Re-launching SAQINA.COM

Re-launching SAQINA.COM
Bisnis online sering dibayangkan mudah. Namun kami ingin mengelolanya sebaik toko-toko offline kami.

Monday, July 7, 2008

Si Bedul dalam Kubangan Ilusi Pengetahuan

Bedul untuk kesekian kalinya pulang begitu bersemangat. Ia baru saja mengikuti forum motivasi. Seperti biasa, dalam 2x24 jam, semua keinginan untuk melakukan banyak hal kedepan begitu menggebu. Pikirannya penuh perencanaan apa yang harus ia lakukan.

Gus Pur : “Dul …wajahmu seperti sudah menikmati kesuksesan hakiki. Begitu sumringah… seperti gambaran manusia bebas finansial dalam impianmu...”

Si Bedul : “Iya Gus … saya baru saja ikut forum jumatan Gus, pembicaranya ok banget. Saya juga baru baca buku marketing yang revolusioner …. Minggu ini hebat Gus, otak-ku penuh vitamin baru … saya jadi tambah bersemangat”…

Gus Pur : (..terkekeh..kekeh ..sambil memberikan majalah SWA edisi April 2008) “Dul … kamu itu persis apa yang ditulis di artikel majalah ini. Nih baca …baca itu artikel yang judulnya - Mengapa Banyak Orang yang Tahu Tapi Tidak Melakukan? –“.

Si Bedul langsung antusias membaca begitu tahu judulnya. Gus Pur cekikikan sambil ngeloyor pergi mau bikin kopi ritualnya.

Gus Pur : “Sudah bacanya Dul … itu semua persis kamu khan. Kamu kerap merasa cukup hanya dengan mengetahui sesuatu. Kamu sudah membaca banyak buku, mengikuti berbagai forum diskusi, menghadiri berbagai pelatihan. Namun, perilaku kamu tidak juga berubah. Kamu masih tidak melakukan apa-apa.

Jelas sekali di artikel itu, “Mengetahui tidak akan pernah membawa perubahan. Mengetahui tidak akan mengubah nasib Anda. Yang akan mengubah nasib adalah melakukan!”

Jelas sekali kamu di artikel itu adalah korban “Ilusi Pengetahuan”, juga “Ilusi Perubahan” dan yang paling parah, kamu sudah bertahun-tahun menjadi korban “Zona Nyaman” seperti yang kamu jalani sehari-hari ini.

Si Bedul : “wah …edan Gus, artikel ini pendek namun langsung mengejek Gus. 1000% mengejekku … aku kok ngga sempat baca yaa”

Gus Pur : “Iya Dul … kamu terlalu sibuk mengumpulkan buku ! kalau uang-mu leluasa, pasti semua buku Kewirausahaan itu kamu borong, semua seminar kamu ikuti, setiap weekend semua forum kamu hadiri. Rak buku-mu dirumah yang nambah terus itu gambaran Ilusi Pengetahuan-mu. Kamu begitu bersemangat di jumat sore, sabtu dan minggu. Semangatmu hanya bertahan maksimal 3x24 jam. Karena senin kami kembali ke Zona Nyaman.

Bahkan buku yang baru kamu beli yang katamu Marketing yang Revolusioner itu, saya rasa hanya akan jadi korban koleksimu saja. Sudah jelas judulnya saja ada kata Revolusi … itu artinya supaya kamu melakukan dengan Cepat, Segera, dengan Cara Tidak Lazim dan Meraih Hasilnya dengan Keras. Revolusi itu keras dan penuh pengorbanan Dul. Buku itu, kalau kamu yang baca, cocoknya judulnya diganti Marketing Evolution !!!

Sudahlah Dul … bawa majalah itu, baca artikel itu 7 kali. Juga buku Marketing-mu itu, percuma kamu baca sekarang ! Buku itu hanya cocok bagi yang sudah melakukan ! kecuali kamu secara Revolusioner memang mau merubah dirimu dulu saat ini, sekarang juga !

Si Bedul ngeloyor pergi …. dalam hatinya selalu dongkol tapi rindu sama Gus Pur … dalam perjalanan pulang pikirannya ter-ngiang-ngiang kata-kata “Ilusi Pengetahuan” ….”Ilusi Perubahan” …dan “Zona Nyaman” ….

salam sukses

rosihan
www.saqina.com

Mengapa Banyak Orang yang Tahu Tapi Tidak Melakukan?

(diambil dari Rubrik Pernik pada majalah SWA No. 08/XXIV.17-29 April 2008)

Seseorang yang bijak datang ke sebuah desa dan menetap di sana untuk memberikan pencerahan. Ketika ia berceramah, orang-orang desa berduyun-duyun datang memenuhi balai desa untuk mendengarkannya. Ceramahnya sangat menarik dan membuat orang-orang tercerahkan. Karena itu, mereka selalu tak sabar menunggu datangnya minggu-minggu berikutnya. Namun, penduduk kemudian menemukan fakta: orang bijak ini ternyata selalu menyampaikan ceramah yang sama. Mereka pun curiga bahwa orang ini sebenarnya seorang penipu yang hanya mengetahui satu ceramah.

Tak dapat lagi menahan kesabaran, penduduk desa beramai-ramai mendatangi orang bijak ini dan bertanya, “Tak dapatkah Anda menyampaikan ceramah yang lain?” Ditanya demikian, orang bijak hanya tersenyum. “Saya belum melihat Anda melakukan apa yang saya sampaikan dalam ceramah pertama,” katanya. “Jadi, mengapa saya harus membebani Anda dengan hal yang lain?”

Apa yang dikatakan orang bijak tersebut sebetulnya sering kita alami. Banyak di antara kita yang kerap merasa cukup hanya dengan mengetahui sesuatu. Kita membaca banyak buku, mengikuti berbagai diskusi, menghadiri berbagai pelatihan. Namun, perilaku kita tidak juga berubah. Kita tidak melakukan apa-apa. Kebiasaan lama yang tidak efektif masih terus kita jalankan. Ini tentu saja sebuah pemborosan biaya yang tidak sedikit.

Fakta ini sering dilupakan orang : mengetahui tidak akan pernah membawa perubahan. Mengetahui tidak akan mengubah nasib Anda. Yang akan mengubah nasib adalah melakukan! Namun mengapa banyak orang yang tahu, tapi tidak melakukan apa-apa?
Ada tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, karena mengetahui sering memberikan sensasi hebat. Ketika mengetahui sesuatu, Anda merasa berada di atas kebanyakan orang. Mengetahui menimbulkan kebanggaan tersendiri. Inilah yang sering disebut sebagai “Ilusi Pengetahuan”. Ilusi ini berbunyi: kita sudah berubah hanya dengan mengetahui.

Mengetahui memang sering memberikan jebakan tersendiri berupa perasaan aman dan nyaman. Dengan mengetahui kita menjadi lebih percaya diri karena merasa siap menghadapi segala masalah.

Bahkan, sekadar mengumpulkan buku yang tak pernah sempat kita baca mampu memunculkan ilusi ini.

Kedua, orang tidak melakukan apa yang mereka ketahui karena mereka tidak memiliki alasan untuk melakukannya. Bukankah ketika kita sehat kita tidak punya alasan yang kuat untuk berolah raga? Bukankah ketika perusahaan sedang naik daun kita merasa tidak perlu melakukan perubahan? Ini disebut “Ilusi Perubahan” yang mengatakan bahwa satu-satunya alasan yang masuk akal untuk perubahan adalah ketika terjadi krisis. Padahal, perubahan yang terjadi karena krisis pasti terasa menyakitkan, membutuhkan biaya besar, dan sering sudah terlambat. Bukankah alasan terbaik untuk melakukan perubahan adalah buat mempertahankan posisi yang sudah kita nikmati selama ini? Bukankah perubahan mestinya adalah sesuatu yang kita “haruskan” kepada diri kita sendiri, bukannya menunggu hal itu “diharuskan” oleh situasi, keadaan, pelanggan dan pesaing?

Ketiga, orang tidak melakukan apa yang sudah diketahuinya karena tidak mau meninggalkan zona nyamannya. Apa pun yang biasa kita lakukan memang menciptakan gaya gravitasi yang luar biasa. Karena itu, keinginan menerapkan sesuatu yang baru selalu menciptakan medan pertempuran dalam diri kita. Pertempuran ini sering berjalan tidak seimbang karena kebiasaan lama pasti memiliki gaya tarik yang lebih besar. Belum lagi, ada faktor lingkungan yang juga cukup besar pengaruhnya. Maka, tidak aneh bahwa pertarungan ini akan dengan mudah dimenagi kebiasaan-kebiasaan lama kita.

Majalah SWA

Tuesday, June 24, 2008

Franchise, BO dan Faktor Lokasi

Saqina minggu lalu mengikuti Pameran Franchise di JCC. Saya berterima kasih kepada Dep. Perdagangan RI, juga kepada Rakyat Indonesia, karena kehadiran Saqina di pameran itu mungkin dibiayai oleh uang rakyat melalui APBN. Thanks berat juga kepada para fasilitator, yaitu Pak Burang IFBM, TDA, dan mbak Yulia Moz5.

Saya termasuk pengamat brosur setiap pameran Franchise/BO. Setiap tahun mengumpulkan minim 2 set brosur semua peserta. Saya senang mengamati berbagai hal baru dalam setiap penawaran bisnis franchise/BO. Ada beberapa benang merah dari setiap penawaran bisnis Franchise/BO, yaitu adanya Fee (Franchise Fee, BO Fee), biaya membeli sistem bisnis yang didalamnya tercantum sederet list sistem bisnis, royalti, support dan jangka waktu.

Namun sepertinya semua sepakat, bahwa LOKASI ada diluar sistem bisnis. Karena hampir semua franchisor/BO menegaskan bahwa semua biaya yang tercantum di brosur, itu diluar LOKASI dan juga renovasinya.

Jika Anda sempat hadir dipameran, maka Anda akan menemukan hampir sebagian besar Franchise/BO adalah BISNIS RITEL (makanan, resto, grocery, fashion, dll). Dalam Hukum Manajemen Ritel, sudah sangat jelas ditegaskan, salah tiga dari faktor penentu utama kesuksesan bisnis ritel adalah LOKASI, LOKASI dan LOKASI. Tapi mengapa para Franchisor/BO (termasuk Saqina) tidak memasukkan biaya lokasi ada di brosur mereka ?

Ya, karena hukum lokasi itu jelas. Lokasi Strategis = Mahal. Lokasi Tidak Strategis = Gratis. Jika aspek lokasi dimasukkan, tentunya biaya bisnis yang terlihat diawal pasti lebih besar, dan ini tentunya “tidak menjual”. Psikologis pembaca brosur diharapkan melihat bahwa untuk memulai bisnis ini murah, tidak butuh modal besar (yang kadang diterjemahkan “beresiko rendah”). Apalagi di-iming-iming dengan BEP yang cepat.

Sebagai contoh, untuk buka toko busana muslim, bisa dengan investasi hanya 100juta. Tapi jika ingin bagus prospeknya, lokasi memang biasanya harus bagus. Lokasi yang bagus, sewanya bisa 40 juta pertahun. Kalau sewa minim 2 tahun, artinya sudah 80 juta hanya untuk lokasi, dan itu harus dibayar dimuka. Saya paling sering terpaksa kompromi untuk masalah lokasi.

Biaya lokasi bisa hampir sama, sama atau bahkan lebih besar dari bisnisnya sendiri. Padahal seringkali hitungan brosur dengan BEP-nya tidak mengikutsertakan hitungan biaya lokasi. Hitungan BEP di brosur itu kita juga tidak tahu, kira-kira kok bisa BEP cepat itu dijalankan di lokasi yang seperti apa yaa. Itu yang wajib ditanyakan oleh peminat franchise/BO.

Setiap bisnis ritel punya “kriteria lokasi strategisnya masing-masing”. Bagi saya, memahami kriteria lokasi strategis, lalu mendapatkan lokasi yang strategis terlebih dahulu, jauh lebih penting. Karena membeli bisnis dari penyedia bisnis (franchisor/BO) itu mudah, sedangkan mendapatkan lokasi strategis itu susah.

Lokasi strategis itu jarang tersedia. Coba temukan lokasi-lokasi yang menurut Anda strategis, pasti sudah ditempati bisnis, dan mereka betah bertahun-tahun disana. Belum tentu jika Anda punya uang bisa dengan mudah mendapatkannya.

Membeli Franchise/BO dari para penyedia yang sudah proven itu mudah dan potensi suksesnya tinggi. Tapi sukses tidaknya salah satunya tergantung pada lokasi dimana Anda menjalankannya. Banyak pengunjung pameran mengaku sudah punya lokasi, tapi masih bingung mau bisnis ritel apa. Saya coba menebak, jangan-jangan lokasinya memang tidak strategis. Kalau strategis, mestinya mau bisnis ritel apa saja bisa dicoba. Atau mungkin mau mencari bisnis yang bisa meningkatkan lokasinya menjadi strategis ? wah, kalau bisa seperti itu, pasti perlu waktu.

Tapi ngga usah kuatir, rejeki kita yang diturunkan dari jalur bisnis bisa tidak tergantung dari teori yang tertulis diatas. Saya yakin kita punya banyak cara untuk sukses bisnis. Bukankah kita sudah yakin bahwa Reason, Dream, Belief, Strategy, Action dan Kepasrahan kita bisa mengatasi segala tantangan yang muncul ?

Salam sukses

Thursday, June 5, 2008

Menyekolahkan Anak Cara Enterpreneur

Bulan ini adalah musim pening kepala para orang tua. Semua karena masalah sekolah anak. Semua masalah sekolah, ujungnya adalah masalah biaya, masalah uang. Mulai dari uang pendaftaran, uang seragam,uang bulanan, uang transport, uang eskul, uang jajan, dan sederet uang pernik-pernik lainnya.

Jika dihitung dalam 1 tahun biaya operasional sekolah, seringkali kita terkaget-kaget, apalagi jika kita menghitungnya sangat detil, setiap potensi pengeluaran yang terkait dengan sekolah kita coba hitung. So what gitu loh ….

Pernah dengar cerita seperti ini ?

“Oh ..si Doktor Budi itu anaknya tukang sayur loh, dulu bapaknya kerja sejak dinihari demi menyekolahkan anaknya …”

“Oh si Insinyur Tono itu anaknya tukang becak loh, bapaknya mbecak sambil jualan rokok, ibunya tukang cari daun jati yang tiap pagi dijual ke pasar. Anaknya 5 sarjana semua, semua jadi orang sukses …”

“Oh si Dokter Andi itu dari kecil sudah yatim. Ayahnya meninggal ketika dia balita. Ibunya yang janda bekerja serabutan, buka warung makan, sampai bisa menyekolahkan 3 anaknya. Dua orang jadi dokter dan seorang nerusin warung makan. Sekarang malah sudah punya restoran….”

“Oh ..si Agus itu bapaknya bengkel kecil, dulu kecilnya Agus setiap hari bantuin bapaknya. Sekarang di punya pabrik spare part motor … alhamdulillah, bapak-nya mati-matian nyekolahin dia “

Ketiga cerita tadi, tidak lain intinya adalah cerita perjuangan. Semua orang tua mereka adalah pejuang-pejuang yang mempunyai cita-cita sederhana, namun jelas. Yaitu ingin menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya, dengan segala daya upaya penuh kepasrahan kepada Sang Kuasa.

Cerita seperti diatas adalah buah dari enterpreneurship. Sebuah kewirausahaan yang alami, yang ndheso, yang katro’, yang gak banyak omong dan wacana. Sebuah kewirausahaan yang Reason dan Dream-nya diperoleh dari keheningan desa, dan pemahaman atas hakekat kehidupan yang lebih alami. Reason-nya simpel, tapi kuat, fundamental, sehingga Dream-nya MASIF ! bukan pepesan kosong !

“aku gak kepingin anak-ku mbecak, cukup aku aja sing mbecak”

“wis, cukup aku saja sing lulusan SD, anak-ku harus sekolah tinggi”

“ngga perduli rumah gedek, setiap hari ngontel ke pasar, sing penting anak-ku sarjana!”

“nak, walaupun ibu cuman mantri desa, kamu harus jadi dokter, supaya orang-orang desa ini bisa kita bantu lebih baik …”

Mereka menemukan Reason & Dream yang Sederhana namun Fundamental, bukan secara instant! Bukan karena Seminar Cepat Kaya, bukan karena buku Jalur Cepat Kaya, tetapi karena berhasil memahami keadaannya saat itu, dan mencoba berpikir sederhana tentang hakekat kehidupannya. Mencoba menuliskan mimpi sederhana tentang anak-anaknya. Namun dahsyat dalam implikasi kehidupannya.

Jadi, kalau kita sudah punya tekad menyekolahkan anak-anak kita, setinggi-tingginya, enterpreneurship adalah salah satu jalan yang bisa ditempuh. Hitungan linier atas penghasilan kita perbulan sangat muskil bisa meraih impian itu. Namun enterpreneurship bisa memberikan peluang penghasilan yang eksponensial, walau kadang bisa seperti gelombang amplitudo yang naik turun.

Bagi yang masih sulit mencari Reason dan Dream untuk terjun ke dunia Enterpreneur, bangunlah di tengah malam, pandangi anak-anak kita dalam lelap tidurnya, pandangilah wajah-wajah tanpa dosa itu, bermunajatlah kepada Sang Kuasa, temukan hakekat amanah yang sesungguhnya atas kehadiran anak-anak kita, temukan tanggung jawab apa yang diwajibkan ke kita atas anak-anak kita …. Semoga Reason dan Dream itu dihadirkan oleh Sang Kuasa

“Duh Gusti Alloh, sekarang yang penting aku usaha halal apa aja, yang penting anak-anakku bisa sekolah tinggi, jadi manusia yang Kamu kehendaki ……., berkahi semua langkah usahaku ” sang enterpreneur mengakhiri doa dalam sujudnya.

[tulisan ini saya persembahkan untuk Ayahku H. Ridwan Bakar, seorang enterpreneur, hanya lulusan Sekolah Rakyat (SR). Mulai berwirausaha sejak umur 10 tahun, menjadi pedagang asongan rokok diperempatan. Menjadi pedagang busana dari mulai lapak sampai toko dipasar tradisional Jombang Jatim sejak tahun 1949-1994. Ya Alloh, ampuni segala dosa Ayahanda, ketika dalam setiap usahanya membesarkan kami. Amin]

Salam
Rosihan

Monday, June 2, 2008

Meningkatkan Top Of Mind Awareness

Definisi TOMA search di paman Google :

“Top Of Mind Awareness (TOMA) is a way to measure how well brands rank in the minds of consumers.”

“Top of Mind Awareness has a big correlation with the market share of a product.”

“Saat anda dibawah terik matahari, saat rasa haus mulai menyerang, apa yang ada di pikiran Anda saat itu, bisa jadi Anda memikirkan Air Mineral, yang ada dipikiran Anda saat itu Pasti Aqua. Atau saat memikirkan soft drink yang ada di pikiran pasti Coca-cola bukan merk lain. Inilah yang dimaksud dengan TOM. (Top Of Mind)”


TOMA dan Toko Kecil Kita

Apa kaitannya dengan toko eceran kita yang masih kecil ini ? ya pasti sangat berhubungan dengan cita-cita toko kita mempunyai TOMA yang tinggi dilingkungan kita.

TOMA sebenarnya bukan hal baru, sudah sejak jaman dulu, apalagi yang tinggal di kampung, atau di Kabupaten/Kota.

Coba ingat waktu kita masih tinggal di Kabupaten/Kota, setiap orang tua kita, tetangga kita, teman kita, mau beli sesuatu, pasti sudah ada “toko rujukan” yang secara konvensi sudah menjadi pengetahuan umum. Contohnya sebagai berikut :

Mau beli buku … oh ke “Toko Aksara” saja, disana lengkap.

Mau beli sepatu … oh ke “Toko Bata” saja, sepatunya murah dan kuat …

Mau beli alat elektronik …. oh ke “Toko Sinar Jaya” aja ..disana semua merek ada …

Mau beli alat rumah tangga … oh ke “Toko Jaya Abadi” ..disana murah …

Mau beli bahan bangunan … oh ke “Toko Bagun Jaya” saja … komplit dan murah, kalau tukang bisa ngutang..

Mau cetak foto …oh ke “Toko Kodak Jaya” aja, hasilnya bagus dan cepat jadinya …

Mau beli kue …oh ke “Toko Lumayan” aja … jajanannya lengkap ..lumayan enak …

Mau ke salon …oh ke “Salon Cantika” aja, pelayanannya baik sekali …

Intinya, di lingkungan kampung, kabupaten/kota, atau kawasan, atau suatu area dalam radius 10-20 km, selalu ada toko rujukan yang memang sudah diketahui oleh masyarakat disitu jika masyarakat ingin beli sesuatu yang agak khusus.

Toko-toko rujukan biasanya tidak banyak, polanya selalu ada yang toko paling besar dan paling lengkap, toko sedang dan toko kecil. Toko yang paling besar biasanya memang pemain lama di bisnis itu. Toko yang sedang dan toko kecil adalah follower-nya. Tapi kadang yang sedang dan kecil ini mencoba jualan yang agak berbeda dengan yang besar. Tapi yang pasti, mereka bisa bertahan dalam kancah bisnis dikawasan yang tidak terlalu luas tersebut.

Jika toko kita sudah memiliki TOMA yang tinggi dilingkungan kita, akan sangat menguntungkan dalam jangka panjang untuk toko kita. Namun, bagaimana caranya toko kecil kita ini bisa mempunyai TOMA yang tinggi dimata pelanggan ?

Cara Kuno dan Murah Meningkatkan TOMA

Pasang Spanduk
Spanduk masih ok sebagai media peningkatan TOMA. Buktinya ? semua calon Pilkada di daerah memanfaatkan spanduk untuk membangun TOMA Wajah mereka, supaya dikenal rakyat. So, kita bisa buat spanduk di sudut-sudut jalan arah masuk kota, dan arah keluar kota/kawasan. Biasanya spanduk pajaknya tidak mahal. Biaya cetak spanduk pakai digital printing juga hanya 25ribu per meter. Yang paling perlu kita pelajari adalah cara “bikin kata-kata ajaib” yang mampu dipahami dalam 3 detik, dan sangat menarik.

Iklan Radio FM/AM
Kalau di Jakarta, radio FM adalah Raja. Tapi di daerah, radio AM atau radio Kabupaten/Kota justru jadi raja. Ada juga radio FM yang mulai masuk ke kabupaten. Iklan di radio daerah murah, dalam bentuk paket beberapa kali tayang malah lebih murah. Yang perlu kita pelajari adalah “cara bikin iklan ajaib”. Bisa pakai bahasa daerah, atau bahasa yang paling dimengerti dikawasan itu.

Iklan di Koran Daerah
Berkah otonomi daerah adalah munculnya koran, media iklan dan tabloid daerah. Media dengan oplah dan daya edar terbatas di kawasan/kabupaten ini masif, mampu menjangkau semua kawasan terbatas itu. Ini media iklan yang murah, namun efektif untuk dicoba.

Sebar Brosur ke Target Market
Sebar brosur sangat mudah untuk satu kawasan. Kita tinggal mencari titik-titik pelayanan umum dikawasan tersebut. Apa itu ? Bank, Rumah Sakit, Kantor Dinas Daerah, Kantor Polisi, Pasar/Mal, Sekolah TK/Preschool, dan lain-lain cari sendiri yaa …

Setelah melakukan aktifitas itu, coba bandingkan Visitor Sebelum dan Sesudah. Lalu juga Transaksi, juga Conversion Rate. Lalu ..ya ..analisis sendiri aja apa yang perlu …

Salam sukses …

NEW WEBSTORE : WWW.SAQINA.COM

Rosihan

Tuesday, May 20, 2008

Dampak Kenaikan Harga BBM ke Toko Ritel

Kenaikan harga BBM bukan sesuatu yang baru, dulu-dulu sudah pernah terjadi. Pokoknya setiap ada kenaikan harga komoditas penting, pasti ada dampaknya, khususnya di sektor riil, lebih khusus lagi di sektor ritel, perdagangan grosir dan eceran.

Kalau jaman Orde Baru ketika harga BBM stabil karena disubsidi, kenaikan gaji PNS saja bisa mengubah harga-harga di sektor ritel. Dulu sebelum kenaikan gaji PNS diumumkan, harga-harga sudah naik. Nah, di jaman orde reformasi, harga-harga lebih kalang kabut, karena salah satu sumber kenaikan harga adalah BBM yang makin hari makin tidak disubsidi.

Sebagai pedagang kecil, kita tidak punya kuasa yaa. Dilarang protes ! ini ekonomi super makro, urusannya sama spekulan global yang memainkan harga minyak dunia. Jadi kita wajib ngikut saja dan dialektis saja menghadapi apa yang akan terjadi.

Berikut pola-pola yang saya coba pahami ketika harga BBM naik, yang dampaknya pasti berimbas ke toko saya :

Dari Sisi Pelanggan

Daya beli pasti turun. Tapi ini sejenak, mungkin cuman 2 bulan. Karena pelanggan Indonesia tidak tahan untuk tidak beli-beli. Yang pasti terjadi pergeseran sementara, mungkin pelanggan kelas menengah mencari produk lebih murah namun kualitas masih bagus, tetapi pelanggan kelas bawah mencari yang paling murah. Pelanggan kelas atas yang ngga terpengaruh.

Pelanggan lagi sensitif harga, jadi maunya harga diskon terus. Jangan kaget, sebentar lagi banyak Promo “Harga Diskon”, “Beli 2 Gratis 1”, “Cuci Gudang”, “Harga Tidak Naik”. Psikologisnya selalu ingin mendapatkan harga termurah. Makanya biasanya banyak yang membuang barang lama dengan event diskon. Atau melabel dengan harga baru lalu di-diskon. So, jangan ragu kasih diskon.

Pelanggan tetap maunya barang bagus, disain ok, model terbaru, tetapi harga maunya murah. Nah, produsen biasanya pandai mensiasasti situasi ini. Kita sebagai pedagang eceran, pasti masih punya peluang besar mendapatkan model-model terbaru dengan harga terjangkau.

Tidak ada toko yang tidak menaikkan harga, sehingga pelanggan pasti akan mendapatkan harga naik pada semua pedagang eceran. Artinya, potensi pelanggan pindah toko juga kecil. Jadi jangan takut kehilangan pelanggan. So, membuat hati pelanggan lebih nyaman membeli dari kita lebih penting saat ini.

Saatnya menambah produk yang terjangkau. Ini hanya sebagai pancingan saja, supaya pelanggan merasa dapat membeli produk di toko kita. Padahal setelah melihat produk murah, biasanya tidak puas dengan kualitas produknya,ujung-ujungnya masih pengin beli yang agak mahal tapi bagus.

Yang kasihan adalah pelanggan yang memang benar-benar ngga mampu beli. Namun biasanya masih tetap ada peluang beli dengan terpaksa, yaitu pas lebaran. Untuk itu, wajib kita menyediakan barang-2 lama atau yang tidak laku dengan harga super murah.

Dari Sisi Produsen

Dari sisi produsen, yang pasti produksi tidak mungkin tutup. Produsen otomatis juga tidak langsung menaikkan harga, apalagi mempunyai stok lama bahan produksi. Produsen juga takut menaikkan harga, takut produksinya tidak terserap pasar. Jadi tidak mungkin semena-mena menaikkan harga.

Produsen pasti makin kreatif, mencoba memberikan nilai tambah produk dari aspek yang tidak menjadikan harga naik, seperti aspek disain, model dan aplikasi yang menarik. Karena mereka tahu, sebisa mungkin masih harus menyajikan produk yang terjangkau.

Produsen juga hati-hati dalam mengkomunikasikan harga ke pengecer. Produsen juga ingin membangun pengertian bersama, bahwa produsen dan pengecer harus bisa saling memahami dampak kenaikan harga.

Demikian juga pedagang bahan produksi, selama harga pabrik ngga naik, harga bahan juga cenderung tetap. Kalaupun naik pasti perlahan dan bertahap. Sektor hulu cenderung menaikkan harga bertahap.


Dari Sisi Makro

Dampak kenaikan harga BBM adalah berantai. Semua kena dampaknya. Kenaikan harga terjadi di semua komoditas. Namun semua juga sedang menuju KESEIMBANGAN BARU. Karena pada dasarkan ekonomi tidak akan berhenti. Inflansi juga pasti terjadi. Semua hanya ganti harga saja, namun ada shock disini, dan butuh waktu untuk pulih.

Namun ada sedikit penggembira, jika naik bulan Juni, kita bisa agak sedikit tidak perlu khawatir, karena bulan Juli- Desember adalah bulan belanja pemerintah. Artinya, ekonomi sudah pasti berjalan. Ingat, pertumbuhan eknomi kita sangat tergantung dari belanja pemerintah.

Kita wajib bertahan sampai event LEBARAN 2008 (bulan Oktober), karena disini tidak ada lagi pengaruh kenaikan harga BBM, semua pasti terlena dengan event belanja lebaran.

Kenaikan harga BBM bukanlah Lonceng Kematian, HUKUMNYA WAJIB KITA HARUS BERTAHAN.

Salam sukses

Rosihan

Sunday, April 20, 2008

SAQINA Tas & Asesoris .. mohon Doa Restu

Memulai Lagi Sesuatu dari Nol

Bulan Maret ini, saya sedang memulai sesuatu yang sangat baru dari Nol, yaitu membuka toko khusus, SAQINA Tas dan Asesoris (1 foto toko ada di blog saya). Saya bersama istri berjibaku mendapatkan ilmu, pengetahuan dan pengalaman praktis tentang bisnis baru ini. Seperti halnya yang telah saya yakini, LOA selalu bekerja untuk kita, ketika kita secara total memusatkan pikiran pada satu tujuan pencapaian tertentu, secara kontinyu pada rentang waktu tertentu.

Untuk membuka wawasan tentang bisnis baru ini, saya melakukan beberapa langkah umum yang memang seharusnya dilakukan.

Langkah 1 : Cari Wawasan tentang Produk.

Sebelum membuka toko, kita wajib tahu komplit segala yang berkaitan dengan produk yang akan kita jual. Cara termudah adalah mengakses media informasi yang tersedia. Untuk memahami produk Tas & Asesoris ini, saya mulai dengan memborong majalah bekas dan baru yang banyak iklannya soal Tas. Kalau produk busana muslim kita bisa belajar dari majalah seperti Ummi, Annida, Alia, Paras, dll, maka untuk Tas saya belajar dari majalah seperti Cosmopolitant, Bazaar, Elle, dll. Suatu yang beda khan ? Dari info produk di majalah ini, saya bisa browsing merek-2 terkenal di internet, baik melalui official website-nya, maupun melalui toko online tas.

Langkah 2 : Mencari Sumber Produk yang Termurah.

Ini adalah langkah yang kadang mudah kadang susah menemukannya. Karena saya adalah pengecer biasa, wajib berusaha sekuat tenaga mendapatkan informasi dimana pusat-pusat perkulakan tas dan asesoris termurah. Disinilah berkah silaturrahmi offline begitu terasa. Banyak Member TDA yang membantu saya mendapatkannya. Bahkan Pak Murti Darmawanto (Anto) (www.bajuanak.net) tidak disangka pernah bisnis tas juga di tahun 2006. Pak Anto seharian mengantarkan saya langsung ke pusat perkulakan tas di daerah Perniagaan. Special Tanks for Pak Anto. Ini semua adalah berkah silaturrahmi offline.

Cara lain adalah langsung datang ke pusat-pusat perkulakan yang sempat saya dengar, misal di Mangga Dua, Pasar Senen, Tajur Bogor sampai Tanggulangin Sidoarjo. Disinilah ongkos belajar harus dibayar. Mencari satu toko termurah ada seninya. Tidak mudah langsung dapat, kadang juga dapat yang kemahalan. Jika kita sedang membeli banyak, sempatkan bertanya-tanya tentang siklus barang, model, range harga. Ada baiknya jujur kita sampaikan kalau kita baru belajar buka toko tas. Kalau kita berprasangka baik, ilmu berguna bisa kita dapatkan.

Belajar dari majalah, Internet, blog, sahabat di Komunitas dan juga belajar langsung ke produsen/supplier adalah langkah awal mencari pengetahuan. Setiap bisnis selalu ada pemain lama, dan kita bisa berguru pada pemain lama itu, sekaligus mencoba membeli barang dagangannya. Kadang untuk mendapatkan ilmu ini, saya perlu belanja 3 sampai 10 barang, untuk sekedar mendapatkan harga grosir dan membuka relasi.

Langkah 3 : Merencanakan Detil Besaran Kulakan Produk di Awal

Setiap membuat toko, saya selalu merencanakan tata letak barang secara detil disetiap area, dalam bentuk kategori, jenis produk dan jumlahnya. Sangat detil, mengapa ? karena disini ada hubungan erat dengan jumlah modal yang dialokasikan untuk pengadaan barang awal. Saya berusaha seoptimal mungkin jika toko baru buka, selalu langsung terpenuhi dengan barang dagangan, walaupun tanpa stok. Untuk itu, jumlah barang disetiap rak sudah dihitung jauh-jauh hari bersamaan dengan disain interior.

Mengapa tanpa stok ? karena kita baru meraba market. Kita belum tahu betul antara kebutuhan dan keinginan pelanggan. Jadinya range produk diawal selalu lebar. Kita jualan tas dari harga 50 ribu sampai 500 ribu, berjenjang. Dari tas lokal sampai impor KW1. Karena toko ini di kabupaten, kita coba penuhi dulu kebutuhan pelanggan yang terjangkau, misal dengan tas lokal yang murah. Tapi jangan lupa juga meng-iming-iming pelanggan dengan produk mahal dan kualitas terbaik. Ini adalah proses menciptakan keinginan pelanggan, menciptakan mimpi-mimpi pembelian. Suatu saat pasti ada pelanggan yang awalnya melihat-lihat saja, belum berani beli, tapi ternyata menyimpan mimpi untuk membeli suatu saat nanti. Lah kalau pelanggan tidak kita ciptakan mimpinya melalui display produk secara nyata, akan susah terjadi penjualan tak terduga.

Langkah 4 : Menata Toko dengan Bersemangat

Salah satu hal paling saya tunggu adalah menata semua hal ketika toko baru buka, khususnya interior. Mengapa ? karena saya secara hati mencintai bidang disain interior. Hal paling penting adalah memetakan flow, aliran pelanggan masuk, dan mencari titik-titik penting area yang paling menyedot perhatian pelanggan ketika pertama kali masuk. Sebenarnya ini ilmu Visual Merchandising, saya pengin kuliah soal ini tapi mahal. Sehingga ilmunya otodidak dari melihat di mal-mal, dan feeling saja. Biasanya interior masih kita ubah-ubah selama 3 bulan untuk penyesuaian.

Langkah 5 : Soft launching dengan Promosi Murah

Soft launching biasanya kita lakukan selama 1 bulan, sekaligus masa penyiapan karyawan, sistem, stok barang dan hal-hal detil lainnya. Supaya segera terjadi penjualan, segera dilakukan promosi murah melalui spanduk, penyebaran brosur, dan SMS Broadcast ke pelanggan busana muslim. Setiap ada pelanggan masuk toko, kita ajak diskusi kira-kira kebutuhan akan model tas terpenuhi apa tidak, apa ada masukan dan lainnya.

Apa toko langsung laku ? biasanya iya. Tetapi selama 6 bulan kita selalu siapkan dana cadangan untuk operasional toko. Fokus 6 bulan pertama adalah menetapkan segmentasi pelanggan yang akan ditargetkan sebagai tujuan utama. Kadang ini satu hal terbalik, buka toko dulu baru segmentasi, seharusnya menentukan segmentasi dulu baru buka toko. Tapi penerapan ilmu manajemen kadang tidak harus urut.

Ok, cerita selanjutnya bersambung. Saya hanya berharap doa restu dari teman-teman semua, semoga toko SAQINA Tas & Asesoris sukses sesuai tujuan, yaitu memberikan berkah bagi sang empunya.

New WebStore : www.sajidah.com

Salam
http://mohamadrosihan.blogspot.com
www.muslimdistro.com (Kaos Muslim Kualitas Distro)
www.sajidah.com (New WebStore - Koko, Mukena & Peci Kualitas Terbaik)
www.saqina.com (Jaringan Ritel Busana & Perlengkapan Muslim)
www.neslink.com (IT Consultant)