Re-launching SAQINA.COM

Re-launching SAQINA.COM
Bisnis online sering dibayangkan mudah. Namun kami ingin mengelolanya sebaik toko-toko offline kami.

Tuesday, March 11, 2008

Cashflow Tornado – Cara Bisnis Kuno Yang Masih Manjur

Mungkin anda pernah lihat, si Engkong yang baru buka toko kelontong eceran di deket rumah. Waktu pertama buka langsung rame, kata orang-2 harganya murah. Si Engkoh memang sengaja pasang harga murah dibanding pesaing disekitarnya yang memang sudah lama jualan. Kata pesaingnya .. “Biasalah … toko baru, lagi cari pelanggan, entar juga balik harga normal”.

Apa Si Engkoh salah ? apa ngga bisa cari nilai tambah ? Waduh … boro-boro nilai tambah. Si Engkoh bisa jualan aja sudah bagus. Sudah modal cekak, ilmu marketing juga ngga jago-2 amat. Apalagi pengalaman punya toko besar, itu baru sebatas mimpi. Tapi apa sih tujuan awal Si Engkoh kok “nilai tambah-nya” main di harga lebih murah ? Apa alasannya

Si Engkoh memang lagi menerapkan apa yang saya istilahkan sebagai Cashflow Tornado, yaitu cara meningkatkan modal dengan menambahkan modal hasil profit di awal bisnis secara terus menerus sampai batas waktu tertentu. Semakin kecil modal, harus semakin kencang perputaran cashflownya. Jadi modal akan terus bertambah, dan tetap diputar lebih kencang. Ini adalah cara kuno pedagang tradisional pekerja keras dalam memulai bisnis. Layaknya angin tornado, lingkaran bagian bawah lebih kecil, berputar lebih cepat, makin keatas makin besar dan putarannya tidak terlalu cepat.

Anda ingin coba ? coba saja segera. Caranya, cari bisnis yang sudah ada, dan memang jelas-jelas rame yang ada disekitar kita. Misal, konter pulsa, perlengkapan motor, warung khusus rokok, dll. Yang pasti dibutuhkan banyak orang sekitar setiap hari. Misal, kita pilih buka warung khusus rokok, mulai rokok kretek sampai rokok putih, komplit.

Apa nilai tambah dari bisnis Warung Rokok ini ? kita cari-cari aja supaya ada. Tapi kita bisa bilang, dibandingkan pesaing sekitar, bahwa nilai tambahnya adalah pelayanan yang prima, tempat nyaman, tampilan etalase rokok yang keren. Dinding warung kita pasang poster iklan rokok dari semua produsen. Kita juga bisa sediakan meja kursi, dan jualan Kopi Gingseng. Pahami kenikmatan para perokok, merokok sambil ngopi enak sekali.

Nilai tambah yang utama adalah semua jenis rokok ada dan selalu tersedia, bisa dibeli satuan, 1/3 atau 1/2 bungkus. Bahkan bisa campur, atau tersedia paket campur yang isinya bisa Ji Sam Soe + Gudang Garam + Sampoerna Mild + Malboro. Boleh juga khan ? asal ngga campur ganja aja. Bisa juga rokok + serbuk kopi, yaitu rokok yang bagian luarnya diolesin endapan kopi lalu dikeringkan. Dan nilai tambah yang paling utama, HARGA ROKOK PALING MURAH !!!

Tapi klo harganya paling murah, berarti untung Warung Rokok ini paling kecil dong … Ya pasti, sudah tahu strategi jualan dengan harga paling murah, ya pasti untungnya paling kecil. Lalu apa strategis-nya bisnis kayak gini ? awalnya kita pasti tidak tahu. Kita maunya Warung Rokok kita langsung rame dan cashflow berputar cepat.

Ternyata setelah kita buka Warung Rokok, dan karena murah, pasti rame, maka tidak kita sangka-sangka kita akan mendapatkan ilmu seperti ini :

· Ilmu 1 : Kita baru tahu kalau profil pelanggan rokok disekitar kita sebagian besar adalah pelanggan papan bawah, artinya beli rokonya eceran, kalau ngga beli satuan, 1/3 atau ½ bungkus. Tapi sehari pasti merokok sekitar 5-12 batang. Dan mereka ini price sensitif. Karena tahu Warung Rokok kita paling murah, dalam waktu 1-2 minggu pelanggan mulai rame.

· Ilmu 2 : Karena kita ramah, kita bisa pelan tapi pasti berhasil mendapatkan gambaran kebutuhan pelanggan atas rokok mereka. Ternyata ada permintaan asesoris sekitar rokok, seperti asbak, korek zippo, dan korek api lainnya. Kita bisa langsung menambahkan item-item yang sebelumnya belum berani kita jual. Ternyata, jualan asesoris perokok ini untungnya bisa 200%. Jadi keuntungan rokok bisa tersubsidi dari jualan asesoris perokok.

· Ilmu 3 : Karena kita ingin mengkomunikasikan nilai tambah kita, maka setiap pelanggan yang datang kita berikan pelayanan terbaik, artinya, kita telah meng-komunikasikan nilai tambah warung rokok kita kepada orang yang tepat. Jika pelanggan makin banyak, kita tentu makin percaya diri menyampaikan nilai tambahnya.

Karena murah dan beberapa nilai tambah, perputaran barang cepat. Cash flow-nya relatif bagus, net profit per bulan selalu ada. Tapi untuk mencapai net profit tersebut, otomatis kita kalang kabut, karena kita harus kulakan rokok ke grosir rokok dan asesoris setiap hari. Kalau tidak kita tidak bisa jualan dengan murah. Tapi demi memutar cash flow, kita harus rela terhanyut dalam Cashflow Tornado.

Cashflow tornado kadang membuat pebisnis pemula merasa capek, tidak bernilai, tidak nyaman dibanding zona nyaman-nya selama ini. Mencari uang kecil aja kok susah, dan kadang dengan mudah men-justifikasi bahwa ini bisnis yang kurang menghasilkan. Padahal yang terpenting sebenarnya bukan hasil jangka pendek, namun proses pembelajaran mengelola dari modal kecil menjadi besar, dan bagaimana kita bisa belajar mendapatkan pelanggan dan mengenali keinginan dan kebutuhan pelanggan dengan tepat dan cepat.

2 tahun kemudian Si Engkoh sudah menjadi Raja Grosir Rokok terbesar di kotanya, dan pesaingnya hanya bisa bilang “gila …murah banget emang jualannya” ….

Kesimpulan :Cashflow Tornado bisa membesarkan modal, sekaligus mengkomunikasikan nilai tambah kepada target yang tepat, dan bisa belajar mendapatkan pelanggan dan mengenali keinginan dan kebutuhan pelanggan dengan tepat dan cepat.

Tuesday, February 12, 2008

Bisnis Harus Dipilih sebagai Media Belajar

“Budaya Tionghoa mengajarkan tidak boleh menunggu tahu segalanya untuk membuka bisnis. Orang Tionghoa juga tidak pernah menunggu paham dan tahu semua hal baru ketika memulai berbisnis. Justru bisnis adalah media belajar, dari TIDAK TAHU menjadi TAHU” (Salim Kartono – dari Buku 5 Jurus Sukses Berbisnis Retail)

Kadang kita sudah terlalu terlena dengan apa yang dinamakan pendidikan formal. Kita seringkali lebih bangga dan lebih rela mengeluarkan ongkos yang sangat mahal untuk membeli pendidikan. Pendidikan formal, kursus, workshop dan lainnya memang bagus, sebagai media pendidikan formal, tetapi bukan media pembelajaran yang riil. Harus ada media pembelajaran lanjutan yang harus dipilih dan dibayar.

Memilih Bisnis sebagai Media Belajar, saya yakini juga sebagai suatu hal yang harus dipilih secara sadar dan wajib, bagi siapapun yang ingin menjadi pewirausaha. Jika ini sudah dipilih, berarti segala konsekuensi, termasuk membayar ongkos belajar-nya, alokasi tenaga, pikiran dan waktu, harus dibayarkan tunai.

Kalau di pendidikan formal kita berjuang keras harus lulus, berarti untuk sekolah disini pun kita harus lebih berjuang lagi. Kalau ngga naik kelas atau ngga lulus kita malu, sehingga harus belajar keras, sama halnya juga, seharusnya kalau kita berbisnis untuk belajar, wajib naik kelas dan lulus.

Dari bisnis riil, kita akan belajar secara langsung untuk memilih, lalu mengambil keputusan. Awalnya lambat, akhirnya kita bisa cepat dalam memilih dan mengambil keputusan. Sedangkan pengalaman dan kemahiran dalam menjalankan roda bisnis, akan berjalan dengan sendirinya seiring berjalannya roda bisnis setiap hari.

Jika kita masih bingung mau bisnis apa, saya rasa tidak ada salahnya memilih bisnis apa saja, yang penting kita sudah punya “sekolah bisnis yang riil”, dan kita punya tanggung jawab untuk berjuang untuk lulus.

Salam
Rosihan

Tuesday, February 5, 2008

Emotional Bank Account (EBA)

Emotional Bank Account (EBA) adalah ilmu lama. Saya sendiri mengetahuinya sejak 1997 ketika belajar Seven Habbits-nya Stephen Covey. EBA adalah salah satu hal penting dalam hubungan antar manusia, apalagi dalam hubungan bisnis.

Mempunyai EBA adalah seperti kita mempunyai rekening deposito di Bank A, dan idealnya kita dapat selalu menambah deposito tersebut. EBA adalah Rekening Bank Kepercayaan yang kita tanamkan ke seseorang dalam suatu hubungan. Intinya adalah, seberapa banyak kita menanamkan rasa percaya orang lain kepada kita, dalam banyak hal.

EBA saya angkat kembali sebagai tulisan disini untuk mengingatkan kita, betapa penting membangun dan menanamkan rasa percaya antar orang per orang dalam suatu komunitas. Kita tidak bisa semena-mena dengan mudah mengatasnamakan komunitas untuk “memaksa” orang lain percaya dengan kita. Apalagi untuk percaya memberikan kemudahan dalam urusan bisnis.

Stephen Covey mengingatkan hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu, tapi mungkin kita lupa melakukannya. Ada beberapa cara menanamkan kepercayaan :

1. Mengenal Individu
Cara kuno mengenal individu adalah silaturrahmi. Silaturahmi yang tampak mata adalah berjabat tangan, membuat janji lebih sering bertemu di waktu luang, dan bisa lebih indah berkunjung kerumah, mengenal secara kekeluargaan. Lupakan cara online disini. Tidak ada emosi yang luar biasa bisa ditanamkan jika kita memulai silaturrahmi dengan cara online. Untuk itu, TDA sangat gencar mengadakan acara offline.

2. Menanamkan kesan yang baik
Ini maksudnya bukan akting, tapi betul-betul menanamkan aura selalu positif kepada orang lain. Ini bisa dimunculkan melalui hal-hal kecil, melalui pembicaraan yang ringan

3. Memenuhi komitmen
Komitmen adalah kata kunci dalam hubungan. Komitmen adalah Janji. Jika kita sudah mengeluarkan komitmen/janji, otomatis orang lain akan mengeluarkan harapan untuk bisa terpenuhi atas janji tersebut. Sekali janji dilanggar, kita telah menarik deposito rasa kepercayaan yang cukup besar. Menilai personal yang selalu mempunyai komitmen tinggi, sangat mudah dilihat dari kegiatan-kegiatan yang non profit. Jika yang non profit aja komitmennya tinggi, biasanya akan lebih komitmennya untuk kegiatan profit.

4. Komunikasi yang terbuka
Selalu mengkomunikasikan segala sesuatu secara terbuka, jujur dan apa adanya. Berbicara secara eksplisit, tanpa pernah ada itikad menyembunyikan sesuatu (implisit), apalagi politiking.

5. Memperlihatkan Intergritas Pribadi
Integritas memiliki definisi deskriptif yang luas. Integritas bisa berarti anda sesuai dengan yang anda katakan, bisa juga berarti kejujuran, bisa berarti tidak bermuka dua, memperlakukan orang lain dengan perangkat prinsip yang sama, tidak melanggar sistem nilai yang dia anut.

6. Meminta maaf, mengkomunikasikan apa yang terjadi
Jika suatu komitmen tidak terpenuhi, kepercayaan masih bisa dipertahankan jika kita bisa mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan baik, tentunya diiringi dengan permintaan maaf dan komitmen lanjutan.

Semua diatas sebenarnya sudah kita ketahui, bukan hal baru. Namun kadang kita lupa melakukannya, sehingga banyak buku ditulis ulang untuk sekedar mengingatkan.

Salam
(untuk TDA yang sedang menuju Trusted Society)

rosihan

Membebaskan dari Belenggu Sejarah

Pertanyaan yang paling sering saya ulang untuk diri saya sendiri adalah “mengapa saya saat ini saya berada disini ???”

Mengapa sering saya ulang ? karena untuk meyakinkan kembali langkah diri, apakah betul sesuai dengan saya impikan ? atau justru saya masih hanyut dalam belenggu kesejarahan hidup ?

Menurut saya, kesejarahan hidup kita kadang tanpa sadar telah membelenggu begitu banyak potensi kehidupan kita. Mari kita runut kembali sejarah masa lalu kita masing-masing.

Bagi yang lahir pertengahan tahun 1960-an atau diawal tahun 1970-an, mereka adalah generasi yang dilahirkan dimasa tenang Indonesia dibawah Orde Baru. Kita bersekolah di era kebijakan pendidikan agak “otoriter”, tapi cukup enak, minimal biaya sekolah dulu sangat murah. Kehidupan cukup tenang, subsidi pemerintah berlimpah. Walau demokrasi agak dikekang. Lalu era industri juga lagi berkembang. Lulusan sekolah digiring untuk memenuhi kebutuhan industri. Mencari pekerjaan ditahun 1980-an sampai 1996 sangat “mudah”, karena ekonomi sedang tumbuh.

Lalu tanpa sadar ketika kita kelas 1 SMA, dihadapkan pada pilihan jurusan SOS atau IPA. Saat kelas 3 SMA kita dihadapkan pilihan Jurusan Kuliah. Setelah lulus, saat itu menjadi suatu kebanggan jika kita bekerja diperusahaan dengan latar belakang kuliah kita. Kita seperti mendapat penghargaan untuk bekerja “di bidang-nya”.

Saat umur 24-an mulai kerja, lalu tanpa terasa terprovokasi untuk mengejar jenjang karir, maka tanpa terasa waktu kerja selama 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, bahkan ada yang 20-an tahun bekerja “di bidang-nya”.

Sialnya bagi mereka yang mulai bekerja di Jakarta diawal tahun 1990-an, sudah harus tunduk pada aturan Ibukota. Mereka yang sudah berkeluarga, jika ingin beli rumah dengan posisi gaji saat itu, harus rela membeli rumah di daerah sub-urban seperti Tangerang, Serpong, Depok, Cibubur, dan Bekasi. Mereka sekaligus harus mau menjalani perjalanan pulang pergi kerja sekitar 2-4 jam. Suatu pengorbanan waktu yang tidak sedikit jika mau dihitung selama masa kerja.

Stop, mungkin itu cukup sebagai ilustrasi kesejarahan hidup kita. Pertanyaanya sekarang ? apakah saya masih terhanyut dalam alur sejarah itu ? apakah pilihan-2 jaman SMA dan kuliah yang dulu kita lakukan harus terus kita jalani ? apakah sebenarnya ini mimpi dari kehidupan kita ? apakah akan kita jalani sampai sisa hidup kita ?

Sebenarnya siapa yang menyuruh kita “bekerja dibidangnya”. Siapa yang menentukan bidang-bidang itu ? Kenapa saya kerja di Jakarta ? kenapa saya tinggal di Cibubur ? Siapa yang menyuruh kita menghabiskan waktu dikemacetan Jakarta ? Apakah saat ini saya sudah bisa punya pilihan baru ? Apakah saya bisa memulai kehidupan baru dengan pilihan yang lebih dewasa ? bukan hasil pilihan jaman SMA dan kuliah ?

Jika kita bisa memberikan jawaban-jawaban baru, tentunya akan lebih indah. Karena pilihan-pilihan baru itu hasil dari pilihan yang lebih dewasa, lebih rasional, lebih berwawasan. Tidak ada salahnya pilihan baru merupakan kelanjutan yang lebih advance dari sejarah masa lalu.

Tapi juga tidak salahnya untuk kesejarahan hidup kita yang tersisa, kita memulai saat ini dengan sesuatu yang benar-benar BARU. Karena hidup akan lebih bermakna jika kita bisa mengoptimalkan semua potensi kehidupan kita yang selama ini terpendam.

Salam
rosihan

Tuesday, January 15, 2008

Survey Awal Serang & Cilegon, Thanks to Pak Arbi

Hari selasa kemarin, saya mulai menjalankan rencana survey ke kota-kota strategis. Bersama Pak Try Atmojo (http://tryatmojo.blogspot.com) saya meluncur ke kota Serang dan Cilegon, mencoba mencari informasi awal perihal peluang bisnis UKM disana.

Kami berdua sangat berterima kasih kepada Pak Adli Arbi Nasution, calon Juragan Sepeda dari bisnis besar Agung Jaya (ritel dan grosir sepeda di Serang), yang meluangkan waktunya untuk mengantarkan kami jalan-jalan keliling Serang dan Cilegon. Walau sebenarnya kenyataannya kita yang “menculik” Pak Arbi.

Sepanjang jalan kami mencoba mencari toko-toko Distro yang ternyata sudah berkembang pesat di Serang, juga di Cilegon. Kalau saya sendiri mencoba melihat peta pasar busana muslim yang tentunya pasti sudah banyak pemain disana. Ini adalah survey awal. Kami lebih banyak menikmati geliat bisnis UKM yang begitu tersebar, khususnya di Serang. Sambil terus berusaha menemukan lokasi-lokasi impian kami.

Ada sedikit kejutan, di Mal Serang kami menemukan kios busana muslim yang menjual produk branded, ternyata produk Manet (www.manetvision.com) punya Pak Roni ada disana. Juga di Mal Ramayana Cilegon, ada kios khusus menjual produk kerudung Rabbani, tapi juga sepertinya menjual Selimut Jepang Pak Hadi, saya tahu karena saya pernah jual produk selimut jepang Pak Hadi. Kami bertiga langsung menebak, jangan-2 ini kios temen TDA. Wah ..ternyata produk temen-2 TDA kami jumpai disana.

Kata Pak Arbi, di Cilegon yang banyak Member TDA, mungkin survey lanjutan nanti kami bisa mencari masukan dari Member TDA Cilegon.

Sepanjang siang sampai sore, kami banyak mendapat informasi penting, dan sangat lokal sekali dari Pak Arbi perihal kota Serang. Dan tidak lupa “mengompori” Pak Arbi untuk mulai mencoba membangun jaringan toko sepeda modern sebagai pengembangan strategic dari Agung Jaya.

Busana Muslim, Clothing Distro dan Sepeda, itu semua adalah domain yang berbeda. Tetapi kami bertiga bisa mendiskusikan dengan bahasa bisnis yang sama, dengan bahasa dagang yang sama. Kami bertiga saling belajar, dengan satu jembatan penting, yaitu ANALOGI.

Salam

rosihan

Tuesday, January 1, 2008

Negara dengan Hari Libur Terbanyak, 127 hari setahun !!!

Setiap awal tahun, salah satu kerjaan saya adalah mencermati tanggal demi tanggal di kalender, khusus untuk MENGHITUNG HARI LIBUR !

Astaga, tahun 2008 nanti kita akan libur 127 hari dari 365 hari setahun ini, alias sepertiga lebih dari rentang 1 tahun kita LIBUR !!!

Definisi Hari Libur => hari besar nasional, keagamaan, cuti bersama yang ditetapkan pemerintah (harpitnas), hari sabtu, dan hari minggu.

Januari = 11 hari libur
Pebruari = 10 hari libur
Maret = 13 hari libur
April = 8 hari libur
Mei = 13 hari libur
Juni = 9 hari libur
Juli = 9 hari libur
Agustus = 11 hari libur
September = 10 hari libur
Oktober = 11 hari libur
November = 10 hari libur
Desember = 12 hari libur

Ini kabar baik bagi para TDB, yang senang libur. Atau juga kabar baik bagi para TDB, karena bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bisnis sampingannya. Tapi mungkin kabar kurang enak bagi para pebisnis yang punya bisnis sektor formal. Atau justru kabar baik bagi para pebisnis yang punya bisnis yang rame pada saat libur saja.

Ya itulah Indonesia, hari libur yang begitu banyak adalah cermin produktifitas. Jika yang libur banyak nganggur, maka rendahlah produktivitas. Jika yang libur banyak berbuat sesuatu yang meningkatkan nilai tambah, maka tinggilah produktivitas.

Menjadi TDA, semoga kita tidak ikut-ikutan libur kepanjangan, karena ancaman terbesar menjadi TDA adalah LIBUR SETIAP HARI alias MENGGANGGUR ! he..he..he...

Salam libur
rosihan

Percayalah, Tidak Ada Yang Baru Kalau Kita DIAM

Tahun Tikus 2008 Tahun Keberuntungan Saya



Coba ingat setiap tahun baru yang lalu-lalu, mau tahun baru 2008, 2007, 2006, 2005 ..dst. Adakah rentang waktu itu betul-betul mempengaruhi hidup kehidupan kita ?

Sepanjang tahun 2007 kita dibuai oleh rendahnya bunga kredit, booming property. Kondisi ekonomi yang relatif stabil. Walau bencana alam dan masalah politik sudah pasti lalu lalang di negeri ini.

Coba ingat di awal tahun 2006, ketika semua sektor mencoba mencari keseimbangan baru akibat kenaikan harga BBM yang 2005 itu.

Tapi jika kita ingat lagi sedetil-detilnya ..ternyata semua berlalu begitu saja. Namun ada yang tidak berlalu begitu saja, namun justru memberikan makna-makna kehidupan yang nyata. Itu bagi mereka yang tidak diam, mereka yang terus bergerak mencapai target dan impian mereka.


Ya, saya sendiri sangat mempercayai, mau tahun baru Masehi, Hijriah atau Imlek, tidak akan berarti apa-apa jika kita dalam rentang kedepan kita hanya DIAM.

Maka BERGERAKLAH, kita mulai dari menuliskan MIMPI, men-detilkan dalam bentuk TARGET, merencanakan dalam bentuk RENCANA BISNIS sederhana. Bayangkan disetiap bulannya apa-apa yang harus kita lakukan dan kita capai. Saya yakin keberuntungan akan selalu berpihak pada kita.

Kata koran, kabar baik di tahun 2008, adalah tren kredit dengan bunga rendah masih berlanjut. Sektor keuangan juga akan terus naik, sektor riil pun meningkat. Kabar soal kenaikan premium yang batal juga bisa meningkatkan optimisme.

Tapi yang penting sebenarnya, kita tidak perlu terpengaruh semua itu, itu hanya wacana. Kalau ingin memulai bisnis, mulailah sekarang. Sekarang juga. Tidak perlu menunggu kabar baik ekonomi, apalagi politik negeri ini.

Bagi para pebisnis, setiap tahun itu selalu ada peristiwa, dan setiap peristiwa mau tidak mau, suka tidak suka harus selalu disikapi dengan mental bertahan dan terus berkembang. Tidak diam dan loyo. Apalagi lari dari masalah. Terus bergerak secara dialektis.

So, tahun 2008 TETAP MENJADI TAHUN KEBERUNTUNGAN KITA SEMUA.

Salam

rosihan
(shio tikus)