
Jika Anda pernah “wisata” ke desa-desa miskin, problem-problem kemiskinan sepertinya abadi untuk tidak mendapat penyelesaian. Dapur Lansia kami dirikan karena kondisi lansia-lansia di desa yang tidak jauh dari tempat kelahiran kami, sudah sangat menderita. Struktur keluarga, kondisi sosial masyarakat, lokasi geografis, kondisi alam, semuanya seakan kompak mendukung kemiskinan.
Lansia (khususnya perempuan) adalah korban yang kami temukan sangat berat kondisinya. Mereka sebagian besar “janda” yang ditinggal pergi atau meninggal oleh suaminya. Mereka yang juga ditinggal oleh anak-anaknya yang telah merantau entah dimana dan bagaimana kondisinya. Mereka yang sudah terlupakan oleh saudara-saudara kandungnya, karena sama-sama miskin. Kemiskinan melahirkan kemiskinan. Kebodohan melahirkan kebodohan.

Dihadapan para Lansia, diantara rumah gubug reot, diantara ember bak mandi mereka yang kotor, saya membisikkan dengan keras ke anak pertama saya. “Lihatlah didepan matamu Nak, ini wujud nyata kemiskinan Indonesia. Kamu harus sekolah setinggi-tinggi-nya, kamu harus sukses, kamu harus kaya. Ada 5 hal nyata yang harus kamu bangun kelak, (1) Sekolah untuk Orang Miskin, (2) Pusat Perdagangan & Pabrik (untuk membuka lapangan kerja), (3) Rumah Sakit untuk Orang Miskin, (4) Panti Asuhan (5) Panti Jompo.” Salam sukses Nak !
rosihan
http://www.saqina.com/