Kenaikan harga BBM bukan sesuatu yang baru, dulu-dulu sudah pernah terjadi. Pokoknya setiap ada kenaikan harga komoditas penting, pasti ada dampaknya, khususnya di sektor riil, lebih khusus lagi di sektor ritel, perdagangan grosir dan eceran.
Kalau jaman Orde Baru ketika harga BBM stabil karena disubsidi, kenaikan gaji PNS saja bisa mengubah harga-harga di sektor ritel. Dulu sebelum kenaikan gaji PNS diumumkan, harga-harga sudah naik. Nah, di jaman orde reformasi, harga-harga lebih kalang kabut, karena salah satu sumber kenaikan harga adalah BBM yang makin hari makin tidak disubsidi.
Sebagai pedagang kecil, kita tidak punya kuasa yaa. Dilarang protes ! ini ekonomi super makro, urusannya sama spekulan global yang memainkan harga minyak dunia. Jadi kita wajib ngikut saja dan dialektis saja menghadapi apa yang akan terjadi.
Berikut pola-pola yang saya coba pahami ketika harga BBM naik, yang dampaknya pasti berimbas ke toko saya :
Dari Sisi Pelanggan
Daya beli pasti turun. Tapi ini sejenak, mungkin cuman 2 bulan. Karena pelanggan Indonesia tidak tahan untuk tidak beli-beli. Yang pasti terjadi pergeseran sementara, mungkin pelanggan kelas menengah mencari produk lebih murah namun kualitas masih bagus, tetapi pelanggan kelas bawah mencari yang paling murah. Pelanggan kelas atas yang ngga terpengaruh.
Pelanggan lagi sensitif harga, jadi maunya harga diskon terus. Jangan kaget, sebentar lagi banyak Promo “Harga Diskon”, “Beli 2 Gratis 1”, “Cuci Gudang”, “Harga Tidak Naik”. Psikologisnya selalu ingin mendapatkan harga termurah. Makanya biasanya banyak yang membuang barang lama dengan event diskon. Atau melabel dengan harga baru lalu di-diskon. So, jangan ragu kasih diskon.
Pelanggan tetap maunya barang bagus, disain ok, model terbaru, tetapi harga maunya murah. Nah, produsen biasanya pandai mensiasasti situasi ini. Kita sebagai pedagang eceran, pasti masih punya peluang besar mendapatkan model-model terbaru dengan harga terjangkau.
Tidak ada toko yang tidak menaikkan harga, sehingga pelanggan pasti akan mendapatkan harga naik pada semua pedagang eceran. Artinya, potensi pelanggan pindah toko juga kecil. Jadi jangan takut kehilangan pelanggan. So, membuat hati pelanggan lebih nyaman membeli dari kita lebih penting saat ini.
Saatnya menambah produk yang terjangkau. Ini hanya sebagai pancingan saja, supaya pelanggan merasa dapat membeli produk di toko kita. Padahal setelah melihat produk murah, biasanya tidak puas dengan kualitas produknya,ujung-ujungnya masih pengin beli yang agak mahal tapi bagus.
Yang kasihan adalah pelanggan yang memang benar-benar ngga mampu beli. Namun biasanya masih tetap ada peluang beli dengan terpaksa, yaitu pas lebaran. Untuk itu, wajib kita menyediakan barang-2 lama atau yang tidak laku dengan harga super murah.
Dari Sisi Produsen
Dari sisi produsen, yang pasti produksi tidak mungkin tutup. Produsen otomatis juga tidak langsung menaikkan harga, apalagi mempunyai stok lama bahan produksi. Produsen juga takut menaikkan harga, takut produksinya tidak terserap pasar. Jadi tidak mungkin semena-mena menaikkan harga.
Produsen pasti makin kreatif, mencoba memberikan nilai tambah produk dari aspek yang tidak menjadikan harga naik, seperti aspek disain, model dan aplikasi yang menarik. Karena mereka tahu, sebisa mungkin masih harus menyajikan produk yang terjangkau.
Produsen juga hati-hati dalam mengkomunikasikan harga ke pengecer. Produsen juga ingin membangun pengertian bersama, bahwa produsen dan pengecer harus bisa saling memahami dampak kenaikan harga.
Demikian juga pedagang bahan produksi, selama harga pabrik ngga naik, harga bahan juga cenderung tetap. Kalaupun naik pasti perlahan dan bertahap. Sektor hulu cenderung menaikkan harga bertahap.
Dari Sisi Makro
Dampak kenaikan harga BBM adalah berantai. Semua kena dampaknya. Kenaikan harga terjadi di semua komoditas. Namun semua juga sedang menuju KESEIMBANGAN BARU. Karena pada dasarkan ekonomi tidak akan berhenti. Inflansi juga pasti terjadi. Semua hanya ganti harga saja, namun ada shock disini, dan butuh waktu untuk pulih.
Namun ada sedikit penggembira, jika naik bulan Juni, kita bisa agak sedikit tidak perlu khawatir, karena bulan Juli- Desember adalah bulan belanja pemerintah. Artinya, ekonomi sudah pasti berjalan. Ingat, pertumbuhan eknomi kita sangat tergantung dari belanja pemerintah.
Kita wajib bertahan sampai event LEBARAN 2008 (bulan Oktober), karena disini tidak ada lagi pengaruh kenaikan harga BBM, semua pasti terlena dengan event belanja lebaran.
Kenaikan harga BBM bukanlah Lonceng Kematian, HUKUMNYA WAJIB KITA HARUS BERTAHAN.
Salam sukses
Rosihan
Re-launching SAQINA.COM
Tuesday, May 20, 2008
Sunday, April 20, 2008
SAQINA Tas & Asesoris .. mohon Doa Restu
Memulai Lagi Sesuatu dari Nol
Bulan Maret ini, saya sedang memulai sesuatu yang sangat baru dari Nol, yaitu membuka toko khusus, SAQINA Tas dan Asesoris (1 foto toko ada di blog saya). Saya bersama istri berjibaku mendapatkan ilmu, pengetahuan dan pengalaman praktis tentang bisnis baru ini. Seperti halnya yang telah saya yakini, LOA selalu bekerja untuk kita, ketika kita secara total memusatkan pikiran pada satu tujuan pencapaian tertentu, secara kontinyu pada rentang waktu tertentu.
Untuk membuka wawasan tentang bisnis baru ini, saya melakukan beberapa langkah umum yang memang seharusnya dilakukan.
Langkah 1 : Cari Wawasan tentang Produk.
Sebelum membuka toko, kita wajib tahu komplit segala yang berkaitan dengan produk yang akan kita jual. Cara termudah adalah mengakses media informasi yang tersedia. Untuk memahami produk Tas & Asesoris ini, saya mulai dengan memborong majalah bekas dan baru yang banyak iklannya soal Tas. Kalau produk busana muslim kita bisa belajar dari majalah seperti Ummi, Annida, Alia, Paras, dll, maka untuk Tas saya belajar dari majalah seperti Cosmopolitant, Bazaar, Elle, dll. Suatu yang beda khan ? Dari info produk di majalah ini, saya bisa browsing merek-2 terkenal di internet, baik melalui official website-nya, maupun melalui toko online tas.
Langkah 2 : Mencari Sumber Produk yang Termurah.
Ini adalah langkah yang kadang mudah kadang susah menemukannya. Karena saya adalah pengecer biasa, wajib berusaha sekuat tenaga mendapatkan informasi dimana pusat-pusat perkulakan tas dan asesoris termurah. Disinilah berkah silaturrahmi offline begitu terasa. Banyak Member TDA yang membantu saya mendapatkannya. Bahkan Pak Murti Darmawanto (Anto) (www.bajuanak.net) tidak disangka pernah bisnis tas juga di tahun 2006. Pak Anto seharian mengantarkan saya langsung ke pusat perkulakan tas di daerah Perniagaan. Special Tanks for Pak Anto. Ini semua adalah berkah silaturrahmi offline.
Cara lain adalah langsung datang ke pusat-pusat perkulakan yang sempat saya dengar, misal di Mangga Dua, Pasar Senen, Tajur Bogor sampai Tanggulangin Sidoarjo. Disinilah ongkos belajar harus dibayar. Mencari satu toko termurah ada seninya. Tidak mudah langsung dapat, kadang juga dapat yang kemahalan. Jika kita sedang membeli banyak, sempatkan bertanya-tanya tentang siklus barang, model, range harga. Ada baiknya jujur kita sampaikan kalau kita baru belajar buka toko tas. Kalau kita berprasangka baik, ilmu berguna bisa kita dapatkan.
Belajar dari majalah, Internet, blog, sahabat di Komunitas dan juga belajar langsung ke produsen/supplier adalah langkah awal mencari pengetahuan. Setiap bisnis selalu ada pemain lama, dan kita bisa berguru pada pemain lama itu, sekaligus mencoba membeli barang dagangannya. Kadang untuk mendapatkan ilmu ini, saya perlu belanja 3 sampai 10 barang, untuk sekedar mendapatkan harga grosir dan membuka relasi.
Langkah 3 : Merencanakan Detil Besaran Kulakan Produk di Awal
Setiap membuat toko, saya selalu merencanakan tata letak barang secara detil disetiap area, dalam bentuk kategori, jenis produk dan jumlahnya. Sangat detil, mengapa ? karena disini ada hubungan erat dengan jumlah modal yang dialokasikan untuk pengadaan barang awal. Saya berusaha seoptimal mungkin jika toko baru buka, selalu langsung terpenuhi dengan barang dagangan, walaupun tanpa stok. Untuk itu, jumlah barang disetiap rak sudah dihitung jauh-jauh hari bersamaan dengan disain interior.
Mengapa tanpa stok ? karena kita baru meraba market. Kita belum tahu betul antara kebutuhan dan keinginan pelanggan. Jadinya range produk diawal selalu lebar. Kita jualan tas dari harga 50 ribu sampai 500 ribu, berjenjang. Dari tas lokal sampai impor KW1. Karena toko ini di kabupaten, kita coba penuhi dulu kebutuhan pelanggan yang terjangkau, misal dengan tas lokal yang murah. Tapi jangan lupa juga meng-iming-iming pelanggan dengan produk mahal dan kualitas terbaik. Ini adalah proses menciptakan keinginan pelanggan, menciptakan mimpi-mimpi pembelian. Suatu saat pasti ada pelanggan yang awalnya melihat-lihat saja, belum berani beli, tapi ternyata menyimpan mimpi untuk membeli suatu saat nanti. Lah kalau pelanggan tidak kita ciptakan mimpinya melalui display produk secara nyata, akan susah terjadi penjualan tak terduga.
Langkah 4 : Menata Toko dengan Bersemangat
Salah satu hal paling saya tunggu adalah menata semua hal ketika toko baru buka, khususnya interior. Mengapa ? karena saya secara hati mencintai bidang disain interior. Hal paling penting adalah memetakan flow, aliran pelanggan masuk, dan mencari titik-titik penting area yang paling menyedot perhatian pelanggan ketika pertama kali masuk. Sebenarnya ini ilmu Visual Merchandising, saya pengin kuliah soal ini tapi mahal. Sehingga ilmunya otodidak dari melihat di mal-mal, dan feeling saja. Biasanya interior masih kita ubah-ubah selama 3 bulan untuk penyesuaian.
Langkah 5 : Soft launching dengan Promosi Murah
Soft launching biasanya kita lakukan selama 1 bulan, sekaligus masa penyiapan karyawan, sistem, stok barang dan hal-hal detil lainnya. Supaya segera terjadi penjualan, segera dilakukan promosi murah melalui spanduk, penyebaran brosur, dan SMS Broadcast ke pelanggan busana muslim. Setiap ada pelanggan masuk toko, kita ajak diskusi kira-kira kebutuhan akan model tas terpenuhi apa tidak, apa ada masukan dan lainnya.
Apa toko langsung laku ? biasanya iya. Tetapi selama 6 bulan kita selalu siapkan dana cadangan untuk operasional toko. Fokus 6 bulan pertama adalah menetapkan segmentasi pelanggan yang akan ditargetkan sebagai tujuan utama. Kadang ini satu hal terbalik, buka toko dulu baru segmentasi, seharusnya menentukan segmentasi dulu baru buka toko. Tapi penerapan ilmu manajemen kadang tidak harus urut.
Ok, cerita selanjutnya bersambung. Saya hanya berharap doa restu dari teman-teman semua, semoga toko SAQINA Tas & Asesoris sukses sesuai tujuan, yaitu memberikan berkah bagi sang empunya.
New WebStore : www.sajidah.com
Salam
http://mohamadrosihan.blogspot.com
www.muslimdistro.com (Kaos Muslim Kualitas Distro)
www.sajidah.com (New WebStore - Koko, Mukena & Peci Kualitas Terbaik)
www.saqina.com (Jaringan Ritel Busana & Perlengkapan Muslim)
www.neslink.com (IT Consultant)
Bulan Maret ini, saya sedang memulai sesuatu yang sangat baru dari Nol, yaitu membuka toko khusus, SAQINA Tas dan Asesoris (1 foto toko ada di blog saya). Saya bersama istri berjibaku mendapatkan ilmu, pengetahuan dan pengalaman praktis tentang bisnis baru ini. Seperti halnya yang telah saya yakini, LOA selalu bekerja untuk kita, ketika kita secara total memusatkan pikiran pada satu tujuan pencapaian tertentu, secara kontinyu pada rentang waktu tertentu.
Untuk membuka wawasan tentang bisnis baru ini, saya melakukan beberapa langkah umum yang memang seharusnya dilakukan.
Langkah 1 : Cari Wawasan tentang Produk.
Sebelum membuka toko, kita wajib tahu komplit segala yang berkaitan dengan produk yang akan kita jual. Cara termudah adalah mengakses media informasi yang tersedia. Untuk memahami produk Tas & Asesoris ini, saya mulai dengan memborong majalah bekas dan baru yang banyak iklannya soal Tas. Kalau produk busana muslim kita bisa belajar dari majalah seperti Ummi, Annida, Alia, Paras, dll, maka untuk Tas saya belajar dari majalah seperti Cosmopolitant, Bazaar, Elle, dll. Suatu yang beda khan ? Dari info produk di majalah ini, saya bisa browsing merek-2 terkenal di internet, baik melalui official website-nya, maupun melalui toko online tas.
Langkah 2 : Mencari Sumber Produk yang Termurah.
Ini adalah langkah yang kadang mudah kadang susah menemukannya. Karena saya adalah pengecer biasa, wajib berusaha sekuat tenaga mendapatkan informasi dimana pusat-pusat perkulakan tas dan asesoris termurah. Disinilah berkah silaturrahmi offline begitu terasa. Banyak Member TDA yang membantu saya mendapatkannya. Bahkan Pak Murti Darmawanto (Anto) (www.bajuanak.net) tidak disangka pernah bisnis tas juga di tahun 2006. Pak Anto seharian mengantarkan saya langsung ke pusat perkulakan tas di daerah Perniagaan. Special Tanks for Pak Anto. Ini semua adalah berkah silaturrahmi offline.
Cara lain adalah langsung datang ke pusat-pusat perkulakan yang sempat saya dengar, misal di Mangga Dua, Pasar Senen, Tajur Bogor sampai Tanggulangin Sidoarjo. Disinilah ongkos belajar harus dibayar. Mencari satu toko termurah ada seninya. Tidak mudah langsung dapat, kadang juga dapat yang kemahalan. Jika kita sedang membeli banyak, sempatkan bertanya-tanya tentang siklus barang, model, range harga. Ada baiknya jujur kita sampaikan kalau kita baru belajar buka toko tas. Kalau kita berprasangka baik, ilmu berguna bisa kita dapatkan.
Belajar dari majalah, Internet, blog, sahabat di Komunitas dan juga belajar langsung ke produsen/supplier adalah langkah awal mencari pengetahuan. Setiap bisnis selalu ada pemain lama, dan kita bisa berguru pada pemain lama itu, sekaligus mencoba membeli barang dagangannya. Kadang untuk mendapatkan ilmu ini, saya perlu belanja 3 sampai 10 barang, untuk sekedar mendapatkan harga grosir dan membuka relasi.
Langkah 3 : Merencanakan Detil Besaran Kulakan Produk di Awal
Setiap membuat toko, saya selalu merencanakan tata letak barang secara detil disetiap area, dalam bentuk kategori, jenis produk dan jumlahnya. Sangat detil, mengapa ? karena disini ada hubungan erat dengan jumlah modal yang dialokasikan untuk pengadaan barang awal. Saya berusaha seoptimal mungkin jika toko baru buka, selalu langsung terpenuhi dengan barang dagangan, walaupun tanpa stok. Untuk itu, jumlah barang disetiap rak sudah dihitung jauh-jauh hari bersamaan dengan disain interior.
Mengapa tanpa stok ? karena kita baru meraba market. Kita belum tahu betul antara kebutuhan dan keinginan pelanggan. Jadinya range produk diawal selalu lebar. Kita jualan tas dari harga 50 ribu sampai 500 ribu, berjenjang. Dari tas lokal sampai impor KW1. Karena toko ini di kabupaten, kita coba penuhi dulu kebutuhan pelanggan yang terjangkau, misal dengan tas lokal yang murah. Tapi jangan lupa juga meng-iming-iming pelanggan dengan produk mahal dan kualitas terbaik. Ini adalah proses menciptakan keinginan pelanggan, menciptakan mimpi-mimpi pembelian. Suatu saat pasti ada pelanggan yang awalnya melihat-lihat saja, belum berani beli, tapi ternyata menyimpan mimpi untuk membeli suatu saat nanti. Lah kalau pelanggan tidak kita ciptakan mimpinya melalui display produk secara nyata, akan susah terjadi penjualan tak terduga.
Langkah 4 : Menata Toko dengan Bersemangat
Salah satu hal paling saya tunggu adalah menata semua hal ketika toko baru buka, khususnya interior. Mengapa ? karena saya secara hati mencintai bidang disain interior. Hal paling penting adalah memetakan flow, aliran pelanggan masuk, dan mencari titik-titik penting area yang paling menyedot perhatian pelanggan ketika pertama kali masuk. Sebenarnya ini ilmu Visual Merchandising, saya pengin kuliah soal ini tapi mahal. Sehingga ilmunya otodidak dari melihat di mal-mal, dan feeling saja. Biasanya interior masih kita ubah-ubah selama 3 bulan untuk penyesuaian.
Langkah 5 : Soft launching dengan Promosi Murah
Soft launching biasanya kita lakukan selama 1 bulan, sekaligus masa penyiapan karyawan, sistem, stok barang dan hal-hal detil lainnya. Supaya segera terjadi penjualan, segera dilakukan promosi murah melalui spanduk, penyebaran brosur, dan SMS Broadcast ke pelanggan busana muslim. Setiap ada pelanggan masuk toko, kita ajak diskusi kira-kira kebutuhan akan model tas terpenuhi apa tidak, apa ada masukan dan lainnya.
Apa toko langsung laku ? biasanya iya. Tetapi selama 6 bulan kita selalu siapkan dana cadangan untuk operasional toko. Fokus 6 bulan pertama adalah menetapkan segmentasi pelanggan yang akan ditargetkan sebagai tujuan utama. Kadang ini satu hal terbalik, buka toko dulu baru segmentasi, seharusnya menentukan segmentasi dulu baru buka toko. Tapi penerapan ilmu manajemen kadang tidak harus urut.
Ok, cerita selanjutnya bersambung. Saya hanya berharap doa restu dari teman-teman semua, semoga toko SAQINA Tas & Asesoris sukses sesuai tujuan, yaitu memberikan berkah bagi sang empunya.
New WebStore : www.sajidah.com
Salam
http://mohamadrosihan.blogspot.com
www.muslimdistro.com (Kaos Muslim Kualitas Distro)
www.sajidah.com (New WebStore - Koko, Mukena & Peci Kualitas Terbaik)
www.saqina.com (Jaringan Ritel Busana & Perlengkapan Muslim)
www.neslink.com (IT Consultant)
Friday, March 28, 2008
Enaknya Nongkrong di Republik Kuliner
Bersama TDA Bandung, Kamis sore 27 Maret saya menikmati enaknya suasana dan makanan di Republik Kuliner, buah karya Kang Agah. Waktu diumumkan di milis beberapa waktu lalu, saya sempat terhenyak membaca lokasinya, di Jl. Merdeka, di komplek Soes Merdeka, wah ..ini khan lokasi premium di Bandung. Ternyata benar. Lokasi Republik Kuliner ada disana. Lokasi yang dari dulu selalu ramai di Bandung, hanya berseberangan dengan BIP, beberapa meter dari KFC, McD dan Gramedia.
Bersyukur TDA Bandung sudah punya tempat nongkrong baru, yang cukup luas dengan suasana yang nyaman. Saya yakin bisa dikembangkan banyak acara TDA disana, mulai dari bedah buku, nobar, workshop, main bareng cash flow game misalnya atau hanya sekedar diskusi. Saya dengar tidak lama lagi akan hadir layanan hotspot disana. Saya sempat ngga percaya melihat harga-harga makanan disana, dijamin murah. Sangat pas buat kantong mahasiswa, juga kantong kita-kita. Ada pilihan makanan steak sampai seafood. Sempat diskusi juga, akan tambah rame jika ada pilihan mie dan makanan khas bandung.
Bersama Pak Faif, kita yang hadir benar-benar dapet rejeki disore itu. Sudah berkesempatan bertemu dengan temen-2 TDA seperti Pak Fauzi, Teh Leny, Pak Eko, Kang Agah, Mas Agus, Mas Risdy, Ibu Betty, dan beberapa rekan lainnya, kami semua bisa makan enak dan murah disana. Pas mau bubaran, Pak Fauzi Rachmanto dengan halus menolak kami-kami untuk bayar sendiri. Kami semua jadinya di traktir sama Pak Fauzi. Kata Pak Fauzi “soalnya murah banget disini, saya aja yang bayar ..!” He…he…he… jadi jangan takut makan kalau ada acara TDA Bandung di Republik Kuliner, dijamin murah, apalagi kalau ada Pak Fauzi, dijamin gratis euy … he..he..he… (thanks Pak atas traktirannya …)
rosihan . bandung . 270308
Bersyukur TDA Bandung sudah punya tempat nongkrong baru, yang cukup luas dengan suasana yang nyaman. Saya yakin bisa dikembangkan banyak acara TDA disana, mulai dari bedah buku, nobar, workshop, main bareng cash flow game misalnya atau hanya sekedar diskusi. Saya dengar tidak lama lagi akan hadir layanan hotspot disana. Saya sempat ngga percaya melihat harga-harga makanan disana, dijamin murah. Sangat pas buat kantong mahasiswa, juga kantong kita-kita. Ada pilihan makanan steak sampai seafood. Sempat diskusi juga, akan tambah rame jika ada pilihan mie dan makanan khas bandung.
Bersama Pak Faif, kita yang hadir benar-benar dapet rejeki disore itu. Sudah berkesempatan bertemu dengan temen-2 TDA seperti Pak Fauzi, Teh Leny, Pak Eko, Kang Agah, Mas Agus, Mas Risdy, Ibu Betty, dan beberapa rekan lainnya, kami semua bisa makan enak dan murah disana. Pas mau bubaran, Pak Fauzi Rachmanto dengan halus menolak kami-kami untuk bayar sendiri. Kami semua jadinya di traktir sama Pak Fauzi. Kata Pak Fauzi “soalnya murah banget disini, saya aja yang bayar ..!” He…he…he… jadi jangan takut makan kalau ada acara TDA Bandung di Republik Kuliner, dijamin murah, apalagi kalau ada Pak Fauzi, dijamin gratis euy … he..he..he… (thanks Pak atas traktirannya …)
rosihan . bandung . 270308
Tuesday, March 11, 2008
Entrepreneur Viagra
Lama Si Bedul tidak nampak. Ternyata selama beberapa bulan ini dia loyo banget. Semangatnya sedang ada dijurang kegelapan. Padahal beberapa waktu lalu Si Bedul masih berkobar-kobar dan berkoar-koar soal kewirausahaan. Sampai Gus Pur pun perlu memanggilnya secara khusus.
Gus Pur : “ Dul, kamu ini kemana aja ? ngga ada kabarnya itu sibuk atau tenggelam ?”
Si Bedul : “ Lagi tenggelam Gus, soalnya stamina bertahan njalanin bisnis lagi ngga ok, bisnis saya lagi lagi lesu, soalnya kemarin sudah sampai klimaks-nya “
Gus Pur : “Kamu emang bisnis apa sih ?
Si Bedul : “ Saya lagi bisnis bunga Gus, itu yang sekarang lagi banyak diburu orang, ada anturium dan gelombang cinta. Eh, pas saya sudah borong bibitnya dan coba nggedein itu bunga, pas udah gede dan siap jual, harganya sudah jeblok. Kata orang, trennya udah ganti ke Gelombang Rindu !... wualah, modal saya jadi tertanam di pojok pekarangan rumah saya Gus.”
Gus Pur : “ha..ha..ha …. (Gus Pur tertawa terkekeh-kekeh …), Kamu itu lucu Dul, semangat kewirausahaan kamu belum sebanding dengan kejelianmu melihat struktur suatu bisnis. Kamu masih terpukau dengan bisnis-bisnis yang sexy”
Si Bedul : “Ya gimana Gus, saya khan ngga mau nanggung resiko gagal, saya penginnya cepat untung, dan ya ngga salah saya masuk ke bisnis yang lagi sexy ini”
Gus Pur : “he..he..hi..hi …. (Gus Pur tertawa terpingkal-pingkal …), Kamu itu memang selalu tidak tahan melihat yang sexy-sexy Dul…
Kamu ini jangan selalu tertarik sama yang sexy. Sexy itu memang indah, menggairahkan. Tapi kadang menipu, sexy-nya itu kadang kemasannya doang. Dalamnya seringkali tidak seperti kemasannya. Sexy itu diciptakan, ada konsepnya, tidak terjadi begitu saja, trennya digulirkan, dicitrakan di media, lalu digunjingkan, dan dipamerkan secara terbuka, untuk selanjutnya supaya tercipta iklim perburuan.
Setiap saat selalu ada bisnis-bisnis sexy yang menarik banyak orang. Banyak orang tergila-gila anturium, gelombang cinta, ikan lohan, arwana, lobster, ternak jangkrik, ternak cacing, dan lainnya. Kamu semua itu pernah dengar khan ? semua menjanjikan keuntungan besar dalam sekejap. Sepertinya model bisnisnya gampang, simpel, dan semua orang bisa masuk. Bisnis-nya dikemas sedemikian sexy, bahkan ada kontes dan lomba-lomba segala. Padahal itu hanya untuk meningkatkan value secara bubble (gelembung).
Apa bisnis itu salah ? ..oh ngga … yang salah itu kamu Dul, yang ikut-ikutan. Mereka para pebisnis yang membesarkan bisnis anturium, gelombang cinta dan lain-2 itu enterpreneur betulan. Merekalah yang menciptakan value dari tidak terkenal menjadi terkenal dan diburu orang. Hidup matinya mereka dari bisnis itu. Mereka mengambil posisi yang fundamental, root, produsen, pencipta, pembuat value, dan menjual grosirannya. Mereka akan terus menciptakan tren melalui produknya.
Lah kamu korban dari value, kamu membeli eceran produk yang sudah terkemas oleh value yang berlebihan, dan kamu berharap bisa menjual ke orang lain, dan kamu hanya ingin untung jangka pendek dari selisih harga. Kamu tidak masuk dalam fundamental bisnisnya. Kamu hanya membelai-belai kulitnya. Kamu terkesima dengan sisi luar dari bisnisnya, yang kamu tanpa sadari sudah kamu anggap sebagai bisnis sebenarnya.
Nah, kalau kamu hanya tergila-gila pada bisnis apapun yang lagi sexy, pasti kamu hanya akan terpikat luarnya. Kalaupun kamu bisa menjalani bisnis-bisnis yang sexy itu, kekuatan-mu itu semu. Stamina enterpreneur-mu itu sesaat, kamu tidak lebih hanya sejenis Enterpreneur Viagra. On sebentar, tapi kalau bisnis sexy itu sudah sampai klimaks-nya, ganti tren, kamu pasti loyo.
Stamina entrepreneurship seperti itu tidak natural Dul, semu !. Karena Stamina entrepreneurship itu muncul hanya untuk menjalankan bisnis sexy itu, padahal kamu belum tahu bagian dalamnya dan segala permainannya dalam bisnis itu. Kamu belum pernah bersungguh-sungguh mencari, memilih dan mejalani bisnis yang fundamental, yang tentunya sesuai dengan mimpimu !
Stamina entrepreneurship yang natural hanya hadir jika pemicunya adalah mimpimu yang sesungguhnya. Lah mimpimu itu apa ? yang kongkrit ! jangan hanya bebas finansial dan passive income aja ! yang penting itu kendaraanmu apa ? Cari bisnis yang fundamental, yang pasti dibutuhkan orang sepanjang jaman.
Dasar kamu Dul, stamina enterpreneur-mu masih seperti naik turunnya syahwat-mu. Kadang on gak karuan, kadang loyo … (Gus Pur masih terkekeh-kekeh …)
Si Bedul : “ Lah terus gimana Gus (dalam hati, kurangajar nih si Gus, dipanggil hanya untuk diceramahi)
Gus Pur : “ha..ha..ha …. Ya sudah, kamu tirakat bisnis aja dulu, baca itu sejarah perusahaan-perusahaan besar yang umurnya sudah diatas 100 tahun ….
Gus Pur : “ Dul, kamu ini kemana aja ? ngga ada kabarnya itu sibuk atau tenggelam ?”
Si Bedul : “ Lagi tenggelam Gus, soalnya stamina bertahan njalanin bisnis lagi ngga ok, bisnis saya lagi lagi lesu, soalnya kemarin sudah sampai klimaks-nya “
Gus Pur : “Kamu emang bisnis apa sih ?
Si Bedul : “ Saya lagi bisnis bunga Gus, itu yang sekarang lagi banyak diburu orang, ada anturium dan gelombang cinta. Eh, pas saya sudah borong bibitnya dan coba nggedein itu bunga, pas udah gede dan siap jual, harganya sudah jeblok. Kata orang, trennya udah ganti ke Gelombang Rindu !... wualah, modal saya jadi tertanam di pojok pekarangan rumah saya Gus.”
Gus Pur : “ha..ha..ha …. (Gus Pur tertawa terkekeh-kekeh …), Kamu itu lucu Dul, semangat kewirausahaan kamu belum sebanding dengan kejelianmu melihat struktur suatu bisnis. Kamu masih terpukau dengan bisnis-bisnis yang sexy”
Si Bedul : “Ya gimana Gus, saya khan ngga mau nanggung resiko gagal, saya penginnya cepat untung, dan ya ngga salah saya masuk ke bisnis yang lagi sexy ini”
Gus Pur : “he..he..hi..hi …. (Gus Pur tertawa terpingkal-pingkal …), Kamu itu memang selalu tidak tahan melihat yang sexy-sexy Dul…
Kamu ini jangan selalu tertarik sama yang sexy. Sexy itu memang indah, menggairahkan. Tapi kadang menipu, sexy-nya itu kadang kemasannya doang. Dalamnya seringkali tidak seperti kemasannya. Sexy itu diciptakan, ada konsepnya, tidak terjadi begitu saja, trennya digulirkan, dicitrakan di media, lalu digunjingkan, dan dipamerkan secara terbuka, untuk selanjutnya supaya tercipta iklim perburuan.
Setiap saat selalu ada bisnis-bisnis sexy yang menarik banyak orang. Banyak orang tergila-gila anturium, gelombang cinta, ikan lohan, arwana, lobster, ternak jangkrik, ternak cacing, dan lainnya. Kamu semua itu pernah dengar khan ? semua menjanjikan keuntungan besar dalam sekejap. Sepertinya model bisnisnya gampang, simpel, dan semua orang bisa masuk. Bisnis-nya dikemas sedemikian sexy, bahkan ada kontes dan lomba-lomba segala. Padahal itu hanya untuk meningkatkan value secara bubble (gelembung).
Apa bisnis itu salah ? ..oh ngga … yang salah itu kamu Dul, yang ikut-ikutan. Mereka para pebisnis yang membesarkan bisnis anturium, gelombang cinta dan lain-2 itu enterpreneur betulan. Merekalah yang menciptakan value dari tidak terkenal menjadi terkenal dan diburu orang. Hidup matinya mereka dari bisnis itu. Mereka mengambil posisi yang fundamental, root, produsen, pencipta, pembuat value, dan menjual grosirannya. Mereka akan terus menciptakan tren melalui produknya.
Lah kamu korban dari value, kamu membeli eceran produk yang sudah terkemas oleh value yang berlebihan, dan kamu berharap bisa menjual ke orang lain, dan kamu hanya ingin untung jangka pendek dari selisih harga. Kamu tidak masuk dalam fundamental bisnisnya. Kamu hanya membelai-belai kulitnya. Kamu terkesima dengan sisi luar dari bisnisnya, yang kamu tanpa sadari sudah kamu anggap sebagai bisnis sebenarnya.
Nah, kalau kamu hanya tergila-gila pada bisnis apapun yang lagi sexy, pasti kamu hanya akan terpikat luarnya. Kalaupun kamu bisa menjalani bisnis-bisnis yang sexy itu, kekuatan-mu itu semu. Stamina enterpreneur-mu itu sesaat, kamu tidak lebih hanya sejenis Enterpreneur Viagra. On sebentar, tapi kalau bisnis sexy itu sudah sampai klimaks-nya, ganti tren, kamu pasti loyo.
Stamina entrepreneurship seperti itu tidak natural Dul, semu !. Karena Stamina entrepreneurship itu muncul hanya untuk menjalankan bisnis sexy itu, padahal kamu belum tahu bagian dalamnya dan segala permainannya dalam bisnis itu. Kamu belum pernah bersungguh-sungguh mencari, memilih dan mejalani bisnis yang fundamental, yang tentunya sesuai dengan mimpimu !
Stamina entrepreneurship yang natural hanya hadir jika pemicunya adalah mimpimu yang sesungguhnya. Lah mimpimu itu apa ? yang kongkrit ! jangan hanya bebas finansial dan passive income aja ! yang penting itu kendaraanmu apa ? Cari bisnis yang fundamental, yang pasti dibutuhkan orang sepanjang jaman.
Dasar kamu Dul, stamina enterpreneur-mu masih seperti naik turunnya syahwat-mu. Kadang on gak karuan, kadang loyo … (Gus Pur masih terkekeh-kekeh …)
Si Bedul : “ Lah terus gimana Gus (dalam hati, kurangajar nih si Gus, dipanggil hanya untuk diceramahi)
Gus Pur : “ha..ha..ha …. Ya sudah, kamu tirakat bisnis aja dulu, baca itu sejarah perusahaan-perusahaan besar yang umurnya sudah diatas 100 tahun ….
Cashflow Tornado – Cara Bisnis Kuno Yang Masih Manjur
Mungkin anda pernah lihat, si Engkong yang baru buka toko kelontong eceran di deket rumah. Waktu pertama buka langsung rame, kata orang-2 harganya murah. Si Engkoh memang sengaja pasang harga murah dibanding pesaing disekitarnya yang memang sudah lama jualan. Kata pesaingnya .. “Biasalah … toko baru, lagi cari pelanggan, entar juga balik harga normal”.
Apa Si Engkoh salah ? apa ngga bisa cari nilai tambah ? Waduh … boro-boro nilai tambah. Si Engkoh bisa jualan aja sudah bagus. Sudah modal cekak, ilmu marketing juga ngga jago-2 amat. Apalagi pengalaman punya toko besar, itu baru sebatas mimpi. Tapi apa sih tujuan awal Si Engkoh kok “nilai tambah-nya” main di harga lebih murah ? Apa alasannya
Si Engkoh memang lagi menerapkan apa yang saya istilahkan sebagai Cashflow Tornado, yaitu cara meningkatkan modal dengan menambahkan modal hasil profit di awal bisnis secara terus menerus sampai batas waktu tertentu. Semakin kecil modal, harus semakin kencang perputaran cashflownya. Jadi modal akan terus bertambah, dan tetap diputar lebih kencang. Ini adalah cara kuno pedagang tradisional pekerja keras dalam memulai bisnis. Layaknya angin tornado, lingkaran bagian bawah lebih kecil, berputar lebih cepat, makin keatas makin besar dan putarannya tidak terlalu cepat.
Anda ingin coba ? coba saja segera. Caranya, cari bisnis yang sudah ada, dan memang jelas-jelas rame yang ada disekitar kita. Misal, konter pulsa, perlengkapan motor, warung khusus rokok, dll. Yang pasti dibutuhkan banyak orang sekitar setiap hari. Misal, kita pilih buka warung khusus rokok, mulai rokok kretek sampai rokok putih, komplit.
Apa nilai tambah dari bisnis Warung Rokok ini ? kita cari-cari aja supaya ada. Tapi kita bisa bilang, dibandingkan pesaing sekitar, bahwa nilai tambahnya adalah pelayanan yang prima, tempat nyaman, tampilan etalase rokok yang keren. Dinding warung kita pasang poster iklan rokok dari semua produsen. Kita juga bisa sediakan meja kursi, dan jualan Kopi Gingseng. Pahami kenikmatan para perokok, merokok sambil ngopi enak sekali.
Nilai tambah yang utama adalah semua jenis rokok ada dan selalu tersedia, bisa dibeli satuan, 1/3 atau 1/2 bungkus. Bahkan bisa campur, atau tersedia paket campur yang isinya bisa Ji Sam Soe + Gudang Garam + Sampoerna Mild + Malboro. Boleh juga khan ? asal ngga campur ganja aja. Bisa juga rokok + serbuk kopi, yaitu rokok yang bagian luarnya diolesin endapan kopi lalu dikeringkan. Dan nilai tambah yang paling utama, HARGA ROKOK PALING MURAH !!!
Tapi klo harganya paling murah, berarti untung Warung Rokok ini paling kecil dong … Ya pasti, sudah tahu strategi jualan dengan harga paling murah, ya pasti untungnya paling kecil. Lalu apa strategis-nya bisnis kayak gini ? awalnya kita pasti tidak tahu. Kita maunya Warung Rokok kita langsung rame dan cashflow berputar cepat.
Ternyata setelah kita buka Warung Rokok, dan karena murah, pasti rame, maka tidak kita sangka-sangka kita akan mendapatkan ilmu seperti ini :
· Ilmu 1 : Kita baru tahu kalau profil pelanggan rokok disekitar kita sebagian besar adalah pelanggan papan bawah, artinya beli rokonya eceran, kalau ngga beli satuan, 1/3 atau ½ bungkus. Tapi sehari pasti merokok sekitar 5-12 batang. Dan mereka ini price sensitif. Karena tahu Warung Rokok kita paling murah, dalam waktu 1-2 minggu pelanggan mulai rame.
· Ilmu 2 : Karena kita ramah, kita bisa pelan tapi pasti berhasil mendapatkan gambaran kebutuhan pelanggan atas rokok mereka. Ternyata ada permintaan asesoris sekitar rokok, seperti asbak, korek zippo, dan korek api lainnya. Kita bisa langsung menambahkan item-item yang sebelumnya belum berani kita jual. Ternyata, jualan asesoris perokok ini untungnya bisa 200%. Jadi keuntungan rokok bisa tersubsidi dari jualan asesoris perokok.
· Ilmu 3 : Karena kita ingin mengkomunikasikan nilai tambah kita, maka setiap pelanggan yang datang kita berikan pelayanan terbaik, artinya, kita telah meng-komunikasikan nilai tambah warung rokok kita kepada orang yang tepat. Jika pelanggan makin banyak, kita tentu makin percaya diri menyampaikan nilai tambahnya.
Karena murah dan beberapa nilai tambah, perputaran barang cepat. Cash flow-nya relatif bagus, net profit per bulan selalu ada. Tapi untuk mencapai net profit tersebut, otomatis kita kalang kabut, karena kita harus kulakan rokok ke grosir rokok dan asesoris setiap hari. Kalau tidak kita tidak bisa jualan dengan murah. Tapi demi memutar cash flow, kita harus rela terhanyut dalam Cashflow Tornado.
Cashflow tornado kadang membuat pebisnis pemula merasa capek, tidak bernilai, tidak nyaman dibanding zona nyaman-nya selama ini. Mencari uang kecil aja kok susah, dan kadang dengan mudah men-justifikasi bahwa ini bisnis yang kurang menghasilkan. Padahal yang terpenting sebenarnya bukan hasil jangka pendek, namun proses pembelajaran mengelola dari modal kecil menjadi besar, dan bagaimana kita bisa belajar mendapatkan pelanggan dan mengenali keinginan dan kebutuhan pelanggan dengan tepat dan cepat.
2 tahun kemudian Si Engkoh sudah menjadi Raja Grosir Rokok terbesar di kotanya, dan pesaingnya hanya bisa bilang “gila …murah banget emang jualannya” ….
Kesimpulan :Cashflow Tornado bisa membesarkan modal, sekaligus mengkomunikasikan nilai tambah kepada target yang tepat, dan bisa belajar mendapatkan pelanggan dan mengenali keinginan dan kebutuhan pelanggan dengan tepat dan cepat.
Apa Si Engkoh salah ? apa ngga bisa cari nilai tambah ? Waduh … boro-boro nilai tambah. Si Engkoh bisa jualan aja sudah bagus. Sudah modal cekak, ilmu marketing juga ngga jago-2 amat. Apalagi pengalaman punya toko besar, itu baru sebatas mimpi. Tapi apa sih tujuan awal Si Engkoh kok “nilai tambah-nya” main di harga lebih murah ? Apa alasannya
Si Engkoh memang lagi menerapkan apa yang saya istilahkan sebagai Cashflow Tornado, yaitu cara meningkatkan modal dengan menambahkan modal hasil profit di awal bisnis secara terus menerus sampai batas waktu tertentu. Semakin kecil modal, harus semakin kencang perputaran cashflownya. Jadi modal akan terus bertambah, dan tetap diputar lebih kencang. Ini adalah cara kuno pedagang tradisional pekerja keras dalam memulai bisnis. Layaknya angin tornado, lingkaran bagian bawah lebih kecil, berputar lebih cepat, makin keatas makin besar dan putarannya tidak terlalu cepat.Anda ingin coba ? coba saja segera. Caranya, cari bisnis yang sudah ada, dan memang jelas-jelas rame yang ada disekitar kita. Misal, konter pulsa, perlengkapan motor, warung khusus rokok, dll. Yang pasti dibutuhkan banyak orang sekitar setiap hari. Misal, kita pilih buka warung khusus rokok, mulai rokok kretek sampai rokok putih, komplit.
Apa nilai tambah dari bisnis Warung Rokok ini ? kita cari-cari aja supaya ada. Tapi kita bisa bilang, dibandingkan pesaing sekitar, bahwa nilai tambahnya adalah pelayanan yang prima, tempat nyaman, tampilan etalase rokok yang keren. Dinding warung kita pasang poster iklan rokok dari semua produsen. Kita juga bisa sediakan meja kursi, dan jualan Kopi Gingseng. Pahami kenikmatan para perokok, merokok sambil ngopi enak sekali.
Nilai tambah yang utama adalah semua jenis rokok ada dan selalu tersedia, bisa dibeli satuan, 1/3 atau 1/2 bungkus. Bahkan bisa campur, atau tersedia paket campur yang isinya bisa Ji Sam Soe + Gudang Garam + Sampoerna Mild + Malboro. Boleh juga khan ? asal ngga campur ganja aja. Bisa juga rokok + serbuk kopi, yaitu rokok yang bagian luarnya diolesin endapan kopi lalu dikeringkan. Dan nilai tambah yang paling utama, HARGA ROKOK PALING MURAH !!!
Tapi klo harganya paling murah, berarti untung Warung Rokok ini paling kecil dong … Ya pasti, sudah tahu strategi jualan dengan harga paling murah, ya pasti untungnya paling kecil. Lalu apa strategis-nya bisnis kayak gini ? awalnya kita pasti tidak tahu. Kita maunya Warung Rokok kita langsung rame dan cashflow berputar cepat.
Ternyata setelah kita buka Warung Rokok, dan karena murah, pasti rame, maka tidak kita sangka-sangka kita akan mendapatkan ilmu seperti ini :
· Ilmu 1 : Kita baru tahu kalau profil pelanggan rokok disekitar kita sebagian besar adalah pelanggan papan bawah, artinya beli rokonya eceran, kalau ngga beli satuan, 1/3 atau ½ bungkus. Tapi sehari pasti merokok sekitar 5-12 batang. Dan mereka ini price sensitif. Karena tahu Warung Rokok kita paling murah, dalam waktu 1-2 minggu pelanggan mulai rame.
· Ilmu 2 : Karena kita ramah, kita bisa pelan tapi pasti berhasil mendapatkan gambaran kebutuhan pelanggan atas rokok mereka. Ternyata ada permintaan asesoris sekitar rokok, seperti asbak, korek zippo, dan korek api lainnya. Kita bisa langsung menambahkan item-item yang sebelumnya belum berani kita jual. Ternyata, jualan asesoris perokok ini untungnya bisa 200%. Jadi keuntungan rokok bisa tersubsidi dari jualan asesoris perokok.
· Ilmu 3 : Karena kita ingin mengkomunikasikan nilai tambah kita, maka setiap pelanggan yang datang kita berikan pelayanan terbaik, artinya, kita telah meng-komunikasikan nilai tambah warung rokok kita kepada orang yang tepat. Jika pelanggan makin banyak, kita tentu makin percaya diri menyampaikan nilai tambahnya.
Karena murah dan beberapa nilai tambah, perputaran barang cepat. Cash flow-nya relatif bagus, net profit per bulan selalu ada. Tapi untuk mencapai net profit tersebut, otomatis kita kalang kabut, karena kita harus kulakan rokok ke grosir rokok dan asesoris setiap hari. Kalau tidak kita tidak bisa jualan dengan murah. Tapi demi memutar cash flow, kita harus rela terhanyut dalam Cashflow Tornado.
Cashflow tornado kadang membuat pebisnis pemula merasa capek, tidak bernilai, tidak nyaman dibanding zona nyaman-nya selama ini. Mencari uang kecil aja kok susah, dan kadang dengan mudah men-justifikasi bahwa ini bisnis yang kurang menghasilkan. Padahal yang terpenting sebenarnya bukan hasil jangka pendek, namun proses pembelajaran mengelola dari modal kecil menjadi besar, dan bagaimana kita bisa belajar mendapatkan pelanggan dan mengenali keinginan dan kebutuhan pelanggan dengan tepat dan cepat.
2 tahun kemudian Si Engkoh sudah menjadi Raja Grosir Rokok terbesar di kotanya, dan pesaingnya hanya bisa bilang “gila …murah banget emang jualannya” ….
Kesimpulan :Cashflow Tornado bisa membesarkan modal, sekaligus mengkomunikasikan nilai tambah kepada target yang tepat, dan bisa belajar mendapatkan pelanggan dan mengenali keinginan dan kebutuhan pelanggan dengan tepat dan cepat.
Tuesday, February 12, 2008
Bisnis Harus Dipilih sebagai Media Belajar
“Budaya Tionghoa mengajarkan tidak boleh menunggu tahu segalanya untuk membuka bisnis. Orang Tionghoa juga tidak pernah menunggu paham dan tahu semua hal baru ketika memulai berbisnis. Justru bisnis adalah media belajar, dari TIDAK TAHU menjadi TAHU” (Salim Kartono – dari Buku 5 Jurus Sukses Berbisnis Retail)
Kadang kita sudah terlalu terlena dengan apa yang dinamakan pendidikan formal. Kita seringkali lebih bangga dan lebih rela mengeluarkan ongkos yang sangat mahal untuk membeli pendidikan. Pendidikan formal, kursus, workshop dan lainnya memang bagus, sebagai media pendidikan formal, tetapi bukan media pembelajaran yang riil. Harus ada media pembelajaran lanjutan yang harus dipilih dan dibayar.
Memilih Bisnis sebagai Media Belajar, saya yakini juga sebagai suatu hal yang harus dipilih secara sadar dan wajib, bagi siapapun yang ingin menjadi pewirausaha. Jika ini sudah dipilih, berarti segala konsekuensi, termasuk membayar ongkos belajar-nya, alokasi tenaga, pikiran dan waktu, harus dibayarkan tunai.
Kalau di pendidikan formal kita berjuang keras harus lulus, berarti untuk sekolah disini pun kita harus lebih berjuang lagi. Kalau ngga naik kelas atau ngga lulus kita malu, sehingga harus belajar keras, sama halnya juga, seharusnya kalau kita berbisnis untuk belajar, wajib naik kelas dan lulus.
Dari bisnis riil, kita akan belajar secara langsung untuk memilih, lalu mengambil keputusan. Awalnya lambat, akhirnya kita bisa cepat dalam memilih dan mengambil keputusan. Sedangkan pengalaman dan kemahiran dalam menjalankan roda bisnis, akan berjalan dengan sendirinya seiring berjalannya roda bisnis setiap hari.
Jika kita masih bingung mau bisnis apa, saya rasa tidak ada salahnya memilih bisnis apa saja, yang penting kita sudah punya “sekolah bisnis yang riil”, dan kita punya tanggung jawab untuk berjuang untuk lulus.
Salam
Rosihan
Kadang kita sudah terlalu terlena dengan apa yang dinamakan pendidikan formal. Kita seringkali lebih bangga dan lebih rela mengeluarkan ongkos yang sangat mahal untuk membeli pendidikan. Pendidikan formal, kursus, workshop dan lainnya memang bagus, sebagai media pendidikan formal, tetapi bukan media pembelajaran yang riil. Harus ada media pembelajaran lanjutan yang harus dipilih dan dibayar.
Memilih Bisnis sebagai Media Belajar, saya yakini juga sebagai suatu hal yang harus dipilih secara sadar dan wajib, bagi siapapun yang ingin menjadi pewirausaha. Jika ini sudah dipilih, berarti segala konsekuensi, termasuk membayar ongkos belajar-nya, alokasi tenaga, pikiran dan waktu, harus dibayarkan tunai.
Kalau di pendidikan formal kita berjuang keras harus lulus, berarti untuk sekolah disini pun kita harus lebih berjuang lagi. Kalau ngga naik kelas atau ngga lulus kita malu, sehingga harus belajar keras, sama halnya juga, seharusnya kalau kita berbisnis untuk belajar, wajib naik kelas dan lulus.
Dari bisnis riil, kita akan belajar secara langsung untuk memilih, lalu mengambil keputusan. Awalnya lambat, akhirnya kita bisa cepat dalam memilih dan mengambil keputusan. Sedangkan pengalaman dan kemahiran dalam menjalankan roda bisnis, akan berjalan dengan sendirinya seiring berjalannya roda bisnis setiap hari.
Jika kita masih bingung mau bisnis apa, saya rasa tidak ada salahnya memilih bisnis apa saja, yang penting kita sudah punya “sekolah bisnis yang riil”, dan kita punya tanggung jawab untuk berjuang untuk lulus.
Salam
Rosihan
Tuesday, February 5, 2008
Emotional Bank Account (EBA)
Emotional Bank Account (EBA) adalah ilmu lama. Saya sendiri mengetahuinya sejak 1997 ketika belajar Seven Habbits-nya Stephen Covey. EBA adalah salah satu hal penting dalam hubungan antar manusia, apalagi dalam hubungan bisnis.
Mempunyai EBA adalah seperti kita mempunyai rekening deposito di Bank A, dan idealnya kita dapat selalu menambah deposito tersebut. EBA adalah Rekening Bank Kepercayaan yang kita tanamkan ke seseorang dalam suatu hubungan. Intinya adalah, seberapa banyak kita menanamkan rasa percaya orang lain kepada kita, dalam banyak hal.
EBA saya angkat kembali sebagai tulisan disini untuk mengingatkan kita, betapa penting membangun dan menanamkan rasa percaya antar orang per orang dalam suatu komunitas. Kita tidak bisa semena-mena dengan mudah mengatasnamakan komunitas untuk “memaksa” orang lain percaya dengan kita. Apalagi untuk percaya memberikan kemudahan dalam urusan bisnis.
Stephen Covey mengingatkan hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu, tapi mungkin kita lupa melakukannya. Ada beberapa cara menanamkan kepercayaan :
1. Mengenal Individu
Cara kuno mengenal individu adalah silaturrahmi. Silaturahmi yang tampak mata adalah berjabat tangan, membuat janji lebih sering bertemu di waktu luang, dan bisa lebih indah berkunjung kerumah, mengenal secara kekeluargaan. Lupakan cara online disini. Tidak ada emosi yang luar biasa bisa ditanamkan jika kita memulai silaturrahmi dengan cara online. Untuk itu, TDA sangat gencar mengadakan acara offline.
2. Menanamkan kesan yang baik
Ini maksudnya bukan akting, tapi betul-betul menanamkan aura selalu positif kepada orang lain. Ini bisa dimunculkan melalui hal-hal kecil, melalui pembicaraan yang ringan
3. Memenuhi komitmen
Komitmen adalah kata kunci dalam hubungan. Komitmen adalah Janji. Jika kita sudah mengeluarkan komitmen/janji, otomatis orang lain akan mengeluarkan harapan untuk bisa terpenuhi atas janji tersebut. Sekali janji dilanggar, kita telah menarik deposito rasa kepercayaan yang cukup besar. Menilai personal yang selalu mempunyai komitmen tinggi, sangat mudah dilihat dari kegiatan-kegiatan yang non profit. Jika yang non profit aja komitmennya tinggi, biasanya akan lebih komitmennya untuk kegiatan profit.
4. Komunikasi yang terbuka
Selalu mengkomunikasikan segala sesuatu secara terbuka, jujur dan apa adanya. Berbicara secara eksplisit, tanpa pernah ada itikad menyembunyikan sesuatu (implisit), apalagi politiking.
5. Memperlihatkan Intergritas Pribadi
Integritas memiliki definisi deskriptif yang luas. Integritas bisa berarti anda sesuai dengan yang anda katakan, bisa juga berarti kejujuran, bisa berarti tidak bermuka dua, memperlakukan orang lain dengan perangkat prinsip yang sama, tidak melanggar sistem nilai yang dia anut.
6. Meminta maaf, mengkomunikasikan apa yang terjadi
Jika suatu komitmen tidak terpenuhi, kepercayaan masih bisa dipertahankan jika kita bisa mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan baik, tentunya diiringi dengan permintaan maaf dan komitmen lanjutan.
Semua diatas sebenarnya sudah kita ketahui, bukan hal baru. Namun kadang kita lupa melakukannya, sehingga banyak buku ditulis ulang untuk sekedar mengingatkan.
Salam
(untuk TDA yang sedang menuju Trusted Society)
rosihan
Mempunyai EBA adalah seperti kita mempunyai rekening deposito di Bank A, dan idealnya kita dapat selalu menambah deposito tersebut. EBA adalah Rekening Bank Kepercayaan yang kita tanamkan ke seseorang dalam suatu hubungan. Intinya adalah, seberapa banyak kita menanamkan rasa percaya orang lain kepada kita, dalam banyak hal.
EBA saya angkat kembali sebagai tulisan disini untuk mengingatkan kita, betapa penting membangun dan menanamkan rasa percaya antar orang per orang dalam suatu komunitas. Kita tidak bisa semena-mena dengan mudah mengatasnamakan komunitas untuk “memaksa” orang lain percaya dengan kita. Apalagi untuk percaya memberikan kemudahan dalam urusan bisnis.
Stephen Covey mengingatkan hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu, tapi mungkin kita lupa melakukannya. Ada beberapa cara menanamkan kepercayaan :
1. Mengenal Individu
Cara kuno mengenal individu adalah silaturrahmi. Silaturahmi yang tampak mata adalah berjabat tangan, membuat janji lebih sering bertemu di waktu luang, dan bisa lebih indah berkunjung kerumah, mengenal secara kekeluargaan. Lupakan cara online disini. Tidak ada emosi yang luar biasa bisa ditanamkan jika kita memulai silaturrahmi dengan cara online. Untuk itu, TDA sangat gencar mengadakan acara offline.
2. Menanamkan kesan yang baik
Ini maksudnya bukan akting, tapi betul-betul menanamkan aura selalu positif kepada orang lain. Ini bisa dimunculkan melalui hal-hal kecil, melalui pembicaraan yang ringan
3. Memenuhi komitmen
Komitmen adalah kata kunci dalam hubungan. Komitmen adalah Janji. Jika kita sudah mengeluarkan komitmen/janji, otomatis orang lain akan mengeluarkan harapan untuk bisa terpenuhi atas janji tersebut. Sekali janji dilanggar, kita telah menarik deposito rasa kepercayaan yang cukup besar. Menilai personal yang selalu mempunyai komitmen tinggi, sangat mudah dilihat dari kegiatan-kegiatan yang non profit. Jika yang non profit aja komitmennya tinggi, biasanya akan lebih komitmennya untuk kegiatan profit.
4. Komunikasi yang terbuka
Selalu mengkomunikasikan segala sesuatu secara terbuka, jujur dan apa adanya. Berbicara secara eksplisit, tanpa pernah ada itikad menyembunyikan sesuatu (implisit), apalagi politiking.
5. Memperlihatkan Intergritas Pribadi
Integritas memiliki definisi deskriptif yang luas. Integritas bisa berarti anda sesuai dengan yang anda katakan, bisa juga berarti kejujuran, bisa berarti tidak bermuka dua, memperlakukan orang lain dengan perangkat prinsip yang sama, tidak melanggar sistem nilai yang dia anut.
6. Meminta maaf, mengkomunikasikan apa yang terjadi
Jika suatu komitmen tidak terpenuhi, kepercayaan masih bisa dipertahankan jika kita bisa mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan baik, tentunya diiringi dengan permintaan maaf dan komitmen lanjutan.
Semua diatas sebenarnya sudah kita ketahui, bukan hal baru. Namun kadang kita lupa melakukannya, sehingga banyak buku ditulis ulang untuk sekedar mengingatkan.
Salam
(untuk TDA yang sedang menuju Trusted Society)
rosihan
Subscribe to:
Posts (Atom)



