lokal sekali dari Pak Arbi perihal kota Serang. Dan tidak lupa “mengompori” Pak Arbi untuk mulai mencoba membangun jaringan toko sepeda modern sebagai pengembangan strategic dari Agung Jaya.
Busana Muslim, Clothing Distro dan Sepeda, itu semua adalah domain yang berbeda. Tetapi kami bertiga bisa mendiskusikan dengan bahasa bisnis yang sama, dengan bahasa dagang yang sama. Kami bertiga saling belajar, dengan satu jembatan penting, yaitu ANALOGI.
Salam
rosihan
Tuesday, January 1, 2008
Negara dengan Hari Libur Terbanyak, 127 hari setahun !!!
Astaga, tahun 2008 nanti kita akan libur 127 hari dari 365 hari setahun ini, alias sepertiga lebih dari rentang 1 tahun kita LIBUR !!!
Definisi Hari Libur => hari besar nasional, keagamaan, cuti bersama yang ditetapkan pemerintah (harpitnas), hari sabtu, dan hari minggu.
Januari = 11 hari libur
Pebruari = 10 hari libur
Maret = 13 hari libur
April = 8 hari libur
Mei = 13 hari libur
Juni = 9 hari libur
Juli = 9 hari libur
Agustus = 11 hari libur
September = 10 hari libur
Oktober = 11 hari libur
November = 10 hari libur
Desember = 12 hari libur
Ini kabar baik bagi para TDB, yang senang libur. Atau juga kabar baik bagi para TDB, karena bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis sampingannya. Tapi mungkin kabar kurang enak bagi para pebisnis yang punya bisnis sektor formal. Atau justru kabar baik bagi para pebisnis yang punya bisnis yang rame pada saat libur saja.
Ya itulah Indonesia, hari libur yang begitu banyak adalah cermin produktifitas. Jika yang libur banyak nganggur, maka rendahlah produktivitas. Jika yang libur banyak berbuat sesuatu yang meningkatkan nilai tambah, maka tinggilah produktivitas.
Menjadi TDA, semoga kita tidak ikut-ikutan libur kepanjangan, karena ancaman terbesar menjadi TDA adalah LIBUR SETIAP HARI alias MENGGANGGUR ! he..he..he...
Salam libur
rosihan
Percayalah, Tidak Ada Yang Baru Kalau Kita DIAM
Coba ingat setiap tahun baru yang lalu-lalu, mau tahun baru 2008, 2007, 2006, 2005 ..dst. Adakah rentang waktu itu betul-betul mempengaruhi hidup kehidupan kita ?
Sepanjang tahun 2007 kita dibuai oleh rendahnya bunga kredit, booming property. Kondisi ekonomi yang relatif stabil. Walau bencana alam dan masalah politik sudah pasti lalu lalang di negeri ini.
Coba ingat di awal tahun 2006, ketika semua sektor mencoba mencari keseimbangan baru akibat kenaikan harga BBM yang 2005 itu.
Tapi jika kita ingat lagi sedetil-detilnya ..ternyata semua berlalu begitu saja. Namun ada yang tidak berlalu begitu saja, namun justru memberikan makna-makna kehidupan yang nyata. Itu bagi mereka yang tidak diam, mereka yang terus bergerak mencapai target dan impian mereka.
Ya, saya sendiri sangat mempercayai, mau tahun baru Masehi, Hijriah atau Imlek, tidak akan berarti apa-apa jika kita dalam rentang kedepan kita hanya DIAM.
Maka BERGERAKLAH, kita mulai dari menuliskan MIMPI, men-detilkan dalam bentuk TARGET, merencanakan dalam bentuk RENCANA BISNIS sederhana. Bayangkan disetiap bulannya apa-apa yang harus kita lakukan dan kita capai. Saya yakin keberuntungan akan selalu berpihak pada kita.
Kata koran, kabar baik di tahun 2008, adalah tren kredit dengan bunga rendah masih berlanjut. Sektor keuangan juga akan terus naik, sektor riil pun meningkat. Kabar soal kenaikan premium yang batal juga bisa meningkatkan optimisme.
Tapi yang penting sebenarnya, kita tidak perlu terpengaruh semua itu, itu hanya wacana. Kalau ingin memulai bisnis, mulailah sekarang. Sekarang juga. Tidak perlu menunggu kabar baik ekonomi, apalagi politik negeri ini.
Bagi para pebisnis, setiap tahun itu selalu ada peristiwa, dan setiap peristiwa mau tidak mau, suka tidak suka harus selalu disikapi dengan mental bertahan dan terus berkembang. Tidak diam dan loyo. Apalagi lari dari masalah. Terus bergerak secara dialektis.
So, tahun 2008 TETAP MENJADI TAHUN KEBERUNTUNGAN KITA SEMUA.
Salam
rosihan
(shio tikus)
Monday, December 17, 2007
The Mission Statement
Adalah pada bulan April 1997 pada sesi training di Astra, ketika pertama kali saya dikenalkan tentang apa itu Mission Statement. Kami diajak nonton bareng film Jerry Maguire, film baru tahun 1996.
Adegan inti dari film itu adalah ketika Tom Cruise pada saat-saat yang kritis mulai menuliskan Mission Statement-nya pada malam hari. Didepan laptopnya dia menuliskan dengan mengebu, berkeringat dan bersemangat. Pikirannya melayang pada banyak hal impian langkah kedepan.
Hasil dari nobar film Jerry Maguire, kami para peserta training diminta menuliskan dengan tangan apa yang menjadi Mission Statement masing-masing untuk 5 tahun mendatang.
Saya agak bingung mau menuliskan apa. Pikiran saya tidak terbiasa dengan impian-impian. Saya sangat sulit menuliskannya. Akhirnya saya ambil gampangnya. Pada tahun 1997 itu saya mulai mempunyai tanggungan meng-kuliahkan S1 kedua adik saya, yang saat itu baru mulai kuliah dan yang bungsu masih kelas 3 SMA. Karena Ayahanda kami telah meninggal di tahun 1994. Padahal saya baru mulai kerja 3 bulan di Astra.
Mission Statement saya sederhana : “ Saya harus meng-kuliahkan 2 adik saya sampai menjadi sarjana S1 sama seperti saya”. Itu saja. Dan tulisan tangan itu dimasukkan di amplop putih, dan diberikan ke Instruktur Training. Setelah itu, sesi training selesai, dan saya tidak tahu untuk apa tulisan dan amplop itu, katanya akan disimpan.
5 tahun kemudian, pada April 2003, saya menerima kiriman surat, berisi Amplop putih. Saya tidak tahu dari siapa. Ketika saya buka, saya sangat kaget membaca tulisan tangan saya 5 tahun lalu, yang isinya “ Saya harus meng-kuliahkan 2 adik saya sampai menjadi sarjana S1 sama seperti saya”. Astra telah mengirimkan kembali surat Mission Statemen saya 5 tahun yang lalu itu.
Saya menangis ….
Saya menangis sambil membaca berulang-ulang tulisan tangan saya itu. Saya tidak menyangka Astra mengirimkan kembali kepada saya, dikala tanpa sadar apa yang saya tulis di Mission Statement itu semua telah saya tunaikan !!!
Pada April 2003 saat itu, kedua adik saya telah menjadi Sarjana S1, bahkan sudah bekerja semua. Saya langsung sujud syukur atas semua pemberian Alloh ini. Dan saya berterima kasih kepada Astra yang mengajari dan mengingatkan saya, arti penting sebuah Mission Statement.
Sejak itu, disetiap bulan Desember, adalah periode dimana saya bergulat dengan buku, diskusi dan pemikiran-2. Berusaha mereview tahun berjalan dengan mencermati acara Kaleidoskop TV dan artikel koran. Dan terus mencari Insight-2 baru.
Saya mengisi Malam Tahun Baru dalam dunia yang hening, untuk menyempurnakan dokumen penting dalam hidup saya, The Mission Statement.
Terima kasih kepada Astra Management Development Institute (AMDI) – Salam buat semua temen-2 ABTP 76
Salam
Rosihan
Sunday, December 16, 2007
Raja FO Telah Mengubah Visualisasi Impian Saya

7 Desember 2007 saya ikut IYE! Gathering, dan 14 Desember 2007, saya bersama Pak Roni dan Pak Tri Atmojo, tidak menyangka bisa berbincang-bincang dengan asiknya, dirumah super mewah, di kediaman Raja FO dari Bandung, Perry Tristianto.
Ini adalah LOA yang baru terjadi setelah saya pikirkan 3 tahun lalu, saat saya berkungjung FO China Emporium dan FO yang lain di jalan Riau Bandung. Waktu itu saya bertanya, siapa yang punya FO ini ? gimana caranya dia bisa bikin konsep seperti ini ? dan jumat malam itulah kami menemukan jawabannya.
Jika anda belum tahu pak Perry Tristianto, ketik saja nama ini di Google, akan muncul puluhan berita diberbagai surat kabar yang mengutip tokoh FO ini.
Banyak hal yang kita dapatkan dalam perjalanan 2 hari di Bandung. Mulai dari konsep dan ide-ide orisinal, rencana-2 bisnis dari diskusi kami bertiga, dan yang paling penting, banyak hal baru yang harus dikerjakan.
Semua ini membuat saya harus me-revisi satu dokumen penting yang mencatat target-target pencapaian saya. Dan Visualisasi Impian Saya Pun Berubah !
salam
rosihan
Thursday, November 22, 2007
Prospek Besar Garmen di Tahun 2008 ?
Pragmatisme Pelaku Pasar
Saat ini, kalangan peritel bawah cenderung pragmatis dalam menyikapi perkembangan industri garmen. Peritel bawah tidak sampai memikirkan berbagai kendala dalam industri garmen. Peritel bawah hanya tahu dan butuh, bahwa barang yang ada dipasar itu apa, seberapa bisa dijual, apa yang sedang tren saat ini, dan rentang harganya berapa, dan yang paling penting, kami bisa jual berapa. It’s so simple. Kita ketahui bersama bahwa peritel hidup dari perputaran barang dan selisih harga.
Mengapa demikian ? karena peritel memang sudah tidak berkepentingan secara langsung terhadap industri garmen dihulu. Peritel juga sudah tidak mungkin diharapkan mempunyai keberpihakan ke industri garmen nasional. Ini adalah pola hubungan industri garmen hulu dan hilir yang memang sudah berubah sejak pasca krisis moneter 1997.
Pasca krisis moneter, peritel bawah sudah diharuskan mengikuti aturan baru mata rantai perdagangan. Dulu dari pabrik benang, pabrik kain, produsen, pemain grosir dan pengecer, mempunyai hubungan mata rantai yang erat dalam industri garmen. Terutama aspek hutang dagang dalam perdagangan. Dulu masih ada istilah hutang dagang yang mempunyai tempo yang saling menguntungkan. Saat ini sudah tidak berlaku lagi. Semua transaksi perdagangan cenderung cash keras, kalaupun masih ada hutang dagang, sifatnya tidak terlalu leluasa.
Dalam posisi ini, peritel cenderung tidak lagi mempunyai komitmen dagang yang berantai. Peritel makin pragmatis dalam memilih produsen/supplier. Peritel hanya masih berpihak ke pelanggan. Mana yang kira-kira pelanggan cari dan butuhkan, itulah yang dicari peritel, dan peritel bebas akan mencari produk dimana. Sudah tidak peduli lagi itu produk lokal atau impor, legal atau illegal, yang penting akan laku dipasaran. Kalau pelanggan tahu suatu produk dari media (misal TV), maka tidak heran peritel pun berburu produk-produk tersebut. Ini menjadikan produsen pun harus mulai akrab dengan media.
Produk Impor
Produk impor, kalau tidak mau dikatakan sebagai produk Cina, mungkin sudah 5 tahun terakhir menekan industri garmen dalam negeri. Varian produk garmen yang dimasuki cukup luas, mulai dari busana umum, bahkan busana khusus seperti busana muslim. Juga tas, sepatu, sandal, ikat pinggang dan sejenisnya. Juga perlengkapan seperti kaos kaki dan pakaian dalam, bahkan ini mendekati 90% barang impor. Kualitas produk impor juga memadai, ada harga ada rupa. Namun kuantitas cenderung terbatas, namun ini malah menjadi peluang dari aspek marketing bahwa pelanggan bisa tampil beda.
Kalau kita survey dipasar tradisional di kabupaten/kota, terlihat sekali produk impor itu dijual oleh sebagian besar peritel eceran. Itu mengindikasikan bahwa pasar sudah menyerap produk impor, alias bahwa produk impor itu laku. Mengapa pasar menyerap dengan mudah ? karena ada hubungannya dengan daya beli. Lepas dari dugaan produk impor itu masuk secara legal atau tidak, kenyataan dipasaran produk impor dapat memberikan harga lebih murah.
Berdagang produk impor, sudah kita ketahui bersama, tidak ada istilah hutang, semua harus cash. Kombinasi antara transaksi cash keras digabung dengan daya beli yang rendah, produk kualitas memadai, kuantitas terbatas dengan mode yang berganti-ganti mengikuti tren global (alias menjiplak), dan harga terjangkau, adalah keunggulan riil saat ini dari produk impor.
Satu kendala kerentanan produk impor ada pada biaya transportasi, dan bea masuk. Dikala harga minyak dunia makin tinggi, jelas sekali komponen biaya pengiriman produk akan naik. Jika kita menengok ke China, krisis BBM di China bisa meledak sewaktu-waktu, ini menjadikan kelangsungan produk China juga dipertanyakan.
Namun sebagai peritel, produk impor saat ini masih menjadi komoditas yang menarik, entah sampai kapan.
Pemodalan, Persaingan dan Keunikan
Era transaksi perdagangan cash keras menjadikan peritel garmen adalah bisnis padat modal. Modal harus kuat untuk mengikuti dinamika naik turunnya pasar, juga penyediaan barang dagangan yang konsisten dan memadai. Modal menjadi hal paling utama, tidak lagi relasi perdagangan.
Semakin menciutnya jumlah produsen, dan membanjirnya produk impor yang itu-itu saja, telah menjadikan homogenitas jenis barang makin seragam. Ini semakin hari semakin memicu persaingan yang makin kurang sehat. Persaingan makin dikendalikan oleh persaingan harga, bukan lagi keunikan produk. Bahkan untuk produk branded yang didistribusikan langsung, sudah tidak ada lagi istilah persaingan antar peritel. Peritel yang sukses menjual produk branded dengan harga bandrol adalah peritel yang mampu menyediakan stok yang memadai, dan ini kaitannya dengan kekuatan modal.
Kalangan pelaku Distro dengan keunikan produk yang “menyimpang” dari produk pasaran sebenarnya hanya untuk mensiasati persaingan. Mereka memperpendek mata rantai industri, menjadi produsen sekaligus pengecer. Jika ada pengecer yang ingin ikut manisnya kue Distro, mereka harus kuat di pemodalan. Namun ini bukan solusi bagi industri garmen, konsep “menyimpang” masih diserap oleh konsumen yang terbatas, bukan rakyat kebanyakan. Rakyat kebanyakan masih mau bergaya dengan mencontoh artis-artis idola mereka dengan baju pasaran. Ini “blue ocean”, tapi masih sebatas “berenang di danau biru”.
Prediksi 2008
Secara umum, prediksi industri garmen tahun 2008 akan membaik. Namun bukan karena industri garmen yang membaik, tetapi karena uang beredar di sektor riil sedang membesar. Ini terkait dengan hajatan penggalangan konstituen menuju Pemilu 2009 yang berbiaya ratusan triliun.
Sepertinya tidak ada korelasinya secara langsung terhadap produk apa saja yang paling laku, karena kita tidak bisa melihat hanya dari masalah kaos yang sering dipakai konstituen. Bagi saya, cenderung mensyukuri banyaknya uang yang beredar, yang akan meningkatkan daya beli masyarakat atas produk garmen.
Salam
rosihan
Wednesday, November 14, 2007
2% Yang Menghidupi dan 98% Yang Ilusi
Saya lalu browsing di internet, dan menemukan banyak tulisan Zaim Saidi, saya cuplik sebagian disini :
“Di pasar uang dunia kini transaksi Dolar telah mencapai angka 800 trilyun Dolar AS per tahun. Sementara nilai perdagangan dunia yang merupakan sektor nil ‘hanya’ 4 trilyun Dolar AS per tahun. Artinya, transaksi di pasar uang itu besarnya 20 kali lipat nilai transaksi perdagangan sektor riil. Kondisi demikian jelas mencemaskan, karena transaksi di pasar uang sesungguhnya bersifat maya, karena tidak ada barang yang diperdagangkan, kecuali uang itu sendiri. Fenomena itu kerap disebut ekonomi gelembung (bubble economy), karena nilainya yang begitu besar, tapi pada hakekatnya tidak ada barang riil yang diperdagangkan. Karena itu kita tinggal menantikan saatnya gelembung uang itu meledak, lalu meruntuhkan ekonomi global.”
Source : http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=19&Itemid=1
Saya merenung dan teringat dengan obrolan dengan temen saya yang konsultan keuangan, ketika kami mendiskusikan perdagangan saham dan sektor keuangan. Satu kata yang paling saya ingat, bahwa perdagangan saham adalah ZERO GAME. Apa itu zero game ? Yaitu suatu perdagangan dimana suatu keuntungan bisa terjadi karena adanya kebuntungan dari yang lainnya.
Temen saya bilang, kalau pingin kaya dengan cepat, ya main saham, itu sudah banyak bukti. Saat ini malahan banyak seminar yang menawarkan dengan pembuktian realtime, bahwa hanya dalam beberapa menit bisa dapat ribuan dolar. Mengapa itu bisa terjadi ? padahal itukan Zero Game ? kalau ada yang untung, berarti ada yang buntung dong .. oh itu pasti, karena :
- Banyak pemain saham pemula, yang mungkin sebagian besar loss, dan ngga mau main saham lagi, ini sumber keuntungan juga
- Banyak pemain saham menengah dan berpengalaman, yang memainkan uang investor, kadang untung kadang buntung
- Banyak pemain saham kakap, yang mampu menggoreng saham, bahkan menciptakan konflik didunia, baik secara politik maupun ekonomi, kadang meraup untung besar, tapi kadang buntung besar.
Lalu, kamu mau kaya disektor RIIL atau TAK RIIL ? wah, saya kebingungan. Kalau menuruti nafsu, maunya kaya cepat dan mudah, dan hasilnya kuayaaa banget. Tapi apa itu yang saya cari ? (kata saya dalam hati).
Pikiran saya melayang di Januari 1997, ketika saya masuk ASTRA. Saya teringat falsafah Astra, “Sejahtera Bersama Bangsa”. Saya teringat Hymne Astra, yang isinya begitu mengena. Om William pasti menginginkan kaya bersama karyawannya, masyarakatnya, negaranya.
So .. jika anda ingin kaya bersama bangsa, ya mainkan peranan kehidupan anda di sektor RIIL. Karena setiap usaha anda, meneteskan rupiah demi rupiah ke kantong karyawan anda, lalu mengalir ke keluarganya, lalu terbelikan di warung-warung tetangganya, lalu menghidupkan ekonomi desanya, kotanya dan negaranya.
Tapi jika anda pengin kaya cepat, mainkan peranan kecerdasan anda, di sektor TAK RIIL, yang memang menjanjikan keuntungan raksasa. Anda bisa kaya sendiri tanpa punya karyawan.
Ya itulah ekonomi dunia saat ini, hanya 2% yang menghidupi, namun ada 98% yang menjadi ilusi kekayaan dunia.
Salam
rosihan




